
Dari sana Raya sudah bisa menyimpulkan kalau Cila memang sengaja menjadikan tekanan mentalnya sebagai 'alat' untuk agar bisa membodohi Toni untuk ke dua kalinya.
Tapi Cila lupa kalau Raya tak akan pernah membiarkan wanita manapun merebut ayah dari calon bayi yang di kandungnya itu.
"Jadi selama ini dia pura-pura lupa?" Terlihat wajah Toni mengeras dengan tinju yang mengepal di sisi kanan dan kirinya.
"Pura-pura gila lebih tepatnya, sepertinya dia terlalu terobsesi pada mu, sayang." Terang Raya sedikit meledek.
"Oh ayolah, kenapa dari sekian banyak orang yang tau, justru aku yang paling tidak menyadari dan paling terakhir tau." kesal Toni.
"Mungkin kamu juga ada hati padanya, jadi gampang tertipu olehnya!" Goda Raya lagi.
"Sayang! Kamu nakal sekali, kenapa jadi menyimpulkan seperti itu?" Toni menjawil dagu istrinya yang badannya terlihat makin berisi setelah hamil dan semakin menggemaskan tentu saja.
"Ayo kita ikuti permainan yang dia buat, aku ingin tau sejauh mana dia akan bermain. Oh ya, satu lagi, Friska, calon ibu mertua mu itu ternyata ikut andil dalam permainan Cila ini, benar-benar sampah!" ucap Raya kesal.
Cup !
Tiba-tiba Toni mengecup bibir Raya sekilas,
__ADS_1
"Aku tidak suka kamu memaki, nanti anak kita dengar dari dalam sini." Toni mengelus perut rata istrinya dengan lembut.
"Biar, biar saja anak kita mendengar semuanya, dia juga pasti akan mengerti kalau ibunya sedang memaki bibit pelakor yang selalu menggoda ayahnya dan berusaha mencuri ayahnya." canda Raya sambil terkekeh.
"Ah, sudahlah. Lupakan masalah pelakor atau apapun yang tak penting itu, sekarang aku sangat rindu berdua berduaan dengan mu, rasanya kita tak pernah punya waktu untuk hanya berdua saja," Toni membingkai wajah istrinya dengan kedua tangannya lalu mendaratan kecupan-kecupan kecil di bibir merah yang rasanya lama tak dia rasai.
"Tapi kita sudah tidak bisa berduaan lagi , karena kita kini sudah ber 3." cicit Raya.
"Oh, ayolah, mumpung dia masih di dalam perut dan belum bisa mengganggu kita, sebaiknya kita puas-puasin berduaan seperti ini, rasa-rasanya aku sangat ingin bertemu dan berkenalan dengan bayi kita di dalam sini," goda Toni, yang spontan langsung membuat wajah Raya memerah dan terasa sangat panas karena merasa malu saat mendengar ucapan nakal Toni
"Sayang ini masih sore," ucap Raya malu-malu.
Tanpa basa basi lagi toni menyergap istrinya dan menghujaninya dengan ciuman-ciuman nakal yang lama-lama menjadi semakin panas dan menuntut.
"Sayang, sebaiknya kita pindah ke kamar saja!" ajak Raya.
"Tidak, sekali-kali kita harus menikmati bercinta di ruangan terbuka seperti ini, toh tak mungkin ada yang mengintip kita kecuali burung yang tak sengaja terbang melewati kita," tolak Toni, yang sudah tak kuat lagi menahan geloranya meski kini mereka berada di balkon kamar.
Kedua tangan Toni kini sibuk menjelajahi tubuh Raya sambil melucuti dres selutut yang di pakai istrinya, hanya sekali tarikan setelah menurunkan resleting selakangnya dress yang di pakai Raya pun sudah teronggok pasrah di mata kaki pemiliknya.
__ADS_1
"Kenapa rasanya ini semakin mengembang saja," gumam Toni sambil memainkan dua gundukan kembar di dada sang istri yang selalu menjadi favoritnya itu.
Raya hanya bisa pasrah sambil memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh suaminya.
Sungguh saat-saat kebersamaan seperti ini sangat langka dan mahal bagi mereka berdua di tengah timpaan masalah yang selalu datang silih berganti seolah tak pernah ada habisnya.
Waktu mereka seakan terkuras hanya untuk masalah yang tak kunjung selesai ampai saat ini.
Setelah Arsan, Bagas,Rolan, yang sudah tutup buku dan selesai semua permasalahannya, kini tinggal Cila yang mereka kira sudah tak berdaya dengan pikirannya yang sebelumnya mereka kira sudah tak mungkin berulah lagi, namun ternyata ketidak warasannya semakin menjadi, kegilaannya pada Toni seakan sudah menjadi penyakit akut yang tak mungkin bisa sembuh lagi, karena baginya seolah Toni itu harga mati.
Beruntung Tuhan selalu melindunginya, sehingga mereka selalu terhindar dan terselamatkan dari semua bahaya yang datang mengincar mereka.
Nafas Toni dan Raya tersenggal-senggal dan masih berantakan karena baru saja selesai menuntaskan hasrat panas mereka yang mebuat sepasang kaki suami istri itu kini seakan lemas tak bertulang, berkegiatan panas dengan posisi sambil berdiri itu memang sangat menguras tenaga mereka, terlebih untuk Raya yang staminanya kini terasa semakin menurun akibat kehamilannya, membuat wanita yang tengah hamil muda itu kini hanya bisa bersandar manja di dada suaminya.
Sementara di tempat lain Cila kedatangan tamu istimewa yang sepertinya akan di jadikannya parter dalam melaksanakan segala rencana jahatnya dalam menaklukan dan mendapatkan kembali Toni ke dalam hidupnya.
"Kita hanya perlu kerja sama dengan baik, maka kau akan mendapatkan tujuan mu, begitu pun aku," Ucap Cila pada pria yang kini sedang duduk dan berbincang dengannya.
"Oke deal,! Aku harap kerja sama kita ini akan membuahkan hasil yang menguntungkan untuk kita bersama," pria itu menyodorkan tangannya mengajak Cila untuk bersalaman sebagai simbol persetujuan mereka berkolaborasi dalam kejahatan yang akan mereka lakukan.
__ADS_1
"Untuk keberhasilan kita!" Cila mengangkat gelasnya yang berisi wine ke udara dengan senyum yang merekah seakan mendapatkan kembali angin segar.