
"Ayah, aku tidak mau tau, pokoknya aku tak setuju jika bang Lion tetap mengurus proyek kasino bersama si anak ular itu!" pulang dari klub Cila langsung ngamuk pada ayahnya.
Tadi setelah kejadian memalukan itu, Cila langsung meminta pulang, padahal jam baru saja menunjukan pukul 12 malam, tapi sepertinya, pesta itu sudah tak menarik lagi baginya yang tadi sempat seolah menjadi badut ulang tahun di tempat itu, karena menjadi tontonan dan bahan tertawaan para pengunjung plus teman temannya yang berada di sana.
Mana mungkin Cila masih bisa mengangkat wajahnya di klub dan melanjutkan pestanya setelah di permalukan sedemikian rupa oleh Sabrina dan Raya, (hahaha good job Raya,,, Sabrina !)
"Apa yang terjadi, kenapa tiba tiba kamu marah marah seperti ini, bukankah tadi katanya mau ke pesta ulang taun teman mu?" heran Rolan yang sedang bersantai di teras rumahnya sambil bercengkerama dengan beberapa anak buahnya.
"Aku dipermalukan anak ular itu di klub, pokoknya aku tidak sudi dan tidak rela jika tunangan ku harus bekerja dengan anak ular itu lagi,!" Cila menendangi semu barang yang ada di hadapannya, bahkan dua anak buah ayahnya ikut terkena tendangan hanya karena dia berada di hadapannya, sungguh malam itu Cila mengmuk membabi buta.
Jangan tanya bagaimana Toni, pria itu tak mau peduli, bahkan seakan menutup mata dengan kelakuan tunangannya itu, masih untung Toni mau mengantar Cila pulang, dan tak membiarkan wanita itu pulang sendiri.
"Lion, apa yang terjadi sebenarnya, kenapa dia jadi begini?" tanya Rolan, merasa tak mendapat jawaban apa apa dari putrinya selain amukan, kemudian dia beralih bertanya pada calon menantunya itu.
"Cila hanya cemburu dan salah paham, dia memaki Sabrina terlebih dahulu, kau tau sendiri Sabrina seperti apa!" jelas Toni santai.
Rolan terdiam, saat ini dirinya di posisi yang serba sulit, tak mungkin dia melakukan sesuatu pada Sabrina yang telah membuat putri kesayangannya ngamuk ngamuk seperti sekarang ini, karena itu sama saja dengan dirinya menghancurkan kerja samanya dengan Cobra, dan itu juga akan menjadi masalah baru karena Arsan akan sangat murka karena proeknya harus berantakan.
"Bagaimana kalau Cila menggantikan ku untuk memegang proyek itu bersama Sabrina, adi tidak ada kecurigaan Cila lagi terhadap aku dan Sabrina, lagi pula Cila juga aku rasa cukup handal dalam menangani proyek,!?" Toni memberikan ide nya, dengan dibumbui sedikit pujian untuk Cila.
Sungguh Toni sangat berharap kalau Rolan menyetujui idenya, karena dengan begitu, dia akan mudah mencari kambing hitam saat proyektidak berjalan sesuai rencana, dia tinggal melimpahkan semua kesalahan pada Cila yang menggantikannya memegang proyek itu, bukankah tangannya masih tetap bersih di mata Rolan?
"Aku setuju, aku bisa ayah, percaya pada ku, aku akan menggantikan abang memegang proyek!" sambar Cila dari dalam yang ternyata menyimak obrolan antara Toni dan ayahnya dari sana.
'Yes!' pekik Toni dalam hatinya, sepertinya rencana ini akan berjalan mulus dengan Cila yang sudah mulai terpancing dan memakan umpan yang di lemparkan nya.
Benar saja, Rolan tak berkutik jika itu permintaan dari putri kesayangannya, Rolan mengalah dan menyetujui keinginan Cila untuk menggantikan posisi Toni sebagai penanggung jawab proyek dan akan bekerja sama dengan Sabrina.
__ADS_1
Cila juga ingin menunjukkan pasa Sabrina kau dia juga berkompeten dan bisa bekerja sama seperti Sabrina, dia juga ingin membuktikan sendiri se sibuk apa sebenarnya pekerjaan mereka sampai sampai Toni tak pernah ada waktu untuk bersamanya dengan alasan sibuk bekerja.
***
Selepas mengantarkan Cila ke rumahnya, Toni kembali ke klub menumpang ojol, karena tadi menggunkan mobil Cila, sementara motornya maih di tinggal di klub, dia juga ingin memastikan kalau Raya tidak di ganggu si Joshep yang mengaku akan mendapatkan Raya dengan segala cara.
Sampai di klub ternyata Raya sudah tak ada di sana, saat Toni menghubungi ponselnya Raya mengatakan kalau dia sudah beradadirumah Panca, sebenarna inginlangsung menyusul Raya ke rumah Panca, namun hatinya masih penasaran ingin melakukan perhitungan dengan pria yang bernama Joshep yang dengan songongnya menggoda pujaan hatinya tadi.
Nasib baik masih berpihak padanya rupanya, karena pria bernama Joshep itu terlihat masih berada di klub milik Sabrina, sepertinya pria itu juga setengah mabuk.
Bak gayung bersambut, saat Toni sengaja melintas di hadapan pria bernama Joshep itu, tiba pria setengah mabuk itu meneriakinya dengan lantang.
"Hey semuanya,,, lihat arjuna yang di perebutkan oleh 3 wanita sekali gus tadi, merasa hebat kau ?!?" teriaknya pada teman temannya.
Toni sengaja mengabaikan teriakan pria itu, bisa saja Joshep tidak sedang meneriakinya, kan?
"Hey,,, apa kau tuli,? Atau kau takut? Banci !" umpatnya menarik tangan Toni yang sengaja melambatkan langkahnya menunggu pria itu mendekat.
"Apa mau mu? Aku tak mengenalmu, dan aku juga tak punya urusan denngan mu!" Toni berpura pura tak tertarik bermasalah dengannya.
"Tapi aku punya masalah dengan mu, kau menggoda Raya ku kan? Kau tak tau kalau aku sangat mencintainya, bertahun tahun aku mengejarnya, jangan harap pria seperti mu bisa mendapatkan Raya ku!" pengaruh alkohol membuat keberanian pria bernama Joshep itu seakan terdongkrak naik, sungguh dia tak tau siapa pria yang kini sedang di hadapinya itu.
Raya ku,,,, Raya ku,,, Raya ku,,,! panas rasanya telinga dan hati Toni mendengar Joshep berulang kali mengatakan 'Raya ku' dengan sengaja seolah menantang kesabarannya yang kini sudah setipis tisyu yang koyak itu.
"Bangga sekali kau menjadi pria yang di tolaknya berkali kali dan tak di anggap selama bertahun tahun, dan kau masih dengan bangga mengatakan Raya ku? Kau hanya pecundang!" ejek Toni dengan senyum merendahkan nya.
"Bajingan, berani berani nya kau menantang ku, kau meremehkan ku,kau mengejek ku?!" satu pukulan Joshep layangkan ke arah wajah Toni yang dengan sangat mudah dapat dia hindari.
__ADS_1
Boro boro dalam keadan setengah mabuk, Joshep dalam kondisi sangat fit saja jelas tak akan bisa melawan Toni yang di besarkan di atas ring, dan berkelahi sudah seperti bernafas baginya, dilakukan setiap waktu, dan sudah menjadi rutinitas nya sehari hari.
Beberapa teman Joshep ikut menyerang Toni, namun lagi lagi toni dapat menghindarinya dengan sangat mudah.
Beberapa sekuriti sudah hendak melerai perkelahian yang terjadi, namun Sabrina malah menahan mereka, melarang mereka untuk melerai perkelahian yang kalau di lihat dari pandangan orang awam itu sangat tidak seimbang karea Toni seolah di keroyok oleh enam orang sekali gus.
Namun apa yang terjadi selanjutnya justru bak plot twist, ke enam orang yang mengeroyoknya kini terkapar dengan wajah yang penuh lebam, terlebih Joshep,,, wajahnya kini seakan tak berbentuk, babak belur dan bonyok di mana mana.
Setelah puas menghajar Joshep dan ke lima temannya, kini Toni melenggang pergi meninggalkan tempat itu, tanpa memperdulikan para pengunjung yang berkerumun menontonnya, baginya tak apa dia di tonton seperti itu, setidaknya mereka akan menjadi saksi jika masalah ini sampaike pihak kepolisian, kalau Toni hanya sedang membela diri saat ini.
Bukankah itu akan sangat menguntungkan dirinya?
Tak lupa Toni juga mengucapkan terimakasih pada Sabrina, karena dia tau Sabrina telah memberinya kesempatan untuk menghajar Joshep si mulut sampah, sungguh Sabrina merupakan teman yang pengertian!
Karena nyaris subuh urusan di klub baru selesai, Toni akhrnya memutuskan untuk kembalike kostnya, dia tak ingin mengganggu waktu tidur Raya, jika dirinya pulang ke rumah Panca.
Tanpa dia tau kalau Raya sedang menunggunya dengan harap harap cemas, karena Toni tak kunjung pulang.
Keesokan pagi nya, Toni di kejutkan degan kedatangan Raya yang membangunkan tidurnya dengan ketukan pintu seperti penagih htang.
"Ah,,, ada apa kamu tumben ke sini?" tanya Toni sambil mengucek matanya beberapa kali.
"Jelaskan apa ini?!" Raya masuk ke dalam kamar itu lalu menunjukan video berisi tentang perkelahian Toni dengan Joshep semalam di klub yang videonya kini viraldi jagat maya.
"Oh,,, itu,,, fans mu yang mulai duluan, aku hanya membela diri, kamu boleh tanya pada teman teman mu yang berada di sana semalam," jawab Toni dengan santai nya membela diri.
"Aduh Toni,,, dia itu anak pejabat, kamu pasti dalam masalah besar saat ini, aduh bagaimana ini, kamu ceroboh!" panik Raya yang sangat tau pasti bagaimana sifat Joshep, dia akan mnggunakan kekuasan ayahnya untuk membalas perbuatan Toni ini.
__ADS_1
"Aku memang bukan anak pejabat tinggi, aku juga bukan pengusaha ternama yang mempunyai kekuasaan, tapi aku akan dengan berani mempertahan apa yang aku miliki meski nyawa ku taruhannya," tegas Toni seakan menegaskan kalau dirinya akan melakukan apapun demi mempertahankan Raya untuk tetap menjadi miliknya.