
"Siapa kau sebenarnya, kenapa berada di ruangan ku ?" tanya Raya, tak ingin berlama lama beradu argumen dengan wanita asing itu, ini terlalu konyol buatnya, kenapa tiba tiba ada perempuan asing yang mengaku ngaku sebagai ceo di perusahaan milik ayahnya itu.
"Bukan kah aku yang harusnya bertanya padamu, kenapa kau berada di ruangan ku ?" wanita itu balik bertanya.
"Aku pemilik ruangan, ini sekaligus anak pemilik perusahaan ini," ucapan Raya semakin terlihat menahan marah, dengan gigi atas dan bawah yang mengetat.
"Hahaha,,,, itu beberapa hari yang lalu, sebelum Arsan, ayahmu menjual saham perusahaannya pada ayah ku, sekarang ayah ku yang punya saham paling besar di perusahaan ini, tentu saja aku sebagai anak pemilik saham terbesar berhak menjadi ceo di perusahaan ini, di bandingkan dengan mu yang hanya mempunyai tiga puluh persen saham saja, menyedihkan sekali, mantan ceo ini !" ejek wanita itu bahkan mengolok olok kemarahan Raya.
"Apa maksud ku, ayah ku tak mungkin menjual perusahaannya pada orang asing, apa lagi ayah ku sekarang sedang sakit dan menghilang, tak mungkin ayah ku menjual sahamnya,!" Raya tak terima dan tak percaya dengan apa yang di katakan wanita itu
"Bacalah !" Wanita itu melemparkan sebuah map ke atas meja kerja di ruangan itu.
Raya melangkah maju, dia cukup penasaran dengan fakta dari ucapan wanita laknat itu.
Sekujur tubuh Raya terasa panas dingin saat membaca tulisan dalam map itu yang menyatakan bahwa Arsan, sang ayah terlah menjual semua sahamnya pada seseorang bernama Cobra Wijaya, dan tertera tanda tangan asli ayahnya, juga Karina sebagai saksi.
Karina,,, wanita itu berarti masih hidup dan kemungkinan besar sedang bersama ayahnya, karena dia ikut menandatangani surat perjanjiaan jual beli itu, lalu Cobra, bukankah terakhir kali Toni mengatakan padanya kalau ayahnya berada dalam sekapan mafia bernama Cobra itu, tapi mengapa tiba tiba ayahnya menjual sahamnya pada orang jahat itu, lalu dimana ayahnya sekarang ?
"Oke, persetan dengan saham 70 persen itu, yang ingin aku tau, dimana ayah ku sekarang ? Bagaimana cara kalian bertransaksi jual beli dengannya, sementara aku saja tak bisa menemukan keberadaan ayah ku ?!" Raya mulai menyingkirkan pikiran lainnya, saat ini yang terpenting adalah mengetahui keberadaan ayahnya dan memastikan kalau satu satunya keluarga yang dia miliki itu baik baik saja, tak peduli dengan saham yang di jual, tak peduli dengan jabatan nya yang di ambil, bagi Raya, ayahnya lebih penting dari apaun juga di dunia ini, apalagi hanya di bandingkan dengan harta dan kedudukan saja.
"Untuk apa aku mengurusi ayah mu, tak penting, dan tak ada untungnya bagi ku, yang terpenting bagiku adalah aku bisa mendapatkan semua yang kau punya, jabatan mu, dan juga,,, tunangan mu,,!" Wanita itu melirik ke arah Martin yang sejak tadi hanya terdiam tak mengeluarkan sepatah kata pun, mendengarkan perdebatan antara dua wanita yang seolah sedang memperebutkan dirinya, tapi itu semua hanya ada dalam angan nya !
"Cih,,, tukang pungut ! Ambilah rongsokan itu, aku tak butuh pria macam dia, sudah lama ingin ku buang syukurlah kalau ternyata masih layak untuk mu !" sarkas Raya dengan pandangan merendahkan, membuat wajah wanita itu merah padam karena merasa di permalukan.
"Lancang sekali mulut mu, sudah kere masih berani bertingkah, aku sekarang bos di sini, dan kau bukan siapa siapa, jaga bicara mu !" tunjuk wanita itu.
__ADS_1
"Brina, tenanglah sayang, dia hanya berlagak sok galak untuk menutupi kelemahannya, aku tau dia," Martin menenangkan wanita yang di panggilnya dengan sebutan sayang itu.
Untung saja hati Raya sudah mati rasa pada pria itu, tak ada lagi perasaan tersisa untuk pria yang masih berstatus tunangannya itu semenjak terkuaknya perselingkuhan Martin dengan Karina, sang ibu tiri.
Merasa tak akan mendapat jawaban dari wanita bernama Brina itu, dan mungkin akan malah menambah pusing di kepalanya jika dia masih terus berada di sana dan meladeni kegilaan Martin dan wanita gila yang menjadi pasangannya itu.
Raya memutar badannya dan berjalan keluar ruangan, tak ada gunanya berbicara dengan pasangan gila itu, dadanya semakin bergemuruh, satu lagi masalah datang menghampirinya, sementara tumpukan masalah yang sebelumnya pun belum sempat terselesaikan.
Sabrina atau biasa di panggil dengan nama Brina adalah putri sulung dari Cobra, wanita itu menuruni sifat ayahnya yang kejam, dan pemberani, bahkan sejak usianya 15 tahun dia sudah sering membantu ayahnya dalam menjalankan bisnis hitam nya, wanita berumur 27 tahun itu telah menjelma menjadi Cobra dalam kemasan yang berbeda.
Raya mengemudi tak tentu arah, sungguh pikirannya ingin beristirahat sejenak dari masalah yang seakan terus datang padanya bertubi tubi, sialnya, di tengah kebingungannya mengemudi tiba tiba mobilnya malah mengarah ke tempat kost Toni, entah apa yang membuatnya mengemudi sampai ke sana, seakan hatinya masih mencari cari sosok Toni untuk mencari sandaran secara otomatis setiap dirinya mendapatkan masalah seperti biasanya.
'Ah, sial,,, kenapa aku malah ke sini, sih !?' gumamnya mengumpat dirinya sendiri dalam hati yang masih saja mencari cari pria yang sudah bertunangan dengan wanita lain itu.
Sekitar tiga puluh menit lamanya Raya berada di depan tempat kost Toni, tanpa berani turun dari mobil yang telah di parkirnya, setelah puas menatap pintu kamar kost Toni yang tertutup, wajahnya kini di benamkan di kemudi, dengan kedua tangannya sebagai tumpuan, sungguh saat ini dia sangat ingin menangis di dada pria itu dan mengadu akan masalah baru yang datang lagi padanya, tapi--- bukankah saat di hari pertunangan bodyguard nya itu ia sudah mengeluarkan sumpah serapah kalau dirinya tak butuh bantuan pria itu lagi, dan tak ingin berurusan dengan pria yang fia rasa telah membohonginya itu.
Sampai tanpa terasa Raya tertidur di balik kemudi mobilnya, bahkan matahari sudah berganti shift dengan rembulan, dan Raya masih terlelap dengan posisi yang masih sama seperti tadi siang, menelungkupkan wajahnya di setir.
Tok,,, Tok,,, Tok,,, !
Suara ketukan di jendela mobil Raya berhasil membuat gadis itu terbangun dari tidur nyenyaknya.
"Maaf mba, bukankah mba ini temannya Lion yang sempat menginap di sini itu, ya ?" tanya ibu kost tukang gosip yang selalu kepo dengan kehidupan anak anak kostnya itu.
"Eh, emh,,, iya, anu,,, saya hanya ada sedikit kepentingan dengan dia, hanya saja sepertinya dia sedang tak ada di sini, kalau begitu saya permisi !" Ucap Raya gugup, dia tak menyangka kalau ibu itu mengenalinya.
__ADS_1
Raya segera pergi dari tempat sana setelah berpamitan pada ibu kost tukang gosip itu.
Selang sepuluh menit dari kepergian Raya, Toni pulang ke tempat kostnya, baru saja dirinya memutar kunci pintu kamarnya, si ibu kost kepo itu menghampirinya,
"Lion, wanita yang pernah kamu bawa menginap di sini itu tadi siang mencari mu, wanita itu bahkan menunggu mu sampai malam, dan sepertinya dia sampai ketiduran menunggu mu, belum ada tiga puluh menit dia pergi dari sini," ocehnya menceritakan tentang Raya yang di pikirnya menunggu Toni sejak tadi.
Kedua alis Toni bertaut, dirinya sepertinya tak perlu menebak nebak siapa wanita yang di maksud ibu kostnya itu, hanya ada satu wanita yang pernah Toni bawa masuk ke dalam kamar kostnya, hanya Raya.
"Raya ? Oh, shiiitttt !" umpat Toni lantas bergegas pergi meninggalkan ibu kost yang sepertinya masih ingin bercerita banyak dengan Toni, meskipun pria itu tak pernah mau menanggapi gosipannya selama ini.
Toni buru buru menghubungi Panca, menanyakan keberadaan Raya, dan mencari tau tentang kegiatan Raya seharian ini, karena dirinya tak sempat memantau Raya karena di pusingkan dengan menghilangnya Arsan yang harusnya masih berada di rumah sekapan.
Namun Toni mendapat laporan yang justru membuat dirinya semakin merasa emosi, karena Panca mengatakan kalau ia tak bisa mencegah Raya pergi ke kantornya yang bersikukuh tak mau di temaninya, bahkan sampai malam ini Raya belum pulang dan belum bisa di hubungi, sementara Panca dan Dila sudah berusaha mencari keberadaan Raya sejak siang, namun tak berhasil menemukannya.
Toni bak sedang kesetanan mengendarai motornya menyusuri jalan yang memungkinkan di lalui Raya dan matanya terus awas mencari cari keberadaan Raya, jantungnya tiba tiba seakan lepas dari tempatnya saat mobil Raya terlihat terparkir di bahu jalan yang tak jauh dari tempat kost Toni, namun jalan itu memang terbilang sepi, jarang ada kendaraan yang mengambil jalur itu, apalagi saat malam hari, karena harus melewati kawasan kuburan yang terkenal angker itu.
Toni menghentikan motornya di belakang mobil sport kuning itu, jantungnya berdebar sangat kencang, tak siap jika harus mendapati Raya hilang atau mungkin terluka di sana.
Seperti posisi saat tadi siang, Raya memvenamkan wajahnya di setir dengan kedua tangan yang menjadi bantalannya.
"Raya,,,, Raya,,, apa kamu baik baik saja !" teriak Toni membuka pintu mobil yang ternyata tak terkunci itu.
Toni mengguncang tubuh Raya kasar, jujur saat ini ia sangat panik menemukan Raya dalam posisi seperti itu, sendirian di jalan sepi, di tengah dirinya yang berkonflik dengan Cobra, itu sangat membuat hati Toni menciut untuk oertama kalinya,
Bukan menciut karena melihat lawan tarung yang sepertinya tak bisa di kalahkan, namun menciut karena takut terjadi apa apa pada Raya.
__ADS_1
"Raya,,, tolong jangan seperti ini, kau membuatku kebingungan !" Toni mengangkat wajah yang di sembunyikan Raya dari pandangan mata Toni yang sebetulnya kalau boleh jujur, pandangan mata !pria itu masih sangat di rindukannya.