Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Dua Delapan


__ADS_3

'Ada apa dengan gadis bodoh ini, dia menjadi sangat berani pada ku, apa karena merasa sekarang punya pengawal pribadi ? Lihat saja akan aku buat bodyguard tampan mu itu bertekuk lutut di kaki ku dan merangkak di atas tubuh ku, hahaha !' ancam Karina dalam hati.


Tak lama dari itu Karina pun berpamitan pergi, entah hendak pergi kemana wanita gatal itu, dengan membawa kekesalan hatinya yang harus rela meninggalkan pasangan selingkuhnya dengan Raya di sana, dan juga dia belum berhasil menggoda bodyguard tampan karena di cegah anak tirinya itu.


Hari itu tak seperti biasanya, Martin tampak terus menempel pada Raya, bila sebelumnya dia selalu tak ada waktu ntuk menemani tunangannya itu, sekarang justru dia terlihat seperti pria bucin yang tak ingin kehilangan moment sedikitpun dengan pasangannya.


Tak ayal, sikap Martin yang selalu berusaha berdekatan dan bersikap romantis pada Raya sepanjang hari itu membuat Toni berulang kali mendecih sebal, kadang kedua tangannya mengepal sempurna di kedua samping tubuhnya, gatal rasanya tinju itu ingin melayang ke wajah menyebalkan Martin yang baginya seolah sengaja memanasinya.


"Apa kamu tak ada pekerjaan di kantor ?" tanya Raya yang mulai risih dengan sikap sok romantis Martin padanya.


"Sayang, kita tidak bertemu selama 3 hari, apa kamu tak merasa kangen padaku, aku hampir gila memikirkan bagaimana keadaan mu," ucap Martin yang sukses membuat Raya merasa mual dan menahan keinginannya untuk muntah mendengar kebohongan yang di ucapkan Martin.


"Kita bahkan biasa berpisah berminggu minggu tanpa kabar," sinis Raya mengingatkan kembali kalau kalau tunangannya itun lupa, bahwa selama ini dirinya selalu sibuk dan hampir tak punya waktu untuk Raya, sang tunangan.


"Raya, apa salah bila aku ingin berubah, aku tak ingin terlalu sibuk dan mengabaikan mu lagi, kita sudah hampir menikah dalam waktu dekat, beri kita waktu untuk lebih dekat lagi, aku rasa kita perlu waktu berdua lebih banyak," ucap Martin mengelus pipi Raya sambil melirik sinis ke arah Toni yang kini duduk di sofa di pojok kanan ruangan berukuran 6X8 meter itu.


Telinga Toni tetiba terasa panas sepanas hatinya, pria itu lalu berdiri dari tempat duduknya saat ini, hari pertamanya sebagai bodyguard Raya sngguh terasa sangat berat, bukan karena bertarung melawan musuh musuh yang akan mencelaki Raya, namun bertarung melawan perasaannya sendiri yang merasa tak suka dengan kebersamaan Raya dengan Martin.

__ADS_1


"Aku akan keluar untuk merokok sebentar," ucapnya tanpa menunggu ijin dan persetujuan Raya yang merupakan bosnya itu sekarang, dalam beberapa detik saja Toni sudah menghilang dari ruangan itu meninggalkan Raya yang merasa tak suka di tinggalkan oleh Toni berdua saja dengan Martin, wajahnya langsung berubah keruh, sementara Martin tersenyum puas penuh kemenangan karena merasa telah berhasil mengusir Toni pergi dari ruangan itu, sehingga dirinya bisa berduaan dengan tunangannya.


Toni berjalan menuju loby dan duduk di kursi besi yang berada di pelataran parkiran depan, mengeluarkan bungkusan rokok yang selalu tersedia di kantung kemeja atau kadang di saku jaket kulitnya.


Sebuah tangan dengan korek gas menjulur ke depan wajahnya, saat dirinya meraba raba saku nya mencari korek untuk menyalakan rokok yang sudah tersemat di mulutnya.


"Apa kau memerlukan ini ?" suara seorang pria terdengar sangat dekat dari tempatnya duduk.


Toni meraih korek gas yang di sodorkan tepat depan wajahnya, lalu mengembalikan korek itu pada si empunya setelah selesai menyalakan bara di ujung rokoknya tanpa menolehnya atau pun mengucapkan terimakasih sama sekali pada pria yang di yakininya itu adalah Martin.


Tak sudi rasanya dia mengeluarkan kata terimakasih pada pria bajingan itu setelah apa yang dia lakukan nya pada Raya.


"Apa kau tuli, apa kau tak mengerti bahasa manusia ? Bukankah tadi tunangan mu sudah memperkenalkan siapa nama ku dan siapa yang mempekerjakan ku !" ketus Toni,tentu saja dengan nada yang menyebalkan di telinga Martin.


"Cih, songong sekali kau ! Ingat, kau hanya salah satu kacung calon mertua ku yang di pekerjakan untuk menjaga anaknya, TUNANGAN KU, yang sebentar lagi akan menjadi ISRI KU, jadi ku harap bersikap lah selayaknya kacung yang berbicara dengan atasannya, aku di sini atasan mu !" murka Martin yang merasa Toni tak menyimpan hormat saat berbicara padanya.


Berulang kali Martin menegaskan status Raya yang saat ini sebagai tunangannya dan segera akan menjadi istrinya, dengan harapan Toni setidaknya menyimpan sedikit hormat padanya, lebih jauhnya agar Toni tak lancang menyimpan perasaan lain pada nona yang di jaganya selain hanya sebatas sebagai pengawalnya saja.

__ADS_1


"Aku hanya punya satu bos, yaitu calon mertua mu, dia yang membayarku, dan untuknya aku kerja, aku tak harus mematuhi perintah siapapun selain perintahnya,!" tegas Toni sang singa jantan itu menunjukan sisi dominan nya, mengangkat wajahnya dan menatap nyalang ke arah Martin dengan tatapan bak tatapan seorang petarung yang sedang menilai kekuatan dan mengukur kemampuan lawannya.


Jujur saja, ada sedikit rasa ketakutan mendesir dalam diri Martin, dia merasa kalau pria yang ada di hadapannya ini sepertinya bukan pria yang bisa di remehkan, dia sangat yakin jika pengawal ini akan menyulitkan langkahnya suatu hari nanti jika tak segera di lenyapkan.


"Ishhhh,,,, ternyata kamu disini, aku mencari mu sedari tadi !" rengek Raya dengan kesalnya.


"Maaf sayang, tadi aku hanya ingin merokok sebentar, dan kebetulan aku bertemu pengawal mu disini, jadi kita ngobrol ngobrol sedikit di sini," ucap Martin yang langsung berdiri menghampiri tunangannya setelah menginjak puntung rokok dengan ujung sepatunya.


"Maaf,,, tapi maksud ku, aku mencari nya, bukan mencari mu !" telunjuk Raya mengarah pada Toni yang masih asik menikmati kepulan asap tembakaunya dengan wajah yang datar dan cuek bahkan terkesan tak peduli dengan kedatangan Raya di sana.


Wajah Martin berubah kecut saat Raya mengatakan kalau bukan dirinya yang sedang di cari gadis itu melainkan si pengawal songong menyebalkan itu, dengan menahan tengsin dan kesal Martin melengos dan pergi dari tempat itu tanpa pamit. Samar samar terdegar omelan Raya pada bodyguardnya yang rasanya terasa ganjil di hatinya.


"Kenapa kamu meninggalkan ku, yang harus kamu jaga itu aku, bukan Martin, lagi pula sudah berapa kali aku bilang pada mu, kurangi merokok, tak baik buat kesehatan mu, ayo cepat,, temani aku bertemu client,,!" ocehan panjang lebar Raya hanya di tanggapi dingin oleh Toni yang melempar jauh puntung rokoknya dan lalu beranjak bangkit dari duduknya tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut pria es batu itu.


Omelan Raya pada Toni itu terasa sedikit menyakitkan buat Martin, selama hampir dua tahun mereka bersama sebagai pasangan kekasih, bahkan hampir menikah seperti sekarang ini, rasanya tak pernah sekalipun Raya menegurnya tentang merokok dengan alasan menghawatirkan kesehatannya, padahal dia juga termasuk perokok berat, Raya biasanya hanya cuek saja, kenapa dengan pengawalnya itu dia terdengar begitu perhatian? begitu kira kira pertanyaan yang menggajal di hati Martin.


Di liriknya dari kejauhan Raya dan Toni yang pergi semakin menjauh darinya, entah pergi kemana mereka, bahkan tunangannya itu tak berpamitan dan meminta ijin nya untuk pergi.

__ADS_1


"Pasti ada sesuatu yang salah di sini, perubahan sikap Raya padaku terlalu cepat dan begitu kentara, dan apa sebenarnya hubungan mereka, aku yakin pria songong itu lebih dari sekedar bodyguard untuk Raya, Ah berengsek... Awas saja, ku habisi kalian semua!" amuk Martin menendang tempat sampah yang berada di hadapannya sampai terjungkal dan isinya tumpah berceceran.


__ADS_2