Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Empat Empat


__ADS_3

Kecanggungan terus terjadi di antara Toni dan Raya semenjak kejadian Toni yang tiba tiba mencuri ciumannya di pipi, bahkan saat ini, Raya yang sedang berboncengan dengan Toni hendak menuju kantor merasa kebingungan harus berpegangan pada apa, karena dia tak mau bila harus berpegangan pada pinggang atau bagian tubuh Toni lainnya, hatinya masih sering berdebar tak karuan meski hanya sekedar berdekatan saja.


Akhirnya tangan Raya meraih tepian baju kanan dan kiri pinggang Toni saat pria itu memutar tuas gas nya sangat dalam.


Merasa risih, Toni melepaskan tangan kirinya dari stang motor, lalu meraih tangan Raya dan melingkarkan tangan Raya satu persatu bergantian agar memeluk pinggangnya sampai kedua tangan Raya bertemu dan bertumpu di perut ratanya.


Dada Raya kini menempel erat di punggung Toni, bahkan suara jantungnya yang seakan menggedor gedor dinding dadanya sepertinya dapat di rasakan juga oleh Toni, yang seakan tak merasakan apapun karena wajahnya yang selau datar tanpa ekspresi.


***


Karina terbangun dari pingsannya, kepalanya masih terasa sedikit pusing, dia ingin menggrakkan tangannya, namun kedua tangannya tak bisa dia gerakan karena terikat erat ke belakang tubuhnya.


"Sialan,,, dimana aku,,,?!" Karina menyapu seluruh penjuru ruangan gelap dan kotor yang berukuran sekitar 4x4 meter itu.


Wanita itu juga berusaha mengingat ingat kembali bagaimana bisa dirinya kini bisa berada di ruangan pengap ini.


Terakhir yang dia ingat, dia di paksa untuk menanda tangani sebuah surat yang menyatakan kalau dirinya sudah tak punya kuasa apapun atas rumah, perusahaan dan semua aset yang Arsan lubis miliki karena dirinya yang telah berselingkuh.


Memang dulu dirinya dengan Arsan pernah memiliki surat perjanjian pra nikah, dimana dirinya siap kehilangan seluruh hak atas semua aset yang di miliki Arsan jika dirinya kedapatan berselingkuh, tapi bukankah itu hanya dirinya, Arsan, dan pengacara yang saat itu menjadi saksi mereka saja yang tahu, sementara sang pengacara yang dulu menjadi saksinya itu sudah lama meninggal, jadi seharusnya hanya dirinya dan Arsan saja yang tahu, bahkan Martin saja tak mengetahuinya.


"Shiiiitttt,,,, siapa yang melakukan ini semua pada ku ? Halooo siapa saja yang ada di luar,,, tolong aku !" teriak Karina memanggil siapa saja yang mungkin mendengar jeritannya dan berharap ada yang berbaik hati menolongnya dan mengeluarkannya dari tempat itu.


Namun usahanya ternyata hanya sia sia saja, karena tak terdengar ada seorang pun yang mendekat dan merespon teriakannya.

__ADS_1


Sungguh sial nasibnya, dari seorang istri pengusaha kaya raya, kini harus menjadi tawanan di tempat kumuh dan asing, dengan semua harta yang sudah lepas dari tangannya secara paksa.


'Fix, aku sudah jadi gelandangan ini,' umpatnya dalam hati.


Tak ada satu orang pun yang dia kenal dari orang orang yang saat itu datang ke rumah dan mengancamnya, pertama mereka memperkenalkan diri sebagai pegawai Bank swasta ternama dan mengatakan kalau rumah milik Arsan yang saat ini dia tempati akan di sita karena Arsan menunggak pembayaran angsuran selama 6 bulan, bahkan mereka juga menempel plang tanda kalau rumah itu di sita.


Hampir saja Karina percaya dengan kata kata orang itu, sampai dia mengingat sesuatu kalau rumah itu atas nama dirinya dan Arsan, jadi jika pun Arsan ingin menjaminkan rumah itu ke Bank, harus ada persetujuan dan tandatangan dirinya sebagai pemilik jaminan, tapi dirinya tak pernah merasa menanda tangani apapun, dan Arsan juga tak pernah bercerita tentang penjaminan rumah itu.


Karina bersikukuh kalau dirinya tak merasa menjaminkan rumahnya, dan berniat akan menghubungi pihak Bank, namun niatnya itu segera di hentikan dan di cegah oleh dua orang berbadan tegap dengan merampas ponsel yang akan dia gunakan untuk menelpon pihak Bank tersebut, kebetulan dia juga salah satu nasabah besar di sana.


Sesaat kemudian dia tak ingat apa apa lagi setelah salah seorang dari mereka membekapnya dengan saputangan yang sudah di bubuhi obat bius dan membuatnya kini berakhir di tempat kotor dan sesak ini.


Brakk,,,! Suara pintu yang di buka secara kasar dari luar, seorang pria paruh baya bertato ular di tangannya masuk ke dalam ruangan itu dan mendekati Karina yang menyipitkan matanya menejamkan penglihatannya atas wajah pria asing yang datang menemuinya di temani dua orang berbadan tegap yang sepertinya merupakan pengawalnya.


"Bagaimana tidur mu, apakah nyenyak ? Nyaman ?" tanya pria itu menyeringai.


"Siapa kau ? Aku tak mengenal mu, kenapa kau menculik ku?" suara Karina bergetar ketakutan.


"Kau tak perlu mengenal ku, cukup aku yang tau siapa kau, wanita penyembah uang yang rela menikah dengan tua bangka demi harta, namun ternyata kini semuanya tak dapat kau nikmati karena sudah lenyap dari genggaman mu !" sekali lagi suara tawa pria itu menggema di ruangan kosong itu.


"Apa masalah mu dengan ku ?" Karina mencoba memberanikan diri bertanya pada pria menyeramkan yang ternyata Cobra itu.


"Tak ada, aku tak punya masalah apa apa dengan mu !"ucapnya santai.

__ADS_1


"Lalu untuk apa kau menyekap ku kalau kau tak punya masalah dengan ku, lepaskan aku,,,!" teriak Karina mengabaikan rasa takutnya.


"Tidak,,, tidak,,, belum saatnya, kau masih ku perlukan untuk mengurus suami mu yang hanya bisa tergeletak tak berdaya di atas pembaringan, aku tak ingin buang buang uang menyewa perawat untuk merawat pria tua sialan itu !" Cobra memberi kode pada dua pengawalnya untuk membawa Karina dari tempat itu,


"A-Arsan ? tapi bukan kah dia di rumah sakit ?" cicit Karina, belum habis rasa penasaran dan kebingungannya, dia sudah di seret dan dibawa keluar oleh kedua orang pengawal Cobra, meski dirinya berusaha berontak, tenaganya tak seimbang dengan tenaga dua pria tegap yang kini membawanya.


Karina hanya bisa pasrah mengikuti langkah mereka meski dirinya tak tau akan di bawa kesana dan akan di apakan selanjutnya.


Ke sebuah rumah sederhana yang di jaga oleh beberapa orang pria di sekitarnya ini lah Karina di bawa, rumah seukuran tipe 36 yang hanya mempunyai dua kamar, satu kamar mandi dan ruang tamu yang menyatu dengan dapur dan hanya di sekat oleh meja makan berbahan kayu panjang.


Tak henti hentinya Karinamengedarkan pandangan paa rumah yang terasa asing baginya itu, kenapa mereka membawanya ke sini? batinnya.


Ikatan tali di tangan Karina lantas di lepas oleh salah satu pengawal Cobra, meski begitu kedua tangannya masih di pegangi dengan erat oleh pria pria tegap itu agar Karina tak mencoba brontak lagi, apalagi sampai berusaha kabur.


"Kau akan tinggal di rumah ini mengurus suami mu di sana, jadilah istri yang berbakti, sebelum kau mati !" ucap Cobra dengan tatapan yang penuh intimidasi pada Karina, sambil menunjuk salah satu kamar yang pintunya tertutup menunjukkan keberadaan Arsan kini berada.


"Jangan coba coba untuk lari dari tempat ini, karena aku tak segan membunuhmu, bila kau nekat untuk tetap berusaha kabur !" Ancam Cobra menunjukkan kembali seringai bengisnya yang membuat bulu kuduk Karina merinding ketakutan.


Sesaat setelah Cobra pergi, Karina membuka kamar dengan pintu tertutup yang tadi dintunjuk oleh Cobra, dia sangat penasaran apa benar yang pria itu katakan, kalau Arsan yang dia ketaui masih beada di rumah sakit itu ada di sni ?


Perlahan Karina membuka handle pintu kamar itu dengan hati hati, lalu mendorongnya pelan, benar saja, tubuh Arsan tergeletak di sebuah ranjang miri seperti ranjang milik rumah sakit, Ruang kamar itu sepertinya sudah di persiapkan untuk Arsan, karena berbagai alat kedokteran tertata rapi diruang kamar yang tak terlalu luas itu.


Selang oksigen dan selang infus menempel di tubuh tua Arsan dengan mata yang ,masih tertup.Ada alat yang juga menempel di dada Arsan, entah alat apa itu namanya, yang jelas itu untk memantau detak jantung Arsan yang terhubung dengan sebuah benda kotak dengan layar kecil yang menunjukan garis yang terus bergerak dengan suara khas nya tang berbnyi tit,,,tit,,, tit,,,seakan menjadi satu satunya suara yang menemani kesepiannya di rumah itu.

__ADS_1


"Kenapa kau tak mati saja mas, lihatlah, kau pasti akan menyusahkan ku setiap harinya, dasar tak berguna,! di saat aku membutuhkan perlindungan mu, kau malah enak enakan tidur seperti ini, aku sekarang tak punya harta apa apa lagi, kapan kau akan membuka mata mu dan cepat memberiku uang lagi yang banyak !"umpat Karina seakan sedang memarahi Arsan yang tak bergeming meski karina terus terusan memarahinya.


__ADS_2