Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Yama


__ADS_3

Hubungan antara Arsan dan Rolan yang tadinya terjalin dengan sangat baik, kini harus agak memanas dan di bumbui saling tak percaya satu sama lain akibat perasaan saling curiga yang terjadi di antara mereka.


Arsan yang mulai kehabisan biaya untuk pembangunan proyek yang tak kunjung selesai namun terus memakan biaya banyak setiap waktu itu terpaksa menggadaikan satu satunya aset terbesarnya, yaitu lahan tambangnya demi mendanai proyeknya, dan juga untuk dana cadangannya.


Rasanya tak mungkin jika proyek pembangunan itu harus di hentikan di tengah jalan begini, mengingat banyaknya biaya yang sudah masuk, bagaimana pun, dia masih punya harapan, karena setelah pembangunan proyek itu jadi, dia masih bisa mendapatkan untung karena dia akan mencurangi Cobra lagi agar dia bisa menguasai bar dan kasino yang di gadang gadang akan menjadi kasino terbebsar se asia itu.


Sementara Rolan semakin mengerucutkan pengintaiannya pada Arsan, dia sangat yakin kalau yang menjarah senjatanya itu adalah Arsan, di saat semua orang saja tak ada yang tau, tapi Arsan yang notabene orang luar itu mengetahui masalah hilangnya senjata itu, sangat mencurigakan, pikir Rolan.


"Cila,,, ayah mau bicara dengan mu!" panggil Tolan pada Cila yang akhir akhir ini masih selalu mengurung diri di kamarnya.


Cila biasanya hanya keluar untuk pergi ke kantor menemui Sabrina, setelah itu dia mengurung dirinya lagi di kamar.


Semenjak viralnya pemberitaan perseteruan dirinya dengan Joshep, dia seperti tak lagi merasa nyaman jika berada di luar, karena rasaanya semua mata akan tertuju padanya dan menjadi bahan gosipan semua orang, setidaknya itu yang dia rasakan, atau mungkin itu karena ke paranoidan dia sendiri, entahlah.


Cila menghentikan langkahnya saat dia baru saja pulang dari kantor dan hendak masuk ke kamar nya, lalu duduk di ruang keluarga dimana ayahnya sedang duduk di sana.


"Bagaimana proyeknya?" buka Rolan, sudah dari beberapa hari yang lalu sebenarnya Rolan ingin membahas tentang ini dengan putrinya itu, hanya saja selalu tak ada waktu bagi mereka bisa berbincang santai seperti sekarang ini.


Rolan menjadi sangat sibuk dengan semua permasalahan yang terjadi, dia bahkan jarang di rumah, karena harus menemui beberapa rekan bisnis juga para bandar besar narkoba yang saat ini tak mendapat pasokan darinya agar tak lari dan beralih belanja ke tempat lain.


"Semuanya berjalan lancar dan baik baik saja, ayah. Ada apa?" Cila balik bertanya, karena tak biasanya ayahnya menanyakan perihaal pekerjaan yang sedang di tangani nya ini.


"Oh, syukurlah kalau semua lancar dan baik baik saja, beberapa hari yang lalu ayah mendapat komplain dari penyokong dana ayah, kalau biaya biaya yang kamu minta itu terlalu besar dan tak masuk akal," ucap Rolan.

__ADS_1


Cila memang tak tau kalau dalam proyek itu ayahnya hanya sebagai atas nama saja, dan yang mendanai itu semua adalah Arsan, ayah nya Raya, yang Cila tau kalau ayah nya di sokong investor dalam pengerjaan proyek itu.


"Apanya yang terlalu besar dan tak masuk akal? Aku rasa semuanya sesuai dengan rencana awal, memang beberapa bahan bangunan ada kenaikan harga, dan mau tidak mau kita harus mengikuti harga itu, bukan?" terang Cila yang sebenarnya tak pernah tau menahu masalah anggaran biaya dan lain sebagainya, karena semua itu dia sengaja hanya mengerjakannya asal asalan agar Sabrina mengerjakannya ulang, lagi pula dia senang mengerjai Sabrina, terlebih wanita itu juga tak pernah komplain dengan apa yang di lakukannya.


Tentu saja Cila tak mungkin mengatakan itu semua pada ayahnya, pokoknya Rolan harus tau nya kalau Cila bekerja dengan benar dan tak pernah menyalahi apapun.


"Ya sudah, ayah juga sudah menjelaskan padanya tentang itu semua, hanya saja ayah harap kamu jangan berbuat ulah lagi, tolong jangan buat masalah apapun dalam waktu dekat ini, ayah sedang banyak sekali masalah, lihatlah kekacauan yang kamu timbulkan, semua sangat berakibat fatal terhadap semua bisnis ayah, jadi sekali lagi, ayah minta tolong pada mu, berpikirlah sebelum bertindak!" ucap Rolan.


"Apa yang aku lakukan memang selalu salah di mata mu ayah, tak pernah ada apresiasi dari mu atas pencapaian yang aku lakukan, bahkan aku sudah bekerja keras seperti ini pun tetap saja di mata mu aku tak ada artinya,!" keluh Cila, seakan tak terima dengan apa yang di sampaikaan ayahnya.


Rolan menghela nafas berat, rasa rasanya dia hanya menasihati dengan cara halus dan tak begitu memojokaan atau menyalahkan Cila, tapi Rolan juga tak ingin menyalahkan siapa siapa, jujur saja perangai putrinya ini memang menurun darinya yang temprament dan tak pernah terima jika di salahkan, selain itu di akui atau tidak sifat Cila ini di bentuk karena didikan dirinya yang terlalu memanjakan Cila dan tak pernah terima jika putrinya di persalahkan, se salah apapun dia.


"Cila, ayah tak menyalahkan mu, nak!" ucap Rolan.


Namun terlambat, Cila sudah pergi Meninggalkan nya dan masuk ke dalam kamarnya setelah sebelumnya membanting daun pintu dengan sangat keras, seakan memberi tahu Rolan, kalau saat ini dirinya sedang sangat marah.


Berbeda dengan Arsan yang mendewa kan uang dan kekuasaan semua dia lakukan demi mendapatkaan itu semua bahkan jika harus sampai mengorbankan istri dan anaknya, baginya uang di atas segalanya.


Ya, begitulah serba serbi kehidupan manusia, kadang aneh, namun juga begitu unik.


***


"Semua rasa sakit kita akan terbalaskan sebentar lagi, ayah!" ujar Sabrina yang kini sedang duduk berdua di ruang keluarganya yang luas namun terasa sangat kosong dan sepi.

__ADS_1


Bagaimana tidak, hanya mereka berdua saja yang meninggali rumah sebesar itu, dan beberapa asisten rumah tangga yang tinggal di bangunan belakang terpisah dari rumah utama.


"Ayah juga sudah tak sabar menanti detik detik kehancuran Arsan, salah satu alasan terbesar ku untuk tetap hidup dan bertahan adalah untuk melihat kehancuran dan penderitaan bajingan itu," Cobra mengepalkan tangannya kuat ruas ruas jarinya bahkan sampai terlihat memutih.


"Segera ayah!" Sabrina mengelus pundak ayahnya seraya memberikan kekuatan pada pria setengah baya itu untuk tetap semangat.


"Ayah,,,, Yama sudah bisa duduk sendiri tanpa di bantu, sepertinya Karina mengurusnya dengan baik, Yama juga terlihat lebih bersemangat," ucap Sabrina membuka pembicaraan perihal adiknya pelan pelan.


Cobra biasanya sering menghindar jika di ajak cerita masalah Yama.


Yama itu seperti yin dan yang bagi Cobra, satu sisi dia terlahir dari wanita yang sangat dia cintai namun di sisi lain ada darah Arsan yang mengalir di diri Yama, sungguh dia tak ingin membenci Yama, karena bagaimana pun anak itu lahir tanpa dosa, kalau pun dia bisa memilih, mungkin dia akan memilih untuk tidak terlahir dari buah dosa dan kejahatan ayah kandungnya.


Sungguh ratusan banhkan ribuan kali Cobra berusaha untuk bisa menerima sepenuhnya Yama, namun melihat wajahnya yang bak pinang di belah dua dengan Arsan selalu membuatnya merasa sakit saat memandang wajah anak itu.


Cobra tak pernah keberatan dan tak pernah perhitungan sedikit pun dalam mengusahakan kesembuhan Yama yang di diagnosa dokter menderita cerebral palsy atau kelumpuhan otak dari semenjak dia bayi, berapa pun biaya yang di butuhkan dia gelontorkan demi kesembuhan anak dari istrinya itu, bahkan dia juga sampai mengirim Yama ke luar negeri demi mendapatkan kesembuhannya.


Namun untuk berada satu rumah atau berinteraksi secara langsung, Cobra belum bisa, hatinya belum cukup mampu menerima semua yang terjadi, untuk itu biarlah dia dan Yama tetap seperti itu, tak saling bersua namun perhatian Cobra tetap dia berikan lewat caranya.


Seperti nama yang Cobra berikan pada anak itu, Yama, dalam bahasa jepang berarti gunung.


Dimana Yama ibarat gunung yang tinggi sungguh sangat indah bila di pandang dari kejauhan, namun tak akannpernah bisa dia gapai.


Makanya dia menaruh Yama di rumah kecil itu, namun masih dengan penjagaan yang ketat dan di buat senyaman mungkin dan semua kebutuhan uang selalu terpenuhi, termasuk alat medis canggih berikut dokter yang selalu siap datang kapan pun di butuhkan.

__ADS_1


Tak mudah menerima kenyataan istrinya di perkosa sampai hamil dan melahirkan, lalu bunuh diri karena tak kuasa menanggung sakit dan malu, belum lagi hartanya juga ikut terkuras oleh kelicikan Arsan, untunglah sampai saat ini dia masih bisa bertahan hidup dan tak menjadi gila karena semua yang terjadi padanya.


Terkadang memang hidup serumit itu.


__ADS_2