Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Bebaskan Aku


__ADS_3

!"Tolong berikan Karina pada ku,!" pinta Rolan pada seseorang yang sepertinya sedang berbicara sangat serius di suatu tempat.


"Apa kau sudah gila, memberikan Karina padanya sama saja kita bunuh diri, kau ini bodoh atau bagaimana ?" teriak lawan bicara Rolan.


"Kau akan kehilangan kesempatan untuk memperdaya Cobra dan mengeruk hartanya jika Lion sampai mogok untuk melanjutkan proyeknya, kau tau kan aku hanya bisa mengandalkan dia sekarang, kau lihat progres pembangunan proyeknya, sangat pesat dia cukup handal dalam hal ini," debat Rolan.


"Karina akan bersuara tentang kita, dan habislah semua, bahkan kau juga !" teriak pria itu.


"Kau masih saja bodoh, atau jangan jangan kau masih mencintai istri tak berguna mu itu Arsan ? Kita bisa menyerahkan Karina tanpa dia bisa bersuara satu kata pun,!" ucap Rolan setengah meremehkan lawan bicaranya yang ternyata itu adalah Arsan.


Ya,,, Rolan dan Arsan ternyata bekerja sama, proyek pembangunan bar dan kasino itu bahkan rencana besar Arsan, dia sengaja menggunakan nama Rolan untuk membangun proyek itu, setelah semua proyeknya berhasil di bagun dia akan mengambil alih semuanya dengan cara memperdaya Cobra seperti biasanya dengan cara curang, tentu saja.


"Tanpa bersuara? Maksud mu?" tanya Arsan tak mengerti.


"Kita bisa memberikan mayat karina, pada Lion, yang penting aku harus bisa membangun kepercayaannya kembali, dan kita juga tak berada dalam posisi berbahaya karena wanita itu tak akan bisa berkoar." ide Rolan yang terdengar sangat mengerikan di telinga Karina yang saat ini sedang menguping pembicaraan suaminya dan Rolan di ruangan kerja Arsan di rumah besar yang mereka tempati.


Tubuh Karina menggigil seketika, membayangkan hidupnya akan segera berakhir sia sia, jika sebelumnya dirinya sangat menginginkan kematian untuk mengakhiri segala penderitaannya, kali ini justru sebaliknya, dia ingin tetap hidup dan menuntut balas pada Arsan, manusia berhati iblis yang masih berstatus suaminya itu.

__ADS_1


Karina terus menajamkan telinganya, menempelkannya di balik pintu kayu yang tak tertutup sempurna itu, mendengarkan apa saja yang sedang di bicarakan mereka dan apa yang menjadi rencana busuk mereka untuk menghabisinya.


Sungguh saat ini dirinya merasa orang yang paling menyedihkan di seluruh dunia, bagaimana tidak, suaminya sendiri kini telah menyetujui menyerahkan dirinya pada ketua mafia itu untuk di bunuh dan di serah kan pada Lion hanya untuk menutupi kecurigaan Lion agar pria itu tetap bisa mereka manfaatkan.


Tapi Karina harusnya tidak lagi merasa heran dengan sikap arsan yang seperti itu, sementara istri dan anak kandungnya saja tega dia tumbalkan demi harta, apalagi dirinya yang hanya istri ke dua, terlebih dirinya pernah melakukan kesalahan besar padanya, istri dan anaknya yang tulus mencintainya saja dia hianati, kalau hanya kematian saja, itu adalah hal kecil yang Arsan bisa lakukan untuk Karina.


Karina berjalan setengah berjinjit menjauhi ruang kerja Arsan yang sedang di pakai berembug suaminya dan Rolan tentang dengan cara apa mereka menghabisi Karina, apakah dengan cara di racun, di tembak kepalanya, atau di cekik saja sampai kehabisan oksigen, begitu kira kira yang sedang mereka diskusikan.


Bulu kuduk Karina sampai merinding mendengarkannya, betapa kejamnya orang orang pemuja uang itu, sungguh uang telah membutakan mata dan hatinya, atau kah ini memang karma untuk dirinya yang sengaja Tuhan berikan lebih awal padanya?


Saat Karina baru saja keluar dari kamarnya yang tiba tiba terasa sesak karena dirinya yang terus mondar mandir sambil berpikir membuat kamarnya yang luas itu pun menjadi terasa sempit dan sesak, bak pucuk di cinta ulam pun tiba, karena Maman sang penjaga rumah yang dulu di pekerjakan olehnya di rumah ini tetiba saja lewat, sepertinya dia hendak menemui Arsan di ruang kerjanya.


"Ssstttss,,, heh,,, Man,,,!" panggil Karina setengah berbisik, sambil dia melambaikan tangannya memberi kode agar pria itu mendekat ke arahnya.


"Nyonya,,,!" lirih Maman, sambil matanya menyelidik ke setiap sudut ruangan memastikan tak ada orang yang melihatnya jika dirinya menghampiri wanita yang sudah membantunya memberi pekerjaan, mengangkatnya dari jalanan sehingga bisa merasakan nikmatnya bekerja di tempat yang teduh dan nyaman, dari pada dulu dirinya yang hanya preman pasar, belum lagi dengan latar belakang dirinya yang hanya lulusan sekolah dasar dan menjalani kehidupan keras sebagai preman pasar, sepertinya tak akan ada orang yang mau mempekerjakan dirinya, jujur saja dirinya berhutang budi pada Karina.


Terkadang hatinya juga tak tega melihat penderitaan Karina yang sekarang sekarang ini sering sekali terlihat menderita dan tak jarang dirinya menyaksikan jejak jejak kekerasan dan penyiksaan seperti lebam atau pun luka, bahkan beberapa kali dirinya pernah mendengar suara jeritan memilukan dari Karina yang dulu selalu memberinya uang tips tanpa pernah perhitungan jika dirinya memberi info info penting pada nyonya rumahnya itu.

__ADS_1


Meskipun dia tau sifat dan sikap Karina tidak sepenuhnya baik, namun setidaknya dia tak pernah jahat padanya, dan malah sebaliknya dirinya berkesempatan mendapatkan kebaikan Karina. Bukankah dalam hidup manusia itu selalu ada dua sisi seperti dua sisi mata uang, yaitu sisi baik dan sisi buruknya, jika orang lain mendapat sisi buruk Karina, maka Maman meski mungkin hanya satu satu nya, dia adalah bukti bahwa masih ada sisi baik Karina di antara sifat jahat dan buruknya yang mendominan.


"Apa kau mau menemui Arsan?" tanya Karina, yang lalu mendapatkan jawaban hanya dengan anggukan dari Maman tanpa berani berkata kata.


"Apa kau bisa menolong ku? Ku mohon!!" Karina menyatukan kedua telapak tangannya dan melipatnya di depan dada, seraya sedang melakukan sikap namaste, dia sedang memohon pertolongan dari Maman, satu satunya yang mungkin bisa membantunya, karena hanya dia yang kini menjadi harapan terakhirnya, bisa saja kan, Maman adalah perpanjangan tangan Tuhan yang sengaja di kirim untuk menolong dirinya.


"Ma- maaf nyonya, tapi saya tidak berani, saya takut!" jawab Maman dengan jujurnya.


"Aku mau di bunuh Arsan, apa kau tega membiarkan mereka membunuh ku, aku mohon, cuma kamu satu satunya harapan yang aku punya untuk menyelamatkan hidup ku, aku belum ingin mati, aku ingin memperbaiki hidup ku, aku ingin menjadi manusia yang kebih baik, ku mohon,,,tolonglah aku!" Karina kini malah bersimpuh di lantai seraya mencium kaki Maman yang bersikap serba salah.


Sungguh Maman seakan berada di satu persimpangan jalan yang sulit di pilih, apa mungkin dia sanggup menyelamatkan penyelamat hidupnya meskipun resikonya dia pun tak akan selamat ?


Apa tega dirinya menutup mata dan telinga seolah olah tak tau apa yang terjadi setelah Karina mengatakan semuanya padannya, apa jadinya nanti kalau Karina benar benar di hilangkan nyawanya dengan paksa oleh Arsan atau anak buahnya , atau siapapun itu, sementara dirinya bisa menolong tapi tak memilih jalan itu, yakin,,, dirinya tak akan menyesal seumur hidup, yakin dirinya tak di hantui rasa bersalah yang begitu besarnya sehingga seakan dirinya akan di bayang bayangi penyesalan dan rasa bersalah selama dirinya masih menginjakkan kaki di dunia ini.


"Nyonya, jangan seperti ini, tuan akan sangat marah dan salah faham pada kita, jika kita berbicara sedekat ini, tolong lah nyonya, bukan hanya nyawa anda, bahkan nyawaku sendiri bisa saja ikut melayang." ucap Maman, ketakutan.


Bukannya tak ingin menolong nyonya nya itu, hanya saja dia sendiri pun tak berani jika itu urusannya dengan Rolan dan para mafia, sedikit banyak dia tahu siapa itu Rolan, dia adalah pria yang di takuti oleh para preman jalanan, dan preman kampung, serta mantan preman pasar seperti dirinya.

__ADS_1


__ADS_2