
Cila tak cukup bodoh, tentu saja sikap marah Toni sekarang ini karena pria itu sedang menyembunyikan atau menutupi kesalahannya, terlebih bukti kini sudah berada di tangannya, Toni tak akan bisa mengelak lagi, pikirnya.
wanita yang kini telah berubah status menjadi tunangannya itu menatap Toni dengan rasa penasaran menunggu jawaban dari pria yang seakan mengunci rapat mulutnya, sepertinya Toni sangat ingin melindungi sosok wanita yang sedang di pertanyakan Cila itu.
'Oh, sebegitu berharganya kah wanita itu, sampai kau melindunginya sedemikian rupa ?' jerit perih Cila dalam batinnya.
Menilik dari merek sepatu yang tadi di pegangnya, sebenaarnya Cila sudah punya tersangka, siapa lagi yang mempunyai selera fashion yang modis dan berharga mahal di lingkungan Toni, selain---- Raya.
Namun Cila tak ingin gegabah melempar telunjuknya ke wanita itu, salah salah Toni malah bisa balik semakin membencinya karena bisa saja dirinya di anggap mengada ada, karena hanya dengan bukti sepasang sepatu langsung menunjuk hidung Raya sebagai pelakor.
"Abang,,,,! Abang kan,sekarang sudah tunangan sama Cila, kenapa abang tak pernah menceritakan apapun tentang diri abang sama Cila, abang kerja di mana, ingat bang, sebentar lagi kita nikah !" Cila menurunkan volume suaranya, dia tau kalau Toni tak bisa dia perlakukan kasar seperti perlakuannya pada orang lain hanya karena merasa dirinya anak seorang Rolan yang di takuti semua orang.
Ini Toni, yang bahkan pada ayahnya pun tak di takutinya sama sekali.
"Sudah ? Selesai kau mengoceh, atau masih ada yang ingin kau sampai kan ?" tanya Toni datar dan dingin, tak ingin terprovokasi dengan amarah Cila.
Saat ini yang di inginkannya hanya satu, yaitu Cila segera pergi dari sana, karena jujur saja saa ini hatinya sedang terpaut erat pada sosok Raya yang membuat hatinya khawatir.
Kemana gadis itu sebetulnya, kenapa dia tiba tiba menghilang, apa dia tadi sempat bertemu dengan Cila ? pikiran Toni sungguh tak bisa fokus saat berbicara bersama Cila,pikirannya bertkeliaran ke mana mana.
Cila terdiam tak menjawab pertanyaan Toni padanya.
"Kalau sudah selesai, lebih baik kau pergi, aku masih banyak pekerjaan !" ucap Toni lugas.
"Bang,,, kenapa tidak menjawab pertanyaan Cila,? bukankah Cila berhak tau, apa pekerjaan abang sebenarnya ?" Cila seperti belum mau beranjak dari tempat itu.
"Bukan kah apa yang kau dan ayah mu inginkan sudah kalian dapatkan ? Aku sudah bertunangan dengan mu dan kemudian menikahimu, aku cuma minta satu, tolong jangan mencampuri urusan ku, apapun itu, kalau kau masih ingin aku memenuhi janji ku untuk menikahi mu !" tatapan Toni sungguh mengintimidasi dan penuh ancaman yang lumaan membuat Cila berpikir dua kali untuk terus berdebat dengan tunangannya itu, bagaimana pun, menikah dengan Toni adalah impian terbesar dalam hidupnya, dia tak ingin hanya karena emosi sesaatnya dia kehilangan semua yang sudah berada di hadapan matanya.
"Baik. Cila gak bakal maksa abang buat menceritakannya, sekarang.namun---" ucapan Cila terjeda seiring pandangan matnya yang tiba tiba beralih memandangi pintu kamar mandi Toni yang tertutup rapat, "Kalau sampai Cila tau siapa wanita itu, wanita yang sedang abang sembunyiin itu, Cila pastiin wanita itu akan menyesal karena sudah berurusan dengan orang yang salah !" volume suara Cila sengaja di tinggikan, seakan dirinya sangat yakin kalau di dalam kamar mandi itu ada seseorang yang saat ini identitasnya sangat ingin Toni rahasiakan itu.
Cila pergimeninggalkan tempat itu dengan perasaan yang sangat kesal, dia sampailupa tujuannya datang ke sana adalah untuk mengajak tunangannya itu sarapan bersama, namun semuanya buyar begitu saja hanya karena dirinya yang masuk ke dalam kamar Toni tanpa seijinnya, saat ini kebencian Cila pada Raya semakin mengubun ubun tat kala dirinya kembali mengingat kalau Rayajustru pernah berada di kamar it dan menginap di sana.
(Apa jadinya kalau sampai Cila tau kalau Raya malah berada di pelukan Toni semalaman)
Raya yang berada di dalam sana menahan nafasnya, menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tentu saja gadis itu dapat mendengar jelas apa yang baru saja Cila ucapkan dengan lantang, seolah kata kata itu memang sengaja di tujukan untuk dirinya.
__ADS_1
Sementara Toni tetap empertahankanwajah datarnya, berusaha tak menampakan sikap yang dapat membuat Cila curiga pada sikapnya.
Toni baru benar benar bisa bernafas dengan lga saat memastikan kalau Cila memang sudah pergi dan meninggalkan tempat kosnya, refleks dia segera berlari ke kamar mandinya, dia yakin kalau Raya berada di sana sejak tadi.
"Raya,,,Raya,,,,!" panggil Toni sambil mengetuk pintu yan tertutup rapat itu.
Namun sayangnya bukan jawaban yang di dapatnya namunjustru suara isak tangis yang sontak saja membuat Toni bertambah panik,
"Raya,,, jawab aku, kamu baik baik saja ? Kenapa kamu menangis ? Apa Cila enyakiti kamu ?" pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari bibir Toni, namun tak ada jawaban lain selain isakan dari dalam sana,
"Raya,,, aku akan mendobrak pintu ini kalau kau masih tak menjawab pertanyaan ku !" ancam Toni yang mulai kehabisan stok kesabarannya.
"Aku kan hitung sampai tiga, menjauh dari pintu, aku akan mendobraknya, satu,,, dua,,, tiga,,, !" ucapnya berbarengan dengan suara gedubrag pintu yang berhasil Toni tendang dari luar sampai terlepas dari engselnya.
Tampak Raya sedang terduduk di pojokan dengan kedua tangan memeluk kedua lututnya dan wajah yang terbenam di atasnya.
"Raya,,, apa yang terjadi ?" Toni berjongkok di hadapan gadis yang tampak kacau itu, tangannya terulur membelai rambut gadis yang masih belum mau mengangkat wajahnya dan masih betah menangis di sana.
"Aku,,, aku,,, huaaaa !" tangis Raya lagi lagi pecah, pagi ini sudah dua kali Toni mendapati gadis itu tiba tiba menangis tak jelas penyebabnya, jika tadi alasannya ketindihan setan, lantas alasan apa lagi tangisnya sekarang ini, pikirnya.
"Aku gak bisa berdiri,,, kaki ku kram dan ini sangat sakit !" adu Raya yang tetiba merasa badannya seringan kapas setelah mengadukan semua keluhannya.
Ternyata Toni langsung mengangkat tubuhnya, tanpa basa basi lagi setelah gadis itu selesai menyampaikan aduannya.
Toni membawa tubuh mungil itu kembali ke dalam kamar, dan mendudukannya di kasur, di luruskannya kedua kaki Raya perlahan tanpa berbicara sepatah kata pun lagi.
"Ssshhhsss,,,, sakit !" ringis Raya saat kaki kanannya di pijat lembut oleh tanganToni.
"Kaki mu hanya kram, bukan patah ! Bisa gak, apa apa itu gak usah pake nangis, pagi ini kau sudah dua kali nangis hanya karena alasan sepele, katanya ingin jadi wanita kuat, tapi apa apa nangis !" omel Toni sambil terus memijat betis Raya yang kini urat uratnya sudah tak tegang seperti tadi.
"Aku tadi lagi di kamar mandi, terus Cila datang, karena takut ketahuan, aku diam di sana, aku pegal berdiri terus, ya aku jongkok, tapi kalian ngobrol lama banet, sampai kaki ku kram, ini rasaya sakit sekali !" ucap Raya, sebenarnya selain kakinya ada bagian lain yang tak kalah terasa sakit saat ini, yaitu hatinya.
Entah mengapa, membayangkan Toni berduaan dengan Cila di dalam kamar membuat hatinya terasa bagai di remas, nyeri.
Jangan harap dengan Raya mengadu sambil terisak pilu pada Toni dia akan mendapatkan simpati atau perlakuan manis dari pria es batu itu, sebaliknya, Toni langsung berdiri,
__ADS_1
"Ganti baju mu, pilih saja pakaian mana yang ingin kau pakai di sana !" Toni menunjuk lemari plastik yang berdiri di pojok ruangan, lalu keluar kamar memberi waktu gadis itu untuk mengganti bajunya.
Mungkin Raya pikir sikap Ton padanya saat ini sangat kejam dan tak ber empati sama sekali padanya yang kini sedang menangis kesakitan, tapi tanpa Raya tau, Toni buru buru keluar dari kamar itu karena tak ingin terlarut dalam suasana, Toni mencintai Raya, Toni juga pria normal yang selau merasakan getaran aneh saat bersentuhan dengan gadis yang di cintainya itu, sekuat tenaga Toni menepis keinginannya untuk memeluk dan mencium Raya, saat gadis itu menangis di hadapannya.
Tapi bukankah jika Toni melakukan itu semua justru akan membuat kacau semuanya, terlebih dengan ancaman Cila tadi, dia tak ingin Cila mencelakai Raya jika sampai wanita itu tau kalau Toni dan Raya sering bersama tanpa sepengetahuannya.
Ah,,, benar benar kondisi yang rumit !
Ceklek,,,!
Pintu kamar Toni terbuka dari dalam, Toni terlihat menahan tawanya saat melihat penampilan Raya yang seperti tenggelam dalam kaos oblongnya yang terlihat sangat kedodoran di tubuh mungil Raya, bahkan gadis itu tak perlu memakai bawahan lagi karena panjang kaos itu menjadi sebatas lutut di tubuhnya.
"Kamu mengetawakan ku !" cebik Raya kesal.
"Mana ada !aku lapar, kau sudah ku belikan salmon lokal, !" Toni beranjak dari duduknya dan melengos menjauhkan pandangannya dari tubuh Raya yang malah terlihat sangat menggoda memakai pakaian miliknya, diajadi merasa sedikit menyesal telah menyuruh gadis itu mengganti pakaian basahnya tadi.
"Asiiik ! ini enak sekali !" seru Raya yang terlihat sangat bahagia hanya karena di belikan nasi bungkus dengan lauk ikan tongkol bumbu merah.
"Pelan pelan, kau akan tersedak jika makan terburu buru seperti itu !" ucap Toni sambil mengusap bumbu makanan yang belepotan di pipi gadis itu.
"Waaah,,,,, mesra sekali kalian ini,,,!" suara Panca tiba tiba memenuhi ruangan sempit itu, kepalanya menyembul dari balik pintu.
"Sorry, gue gak ganggu kalian kan, gue cuma mau jemput Raya !" sambung Panca.
Setelah selesai makan, Raya berpamitan dan segera masuk ke dalam mobil Panca.
"Gue bawa Raya pulang, Bro,,,! ntar lama lama bareng lo bahaya, semalem pasti lo kalap ya pake acara robek bajunya dia, makanya sekarang dia pake baju lo ?!" goda Panca yang tentu saja tau kalau saat ini Raya memakai baju sahabatnya.
Namun saat Panca baru saja hendak masuk ke dalam mobilnya, tangannya di tarik Toni, sehingga pria itu urung masuk.
"Biar aku yang antar Raya ke rumah mu, kau bawa motor ku saja !" Toni merebut kunci mobil Panca dan menukarnya dengan kunci motor miliknya.
Tanpa sengaja tadi Toni melirik Raya yang duduk di jok dengan kausnya yang terangkat memperlihatkan paha mulusnya, saat tadi Panca menyinggung masalah bajunya yang di pakai Raya, sepertinya Toni tak mau hal itu menjadi santapan mata Panca.
"Cih, dasar posesif !" kesal Panca.
__ADS_1