
Sabrina terlihat agak berat untuk meninggalkan tempat itu, hatinya masih tak rela jika harus melepaskan Arsan begitu saja, namun Toni terus menariknya keluar dari tempat itu sampai Sabrina tak bisa berkutik lagi.
Tepat setelah mereka bertiga berada di dalam mobil dan masih berada tak jauh dari lokasi, Toni langsung menghubungi seseorang.
"Rolan, urusan ku dengan mereka sudah selesai, sekarang tinggal giliran mu," ucapnya langsung menutup percakapannya tanpa menunggu jawaban apapun dari Rolan yang menerima panggilannya di ujung telepon.
"Apa, Rolan? Jangan katakan kalau Rolan mengetahui rencana kalian dan hanya aku saja yang tak tau tentang ini semua!" Protes Sabrina.
"Yang penting Arsan tak lepas, kan?!" Cengir Panca.
"Sialan, tapi kalian menjadikan ku seperti umpan bodoh tadi, kalian tega!"
"Tak ada yang terjadi apapun pada mu, jangan lebay!" timpal Panca lagi.
"Ah, shiiiiiitttttt!" Teriak Toni saat dia baru saja membaca sebuh pesan di ponselnya.
"Panca, cepat putar balik, kembali ke tempat senjata!" Teriak Toni lagi dengan wajah yang pucat dan terlihat sangat cemas.
"Apa yang terjadi ?" Panik Sabrina, sungguh dia takut kalau Arsan ternyata melarikan diri dan tak tertangkap lagi.
"Cepat!" Toni kembali berteriak sehingga Panca langsung bisa merasakan kalau ada sesuatu yang sangat serius terjadi di sana.
"Ada apa?" Panca juga menjadi penasaran dengan apa yang terjadi.
"Perasaan ku mengatakan kalau Rolan sepertinya akan bertindak tak sesuai rencana yang kita sepakati," terang Toni sambil memperlihatkan isi pesan yang di kirimkan Rolan padanya.
'Aku serahkan semua bisnis ku pada mu dan Sabrina untuk di kelola, tolong hidupkan lagi sasana agar ramai kembali, terakhir aku mohon, aku titip Cila, jaga dia seperti adik mu sendiri'
"Apa ini sebuah wasiat? Kalau iya berarti?" Sabrina terperangah saat mobil sampai di seberang kontainer, terlihat Rolan yang di dodrong masuk ke dalam ruangan itu dengan mengenakan pakaian jas lengkap seperti hendak menghadiri sebuah acara resmi, dia juga tampak mendorong sendiri kursi rodanya dengan kedua tangannya yang terus memutar rodanya tanpa henti.
"Rolan, tunggu !" Teriak Toni saat dia baru saja keluar dari mobil yang belum sepenuhnya berhenti itu.
Namun Rolan terlihat hanya sedikit menoleh lalu melambaikan tangan ke arah mobil yang berisi Toni Cs itu, lalu masuk ke dalam kontainer yang pintunya langsung menutup kembali.
__ADS_1
Terdengar beberapa kali letusan senjata yang suaranya lebih menggaung karena itu terjadi di dalam ruangan kontainer.
Toni, Panca dan Sabrina langsung berlari menuju kontainer itu, namun hanya tinggal beberapa langkah saja kaki mereka bertiga sampai di dekat pintu kontainer itu, mendadak tubuh mereka serentak terpental akibat ledakan yang begitu dahsyat dari dalam kontainer tempat Rolan, Arsan dan Bagas berada.
Toni yang saat itu terpental beberapa meter dari lokasi langsung berdiri dan memanggil-manggil kedua temannya yang tak dapat dia lihat karena sekeliling di penuhi asap hitam yang mengepul, di tambah lagi kobaran api yang membumbung tinggi, bahkan ledakan-ledakan susulan beberapa kali terdengar meski tak sebesar ledakan yang pertama, mungkin itu berasal dari senjata-senjata atau bahan lain yang ikut terbakar dan ikut meledak.
"Panca, Sabrina, di mana kalian? Apa kalian berdua baik-baik saja?" Teriaknya memanggil manggil nama kedua orang yang sejak tadi bersamanya itu.
Sambil terbatuk-batuk Toni tetap memanggil dan mencari-cari Panca dan Sabrina di tengah orang-orang yang mulai ramai berkerumun mencari tau apa tang tengah terjadi di sana.
"Lion!" Panca yang ternyata bersama dengan Sabrina tergopoh-gopoh menghampiri Toni yang terlihat kebingungan mencari kedua orang itu.
"Kalian baik-baik saja?" Toni menelisik keadaan kedua orang yang sejak tadi di carinya itu.
"Kami baik-baik saja, bagaimana dengan mu?" Panca balik bertanya dan melihat keadaan sahabatnya itu, hanya terlihat luka sobek di dahinya saja dan seharusnya itu bukan hal yang serius.
"Syukurlah, aku juga baik-baik saja."
Mereka kini bisa bernafas dengan lega setelah memastikan kalau tak ada yang terluka di antara mereka bertiga.
"Hmmh, bukan seperti ini rencananya!" cicit Panca dengan pandangan mata nanar jauh ke kobaran api yang mulai berusaha di padamkan oleh orang-orang, bahkan tak selang berapa lama, dua mobil pemadam kebakaran pun datang ke sana suara sirine nya sungguh memekakan telinga, namun ketiga orang itu seakaan tak terganggu sama sekali, mereka tetap memandangi kobaran api yang kini bergulat dengan air yang keluar dari selang raksasa petugas pemadam kebakaran itu.
"Rolan bodoh, Rolan sialan, bisa-bisanya dia mengambil keputusan sendiri, " tambah Toni menimpali.
Semalam saat Toni berdiskusi dengan Panca dan Rolan meski lewat sambungaan video call bertiga, tapi semuanya sudah di jelaskan dengan se jelas-jelasnya kalau tugas Rolan hanya berpura-pura sebagai pembeli senjata dan membawa kembali Arsan ke rumah Sabrina sekalian membawa Bagas juga.
Toni dan Panca memang tadinya tak ingin melibatkan Rolan dalam hal ini, tapi karena kunci kontainer sudah di berikan kembali pada Rolan sebagai pemilik asli semua senjata itu, sehingga mengharuskan Toni dan Panca menghibungi Rolan untuk meminjam kunci kontainer, namun di luar dugaan, justru Rolan meminta untuk ikut andil dalam rencana itu, dia ingin menjadi bagian dalam rencana itu.
Meski dengan berat hati, demi terlaksana nya semua rencana yang Toni dan Panca telah susun sedemikian rupa akhirnya mereka mengijinkan Rolan ambil bagian dalam rencana itu, dan janjian bertemu di rumah sakit, namun harus terlihat tidak sengaja, agar Sabrina tidak curiga kalau semua itu hanya settingan.
Toni dan Panca tak menyangka jika Rolan akan berbuat se nekat itu, sungguh ini semua di luar skenario yang mereka tulis.
Polosi mulai datang saat api sudah padam, beberapa kantong jenasah berisi mayat yang terbakar hangus di sana.
__ADS_1
Terlihat total ada 6 kantong jenasah yang di angkut ambulan dan di bawa ke rumah sakit untuk di autopsi.
"Bagaimana sekarang?" Tanya Sabrina mulai pasrah jika pun harus kehilangan Arsan yang sebenarnya ingin dia bunuh dengan tangannya sendiri secara perlahan, tapi ternyata Tuhan ingin semuanya tampak adil.
Jika Cobra sang ayah harus meninggal dengan cara yang cukup tragis yaitu karena jebakan bom yang di pasang oleh Arsan, kini Tuhan menunjukkan kuasanya di mana Arsan pun harus mengalami penderitaan yang sama seperti yang Cobra alami saat meregang nyawanya.
"Kita pulang, ke tempat ku, aku harus menyampaikan berita ini pada istri ku," kata Toni.
"Iya, aku juga harus ketemu Dila dengan segera!" cicit Panca.
"Heh, apa hubungannya ini semua dengan kekasih mu?" protes Sabrina.
"Tidak ada, aku juga tak berbicara kalau kekasih ku ada hubungannya dengan ini semua, aku hanya bilang kalau aku harus bertemu dia, dan itu karena aku kangen sama kekasih ku!" tepis Panca.
"Ish,, sialan kau!" kesal Sabrina memutar bola matanya jengah.
Kepulangan dirinya ke rumah saat ini membuat Raya histeris karena melihat Toni pulang dalam keadaan terluka dan kacau seperti itu.
"Sayang, apa yang terjadi, kenapa kamu luka-luka seperti ini?" panik Raya melihat keadaan Toni yang padahal masih sangat dalam keadaan baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja," elak Toni.
"Tapi dahi mu itu berdarah, apa yang terjadi?" Raya menunjuk pelipis Toni yang terluka.
"Ya elah, luka gitu doang, masih jauh ke jantung, dia juga tak akan mungkin mati hanya karena luka di dahinya itu."kesal Sabrina yang menilai semua yang di lakukan Raya itu terlalu berlebihan dan membuatnya kesal.
Toni hanya bisa terdiam saja saat Sabrina terus bersungut-sungut karena dirinya merasa sangat iri, bagaimana tidak iri, di sana hanya dirinya satu-satunya yang tidak di temani pasangannya, sementara Toni dan Panca bersama pasangannya, membuatnya merasa kesal dan sebal.
"Apa yang terjadi ? Kenapa bisa jadi seperti ini ?" Raya mengulangi pertanyaannya, karena sejak tadi dia belum juga mendapat jawaban baik dari Toni maupun dari kedua orang yang datang bersama nya.
Namun Toni tetap mengunci rapat mulutnya, dia tak tau harus dari mana memulai cerita tentang kejadian hari ini yang mungkin saja telah menewaskan ayah dari istrinya itu.
"Apa kalian tidak mendengar berita tentang ledakan di pelabuhan?" Tanya Panca yang tanggap dengan kebisuan Toni yang sepertinya belum bisa bercerita.
__ADS_1
Saat ini memang berita apa pun akan sangat mudah menyebar karena wartawan dadakan di internet pasti akan lebih cepat memberikan informasi pada khalayak umum.