
Tubuh Raya meluruh di lantai, kakinya serasa tak bertulang, sungguh cobaan tak pernah berhenti datang padanya, baru saja dia lolos dari bahaya yang mengancam nyawanya, kini harus mendapati kenyataan kalau ayahnya hilang entah kemana.
Toni terpaku memandangi tubuh Raya yang bersimpuh di lantai dingin rumah sakit, betapa saat ini dirinya telah merasa gagal sebagai seorang bodyguard yang seharusnya bisa melindungi Raya dari segala bahaya, namun sungguh semua itu di luar kuasanya, mungkin dirinya harus lebih aware dan waspada, dan harus bisa menekan egonya yang terkadang sering muncul bila apa yang di lakukan Raya tak sesuai dengan apa yang di inginkannya, dia juga bertekad untuk lebih tegas lagi dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tak meninggalkan Raya lagi, seberapa kerasnya pun gadis itu memintanya pergi, dia tak akan pernah lagi membiarkan gadis itu sendiri menghadpi semua masalah yang terlalu berat untuk di hadapi oleh seorang gadis se lemah Raya.
Toni berjongkok mensejajarkan diri dengan gadis yang terlihat kacau dan menyedihkan itu,
"Bukan saatnya untuk menangis, sekarang waktunya untuk mu bangkit," ucap Toni meraih bahu gadis itu dan membawa tubuh Raya yang lemah itu ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah gadis itu dari pandangan iba setiap orang yang melewatinya.
"Aku sendirian, aku bahkan kehilangan ayah ku sekarang, apa yang harus aku lakukan, untuk siapa lagi aku hidup, aku tak punya siapa siapa lagi !" ratap Raya terisak menangisi nasibnya sendiri.
"Aku akan menemani mu, aku tak akan meninggalkan mu dalam keadaan apa pun, ayo bangun, kita harus segera mencari tau keberadaan ayah mu !" Toni membantunya untuk berdiri, baginya,,tak ada waktu untuk menangisi nasib dan keadaan.
Raya sedikit terhenyak saat tangan hangat Toni untuk pertama kalinya mengusap airmatanya yang mengalir bak air kran di pipinya, pria dingin itu ternyata bisa sedikit lembut juga, Toni terus memapahnya sampai di parkiran menuju motornya.
Saat ini tujuan mereka adalah rumah Bagas, mereka terpaksa harus mendatangi rumah pria kepercayaan Arsan itu, untuk mencari informasi tentang menghilangnya Arsan, karena ponsel, dompet, dan semua barang milik Raya tertinggal di mobil yang penjahat tadi curi.
"Apa, tuan Arsan hilang ?! Bagaimana bisa ?" itu reaksi pertama Bagas saat Raya menceritakan hilangnya Arsan dari rumah sakit secara misterius.
Bagas, pria yang notabene paling dekat dan selalu tau tentang Arsan saja tidak tahu dan benar benar merasa kecolongan dengan kejadian ini.
"Lebih baik kita melaporkan kehilangan tuan Arsan pada polisi secepatnya, saya akan membuat laporan malam ini juga, nona sebaiknya pulang dan istirahat," ucap Bagas seraya mnepuk nepuk bahu Raya, namun kegiatannya itu terhenti karena Toni terlihat memelototinya seakan dirinya tak boleh menyentuh Raya.
"Emh,, Toni, aku titp nona Raya, jaga dia !" lanjut Bagas, yang hanya mendapatkan tatapan tajam sebagai jawaban dari permintaanya itu.
__ADS_1
"Terimakasih paman, atas bantuannya, aku akan pulang dan mencari informasi lagi, barangkali bunda tau tentang hal ini." ucap Raya.
Sesampainya di rumah, keadaan sangat sepi, maman yang biasa berjaga di pos tak terlihat batang hidungnya, kewaspadaan Toni langsung meningkat seribu kali lipat, Raya menempel di punggung Toni saat mereka memasuki pintu utama rumah itu.
"Ke-kenapa gelap dan sepi sekali, kemana para pelayan ?" cicit Raya sambil terus bersembunyi di balik punggung Toni.
"Diamlah, dan tetap di dekat ku !" Toni lalu menyalakan saklar lampu, tak terlihat sesuatu yang aneh di ruangan itu, semua tampak rapi dan baik baik saja.
"Bi,,,, bibi,,,, pak Maman,,,, Bunda,,,!" Raya berteriak mengabsen penghuni rumah, namun tad ada sahutan dari satu orang pun yang di panggilnya, bahkan dari ke sembilan asisten rumah tangga di rumah itu, tak ada satu pun yang keluar menghampirinya seperti biasanya menyambutnya saat nona rumah dia pulang.
Namun selang tak berapa lama dari itu, terlihat Maman memasuki pintu utama ruangan itu, ada yang sedikit aneh, tak biasanya Maman yang sedang dalam jam bertugas tak memakai seragam security nya, dia memakai pakaian santai, celana panjang kain dan tshirt.
"Pak Maman, kemana orang orang, kenapa sepi sekali ?" tanya Raya.
Raya mengernyitkan keningnya bingung,
"Maksudnya tak ada orang ?" tanya Raya lagi menerima amplop itu dari tangan Maman dan lalu menyobek ujunnya dlantas membuka dan membacanya.
"Apa apaan ini ? Siapa yang memberikan surat ini ?" bentak Raya pada Maman terbelalak.
"Maaf nona, saya tidak tau apa apa, tadi orang dari Bank yang memberikan surat itu dan memasang plang di depan gerbang," urai Maman.
"Oh,,,shiiitttt ! aku bahkan tak melihat plang itu tadi saat masuk, lalu kemana Bunda ?" suara Raya semakin meninggi, airmatanya seakan mengering menghadapi hari yang melelahkan,menyedihkan, dan berharap ini semua hanya mimpi buruk, lalu dia segera terbangun.
__ADS_1
Bagaimana bisa tiba tiba ada surat dari Bank kalau rumah ini di sita karena tunggakan pinjaman selama enam bulan lamanya tak membayar angsuran, dan dia tak pernah tau tentang itu semua, karena selalu merasa kalau keuangan ayahnya baik baik saja karena apapun yang di mintanya masih selalu di kabulkan oleh Arsan.
"Nyonya pergi tadi siang setelah orang orang dari bank pergi dan maaf nona, saya dan para asisten rumah tangga belum mendapat gaji kami bulan ini," terang Maman.
"Oh,,, perempuan siaalaan,,, bisa bisanya dia melarikan diri begitu saja, Karina,,, berengsek kau !" umpat Raya, yang sudah tak bisa lagi menahan rasa marahnya pada ibu tirinya itu, dia bahkan sudah kehilangan rasa hormatnya pada istri dari ayahnya itu.
"Aku akan menyelesaikan uang gaji kalian lewat pak Bagas, katakan pada yang lain untuk meminta gajinya pada pak Bagas," ucap Raya yang kemudian bergegas menuju kamar orang tuanya ang berada di lanti atas.
Kamar itu terlihat berantakan, lemari yang isinya terburai dengan pintunya yang tak tertutup sempurna, save boks yang juga terbuka dan sudah kosong, Karina sepertinya terburu buru pergi, karena sebagian banyak pakaiannya masih uth di lemari, mungkin wanta itu hanya membawa sedikit pakaian dan benda benda berharga saja saat pergi meninggalkan rumah ini.
Teringat akan benda berharga, Raya segera berlari menuju kamar pribadinya yang pintunya masih rusak belum sempat di betulkan,
Betapa kakinya kembali terasa lemas ketika mendapati kamarnya pun terlihat acak acakan seperti penampungan korban bencana, dirinya berlari ke save boks miliknya yang ternyata masih utuh, mungkin karena ibu tiri ya tak berhasil membobol kodenya, jadi di lewatkan begitu saja, hanya beberapa jumlah uang dan sedikit perhiasannya yang di bawa pergi, sementara perhiasan pemberian almarhumah ibnya masih aman di dalam save boks, dan itu sangat di syukurinya.
Tiba tiba Toni si pria es batu itu menghampiri dan memeluknya sangat erat,
"Maaf, maafkan aku yang yang tak becus menjaga mu ! Aku berjanji akan membalas setiap semua kesakitan yang kamu terima !" ucap Toni, untuk pertama kalinya nada bicara pria itu tak terdengar sinis atau ketus seperti biasanya.
Raya hanya terdiam, antara kaget dengan apa yang terjadi, marah dan kecewa pada keadaan, kesal pada Karina tapi di balik itu semua, dia juga merasakan kehangatan sikap Toni, ungkapan hangat seorang pria yang terdengar tulus ingin menjaga dan melindungi dirinya di saat dirinya benar benar berada di titik terendah dalam hidup.
"Aku ingin tidur di rumah ini untuk yang terakhir kalinya, sebelum besok aku benar benar pergi meninggalkan rumah penuh kenangan ini, aku sungguh lelah hari ini !" keluh Raya di dada Toni.
"Aku akan menjaga mu, tidurlah, besok mungkin akan lebih melelahkan dari hari ini !" seulas senyum tipis tergambar di bibir pria berhati batu yang sepertinya perlahan mulai mengikis itu.
__ADS_1