Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Monster Makan Tisyu


__ADS_3

"Apa yang kau dan tunangan mu itu rencanakan? Pasangan sakit jiwa, jawab!" bentak Sabrina, rasa kesalnya pada Martin akhirnya dia lampiaskan pada Cila.


Namun Cila masih tetap bergeming untuk menutup mulutnya rapat-rapat, sementara Toni masih serius mengemudikan mobil dan Raya mendengarkan kekesalah Sabrina yang sedang dia tumpahkan pada Cila.


"Kau tau, kalau kau itu wanita paling menyedihkan, kau mencintai pria yang sama sekali tak mencintai mu, dan kau masih memaksakan perasaan mu padanya, murahan! Kenapa kau tak membusuk saja di rumah sakit jiwa? Orang sinting seperti mu membahayakan jika di lepas seperti ini, harusnya kau di pasung dan di asingkan di puncak gunung!" Oceh Sabrina terus saja mengomeli Cila yang mulutnya seperti di lem itu.


Namun mendengar ocehan Sabrina yang lumayan membuat panas hatinya, akhirnya Cila bersuara juga.


"Kau tak perlu mengurusi hidup ku, bahkan hidup mu tak lebih beruntung dari ku, kau pikir aku tak tahu jika kau pernah menyukai Lion juga?" Balas Cila tak mau kalah.


"Itu dulu, lagi pula siapa yang tak tergoda dengan wajah tampan dan tubuh kekar nya---" ucap Sabrina sambil melirik Toni yang masih anteng dengan kemudi di tangannya berpura-pura tak mendengar percakapan di kursi penumpang yang berada tepat di belakangnya itu.


"Hmmmm!" Raya berdeham dengan keras membuat Sabrina segera meralat kata-kata nya karena menyadari kalau Raya sepertinya mulai memberinya kode keras.


"Ta-tapi aku sudah menyadari dan tak memaksakan lagi, karena memang Lion sudah punya istri, aku cukup bisa menerima itu semua, kecuali kalau Lion hilap dan menggoda ku, jelas tak akan ku lepaskan!" Kilah Sabrina dengan seringai tanpa dosa nya.


"Pikiran mu busuk sekali, adik!" Timpal Toni dengan ekspresi datarnya dan melirik Sabrina lewat kaca spion, dengan menampakkan wajah sok polos, Sabrina yang menyeringai.


"Kalian semua berengsek, dan kau Bang, kau tak pernah melihat bagaimana aku memperjuangkan cinta ku, namun tak sekali pun kau melihat ke arah ku, kau yang sudah menjadikan ku seperti ini bang, kau yang merubah ku menjadi monster mengerikan seperti ini!" Teriak Cila.

__ADS_1


Namun itu tak berangsung lama, karena beberapa detik kemudian teriakan itu berhenti saat Sabrina sengaja memasukan beberapa lembar tisyu ke mulut Cila agar wanita itu tak lagi berteriak-teriak dan memekikan telinganya.


"Lion, Raya, kalian pasti belum pernah lihat monster makan tisyu, kan? Lihat ke sini!" Cengir Sabrina menertawakan Cila yang berusaha mengeluarkan lembaran tisyu yang di gulung dari dalam mulutnya dengan susah payah karena kedua tangannya yang di ikat ke belakang.


"Sabrina, kau apakan anak orang itu?" Ujar Raya menahan tawanya karena tak tega dengan wajah Cila yang terlihat sangat memelas itu.


Toni menepikan mobilnya, di tepi jalan.


"Gudangnya di daerah sana, aku pernah ke tempat itu saat mengantar Rolan transaksi narkoba dengan Martin dulu." Kata Toni.


"Cila, apa benar Bara membawa Dila dan Panca ke gudang itu?" Tanya Toni menengok ke bangku belakang tempat Cila dan Sabrina berada.


"Hey, monster menyedihkan, apa sekarang kau mulai menjadi monster yang bisu dan tuli?" Bentak Sabrina.


"Sabrina, kau masih menyumpal mulutnya, bagaimana dia akan bisa menjawab pertanyaan mu?" Toni menunjuk mulut Cila yang penuh dengan tisyu itu.


"Manja!" Cibir Sabrina sambil mengeluarkan sumpalan dari mulut Cila.


"Berengsek kau wanita iblis, beraninya hanya karena aku di ikat, ayo lawan aku saat kedua tangan dan kaki ku bebas!" Cila kembali menyemprot Sabrina.

__ADS_1


"Cila, jangan paksa aku untuk berbuat kasar lagi pada mu, aku bertanya baik-baik untuk yang terakhir kalinya," ucap Toni menahan kesal dengan sikap Cila yang tak bisa di ajak kerja sama.


"Bara hanya ingin membawa kembali istrinya yang di ambil oleh sahabat mu, dan menghabisi sahabat mu di sini, itu yang aku tau," ucap Cila.


"Mereka sudah lama bercerai, Panca tak merebut Dila dari siapa pun," timpal Raya.


"Mana ku tau, lagian sesama perebut pasangan orang pasti akan saling membela satu sama lain, kau dan Panca sama saja, perebut pasangan orang!" Umpat Cila.


PLAK !!!


Suara tamparan keras menggema di dalam mobil, suara itu berasal dari tamparan yang di lakukan Sabrina ke pipi Cila hingga pipi wanita itu terlihat merah bekas cap tangan Sabrina.


"Kau memang harus di tampar dulu agar otak mu waras, dan tak terus berhalusinasi seolah-olah kau ini orang yang paling tersakiti di dunia ini," pekik Sabrina menahan rasa marah dan gemas nya sejak tadi.


"Sudahlah, ayo turun. Anak buah mu juga beberapa sudah sampai," Toni menunjuk tiga mobil yang berhenti di belakang mobil mereka.


Sabrina memang langsung menghubungi anak buahnya untuk segera menyusul mereka, dia tak ingin ambil resiko dalam pengejaran Bara ini, apalagi ada 2 orang yang di sanderanya dan mereka juga membawa Raya yang sedang berbadan dua, perlu perlindungan ekstra.


Mereka ber 4 turun dari dalam mobil lalu berjalan menuju gudang milik Rolan, di ikuti sekitar belasan orang anak buah Sabrina yang mengekor di belakang mereka bersiap dengan senjatanya masing-masing.

__ADS_1


"Hati-hati jebakan!" Teriak Toni saat melihat gudang itu tak di jaga oleh seorang pun, sementara kata nya Bara membawa Dila dan Panca ke sini, apakah Friska telah sengaja menipu atau mengecoh mereka semua?


__ADS_2