
"Kalau begitu buktikan, buktikan kalau abang benar benar mencintai ku, karena aku adalah milik mu!" Cila melucuti pakaiannya sendiri di hadapan Toni sampai hanya menyisakan pakaian dalamnya saja, dia ingin tau reaksi Toni ketika melihat tubuhnya yang sudah polos tepat di hadapannya.
Jujur saja saat ini Toni merasa serba salah, jika tak meladeni wanita ini, Cila pasti merasa curiga dengan dirinya, tapi dirinya benar benar tak ingin terlibat kontak fisik dengan putri Rolan itu, bukannya dia sok sokan tak tergoda, rasa itu pasti ada lah, hanya saja kewarasannya masih tetap terjaga saat ini, dia tak ingin menghianati perasaannya pada Raya, dia mungkin memang bajingan di waktu sebelumnya, sering menyalurkan hasrat biologis nya pada wanita malam demi kebutuhannya itu, tapi semenjak dia mengenal Raya, rasanya hal itu lupa dengan sendirinya, bahkan untuk memikirkan hal ke arah sana saja sepertinya sudah tak pernah dia lakukan.
Ah, sepertinya ini merupakan ujian terberat yang harus Toni alami saat ini. Bagaimana tidak, kalau sewaktu bersama Sabrina wanita itu hanya menggodanya hanya dengan pakaian seksinya saja kali ini Cila malah berani tampil polos di hadapannya.
Toni hanya bisa menelan ludahnya sendiri sambil terus berpikir cara menghindari godaan tunangannya ini, tak lupa juga dia terus berharap semoga ada keajaiban membantunya lagi saat ini.
Namun semua itu tidak mudah, karena sebagai seorang pria normal, dia pun melakukan itu semua sambil harus menekan hasratnya yang terus menerus di uji. Ah,,, sungguh ujian yang membagongkan!
Toni mengepalkan tangannya sekuat tenaga saat tubuh polos Cila yang hanya mengenakan pakaian dalam saja itu semakin menempel ke tubuhnya, Cila terus merapatkan dadanya ke dada Toni sambil tangannya terus menari di balik t-shirt masih melekat di tubuh Toni.
"Cila, jangan begini, aku tak bisa!" geram Toni ambigu.
"Tak bisa apa?" Cila mengangkat wajahnya menatap wajah Toni yang kini sedang memejamkan matanya, Cila yakin kalau saat ini Toni sedang menahan gairah akibat ulahnya.
"Aku--- "
Tok tok tok !
Suara ketukan pintu terdengar seperti suara adzan magrib saat puasa di telinga Toni, sangat di nanti dan membahagiakan tentu saja.
"Lion,,, apa kau masih di dalam? Cila,,, buka pintunya!" suara teriakan Rolan membuat Cila terjingkat kaget dan segera memungut baju nya yang tergeletak di lantai, lalu berlari ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
Toni membuka pintu yang tadi di kunci Cila dari dalam. Tampaklah wajah Rolan yang seperti sedang kebingungan.
"Kau harus menolong ku!" ucap Rolan menggenggam tangan Toni, suaranya terdengar sedikit bergetar dengan wajah yang pucat sekan tak di aliri darah.
"Apa yang terjadi ?" tanya Toni dengan gaya bicara khasnya yang datar dan terkesan sedikit dingin.
__ADS_1
"Kau harus ke pelabuhan untuk mengecek dan membereskan kekacauan yang terjadi di sana," ucapnya agak memohon.
"apa lagi yang terjadi?" wajah Toni di buat seolah ikut khawatir dengan apa yang di alami Rolan saat ini.
"Aku tak ingat kalau senjata pesanan ku akan datang hari ini, itu pesanan dua bulan yang lalu, entah siapa yang membocrkan ini semua, tapi kontiner ku sudah di kepung polisi dan beberapa wartawan, bagaimana ini, sementara beberapa anak buah utusan ku melaporkan kalau mereka tak bisa bergerak dengan leluasa di sana," terang Rolan.
Toni tersenyum dalam hatinya,
"Oke, akan aku bereskan, tunggu kabar baik dari ku!" ucapnya langsung meninggalkan tempat yang hampir saja membuatnya terpaksa menyantap makanan yang tidak semestinya tadi.
Toni sengaja membawa tiga orang kepercayaan Rolan untuk ikut bersamanya menuju pelabuhan.
Sesampinya di pelabuhan,Toni memerintahkan satu orang untuk berjaga agak jauh dari kontainer milik Rolan agar tak mencrigakan, lantas satu orang lainnya memantau situasi dari jarak dekat, dan satu orang lagi dia ajak untuk ikut bersma dirinya mendekati kontainer tempat di simpannya senjata pesanan Rolan.
Toni mengendap endp bersama satu orang anak buah kepercyaan Rolan itu di antara celah kontainer yang berjejer di sana, dengan kerja sma yang baik antra Toni dan anak buah Rolan itu, akhirnya mereka dapat mendekat ke benda kotak raksasa itu, da orang penjaga pintu kontainer dapat dengan mudah mereka berdua lumpuhkan tanpa mengeluarkan tenaga yang banyak,
"Cih, polisi macam apa, sekali pukul saja langsung pingsan! ejek anak buah Rolan ketika berhasil membuat lawannya tergeletak tak sadarkan diri setelah dia melayangkan pukukan ke tengkuknya.
Beruntung pintu kontainer yang tinggi dan berat itu tak tertutup sempurna, masih menyisakan celah untuk mereka masuk ke dalam ruangan gelap dan agak pengap itu.
Dengan gesit Toni mengeluarkan ponselnya dan menghidupkan senter dari ponselnya agar ruangan gelap itu mendapat sedikit cahaya.
Namun betapa terkejutnya mereka berdua, karena ternyata kontainer itu kosong, benar benar kosong, tak ada satu kotak penyimpanan pun di sana, padahal menurut Rolan ada sekitar hampir seratus peti kayu yang ada di sana, berisi dua ratusan senjata beserta pelurunya.
"Kau rekam semua yang ada di sini dengan ponsel mu, kita harus melaporkan semua ini pada bos mu!" titah Rolan yang langsung di kerjakan oleh anak buah Rolan.
Setelah di rasa semuanya cukup dan mereka benar benar tak menemukan apa pun mereka pun bergegas kembali ke rumah Rolan dengan membawa berita yang mungkin akan membuat Rolan lumayan sakit kepala plus jantungan. Bagaimana tidak, milyaran uang yang dia belikan senjata yang sudah di pesan dan sebagian sudah di bayar lunas, sebagian lagi baru di bayar sebagian, namun ternyata kenyataannya barang yang tidak murah harganya itu harus raib tanpa jejak.
"Bagaimana bisa seperti itu!?" teriak Rolan saat dia menerima laporan dari Toni dan ke tiga anak buah kepercayaannya.
__ADS_1
"Kami sudah memastikannya bos, benar benar tidak ada apa apa di kontainer itu, sesuai dengan rekaman video yang saya ambil," jawab salah satu anak buah Rolan yang ikut masuk ke dalam kontainer yang harusnya berisi ratusan senjata itu.
"Bajingan, siapa yang berani bermain main dengan ku,?! Akan aku pastikan dia mati di tangan ku sendiri !" teriak Rolan bergeram dengan tinjunya yang mengepal dan rahang yang mengeras.
"Lion, apa rencana mu?" tanya Rolan yang melihat wajah Toni masih terlihat santai setelah apa yang terjadi.
Memang benar kalau dia tak ada kerugian apapun atas apa yang terjadi saat ini, benar,,, hanya dirinya saja yang kini mendapat kerugian besar dan juga terancam akan kehilangan kepercayaan dari para konsumennya yang biasa membeli dan memesan senjata padanya, belum lagi dirinya yang juga harus mengganti rugi uang pembelian mereka yang sudah masuk ke rekeningnya.
"Aku rasa ada baiknya kalau kau biarkan saja dulu untuk sementara waktu!" ucap Toni enteng.
"Sialan kau,! Apa maksud mu biarkan saja, kau pikir semua itu tak memakai uang? Milyaran rupiah kerugian ku dalam hal ini, lantas dengan entengnya kau menyuruh ku untuk membiarkan begitu saja,? Saran gila macam apa itu?" kesal Rolan, merasa Toni sedang menyepelekan masalahnya.
"Bukan begitu maksud ku, kau dengarkan dulu apa yang ku katakan sampai selesai, tapi kalau kau tak ingin mendengarkan saran ku ya,,, tak apa, silahkan pakai cara mu sendiri!" ujar Toni cuek.
"Oke, katakan!" pinta Rolan
"Aku rasa barang mu sengaja di ambil oleh pihak kepolisian, mereka sengaja menyita barang brang itu, tapi mereka tak tau siapa pemiliknya, jika kau mencarinya dengan membabi buta saat ini, itu sama saja kau bunuh diri dan menunjukkan pada mereka kalau kau lah pemiliknya, ingat kau ini sedang dalam sorotan, jangan berbuat yang aneh aneh dulu, bukankah aku udah menyuruh mu untuk tiarap dalam sementara waktu ini," urai Toni panjang lebar.
Ucapan Toni lumayan masuk akal juga di kepala Rolan, dia mencerna semua ucapan Toni perlahan dan mengkaji ulang dengan akal sehatnya, sepertinya ucapan Toni memang banyak benarnya, mungkin dia terlalu kalut dengan semua permasalahan yang ada sehingga dia tak bisa berpikiran seperti yang Toni pikirkan saat ini.
"Kau benar juga, itu semua masuk akal, tapi siapa yang membocorkan tentang pengiriman barang milik ku itu, aku yakin ada penghianat yang membocorkan ini pada pihak kepolisian," Rolan masih merasa penasaran.
"Aku rasa anak buah mu tak mungkin ada yang berani berhianat pada mu, mereka semua sungguh loyal pada mu," puji Toni yang langsung mendapat senyuman dari para anak buah Rolan yang merasa tersanjung dengan pujan Toni.
"Lantas dari mana mereka tau tentang ini semua?" Rolan masih belum bisa menerima pendapat Toni yang terkhir, dia yakin ada penghianat di antara mereka.
"Kau lupa kalau polisi pelabuhan memang sering melakukan razia rutin, mungkin saat ini kau sedang ketiban apes, jangan menambah beban pikiran mu dengan pikiran pikiran buruk mu!" Toni berusaha bijak dalam memberi setiap sarannya pada Rolan.
Sehingga pada akhirnya Rolan mulai tenang dan mengikuti semua saran dan ucapan Toni yang di berikan padanya, mungkin memang benat dirinya sedang apes sehingga di timpa masalah yang seakan tiada hentinya dan seakan datang dari setiap penjuru.
__ADS_1
"Aku akan mengikuti saran mu, aku akan membiarkan dulu masalah ini sampai semua mengendap dan kembali normal," ucap Rolan patuh.
Meski arti membiarkan bagi seorang Rolan, adlh berrti menyelidikinya secara diam diam tanpa ada seorang pun yang tau pergerakannya, karena baginya, tentu saja tak boleh ada seorang pun yang berani bermain main dengan seorang Rolan sampai kapun pun, dan dia akan membalas semua kesialan yang saat ini dia alami dengan seribu kali balasan yang lebih menyakitkan, siapa pun itu orang nya.