
Dengan cekatan seorang anak buahnya memberikan sebotol air mineral untuk di minum oleh bosnya, agar Arsan bisa kembali menyesuaikan dan menstabilkan lagi keadaan tubuhnya.
"Kau sudah jompo tapi masih saja memaksa untuk berada di dunia hitam ini, bahkan di dunia fana ini juga kau sudah tidak di perlukan!" ejek Toni memperhatikan setiap gerak gerik Arsan di hadapannya, sambil memberi kode pada ketiga temannya dan juga para anak buah Rolan yang sudah dapat dia lihat keberadaannya di gelapnya malam di hutan itu, di antara balik pepohonan yang rindang sehingga menutupi keberadaan mereka semua.
Nyaris tanpa suara dan tak terlihat dari mana sumbernya, seperti serentak dan hampir bersamaan satu persatu anak buah Arsan tergeletak dan luruh ke tanah membuat Arsan dan Bagas kebingungan apa yang terjadi dengan mereka semua.
"Apa yang terjadi?" Panik Arsan, bertanya pada asistennya.
Sementara Bagas yang di tanya olehArsan hany bisa memperhatiakan sekeliling dengan tak kalah paniknya, Bagas yakin kalau ada sesuatu yang membuat anak buah mereka bergelimpangan di tanah dengan rata-rata luka di kepalanya.
"Dasar pengecut, keluar kalian semua! Aku tau kalian bersersembunyi di sini, tunjukkan siapa kalian sebenarnya" teriak Bagas, bebapa anak buahnya yang tersisa juga terlihat sangat panik dan ketakutn saat melihat teman-temn mereka yang tergeletak tak bernyawa, mereka tak tau kapan giliran mereka, bisasaja satu menit,dua menit, atau tiga menit kemudian giliran mereka yang mengalami nasib yang sama dengan teman-temannya itu.
"Apa kau mulai ketakutan sekarang?" ejek Toni.
"Bajingan, kalian menipu kami dan merencanakan ini semua untuk menjebak kami," umpat Arsan yang baru menyadari kalau dirinya sudh masuk ke dalam jebakan yang telah di persiapkan oleh Toni Cs.
"Kami hanya meniru gaya mu, gaya kalian yang menipu dan menjebak kami agar masuk ke dalam rencana busuk mu kau pikir aku percaya jika istri ku bersama mu?"oceh Toni.
"Kau,! Kalian sudah tau semuanya namun sengaja merencanakan ini semua?" Kesal Arsan karena merasa telah di perdaya oleh orang-orang yang semula akan di tipunya, hanya saja kini semua keadaan justru terbalik, karena kini dirinya lah yang berperan sebagai korban di sini.
"Kau itu tak pernah pintar, berulang kali di tipu dan di permainkan oleh menantu mu sendiri!" Rolan muncul dari balik pepohonan yang gelap, dengan di dorong dan di kawal oleh tiga orang anak buah kepercayaannya.
"Ah,pantas saja, ternyata kau berada di balik semua ini, tak heran, semua pecundang bersatu rupanya!" Arsan terkekeh entah apa yang dia tertawakan.
Apakah Arsan sedang menertawakan musuh-musuhnya atau menertawakan dirinya sendiri yang pasti kini akan terlihat sangat bodoh di hadapan semua musuh-musuhnya.
"Ini mahluk yang sebenarnya pantas di katakan jompo oleh kalian, untuk berjalan saja tidak mampu!" cibir Arsan menekan harga diri Rolan, dua paling tau kalau Rolan adalah manusia yang tak ingin harga dirinya terusik.
__ADS_1
"Kau memang perlu tertawa saat ini Arsan, sebelum kau menangis untuk selamanya di neraka," balas Rolan.
"Baiklah, aku akan mencari mu nanti di neraka dan menghajar mu yang sudah tak mampu melakukan apapun di sana, oh iya aku juga akan menceritakan pada mu bagaimana saat putri kesayangan mu yang gila itu menjerit-jerit saat beberapa anak buah ku memperkosanya!" Tawa Arsan terdengar sungguh menjijikan, bagaimana bisa dia menertawakan hal yang sungguh di luar batas kemanusiaan itu, bahkan Toni maupun Sabrina yang jelas-jelas membenci Rolan pun tak pernah mengungkit hal se nista itu.
Benar saja, ucapan Arsan itu sontak memancing amarah Rolan, pria tua di atas kursi roda itu langsung mengangkat senjatanya dan menarik pelatuk siap untuk di tembakan ke arah Arsan yang seperti tak ada rasa takutnya sama sekali atau bahkan pria itu sudah merasa putus asa dan menyadari kalau dirinya tak mungkin bisa lepas dari Toni Cs dan juga Rolan.
Namun belum sempat Rolan memuntahkan timah panasnya, Bagas tiba-tiba muncul dengan Raya yang juga sudah di todongkan pistol di kepalanya.
"Bagaimana Lion, apa kau masih bisa berkata kalau kau tak percaya jika istri mu berada dalam sekapan kami?" Bagas menyeringai ke arah Toni yang jantungnya hampir saja copot rasanya, begitupun dengan ke tiga rekannya yang lain juga merasakan kekagetan yang hampir serupa saat Raya di seret paksa oleh Bagas dari balik pepohonan.
"Raya!" pekik mereka semua hampir bersamaan.
"Haha, kau memang terbaik Bagas, kau yang pantas menjadi putra ku, bukan wanita tak berguna ini!" Arsan tersenyum bangga, berulang kali dirinya memuji atas keberhasilan Bagas yang mampu menangkap Raya yang bisa di jadikan nya tiket emas untuk mendapatkan semua keinginannya, termasuk semua senjata milik Rolan dan juga saham Lubis Corp yang tersisa.
"Tentu saja bos,!" seringaian Bagas semakin lebar, karena pujian bertubi-tubi dari bosnya itu.
Rencana sebelumnya memang Raya akan ikut bersama Toni Cs dalam penyerangan, namun di detik-detik terakhir rencana berubah dan di putuskan Raya tak ikut bersama suaminya, namun menunggu bersama Rolan di tempat penjebakan, di mana Rolan berjanji akan menjaga Raya dan memastikaan kalau Raya akan amqn dan selamat bersamanya.
Namun memang banyak hal yang di luar prediksi terjadi, Toni tak ingin menyalahkan Rolan yang kurangnpengawasan atau menyalahkan siapa pun, dia hanya sedang menyalahkan dirinya sendiri yang mempercayakan keselamatan istrinya pada orang lain yang jelas-jelas tak akan menjaganya seperti dirinya yang menjaga.
"Rolan, kenapa jadi begini, bukannya kau berjanji akan menjaga Raya?" Tanya Panca kesal, ini hukan kesalahan kecil yang bisa di anggap sepele, ini fatal karena hal ini bisa saja menggagalkan rencana yang telah tersusun sedemikian rupa dan juga dapat mengancam nyawa mereka semua.
Namun alih-alih menjawab pertanyaan yang di ajukan Panca padanya, Rolan malah melajukan dengan kencang kursi roda otomatisnya sekencang mungkin lalu menabrakan diri ke arah Arsan yang berdiri tak jauh dari posisi dirinya duduk.
Bruak,,!
Arsan tersungkur, lalu dengan sigap para anak buah Rolan menangkap Arsan yang lagi-lagi mendapat serangan tak terduga dari lawannya yang mengakibatkan dirinya jatuh tersungkur kehilangan keseimbangan untuk kedua kalinya setelah sebelumnya juga mendapat serangan ttiba-tiba bogeman mentah dari Sabrina.
__ADS_1
Buru-buru Rolan mengacungkan senjatanya ke arah kepala Arsan, dan mengintimidasi balik musuh-musuhnya itu.
Sungguh jiwa petarung dalam diri Rolan tak bisa di sepelekan, meski dirinya kini sekilas tampak tak berdaya karena duduk di atas kursi roda, namun dirinya masih bisa berpikir cepat dan tanggap pada keadaan, jam terbang Rolan di dunia hitam dan di dunia peperangan antar genk memang terbilang cukup tinggi, jadi hal seperti itu memang sudah selayaknya Rolan kuasai.
"Cepat perintahkan anak buah mu itu untuk melepaskan wanita yang ada dalam sekapannya, karena jika tidak, aku sudah tidak sabar dan tak akan menahan diri lagi untuk tidak menghancurkan kepala mu yang bebal ini!" Titah Rolan seraya semakin menekan moncong senjatanya agar semakin menempel ke kepala Arsan.
"B-Bagas, lepaskan dia, lakukan semua perintah tua bangka ini!" Cicit Arsan.
"Apa kau bilang, tua bangka?!" geram Rolan langsung mengayunkan gagang pistolnya ke arah kepala Arsan, namun karena pria itu menghindar hanya mengenai pelipis nya saja, tapi tetap saja kerasnya gagang pistol itu berhasil merobek kulit keriput pelipis Arsan yang langsung mengalirkan darah segar dan berbau amis.
"Aah!" Ringis Arsan merasakan perih di pelipisnya, di tambah pening pada kepalanya akibat getokan senjata Rolan.
"Bagas, cepat lepaskan dia, kita harus pergi dari sini segera, atau kita akan mati!" Arsan mengulang perintahnya pada Bagas yang tiba-tiba menulikan telinganya.
"Kau saja yang mati, kau pria tua bodoh, selalu saja dapat tertipu oleh musuh-musuh mu padahal aku menanti keberhasilan mu, aku ingin mengambil alih semua kekayaan mu, tapi kau malah menggembel seperti ini biar aku berusaha sendiri untuk mendapatkan uang dari tiket emas ku ini!" ucapnya sambil terus mendekap Raya yang pucat karena merasa syok dan ketakutan.
"Kau, bajingan tengik! Berani beraninya berhianat pada ku setelah apa yang ku berikan pada mu, rumah, cafe, uang bahkan segala yang kau minta aku berikan, tapi, ini balasannya?" Suara Arsan terdengar bergetar ketikaa baru menyadari kalau Bagas yang selama ini selalu di anggapnya satu-satunya orang yang dia percaya dan berpihak padanya, mendukung semua yang di lakukannya ternyata tak lebih dari seorang musuh di dalam selimut saja.
Memang lebih sakit rasanya jika di hianati oleh orang yang paling dekat dan paling kita percayai, dan inilah yang sedang Arsan rasakan, sebagian kecil dari teguran yang Tuhan berikan padanya.
"Ya, itu semua terjadi karena kau bodoh, dan gampang untuk di bodohi!" kata Bagas tak peduli.
Dengan sisa-sisa tenaga yang di milikinya, Arsan merebut senjata yang berada di tangan Rolan dimana pria yang sedang duduk di kursi roda itu sedikit teralihkan fokusnya karena pertengkaran dua orang yang di kenalnya sebagai bos dan asisten nya itu, sehingga dia tak menyangka jika Rolan akan berbuat se nekat itu, apa lagi dia masih sangat ingat kalau kepala Arsan baru saja terluka, jadi rasanya tak mungkin bagi Arsan untuk berbuat aneh-aneh.
Namun ternyata pikiran Rolan itu semuanya meleset, senjata yang di genggamnya kini sudah beralih tangan ke tangan Arsan yang merebutnya.
Secepat kilat Arsan mengarahkan senjatanya ke arah Bagas dengan Raya yang berada di dekapannya dan terdengar lah suara letusan senjata api yang sangat di takuti oleh Toni Cs, karena hal itu bisa saja mengenai tubuh Raya yang jelas-jelas berada tepat di depan dada Bagas.
__ADS_1