
"Sayang, masa lalu biarlah berlalu, bukankah masih ada aku yang tak akan silau karena dunia, dan mencintai karena uang !" Cila dengan sengaja membelitkan tangannya di lengan Bara menempel erat dengan mesranya.
"Terimakasih sayang karena sudah hadir di waktu yang tepat, dimana aku benar benar membutuhkan seseorang yang setia dan tak silau karena harta." Bara tetap saja menyindir dengan sinis sambil matanya sesekali mencuri pandang ke arah Dila.
"Apa kau sedang mencaci kekasih ku, atau sedang menunjukkan pada dunia betapa miskinnya diri mu dan betapa aku punya segalanya di bandingkandengan mu?" Cibir Panca yang masih dengan sabar menahan diri agar tak terpancing dengan ucapan-ucapan provokasi Bara.
"Cila, aku pikir penyakit gila mu sudah sembuh, ternyata kau semakin sinting!" Timpal Sabrina yang mulutnya seakan sudah sangat gatal ingin memberikan kata-kata mutiara untuk Cila.
"Apa maksud mu? Apa aku salah jika aku memperkenalkan tunangan ku? Kenapa setiap apa yang aku perbuat itu selalu salah di mata mu?" Cila tak terima dengan perkataan Sabrina.
"Ayolah, jangan membuat keributan di pesta orang, sayang." Martin menyikut lengan kekasihnya pelan, memperingatkan pada Sabrina untuk tetap menahan diri seperti kesepakatan mereka sebelumnya.
Semakin mereka terpancing dan marah, maka semakin susah juga untuk memprediksi apa yang sebenarnya di rencanakan pasangan gila itu.
"Cila, boleh aku berbicara dengan mu?" Ucap Toni dengan mimik yang selalu serius itu.
"Tentu saja," senyuman girang nampak jelas dari wajah Cila yang sejak tadi memang menunggu momen berdua dengan pria yang selalu menjadi obsesinya itu.
__ADS_1
Toni membawa Cila agak menjauh dari keramaian setelah dia meminta ijin pada Raya terlebih dahulu tentu saja.
Di sinilah mereka, di teras rumah dimana biasanya dulu Rolan duduk sambil bercengkerama dengan para anak buahnya, terkadang juga bersama friska, sang istri.
"Duduklah!" Titah Toni menunjuk kursi kayu yang berada di hadapannya.
Namun alih-alih duduk di kursi yang di tunjuk Toni, Cila malah menduduki kursi kayu yang berada tepat di sebelah kiri pria tampan yang sebentar lagi akan menyandang gelar sebagai ayah itu.
Kepalanya sengaja di sandarkan di bahu kekar Toni tanpa permisi, seolah hal itu sangat wajar baginya.
"Cila, bukankah akan menjadi masalah nantinya jika tunangan mu melihat mu bersandar seperti ini?" Tegur Toni.
"Cila, bagaimana kau bisa mengenal Bara?" Toni mengalah dan membiarkan Cila menyandarkan kepala di bahunya.
Barangkali dengan membiarkannya relaks seperti itu dia akan lebih terbuka. Jujur, Toni ingin mencoba cara lain dalam menghadapi Cila, bukannya dia tak bisa bersikap jahat, hanya saja baginya melalwan seorang wanita itu bukan dirinya.
"Entahlah, dia yang datang sendiri mencari ku, mungkin ini memang jaalan Tuhan, lagi pula aku bosan di anggap jahat dan selalu di curigai ingin merebut mu dari Raya, padahal kenyataannya dia lah yang merebut mu dari ku, dan aku di paksa harus terima dan tetap diam." Ocehnya entah menceritakan adegan drama apa.
__ADS_1
"Tak ada yang merebut ku dari mu, aku dan Raya saling mencintai, sementara pertunangan antara aku dan kau hanya sebuah keterpaksaan, saat itu aku di ajukan sebuah syarat oleh ayah mu untuk bertunangan dengan mu jika aku ingin menemukan Arsan demi untuk mempertemukannya dengan Raya, namun ternyata ayah mu menipu ku, dia bersekongkol dengan Arsan untuk menjerat ku." Cerita Toni mencoba membuat Cila mengerti sebelum dia melakukan hal yang lebih jahat lagi.
"Aku tau, semua cerita itu aku tau, dan aku tak peduli, ayah menjanjikan abang bisa menikah dengan ku, dan aku sudah melakukaan semua perintahnya, aku sudah mau bekerja membantunya, dan segala yang ayah perintahkan, naamun ayah mengingkari janjinya." Timpal Cila, seperti tak ingin mendengarkan apa yang ingin Toni sampaikan padanya.
"Kau tau, kalau dulu aku dingin terhadap perempuan, dan aku hanya bisa akrab dengan mu, aku rasa kau telah salah mengartikan sikaap ku, aku menganggap mu sebagai adik perempuan ku, karena tadinya ku kira ayah mu tulus baik pada ku. Namun ternyata dia punya tujuan tersendiri, tapi bagaimana pun juga aku patut berterima kasih pada ayah mu, dulu dia mengajari ku banyak hal, sehingga aku bisa menjadi seperti ini," pandangan Toni mejauh ke depan entah menatap apa.
"Jadilah wanita baik, lanjutkan usaha ayah mu, hidupkan lagi sasana, aku akan selalu menganggap mu adik ku, dan aku beserta teman-teman ku pasti akan membantu mu jika kau kesulitan. Jangan ulangi kesalahan yang sama, yang sudah biarlah sudah," pungkas Toni tak ingin lagi menggurui Cila lebih jauh, dia yakin kalau wanita itu pasti mengerti dengan apa yang Toni maksud dan Toni inginkan, namun hanya saja terkadang rasa egois dalam diri Cila terlalu dominan, sehingga kebenciannya terus saja berkobar dalam hatinya yang tak mengenal mengalah dan selalu di perlakukan bak Ratu oleh kedua orang tuanya, terlebih oleh Rolan yang selalu menghalalkan segala cara demi kebahagiaan anak nya.
Sehingga alhasil tanpa sadar membentuk karakter Cila yang seperti sekarang ini.
"Kenapa, kenapa abang tak bisa mencintai ku seperti aku mencintai abang? Kenapa Raya bisa, kenapa justru Raya yang mendapatkan cinta abang, sementara aku lebih lama mengenal abang dari pada dia!" Cila kini mulai terisak, meski entah apa yang saat ini dia tangisi.
Jauh di lubuk hatinya sebenarnya Cila juga mengakui kesalahannya karena terlalu memaksakan diri untuk memiliki Toni yang jelas-jelas telah di miliki orang lain dan tak pernah sekalipun menaruh perasaan yang sama seperti apa yang di rasakannya.
"Karena kita tak bisa memilih, pada siapa kita jatuh hati, karena cinta juga tak bisa di paksakan di hati siapa dia akan berlabuh," ucap Toni.
Membuat Cila semakin terisak perih mendengar semua kata-kata Toni. Memang terkadang ada kalanya obrolan pelan dan di lakukan dari hati ke hati akan lebih mengena di bandingkan ucapan keras yang justru malah akan semakin bentrok dengan sikap keras hati Cila.
__ADS_1
Namun tiba-tiba terdengar suara ribut dan riuh dari dalam rumah, teriakan dan jeritan dari orang-orang yang hadir di pesta pertunangan palsu antara Cila dan Bara itu seketika membuat Toni terkesiap kaget, dengan secepat kilat dia berlari menuju ke dalam ruangan acara, mencari keberadaan istrinya, dan memeriksa apa yang terjadi di dalam ruangan itu, namun suasana sudah nampak kacau, dengan barang-barang yang sudah tidak pada tempatnya, dan orang-orang yang berlarian panik entah apa penyebabnya.