
Ingin rasanya Toni mengatakan pada Raya bahwa ayahnya lah penyebab meninggalnya sang ibu yang sangat di sayangi Raya itu.
Namun apa daya semua keinginan itu hanya bisa tertahan di hatinya saja, Toni tak kuasa mengatakan semua itu.
"Sudahlah Raya, suatu saat nanti kamu pasti akan bertemu ayah mu, kamu hanya perlu bersabar sedikit lagi saja," lirih Toni sambil mengusap usap kepala Raya yang masih tenggelam di dadanya.
"Apa aku masih kurang bersabar? selama ini aku selalu bersabar menunggu kabar ayah, tapi..." tangis Raya kembali pecah, entahlah mungkin sedang pms atau memang Raya sedang melow saja, jadi saat ini kerinduannya pada Arsan membuatnya jadi sangat cengeng dan menjadi jadi.
Ah, kalau saja tak ingat bahwa Arsan adalah ayah dari kekasih nya, rasa rasanya Toni ingin mencincangnya, mengulitinya hidup hidup dan menjadikan nya sarapan aligator peliharaan Rolan, namun Raya sepertinya sangat sayangnpada ayahnya itu, Arsan si ayah berengsek itu.
"Andai,,, mari kita berandai andai,,," ucap Toni membuka pembicaraan, pria itu kini sudah duduk di balkon bersisian dengan kekasihnya yang sudah mulai tenang tak lagi menangisi ayah berengsek nya itu.
Raya menolehkan pandangannya ke arah wajah Toni yang terlihat semakin tampan di bawah langit senja berwarna jingga, menanti kelanjutan kalimat yang akan di sampaikan pria itu padanya.
Berat rasanya bagi Toni untuk membicarakan masalah pribadi Raya, namun bagaimana pun Raya harus tau kebenarannya, meski Toni mungkin tak bisa menceritakan semuanya, tapi pria itu ingin mempertanyakan kesiapan mental kekasihnya untuk menerima hal hal yang bisa saja terjadi di luar kehendak kita.
"Andai, ternyata ayah mu tak merindukan mu seperti kamu merindukannya, atau-- seandainya ternyata ayah mu tak meyayangi mu seperti kamu menyayanginya, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Toni sangat berhati hati.
"Apa yang akan aku lakukan?" Raya terdiam sebentar seperti sedang memikirkan sesuatu, jari telunjuknya mengetuk ngetuk pelipisnya dengan mata yang menerawang jauh.
"Aku tak akan menjawabnya!" ucal Raya kemudian.
Toni menautkan kedua alisnya, "Kenapa bisa begitu?" tanya nya heran.
"Memang seharusnya aku tak menjawab pertanyaan konyol mu, karena hal itu tak mungkin terjadi, ayah pasti merindukan ku, dan dia juga selalu menyayangi ku!" jawabnya penuh keyakinan.
Hati Toni terasa mencelos mendengar jawaban yang seharusnya menjadi sebuah kalimat mengharukan karena sebuah ungkapan kecintaan seorang anak pada ayahnya, tapi mengapa hal itu terasa seperti sebuah hantaman keras di dada Toni, yang membuat dia tak berani membahas tentang itu lagi?
"Toni,? Kenapa kamu jadi diam gitu?" tanya Raya yang menyadari perubahan mimik wajah kekasihnya setelah mendengar apa yang dia katakan berusan.
"Ah tidak! Aku hanya--- Toni menjeda ucapannya sebentar--- Tetaplah kuat, Raya! Karena apapun yang terjadi, ingat aku akan selalu ada di sisi mu!" hanya itu yang ternyata mampu Toni ucapkan.
__ADS_1
Tak banyak kata lagi yang ingin Toni bahas tentang Arsan si ayah sialan itu, dia hanya bisa berjanji dalam hati, bila waktunya tiba Raya harus tau semuanya, Toni berjanji akan menjadi orang pertama yang menguatkannya, selalu berada di sampingnya, memastikan dia tak merasa jatuh dan terpuruk juga meyakinkan padanya kalau dia tak sendirian.
"Sikap mu ini aneh!" ujar Raya.
Tapi hanya di jawab dengan senyuman manis Toni yang kini sudah sering dia dapatkan dari pria dingin yang sekarang sudah menghangat itu.
"Apanya yang aneh, pokoknya apapun yang terjadi jangan pernah merasa sendirian, ada aku!" ucap Toni, seraya membelai lembut pipi mulus Raya yang masih terasa lembab bekas air mata yang tadi tumpah karena rasa rindu pada ayahnya.
***
"Oke, selidiki lagi, dan pastikan semua informasi yang Kau berikan pada ku itu benar adanya!" Rolan mengepalkan tinju tangannya, saat baru saja mengakhiri sebuah percakapan yang di lakukannya dengan seseorang melalui saluran teleponnya.
Ada gurat yang tak terbaca di wajah pria setengah baya itu, entah itu gambaran kemarahan, kekecewaan, atau malah ketidak percayaaan, atau mungkin bahkan yang kini tampak di wajahnya itu gambaran dari kesemua itu?
Baru saja salah satu orang suruhannya menemukan beberapa bukti bahwa kiriman senjata miliknya yang hilang itu tak berada di tangan pihak kepolisian, mereka tak menemukan apapun di kontainer itu, begitu informasi valid yang Rolan dapatkan.
Rolan yakin kalau senjata senjata miliknya itu ada yang menjarahnya, namun siapa? sementara tentang waktu dan tempat pengiriman senjata itu hanya dirinya dan pihak penjual saja yang tahu, bahkan anak buah dan orang kepercayaannya sekali pun tak ada satu orang pun yang tahu.
Pria yang ternyata sejak dulu sudah menjadi rekanan bisnis dengannya itu memintanya untuk menemuinya di rumah.
"Arrrghhh,,,, apa lagi ini, masalah, masalah, dan masalah terus yang datang silih berganti, kenapa akhir akhir ini rasanya aku sial terus!?" gerutu Rolan seraya menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja lalu bergegas menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumahnya.
Suara Arsan terdengar seperti sangat serius saat mengajaknya bertemu, katanya ada masalah penting yang harus di bahas tentang proyek.
Sungguh membuat kepala Rolan seperti mengeluarkaan asap akibat saking panasnya.
Tampak Arsan sudah menunggu nya dengan wajah yang suram di ruang tamu rumahnya, saat dirinya baru saja melewati pintu masuk dan melangkah ke ruangan itu.
"Apa yang terjadi dengan proyek?" tanya Rolan.
"Bisa bisanya kau bertanya pada ku, bukankah aku sudah menyerahkan semuanya untuk kau tangani, dimana otak mu jika apa yang terjadi pada proyek yang kau tangani saja kau tak tau dan bertanya pada ku? Aku sudah mengeluarkan dana yang cukup banyak untuk pembangunan bar dan kasino ini, semua hasil penjualan saham perusahaan ku pada si Cobra itu rasanya sudah aku gelontorkan semua untuk biaya pembangunan itu, kenapa masih saja biayanya kurang?" protes Arsan yang merasa terus saja ada tagihan dana yang tak sedikit padanya, sementara bukankah bar itu di bangun dengan biaya patungan bersama Cobra, tapi kenapa dia merasa kalau proyek itu hanya di danai dia sendiri, dan biayaanya sungguh di luar nalar.
__ADS_1
Tentu saja seperti itu, karena memang Sabrina dan Toni sudah mengotak atik angka pada semua laporan keuangan dan pembelanjaan.
"Aku pikir tak ada masalah, semua berjalan sebagaimana mestinya, atau mungkin kemampuan mu yang berkurang untuk membiayai proyek itu, sehingga kau merasa kewalahan membayar?" balas Rolan tak terima jika dirinya di persalahkan begitu saja.
"Lihatlah ini semua!" Arsan melemparkan berkas berkas tagihan yang masuk padanya,
"Ini semua normal, bukankah harga semua barang di sana memang lebih mahal di bandingkan di pulau jawa, kau seperti baru mengetahui hal itu saja, apa keuangan mu sebenarnya sudah tak mampu mengcover semua biaya ini? Kalau memang seperti itu, ya hentikan saja proyek nya,!" sinis Rolan.
Tentu saja Rolan akan membela mati matian apa yang tertulis di laporan keuangan itu, secara di sana ada tanda tangan Cila sang putri kesayangan yang bertanggung jawab dengan semua laporan dan tagihan yang kini di terima Arsan, semenjak proyek itu di ambil alih dari tangan Toni oleh Cila.
Meskipun jauh di dasar hatinya memang Rolannpun menyadari kalau laporan yang di buat Cila itu tidak masuk akal, angka angka yang Cila buat nominalnya sangat membengkak dari perkiraan, tapi bagaimana pun dia harus membela anaknya, dan tak akan membiarkan Cila di persalahkan atas semua ini.
"Apa ini bukan karena kau sedang membutuhkan uang untuk mengganti para pembeli senjata mu yang barangnya raib entah kemana? Sehingga kau sengaja menggelembungkan dana proyek?" Arsan mengangkat sebelah alisnya, sambil menatap sinis rekan bisnis hitamnya yang sudah bersama dan membantunya dalam melakukan semua kejahatan, termasuk dari jaman upaya Arsan menipu Cobra dan istrinya dulu.
Bahkan yang menculik Dewi, istrinya Cobra pun Arsan meminta bantuan tenaga Rolan sehingga upaya jahatnya dengan mudah berhasil atas campur tangan bos mafia itu.
Sehingga tak heran mereka saling mengetahui kartu AS, dan kebobrokan mereka masing masing.
"Kau---???" Rolan terhenyak kaget saat tiba tiba Arsan membahas tentang kirimaan senjatanya yang hilang, dari mana dia mengetahui itu semua?
Kecurigaan Rolan pun menyeruak begitu saja,
"Darimana kau tau tentang hal itu ?" tanya Rolan penuh curiga.
"Bahkan dinding saja punya telinga, hanya untuk mengetahui hal sebesar itu tentu saja sangat mudah bagi ku!" ucap Arsan yang juga mempunyai kecurigaan yang sama kalau dirinya sedang di perdaya Rolan intuk menutupi kerugiannya atas hilangnya senjata pesanannya.
Ada beberapa anak buah Rolan yang sengaja di bayar Arsan untuk memberi informasi tentang apa yang terjadi di lingkungan Rolan, sedekat apapun mereka, waspada itu tetap harus ada, apalagi mengingat pekerjaan mereka bukan pekerjaan bersih, dan latar belakang mereka yang bukan orang baik lebih rentan menyikut bahkan menusuk teman sendiri dari belakang.
"Coba saja,,, kalau sampai aku tau kau bermain curang di belakang ku, ku pastikan kau akan merasakan siksa hidup yang sangat mengerikan sampai kau memohon pada ku untuk sebuah kematian!" ancam Rolan yang sepertinya sudah mulai benar benar curiga kalau Arsan menghianatinya.
"Aku meng copy paste ucapan mu dan ku berikan pada mu ucapan yang sama,! Ingat,,, aku bisa dengan mudah menghancurkan semua bisnis haram mu, apalagi saat ini posisi mu sedang tidak menguntungkan, sangat mudah buat ku untuk membuat mu menggembel di jalanan, bahkan di penjara sekali pun!" ancaman Arsan tak ingin kalah menakutkan dari pada lawan bicaranya.
__ADS_1