
Seperti hari hari sebelumnya saat Toni berada di rumah itu, pagi pagi buta pria itu sudah mengetuk pintu kamar Raya, kini tak perlu Toni sampai menggedor pintu kamarnya, gadis itu sudah keluar kamar bahkan dengan pakaian rapi plus dia juga sudah mengenakan jaket, sepertinya Raya sudah siap untuk di ajak latihan oleh Toni pagi itu.
"Kamu mau ngajak aku berlatih, kan ? Aku sudah siap ! Lets go !" ajak Raya penuh semangat dengan wajah yang riang, tak bersedih lagi seperti semalam.
Toni mengangguk, hari ini rasanya Toni hanya ingin berdua saja menghabiskan sisa waktu yang di milikinya yang hanya tersisa hari ini saja.
"Kamu akan mengajari ku apa hari ini ?" Raya terus saja bertanya dan berceloteh di sepanjang perjalanan mereka, sementara Toni hanya diam seperti biasanya, dia sepertinya sedang merekam setiap detik kebersamaan mereka di memori otaknya.
"Kita tidak berlatih hari ini, aku yakin kau sudah semakin hebat dan kut dari sebelumnya," ucap Toni, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri sejak kemarin, kalau kebersamaan nya dengan Raya kali ini dia ingin bersikap lebih lembut, tak ingin jutek, galak, dingin atau arogant seperti biasanya.
"Tidak latihan ? Lalu untuk apa kita pergi pagi pagi buta seperti ini ?! Tau gitu aku mending tidur saja, tadi !" cebik Raya, sedikit kecewa.
"Apa aku boleh meminta waktu mu seharian ini?" pinta Toni yang tentu saja membuat Raya sedikit keheranan dengan permintaan bodyguardnya itu.
"Meminta waktu ku ?" cicit Raya pelan.
"Hemh,,, temani aku berjalan jalan di sekitar sini, kau boleh bercerita apapun, aku akan mendengarkan mu," kata Toni menghentikan langkahnya, lalu berdiri tepat di hadapan Raya memerhatikan gadis yang sepertinya tak akan pernah bisa dimilikinya itu.
Tangan Toni terjulur ke dada Raya,
Sumpah demi apapun, jantung Raya kini terasa sedang berdisko di dalam sana, dia menebak nebak apa yang akan pria gagah itu lakukan padanya, alih alih menghindar, Raya malah mematung.
"Pakai jaket mu dengan benar, kabut masih sangat tebal di sini !" ternyata Toni hanya membetulkan seleting jaket Raya yang tak tertutup sempurna, mungkin karena tadi Raya memakainya secara terburu buru.
Ah, padahal tadi Raya sudah menahan nafas, saat Toni mendekat, 'Ternyata hanya membetulkan seleting jaket ku, oh, Raya,,, ayolah ! memangnya kamu berharap Toni berbuat apa pada mu ?!!' Raya mengutuk pikirannya sendiri yang seolah traveling kemana mana.
"Apa kau mau menemani ku ?" Toni mengulang pertanyaannya, karena kini sepertinya gantian giliran Raya yang banyak terdiam tak bersuara.
Toni meraih jemari Raya dan menautkan dengan tangannya, lalu membawa gadis itu berjalan beriringan dengan tangan yang saling terpaut, lagi lagi tak ada protes atau penolakan dari Raya, bahkan kalaupun gadis itu protes atau menolak tautan di jemarinya, Toni bertekad untuk tetap melakukan itu.
Khusus hari ini Toni ingin melakukan hal hal kecil namun manis yang mungkin esok tak bisa lagi dia lakukan pada Raya.
"Toni, kamu sangat aneh semenjak kedatangan mu semalam, apa kamu mau bercerita pada ku, apa yang sebenarnya terjadi ? Apa ada masalah di Jakarta ?" tebak Raya yang sepertinya dia sangat merasa yakin kalau sesuatu sedang terjadi pada pria yang tiba tiba bersikap manis padanya itu.
"Emh,,, apa aku boleh berkunjung ke makam ibu mu ?" alih alih menjawab pertanyaannya, Toni jusru meminta hal yang lagi lagi terasa aneh bagi Raya.
__ADS_1
Tak ingin menebak nebak dan berlarut dengan pikirannya sendiri, Raya menuruti permintaan Toni, mereka menuju area pemakaman yang pernah Toni singgahi itu.
"Ada sedikit hal yang ingin aku bicarakan dengan ibu mu, dan ini sangat pribadi, apa kau tak keberatan jika kau menunggu ku di sini sebentar ?"
pinta Toni yang menyuruh Raya menunggunya dari kejauhan.
Kening Raya berkerut, sungguh dia tak yakin kalau yang saat ini sedang bersamanya itu benar benar bodyguardnya, namun dengan patuh Raya menghentikan langkahnya dan hanya memperhatikan gerak gerik Toni dari kejauhan, meski tak mungkin mendengar suara Toni yang sepertinya sedang berdiskusi dengan pusara ibunya, tapi dia masih bisa melihat semua yang di lakukan Toni di sana.
"Selamat pagi, nyonya Maria,,, aku datang ke sini untuk berpamitan, mungkin aku tak bisa menjaga putri mu dari jarak dekat, tapi aku akan selalu menjaganya meski dari kejauhan, aku pastikan putri mu tak akan lepas dari pengawasan dan penjagaan ku, meski tanpa dia tau nantinya. Aku juga berjanji akan mengembalikan kebahagiaan dan senyum putri mu seperti sedia kala, aku juga akan mencari dan membawa suami mu kembali ke putri mu, aku yakin anda dulu orang baik, jadi,,, doakan aku dari surga agar aku berhasil memenuhi semua janji ku pada mu, Oh iya, aku tak tau ibu ku ada di surga atau tidak, tapi jika anda bertemu dengan ibu ku di sana, katakan padanya aku sudah memaafkannya, dan aku sudah menemukan jawaban kenapa dia dia melahirkan ku di dunia ini,, sekarang aku sudah punya tujuan hidup. Tujuan hidup ku adalh kebahagian putri mu !" ucap Toni panjang lebar.
Angin dingin berhembus pelan menyapu kulit wajahnya, seakan itu merupakan jawaban Maria dari alam sana.
Toni tersenyum hangat, "Terimakasih sudah mendengarkan ku." Toni menganggukkan kepalanya seakan memberi hormatnya dan berpamitan untuk kembali ke tempat di mana Raya sedang menunggunya.
Sedikit beban di dadanya seakan terlepas setelah dirinya bercerita dengan Maria tadi, Toni tak punya tempat untuk bercerita, sepertinya bercerita dengan pusara Maria akan lebih aman, di samping tak akan banyak bertanya, jelas dia juga tak akan menceritakan curhatannya pada orang lain.
"Sepertinya aku mulai iri pada ibuku, apa aku harus mati dulu agar bisa di ajak bicara sebegitu seiusnya oleh mu ?" cicit Raya.
Namun ternyata ucapnnya berakibat fatal, karena dia langsung mendapat pelototan sangar dari Toni yang sepertinya tak suka dengan apa yang di ucapkan Raya barusan.
"Emh,, anu itu,,, bukankah orang hidup pasti akan mati !" gagap Raya ketakutan, dia bahkan terus terusan menghindari tatapan mata tajam Toni.
"Kau tak boleh mati tanpa seijin ku !" Toni memegang erat kedua bahu Raya, memeksa gadis itu agar menatap ke arahnya dan mendengarkan apa yang di katakannya.
"I-iya maaf, kenapa kau sensitif sekali !"
"Maaf, sepertinya pikiran ku sedang kacau, tapi kamu harus berjanjijangan pernah lagi berbicara seperti tadi," Toni menerik dan mengeluarkan nafasnya, berusaha untuk kembali tenang.
"Apa masalah ku membuat mu jadi stres ? Maaf sudah melibatkan mu dalam masalah keluarga ku yang rumit, pasti ini tentang mafia mafia itu ya ?" Raya juga mulai berusaha untuk kembali bersikap sebiasa mungkin,
"Jangan memancingku lagi, aku membantu mu itu karena memang aku ingin membantu, lagi pula,,, bukan kah itu sudah menjadi tugasku sebagai pengawal mu ? Aku sudah di bayar untuk tiga bulan ke depan, aku harus profesional," urai Toni.
"Aku hanya takut kalau aku menjadi beban buat mu," mereka kembali berjalan menyusuri kebun teh yang mulai ramai karena para pemetik sudah mulai berdatangan dan mengerjakan tugasnya.
Tanpa terasa matahari sudah semakin tinggi, tanda sudah lewat tengah hari, mereka memutuskan untuk pulang setelah puas melihat lihat pabrik pengolahan dan pengemasan teh.
__ADS_1
"Suatu hari nanti, aku ingin tinggal dan menetap di sini. Jauh dari kebisingan dan macet !" ucap Raya sore itu saat sedang duduk berdua di teras rumah bersama Toni yang setia mendengarkan cerit dan ocehan Raya sejak tad selepas mereka makan siang.
Untungnya Dila sedang di suruh mang Dasep ke kota membeli kebutuhan untuk kebun, sehingga wanita itu tak mengganggu kebersamaan Toni dan Raya.
Sedang asik mengobrol sambil menikmati secangkir teh, samar samar terlihat mobil sport kuning milik Raya mendekat dan lalu berhenti di halaman rumah itu.
Raya menatap Toni seakan bertanya dalam tatapnya, 'siapa yang datang ?'
"Mas Panca mu, tuh !" tunjuk Toni dengan dagunya yang dia majukan ke depan saat Panca keluar dari mobil itu dan menghampiri mereka berdua.
"Kok, mas Panca bisa kesini ?" tanya Raya.
"Panca aja, gak usah pake mas segala !" seperti biasa, Toni protes dengan cara memanggil Raya pada Toni.
"Dia lebih tua, gak enak kalau cuma panggil nama !" kelit Raya.
"Aku satu tahun lebih tua dari dia dan kau cuma panggil nama !" cebik Toni.
"Sudah lah mas Lion, cuma masalah panggilan aja ribet kaya cewe !" ejek Panca yang kini sudah bergabung di antara mereka.
"Dih najis, mas Lion ! Berengsek kau !" Toni melempar bungkus rokoknya yang sudah kosong ke arah Panca.
Panca memang sengaja Toni suruh datang ke sana agar dia menjaga Raya selama dirinya mengurus masalah Cobra, tadinya Panca menolak karena lebih memilih ikut besama Toni melawan Cobra, hanya saja Toni akan merasa lebih tenang jika Panca yang menjaga Raya menggantikan dirinya.
"Aku harus segera kembali, aku harus fokus mengurus masalah Cobra, ini akan sangat memakan waktu, karena sepertinya ayah mu juga berada di tangan mereka, jadi selama aku di Jakarta, Panca akan menjaga mu di sini," terang Toni.
"Apa aku tak boleh ikut saja ?" rengek Raya memelas.
"sebaiknya kau tetap di sini, patuhlah !" ucapan Toni terdengar tegas.
Mata Raya berkaca kaca, dia merasa sepertinya hatinya begitu berat melepas Toni, dan kenapa juga dia harus mengutus Panca untuk menjaganya, ini terlalu aneh.
"Aku bisa menjaga diri ku sendiri, aku tak butuh Panca atau kamu untuk menjaga ku, kalian pergilah !" kesal Raya, sambil berlari kedalam rumah dan mengunci dirinya dikamar.
Entah mengapa hatinya merasa tak tenang, seakan dia bisa merasakan gelagat atau sesuatu yang buruk akan menimpa Toni, tapi dia tak tau apa itu.
__ADS_1