
"Menikah dengan Cila, putri ku !"
Perkataan Rolan bagai sambaran petir di siang bolong untuk Toni, dirinya kini seperti merasa berada di ambang dua jurang yang curam.
Tidak, ini bukan suatu pilihan, ini terlalu sulit baginya untuk memutuskan, dimana kedua pilihan itu benar benar memberatkan dan menyudutkannya, jika dia memilih untuk menolak syarat yang di ajukan Rolan, dia tak yakin akan menemukan partner koalisi baru untuk melawan komplotan Cobra, itu berarti dia akan membiarkan Raya dalam keterpurukannya lebih lama.
Sementara kalau dirinya menerima syarat Roland,,, itu berarti dia harus rela kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hati Raya yang bahkan dia sendiri masih belum mempunyai nyali dan belum menemukan cara bagaimana caranya agar dia mengungkapkan isi hatinya dengan menyingkirkan rasa ketidak percayaan dirinya yang sangat besar.
Toni tak bisa berpikir, sungguh isi kepalanya tiba tiba menjadi blank,,, kosong begitu saja.
"Bro,,,! Lu tak perlu memutuskan semuanya terburu buru, ini semua tentang hidup lu, tentang hati lu, jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari !" bisik Panca membuyarkan pikiran kosong Toni yang lamunannya entah sedang berada di mana.
Panca sangat tau bagaimana dalamnya perasaan sahabatnya itu untuk Raya, terlalu keja takdir Tuhan jika harus mematahkan perasaan Toni yang baru pernah dia alami di sepanjang umurnya, Panca juga tak mau jika Toni nantinya akan di jadikan penerus bisnis hitam Rolan, karena pria itu pernah mengatakan padanya kalau dia sangat tertarik dengan skill Toni dan ingin menjadikan dia pemimpin di kelompok yang di pimpinnya.
"Aku tak punya waktu lagi untuk berpikir, kau tentu tau kalau Cobra terlalu berbahaya, dan kau pastinya tau, betapa aku ingin dia bahagia," jawab Toni lirih, tanpa perlu pria itu jelaskan siapa 'dia' yang dimaksudnya, Panca tentunya sudah sangat tahu kalau 'dia' yang di maksud adalah Raya.
"Kenapa, apa putri ku sebegitu buruknya sampai sepertinya kau harus berpikir sedalam itu, hanya untuk memutuskan menikah dengannya ?" Rolan berdiri dari duduknya, membuang pandangannya jauh keluar jendela yang berada di ujung dinding dekat kursi yang Toni duduki sekarang ini.
Bagaimana pun, egonya sebagai seorang ayah yang ingin membahagiakan anak perempuan satu satunya yang sangat di sayanginya itu tiba tiba muncul dan memenuhi hatinya, di kepalanya langsung berjejal berjuta rencana licik saat ada kesempatan datang dimana Toni sepertinya sedang terpojok dan sangat membutuhkan bantuannya, ini akan sangat menguntungkannya, dimana dia bisa membahagiakan Cila sang putri dengan mewujudkan impiannya untuk bersanding dengan Toni, begitu pun dengan miminya yang juga akan ikut terwujud karena mau tidak mau, setelah menjadi menantunya dia akan menyerahkan kekuasaannya pada calon menantunya itu.
"Apa kurangnya Cila ? Bahkan kau tau sejak dia sekolah sudah sangat menyukai dan mencintai mu, ?!" tanya Rolan lagi meski hanya di jawab dengan keheningan karena Toni tetap bungkam, belum mau menjawab apa yang di inginkan Rolan darinya.
"Kau boleh berpikr aku jahat, egois, atau apapun yang kau ingin pikirkan tentang aku, tapi satu yang harus kau tau, aku seorang ayah, aku hanya ingin putri ku bahagia, bukankah kau juga melakukan ini semua bertujuan untuk memberikan kebahagiaan pada orang yang kau cintai ?" seingai Rolan kali ini terlihat penuh keculasan.
Ucapan Rolan lumayan menohok jiwa Toni, benar kata pria tua itu, kalau apa yang di lakukannya sekarang ini memang semata untuk memberikan kebahagiaan pada orang yang di cintainya, namun apa harus dengan cara menukar kebahagiaannya juga ?
Kata kata intimidasi Rolan ternyata membuahkan hasil, setelah Toni mengunci rapat mulutnya semenjak tadi, akhirnya dia angkat bicara, entah ini keputusan benar atau salah, yang jelas selama itu akan menghasilkan kebahagiaan bagi Raya dia tak akan menyesali keputusan yang akan di ambilnya.
__ADS_1
"Aku bersedia, aku akan menikahi putri mu setelah semua urusan selesai," dengan suara agak tercekat karena suaranya seperti tersangkut di dadanya dan itu sangat terasa sesak dan sakit, tentu saja.
Katakanlah ini keputusan terbesar yang sepertinya dia ambil dalam kebimbangan, keadaan memaksanya, dan sang penulis nasib sepertinya tak memberinya pilihan lain selain mengikuti alur cerita yang di tentukan untuknya.
"Bagaimana aku bisa percaya dengan ucapan mu ? Apa jaminan mu kalau kau tak akan mengelak menikahi putri ku jika kelak urusan mu dengan Cobra telah selesai ?" Tannya Rolan, meski sebenarnya dia cukup mengenal dan sangat tahu kalau Toni adalah sosok pria sejati yang tak akan pernah mengingkari janji dan perkataannya, tapi dalam hal ini benar benar dia butuh jaminan, kebahagiaan putrinya yang akan menjadi taruhannya jika sampai ini tak sesuai dengan rencananya.
"Jaminan apa yang ingin kauinta dari ku ? Bukankah kau tau aku tak punya apa apa untuk ku jaminkan ?" Toni tersenyum getir sedikit perih.
"Jaminkan diri mu !" tegas Rolan.
"Bos, apa maksudnya, jangan keterlaluan, Lion sudah bersedia menikahi putri mu, kenapa dia harus menjaminkan dirinya segala ?!" protes Panca yang sejak tadi merasa telinganya sangat panas itu, tak lagi bisa menahan luapan kesal dalam hatinya pada Rolan yang selama ini selalu di hormati, di segani dan di takutinya.
"Kau tak berhak bersuara di sini !" bentak Rolan menatap tajam ke arah Panca yang memberanikan diri membalas tatapan mata Rolan untuk pertama kalinya karena merasa pria tua itu telah berbuat sewenang wenang pada sahabat baik yang pernah menyelamatkan nyawanya itu.
Toni segera melirik ke arah Panca, memberinya kode agar tetap tenang dan diam.
Meski sulit untuk menerimanya, Panca akhirnya mengikuti saran sahabatnya untuk tetap diam.
"Aku minta kau bertunangan dulu dengan Cila, setelah itu baru kita memulai kerja sama kita, dan sesuai janji mu, setelah semua urusan mu beres, kalian harus segera menikah, dan ingat,,, lebih cepat kalian bertunangan, maka lebih cepat juga kita memulai kerja sama kita, cukup adil bukan ?!" tekan Rolan sepertinya tak ingin memberinya pilihan lain pada Toni.
"Lusa,,, lusa kita lakukan pertunangan seperti yang kau mau, aku tak punya apa apa untuk ku berikan, kau tau itu, kan ? Jadi untuk semua persiapannya, aku serahkan pada mu," putus Toni.
"Oke, aku percaya pada mu Lion, ku tunggu kehadiran mu di acara pertunangan mu dengan anak ku lusa, kau hanya perlu datang, tak perlu membawa apapun selain diri mu sendiri," pungkas Rolan mengakhiri pertemuan dan perundingan kerjasamanya dengan Toni.
***
"Ayah,,,, ayah tidak sedang bercanda atau berbohong pada ku kan ? Aku benar benar akan bertunangan dan menikah dengan bang Lion ?" pekik kegirangan Cila tak bisa di sembunyikan lagi saat Rolan memberi tahu dirinya kalau impian putri semata wayangnya untuk menikah dengan Toni akan segera terwujud,
__ADS_1
"Ya,,, persiapkan diri mu nak, buang sifat manja mu itu, sebentar lagi kamu akan menikah dan menjadi seorang istri," Rolan mengusap kepala putrinya penuh sayang, dia sungguh ikut berbahagia atas kebahagian yang di rasakan putrinya saat ini, tak peduli dengan apa yang tengah di rasakan oleh Toni, baginya kebahagiaan Cila adalah yang utama.
"Terimakasih ayah, Cila sangat bahagia !" seru Cila bergegas pergi ke luar, dirinya tak sabar ingin menemui Toni, kata ayahnya Toni kini masih berada di sasana.
Di sasana,
Toni mengungkapkan dan menyalurkan amarahnya dengan menghajar samsak di sana, hanya itu setidaknya yang bisa dia lakukan, sementara Panca hanya bisa menatapnya dengan penuh iba di pinggir ring, dirinya sangat tak tega melihat sahabatnya harus menanggung beban yang sepertinya sangat berat itu.
"Abang,,,,! Apa benar yang ayah bilang kalau lusa kita akan bertunangan ?" Cila berhambur mendekati Toni yang sedang serius dengan tinjuannya.
"Bang Lion ! Cila lagi tanya abang !" teriak Cila yang merasa di abaikan oleh pria yang katanya calon tunangannya itu.
"Kau sudah mendapatkan jawabannya dari ayah mu, apa masih perlu jawaban dari ku juga ?" ucap Toni datar dan terkesan sedikit sinis.
"Apa ayah memaksa abang untuk bertunangan dengan ku ?" lirih Cila yang merasa , meski mereka sebentar lagi akan bertunangan, namun Toni masih saja bersikap dingin dan cuek padanya, seakan pertunangan ini bukan keinginan dari dirinya, dan terkesan di paksakan.
"Apa menurut mu selama ini aku termasuk orang yang gampang untuk di paksa ?" Toni justru menjawab pertanyaan Cila dengan pertanyaan.
"Bu- bukan seperti itu maksud ku, hanya saja, abang sepertinya tidak bahagia," suara Cila tiba tiba terdengar pelan, mungkin saat ini dia sedang menahan tangisnya, entah mengapa.
"Yang penting ayah mu bisa membuat mu bahagia, kan ?" Toni menjauh dari sana.
"Aku pergi, jangan mencari ku atau menghubungi ku, kalau kau ingin lusa aku hadir di acara pertunangan itu ,!" sebelum meninggalkan sasana bersama Panca, Toni sempat memberikan ultimatumnya untuk Cila agar tak mengganggunya sampai hari pertunangan nya tiba yaitu lusa.
Tak ada yang bisa Cila perbuat selain patuh, jujur saja dia tak tau apa yang membuat pria berhati batu itu tiba tiba memutuskan untuk bertunangan dengannya, bukankah selama ini meskipun rasanya sejuta cara sudah di cobanya, namun tak pernah sekali pun dia bisa memenangkan hatinya, boro boro memenangkan hatinya, mengambil secuil perhatiannya saja dia tak pernah bisa.
Lalu Raya ? Bagamana dengan Raya, bukankah terakhir kali beberapa hari yang lalu dia memergoki Toni sedang bermesraan dengan Raya ?
__ADS_1
Ah, peduli setan dengan Raya atau wanita manapun yang dekat dengan Toni, baginya hanya tinggal hitungan hari dia akan berbangga hati karena berapapun atau siapapun wanita yang mengisi hidup Toni, tetap saja dia keluar sebagai pemenangnya, karena hanya dia yang akan bertunangan dengan pria tampan nan gagah itu, lalu tak lama dari itu juga mereka akan segera menikah, seperti yang ayahnya janjikan padanya.
Dia juga kini tak lagi peduli dengan cara apa ayahnya membuat Toni menjadi bersedia menikahinya, mau itu dengan cara licik, curang, jahat sekalipun, dia hanya ingin memiliki Toni seutuhnya dan selamanya