Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Pasangan sakit jiwa


__ADS_3

Namun tiba-tiba terdengar suara ribut dan riuh dari dalam rumah, teriakan dan jeritan dari orang-orang yang hadir di pesta pertunangan palsu antara Cila dan Bara itu seketika membuat Toni terkesiap kaget, dengan secepat kilat dia berlari menuju ke dalam ruangan acara, mencari keberadaan istrinya, dan memeriksa apa yang terjadi di dalam ruangan itu, namun suasana sudah nampak kacau, dengan barang-barang yang sudah tidak pada tempatnya, dan orang-orang yang berlarian panik entah apa penyebabnya.


"Raya, sayang kamu dimana? Raya!" Teriak Toni memeriksa seluruh ruangan mencari keberadaan istrinya.


Panik mulai menghinggapi Toni, bagaimana tidak, kali ini bukan hanya sendirian yang Toni khawatirkan, namun ada bayi mereka dalam perut istrinya itu.


Hampir gila rasanya Toni saat menit berlalu namun sosok istrinya itu tak juga dia ketemukan keberadaannya, sampai di taman belakang Toni terkesiap saat namanya di panggil,


"Toni, tolong!" ucapnya dengan suara bergetar seperti sangat ketakutan.


"Raya, oh Tuhan jantung ku rasanya berhenti berdetak saat aku tak juga menemukan mu, apa yang terjadi?"


Toni Berhambur berlari ke arah istrinya yang kini keluar dari persembunyiannya di balik meja.


"Bara, Bara membawa Dila pergi, panca yang terluka parah juga dibawa mereka dan Sabrina mengejar mereka bersama Martin." Ucap Raya terbata-bata.


"Tenanglah, kamu tak apa-apa kan?" Tanya Toni sambil memeriksa sekujur tubuh istrinya, memastikan kalau tak ada luka pada tubuh istrinya itu.


"Aku baik-baik saja, tapi Dila dan Panca, mereka, cepat kita tolong mereka," rengek Raya.


"Apa yang terjadi ?" Cila tiba-tiba hadir di tengah mereka berdua.

__ADS_1


"Aku sudah memperingatkan mu baik-baik, tapi kau tak mendengar dan menghargai ku, sekarang cepat katakan pada ku, apa rencana kalian sebenarnya? Dan kemana bajingan itu membawa teman-teman ku pergi ?" Toni tak dapat lagi menahan rasa kesal dan marahnya pada wanita yang tadi masih bisa dia ajak bicara dengan baik-baik itu.


Rasanya Toni langsung hilang kesabarannya saat tau Panca terluka dan Dila di bawa paksa oleh Bara, api amarahnya seakan tersulut kembali, kesabaran yang sejak tadi di jaganya tiba-tiba menguap seketika, tangannya terulur mencekik leher Cila yang di rasa tak akan mempan lagi di ajaknya bicara secara baik-baik dan penuh kesabaran.


Mungkin dengan menggunakan kekerasan, meski terkesan tak bersikap ksatria karena melakukan kekerasan kepada seorang wanita, namun Toni sudah kehabisan stok sabarnya, sampai tiba-tiba,


"Lepaskan dia, ini bagian ku. Tangan ku sudah gatal ingin menghajar wanita yang berpura-pura gila ini, akan ku hajar kepala mu sampai kau gila sungguhan dan tak sembuh lagi!" Sabrina muncul dari balik keriuhan orang-orang.


"Sabrina, kau?" Toni terkejut mendapati Sabrina masih ada di sekitar rumah itu.


"Tunangan wanita ini membawa Panca dan Dila, tadi aku menyuruh Martin untuk mengejarnya, karena aku teringat harus menyelamatkan Raya," ujarnya, membuat Raya terharu dengan ketulusan Sabrina yang dulu membencinya setengah mati, namun kini begitu ingin melindunginya.


"Terimakasih Sabrina, aku baik-baik saja." cicit Raya menyeka tetesan air mata haru yang tiba-tiba saja menetes dari sudut matanya.


Kepala Cila tersentak hebat saat Sabrina menarik paksa rambut Cila sampai cekikan tangan Toni terlepas dari lehernya.


"Kita semua sudah tau borok mu, pura-pura gila mu, kelicikan mu, sudah selesai main drama mu sekarang ini, cepat tunjukkan kemana tunangan mu membawa teman kami, setan!" Sabrina semakin menarik rambut Cila sampai wanita itu meringis kesakitan, mungkin beberapa rambutnya kini telah terlepas akibat perlakuan Sabrina itu.


"A-aku tak tau, aku tidak terlibat dengan semua ini,!" Elaknya.


"Cila, akhiri semuanya sekarang juga, jangan menambah lagi rentetan masalah yang sudah kamu buat selama ini, cukup jangan tambah lagi korban!" Tegas Raya.

__ADS_1


"Kau, ini semua gara-gara kau. Sahabat tak tau diri, tega menikam dari belakang, merebut pria yang sangat aku cintai, ini semua tak akan terjadi kalau kau tidak kegatelan dan menggoda pria yaang ku sukai!" Teriak Cila.


"Cukup Cila! Mereka benar, akhiri semua ini, ibu juga sudah lelah dengan semua ini, ibu sudah pasrah dan bisa menerima jika harus hidup sederhana, dan satu lagi, kamu tidak bisa menyalahkan Raya, karena sedari awal Arsan dan ayah mu lah yang mereka yasa agar Toni dan Raya bersatu, dengan meminta agar Toni menjadi bodyguard nya Raya saat itu, namun ternyata Tuhan berkata lain, mereka memang berjodoh, ikhlaskan semuanya Cila, ayo memulai hidup yang baru, yang tenang bersama ibu." Tangis Friska pecah saat melihat anaknya kesakitan di bawah cengkeraman Sabrina.


"Tidak usah ikut campur bu, kau dan ayah sama saja, hanya mementingkan uang di banding perasaan aku, anak kalian, bukankah kalian tau kalau aku sangat mencintai bang Lion, tapi kalian mengabaikan itu demi uang dan kerja sama bisnis dengan Arsan, kalian sama berengseknya!" umpat Cila pada ibunya.


"Mulut laknat, ayah dan ibu mu pun kau maki, wanita dajal!" Sabrina menendang perut Cila dengan dengkulnya.


"Hentikan, jangan sakiti anak ku, tolong lepaskan dia, mereka pergi ke gudang di perbatasan, aku mendengar nya sendiri, mereka membawa teman-teman mu ke sana," bongkar Friska tak kuat melihat anak semata wayangnya di siksa sebegitunya oleh Sabrina, dia akhirnya menceritakan rencana Cila dan Bara yang dia tahu.


"Wanita tua sialan, beraninya kau bongkar semuanya!" teriak Cila melotot ke arah Friska.


"Heh dajal, yang kau panggil wanita tua itu ibu mu, berengsek!" Sabrina malah semakin beringas saat Cila semakin berani memaki Friska yang notabene adalah ibunya sendiri.


"Ayo jangan buang waktu, kita susul mereka, aku tau tempatnya!"Ajak Toni.


"Tunggu dajal ini harus ikut juga, cepat jalan betina iblis !" Seret Sabrina dengan kasar, sementara Cila hanya bisa pasrah mengikuti kemana dirinya akan di bawa oleh Toni, Raya dan Sabrina.


Kedua tangan dan kaki Cila sudah Sabrina ikat dengan kencang dan aman, sehingga dia tak mungkin berulah di dalam mobil, kini tinggal Sabrina yang terus saja mengoceh kesal karena Martin sejak tadi belum juga bisa dia hubungi.


Tunangannya yang bertugas mengejar Bara yang membawa Dila dan Panca itu seolah ikut menghilang.

__ADS_1


"Kebiasaan nih, si Martin kalau lagi penting gini menghilang, bukannya bantu malah nyusahin!" Gerutunya tanpa henti.


"Apa yang kau dan tunangan mu itu rencanakan? Pasangan sakit jiwa, jawab!" bentak Sabrina, rasa kesalnya pada Martin akhirnya dia lampiaskan pada Cila.


__ADS_2