
Sepertinya pilihan untuk diam dan menerima semua cacian dan makian akan lebih berguna baginya dari pada membuang buang tenaga melawannya, karena dirinya memang dalam posisi yang sulit saat ini.
"Jelaskan pada ku sejelas jelasnya apa yang terjadi," ucap Arsan dengan mata menyorot tajam ke arah Rolan yang hanya terdiam tak berani mengangkat wajah pun di hadapan nya.
"Aku belum tau, aku belum mendapat info yang valid, beri aku waktu untuk mencari tau dan menyelidiki semuanya, setelah itu aku akan memberi tahu mu apa yang terjadi," ucap Rolan,
"Lancang sekali, bisa bisanya kau beralasan tak tau apa yang terjadi, aku membayar mu dengan uang tak sedikit, lalu mana tanggung jawabmu?" Arsan menendang meja yang ada di hadapannya, sampai meja itu terbalik.
Baru saja Arsan hendak melanjutkan memaki Rolan yang sepertinya tak punya jawaban memuaskan untuk memenuhi semua tanya yang menyesaki dadanya dan membuat kepalanya terasa pusing tujuh keliling itu namun suara ponsel Rolan menginterupsi nya.
Wajah Rolan terlihat langsung panik dan gelagapan, tanpa banyak berbicara lagi dia setengah terlonjak dari duduknya setelah dia selesai berbicara dengan seseorang yang menelpon nya di seberang sana.
Setengah berlari Rolan keluar menuju mobilnya dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang maksimum.
Istrinya baru saja mengabarinya kalau Cila di bawa ke rumah sakit karena di temukan tak sadarkan di kamarnya.
__ADS_1
Berjuta pertanyaan memenuhi kepala Rolan, apa yang terjadi dengan putri kesayangannya itu, terbayang lagi saat dirinya tadi memaki dengan kasar sang putri sampai Cila berlari ke kamarnya sambil menangis.
"Cila, maafkan ayah, tolong baik baik saja, tolong jangan sampai terjadi apapun pada mu, ayah segera datang pada mu," ratap Rolan sambil tangannya terus memukul mukul setir mobilnya.
Rasa sesal karena sudah memarahi anak semata wayangnya itu membuat sesak dadanya,
"Tuhan, hukuman apa lagi ini? Tolong lah ini semua kesalahan ku, kejahatan ku, jangan hukum anak ku atas semua dosa dan kejahatan yang aku lakukan, aku mohon!" rintih Rolan, mulutnya terus menceracau sepanjang perjalan.
Sampai di rumah sakit, istrinya langsung berlari memeluknya sambil tersedu sedu di dekapannya.
"Cila,,,Cila,, anak kita tak juga sadar dia----" Friska sang istri tak mampu lagi melanjutkan kata katanya, dia tak sadarkan diri di pelukan Rolan karena tak mampu lagi menahan sesak dan kesakitan karena melihat keadaan sang putri yang tergolek lemah tak berdaya.
"Apa yang sebenarnya terjadi ?" tanya Rolan pada anak buahnya yang ikut mengantarkan anak dan istrinya ke rumah sakit.
"Nona Cila di temukan tak sadarkan diri di kamarnya dengan mulut yang berbusa," jawab anak buahnya itu dengan takut takut.
__ADS_1
"Mulut berbusa?" beo Rolan.
Pria tua itu mondar mandir di depan ruangan Igd yang masih saja tertutup, dokter yang menangani anaknya masih belum juga keluar, sepertinya mereka masih menangani putrinya.
Waktu aberjalan terasa sangat lamban di rasakan Rolan saat dirinya menunggui anaknya.
sepuluh menit kemudian, seorang dokter keluar dengan wajah yang terlihat lelah.
"Dok, bagaimana keadaan putri ku?" Rolan langsung memburu dan berlari mengejar dokter yang baru saja keluar dari ruangan tempat anaknya di rawat.
"Anda ayah nya?" Dokter itu menatap dengan sinis ke arah Rolan.
"Ya, saya ayahnya, bagaimana keadaannya?" tanya Rolan lagi.
"Kenapa anda baru peduli dengan anak anda sekarang, kemana saja anda selama ini sampai anda tak tau kalau anak anda itu pemakai obat terlarang, untung saja putri anda cepat di bawa ke sini, kalau terlambat sedikit saja, putri anda tak akan tertolong." ucap dokter itu.
__ADS_1
"Maksud anda, anak saya--- ?" tanya Rolan membelalak.
"Anak anda over dosis zat amfetamin, harap lebih memperhatikan lagi pergaulan putri anda!" Dokter perempuan yaang terlihat kesal dengan Rolan yang di anggap tak perhatian dengan anaknya itu langsung pergi dengan judesnya.