Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Ayah!


__ADS_3

"Tenanglah, jangan terlalu banyak pikiran, sembuhkan dulu saja luka mu, aku akan mencari dan menyelamatkan putri mu, kita sama-sama seorang ayah, aku bisa merasakan apa yang kau rasakan saat ini." Cobra berusaha menenangkan Rolan yang sepertinya terus kepikiran sang putri yang juga belum di ketemukan, padahal info valid dari sumber yang sangat dapat di percaya mengatakan kalau Cila di sekap di rumah itu, dan pemberi info tak mungkin menipunya.


Semua yang terluka maupun yang tewas sudah di bawa ke luar menuju mobil, untuk dibawa ke rumah sakit dan ke markas karena hari sudah hampir pagi, sebelum pagi menjelang semua harus sudah beres agar tak menarik perhatian banyak orang.


"Ayo ayah, rumah ini sepertinya kosong, si Arsan rupa-rupaya sudah tau kalau kita semua akan datang ke sini dan menyerangnya." jak Sabrin pada ayahnya yang seperti masih penasaran dengan rumah itu, karena selain Rolan, tdi dia juga mendengar samar-samar suara perempuan yang di sinyalir adalah suara Cila, sayangnya sudah di cari ke semua ruangan di rumah itu, namun tak ada Cila maupun Arsan di rumah itu.


Suara teriakan itu terdengar kembali, kali ini Sabrina pun mendengarnya.


"Ayah, apa ayah mendengarnya juga?" tanya Sabrina.


Cobra mengangguk, mereka berdua menajamkan pendengarannya, mencari darimana suara itu berasal, dengan senjata yang sudah siap di tangan.


"Sepertinya dari sebelah sana!" tunjuk Cobra menunjuk ke bangunan gudang yang berada di halaman belakang rumah itu.


Mereka berdua bergegas menuju bangunan gudang yang terpisah dari bangunan rumah utama itu.


"Ayah, apa tak sebaiknya kita menunggu para anak buah mu agar ikut bersama kita?" ucap Sabrina agak ragu-ragu, mengingat kejadian Rolan yang tadi celaka karena terlalu terburu-buru bertindak dan mengambil keputusan yang berkhir dirinya cedera parah akibat beberapa tembakan di kaki dan tangannya, beruntung tak kehilangan nyawa saat itu.


Sabrina bergidik ngeri membayangkan kalau sampai hal itu terjadi juga pada sang ayah, sungguh dirinya tak dapat membayangkan hal itu.


"Sejak kapan kau menjadi penakut seperti itu?" ledek Cobra pada sang putri.


"Bukan begitu, aku hanya---" belum sempat Sabrina menyelesaikan ucapannya, kini terdengar kembali suara rintihan seorang wanita, dan suaranya semakin jelas terdengar, membuat mereka berdua yakin kalau suara yang mereka dengar memang berasal dari ruangan itu.


Cobra dan Sabrina saling berpandangan, dan saling memberikan kode untuk masuk ke ruangan itu dan saling melindungi.


Sabrina memberi kode pada ayahnya agar dirinya saja yang akan terlebih dahulu masuk ke ruangan itu, sungguh dia tak ingin ayahnya bernasib sama dengan Rolan.


Setelah memastikan tak ada sesuatu yang aneh di dalam ruangan yang tak terlalu luas itu, Sabrina lalu memberikan kode aman pada ayahnya, Cobra lantas mengekor di belakang sang putri sambil terus waspada melindungi putri kesayangannya itu.

__ADS_1


"Ayah, di sana, itu Cila!" tunjuk Sabrina ke pojok ruangan di mana Cila terikat di sebuah kursi, gadis itu merintih-rintih tak jelas karena mulutnya di sumpal kain.


Sungguh memprihatinkan keadaan putri dari Rolan itu, dia bahkanterlihat sangat kacau dengan tatapan mata yang kosong, dan baju yang sudah compang-camping sepertinya dia juga sempat mendapat kekersan se ksual.


Terlihat dari pakaian yang di kenakannya sudah tak utuh lagi, seperti kancing blouse yang di kenakannya terbuka, lantas di beberapa bagian bajunya juga tampak koyak.


"Tunggu,!" tahan Cobra, saat Sabrina sedang mencoba membuka ikatan tali di tangan dan kaki Cila yang di satukan ke kursi,


Sabrina menoleh ke ayahnya, dia baru menyadari kalau ikatan di tubuh Cila yang sedang Sabrina lepaskan terhubung dengan sebuah bom yang waktunya otomatis menyala berbarengan dengan di lepasnya ikatan di tubuh Cila, sungguh ini bak adegan di film-film laga yang biasanya hanya Sabrina tonton, namun kini dia harus mengalaminya sendiri.


Oh, betapa Arsan sudah sangat merencanakan ini dengan matangnya.


"Tenanglah, kita buka sama-sama, yang penting jangan panik, kita tak mungkin meninggalkannya di sini, atah sudah berjanji pada Rolan kalau ayah akan menyelamatkan putrinya." ucap Cobra menenangkan putrinya, sementara hatinya juga sebenarnya saat ini dia pun merasakan ketegangan yang sama dengan putrinya, hanya saja dia tak ingin menunjukkannya saat itu, berpura-pura tenang sepertinya menjadi pilihan Cobra, ada 2 nyawa yang harus di selamatkannya dan harus dia pastikan keluar dari tempat itu dengan selamat.


"Sepertinya dia sudah tak waras, kenapa tidak kita tinggalkan saja dia, biarkan saja mati di sini, toh hidup juga sudah tak berguna!" gerutu Sabrina yang merasa saat ini dirinya dan sang ayah hanya sia-sia, apalagi gara-gara menyelamatkan nyawanya, dua nyawa kini terancam keselamatannya.


"Huss, jangan bicara seperti itu, janji adalah janji, ayah akan di hantui rasa bersalah jika gadis ini tak ayah selamatkan," tegur Cobra.


Tepat tinggal dua menit ikatan terlepas sempurna, "Ayo cepat kita lari dan tinggalkan tempat ini!" ajak Cobra.


mereka berlari dengan menyeret paksa Cila yang masih saja tak bisa di ajak komunikasi dengan baik.


Namun sial bagi Cobra, saat dirinya dan Sabrina menyeret tubuh kaku Cila, tiba-tiba kakinya menginjak sebuah paku yang panjang hinga menembus sol sepatunya.


"Aaaarrrghhh!" Ringis Cobra seketika langkahhnya terhenti erasakan sakit dan panas di telapak kaki kanannya.


"Ayah, ada apa?" Sabrina spontan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah ayahnya yang membungkuk menahan sakit di kakinya itu.


"Ayah tak apa, ayo cepat kita keluar, ayah hanya menginjak paku, bawa gadis itu keluar dari sini," pekik Cobra.

__ADS_1


Sabrina hampir saja berbalik dan melepaskan pegangan tangannya di bahu Cila, namun Cobra segera mengingatkannya untuk tetap berjalan ke luar, mereka sedang di buru dengan waktu.


"Ayah masih bisa berjalan sendiri di belakang kalian, ayo jangan buang waktu, kita harus segera keluar!" cegah Cobra.


Melihat ayahnya yang kini sudah bisa melangkahkan kakinya mengikuti dirinya, Sabrina melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar dengan terus membawa Cila tanpa dia lepaskan.


Tepat saat dia keluar dari pintu gudang itu,


Duarrrrr!


Ledakan besar itu akhirnya terjadi, asap hitam langsung membumbung ke udara, puing-puing bangunan yang hancur berterbangan, membuat pandangan mata seakan terbatasi, karena sejauh mata memandang saat ini mata Sabrina hanya bisa melihat debu dan asap.


"Ayah,,,,,Ayah,,,,!" Sabrina berteriak histeris memanggil dan mencari ayahnya, dia tak yakin apaka tadi ayahnya sudah keluar gudang bersama dirinya, atau masih di dalam.


Di antara asap hitam, debu, dan puing-puing bangunan itu Sabrina terus berteriak memangil ayahnya, dia kembali ke arah gudang yang tadi meledak,melepaskan Cila dari genggaman nya karena gadis itu kini tak sadarkan diri.


Keberadaan Ayahnya kini lebh penting dri apapun, seakan tak memperdulikan bahaya dan keselamatan dirinya sendiri, dengan jarak pandang yang terbatas, dan debu yang menyesakan hidungnya sehingga membuatnya terbatuk-batuk sejak tadi, namun semua itu tk menyurutkan niatnya untuk tetp mencari sang ayah yang masih belum dia ketemukan, bahkan panggilannya tak sekali pun di jawab oleh sang ayah, membuat hati Sabrina semakin ketar-ketir di buatnya.


Beberapa anak buahnya datang karena mendengar suara dentuman keras tadi,


"Nona,,,nona, apa yang terjadi?" tanya mereka pada Sabrina yang seperti orang gila menangis sambil memanggil-manggil nama ayahnya yang tak juga di temukan nya.


"Ayah ku, kalian semua cari ayah ku di sekitar sini, cepat!" Titahnya pada beberapa anak buhnya yang datang mendekat padanya menanyakan apa yang terjadi.


"Nona, bos di sini !" teriak salah satu anak buahnya, di antara reruntuhan bangunan gudang itu.


"Ayah, cepat bawa ayah ke rumah sakit, CEPAT!" teriak Sabrina, hatinya hancur, sehancur bangunan gudang itu saat melihat tubuh sang ayah terkulai lemas saat di gotong oleh tiga orang anak buahnya untuk keluar dari bangkai bangunan itu.


"Kenapa kalian tidurkan ayah ku di tanah seperti itu, cepat bawa ke rumah sakit, apa kalian tuli, huh?" Hardik Sabrina, dirinya sangat marah saat parra anak buah nya yang menggotong tubuh ayahnya justru malah menggeletakan tubuh ayah nya di tanah.

__ADS_1


"Maaf nona, tapi bos sudah---" mereka bertiga kompak menundukkan kepalanya tak mampumengatakan berit sedih itu pada Sabrina.


"Tidak,,,kalian bohong, kalian sok tau, cepat bawa ayah ku ke rumah sakit, SEKARANG!" Teriak Sabrina dengan nafas yang mulai tersenggal-senggal menahan rasa nyeri di dadanya yang tiba tiba saja seperti sedang di himpit batu yang sangat besar, sesak dan nyeri.


__ADS_2