Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Jebakan


__ADS_3

"Itu sudah aku perintahkan, dan mereka kini sudah berjaga di tepi hutan, dan aku pastikan mereka tak akan membiarkan Arsan ataupun para anak buahnya lolos. Hanya saja ijinkan aku untuk ikut bergabung bersama kalian menyerang ke rumah persembunyian Arsan, aku hars membunuhnya, dia sudah menculik putri ku dan membuat keadaannya menjadi sangat menghawatirkan sekarang ini," Rolan mengiba.


"Akhirnya, kau bisa merasakannya. Itu lah yang aku rasakan saat kau menculik istri ku saat itu, dan itu juga yang aku rasakan, sama persis seperti yang kau rasakan saat ini, aku juga sangat ingin membunuh mu!" Toni tersenyum iblis, mengingatkan pada Rolan dan secara gamblang menegaskan kalau apa yang di alaminya sekarang ini merupakan buah dari perlakuannya kepada Raya, atau bisa di katakan itu adalah sebuah karma untuk pria tua itu.


Pria tua itu membisu, tak ada yang salah yang di katakan oleh Toni, semuanya benar, semuanya dia terima dengan hai yang lapang, sungguh semua yang terjadi pada putrinya itu memang merupakan buah dari perbuatannya, pembalasan itu dia terima kontan dengan kejadian dan kesakitan yang sama seperti yang dia lakukan pada Raya saat itu, bahkan mungkin apa yang di terima oleh putrinya lebih dari yang Raya alami, karena Cila teryata sempat di perkosa oleh beberapa anak buah Arsan saat penculikan itu, terbukti dari bajunya yang berantakan dan setengah terbuka saat di selamatkan oleh Sabrina dan Cobra di gudang saat itu.


"Kenapa kau diam? Apa kau tak terima dengan apa yang aku ucapkan pada mu? Kau ingin menyerang ku karena aku mengatakan semua ini pada mu?" Tantang Toni dengan mata yang memerah karena saking marahnya.


"Tidak, tidak ada yang salah dengan apa yang kau ucapkan, dan aku tak menyangkalnya, semuayang kau katakan itu benar, Ini semua salah ku, terserah kau percaya atau tidak, tapi aku ingin berubah. Aku menyesal dan ingin memperbaiki semuanya." lirih Rolan.


"Cih, tentu saja aku tak percaya, dan tak akan pernah lagi percaya pada mu sedikit pun. Setelah semua yang terjadi, mana mungkin aku bisa percaya lagi pada mu!" ujar Toni sambil mendecih sinis.


"Keadaan ku sudah seperti ini, seperti yang kau ucapkan pada ku tadi, aku sudah cacat sekarang, tak ada lagi yang bisa aku banggakan, setelah semua masalah ku dengan Arsan selesai malam ini, aku akan pensiun dari dunia hitam, aku akan memulai hidup yang lebih tenang." Mata Rolan menerawang jauh, menceritakan apa yang akan di lakukannya di masa depan.


"Apa kau harus cacat dulu baru insyaf? Dan kau pikir aku percaya dengan semua ucapan mu? Mimpi!" Toni tersenyum nyinyir menanggapi curhatan Rolan yang tak sedikit pun membuatnya merasa iba apa lagi percaya.


"Sudahlah, tak akan ada habisnya jika kalian tetap berbicara, apapun yang kau katakan, Lion tak akan pernah mau mendengar mu, apa lagi percaya. Kalian hanya membuang waktu saja, cepat kita bersiap-siap!" Sabrina yang ternyata menguping pembicaraan kedua orang itu akhirnya harus melerai da mengentikan pembicaraan yang menurut Sabrina tak akan pernah berujung itu, sementara waktu terus berjalan dan hampir tengah malam dimana sudah saat nya mereka bersiap-siap untuk penyerangan.


"Sialan, kau menguping?" Toni membelalak ke arah Sabrina yang seakan tak punya dosa itu.


"Oh ya, kebetulan ada kamu Sabrina, aku uga ingin menyampaikan sesuatu pada mu, emh-- maksud ku pada kalian berdua!" Rolan menunjuk Sabrian dan Toni secara bergantian.


"Aku?" Sabrina menunjuk dadanya sendiri, yang lalu di angguki Rolan.


"Aku ingin memberikan semua bisnis hitam ku pada kalian berdua untuk di teruskan, di kelola, dan sasana juga aku berikan pada mu, Lion."

__ADS_1


Sabrina dan Toni saling berpandangan, lalu


"Tidak, terimakasih!" Tolak mereka secara bersamaan.


Tentu saja kedua orang itu menolaknya, Sabrina yang tak kekurangan uang dan mempunyai bisnis sendiri peninggalan ayahnya baik itu bisnis legal maupun ilegal, jadi dia tak berminat sama sekali terlibat dengan Rolan meski pria itu berniat menghibahkan bisnisnya yng lumayan besar dan lebih besar dari bisnis yang di kelolanya.


Sementara Toni, jangan di tanya lagi, apapun alasannya dia tak akan mungkin mau menerima pemberian dari Rolan sekecil apapun, apa lagi hl besar seperti itu, dia tak mau jika suatu saat di ujung cerita ternyata dia menginginkan sesuatu


hal lain, dia tak mau menjadi keledai yang jatuh ke lubang yang sama.


"Aku tak meminta jawaban mu sekarang, aku hanya menyampakannya dahulu, kalian bisa memikirkannya nanti." Rolan mengalah dan tak ingin memaksakan.


Rolan cukup sadar dengan track record nya yang sangat buruk, bukan hal yang aneh kalau kedua orang yang di tunjuk untuk menerima dan mengambil alih semua bisnis hitamnya itu akan menolaknya, itu sudah bisa dia prediksikan sebelumnya, sehingga baginya sudah tak merasa aneh atau terkejut lagi saat mendengar penolakan dar mereka berdua.


Toni, Panca, Sabrina dan Martin berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah persembuyian Arsan.


Langkah demi langkah yang di penuhi oleh rasa marah dan dendam di dada masing-masing.


Kali ini rencana tak boleh gagal lagi apapun kendalanya.


Semua rencana telah mereka susun dan rencanakan sedemikian rupa, rasanya akan sangat sulit bagi Arsan untuk terbebas malam ini.


Sekitar jarak kurang dari 5 meter sebelum sampai ke rumah itu, mereka di hadang oleh 4 orang anak buah Arsan.


"Apaan nih?" Pekik Panca saat ke 4 orang itu menghalangi langkah mereka.

__ADS_1


"Kami ingin bertemu Arsan, kami dudah ada janji dengannya, minggir!" Usir Sabrina mendorong salah satu pria tegap yang berusaha menahan langkahnya.


"Kami harus memeriksa kalian semua jika kaliaan ingin menemui bos kami," ucap salah seorang dari mereka.


"Periksa bagaimana, maksudnya?" Toni mulai nyolot, sejak tadi dia sudah menahan emosinya pada Rolan dan belum ada pelampiasan sama sekali, maka ketika orang-orang itu mencari gara-gara dengannya dia merasa sangat bersemangat, sungguh malam ini rasanya dia sangat ingin menghajar beberapa manusia yang bisa membuatnya terlepas dari rasa amarah tertahannya itu, melepaskan semua murka yaang seolah terbelenggu di dadanya.


Namun Panca menahan tangan sahabatnya itu seolah berkata padanya untuk lebih bisa menahan diri, demi rencana nya yang sudah tersusun rapi malam ini dapat terealisasi, Panca tak yakin, jika bukan malam ini sepertinya akaan sulit mendapatkan kesempatan lain untuk menyergap Arsan.


"Kalian tak boleh membawa senjata jika ingin memasuki rumah dan bertemu dengan bos." Terang pria tegap itu memberi tahu aturan yang di ajukan oleh Arsan bagi mereka.


Tentu saja itu aturan mengada-ada dan sangat merugikan juga membahayakan bagi mereka mengingat betapa liciknya Arsan.


"Tidak bisa seperti itu, dong! Kami membawa senjata untuk menjaga diri, bukan untuk menyerang, kenapa justru kami tak boleh membawa senjata, sementara kalian bersenjata lengkap!" Protes Sabrina.


"Itu aturannya, jika kalian semua keberatan, bos bilang untuk membatalkan saja pertemuan ini." Tegasnya.


"Dibatalkan? Arogant sekali bos mu!" Kesal Sabrina melotot.


"Bos hanya bisa bertemu, jika kalian bersedia mengikuti peraturannya, itu pesannya!"


"Ah sial, ini tidak adil sama sekali!" kesal Sabrina yang terus menggerutu atas ke aroganan Arsan yang menerapkan aturan yangvtak masuk akal hanya untuk bertemu dengannya saja.


Toni memejamkan matanya beberapa detik mencari kekuatan dan keyakinan untuk dirinya mengambil keputusan yang akan di ambil nya saat ini.


Ini sulit, dia sungguh tak tau rencana busuk apa yang sedang Arsan mainkan saat ini, dan ini memang terlalu membahayakan bagi mereka ber 4, bisa saja ini jebakan yang Arsan buat seperti jebakan-jebakan yang mereka buat untuk nya dan juga untuk Raya sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2