Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Boom!


__ADS_3

"PANGGIL SI BERENGSEK ROLAN SEKARANG JUGA !!!" Teriak Arsan saat dirinya baru di kabari oleh orang nya kalau bangunan yang hanya dalam hitungan minggu di rencanakan akan beroperasi itu tiba tiba runtuh.


Kepala Arsan rasanya langsung terasa pusing bukan main, bahkan pandangannya kabur dan berkunang kunang, bagaimana tidak, semua uangnya sudah dia investasikan untuk mega proyek itu, belum saja itu semua menghasilkan uang, saat penghasilan ratusan juta perhari yang mungkin akan di dapatkan dari tempat hiburan mam dan perjudian terbesar se Asia itu sudah di depan mata, bahkan bau uangnya saja sudah dapat Arsan cium, kini semuanya harus hancur dan musnah begitu saja.


Di tempat lain Rolan yang juga baru mendapat kabar tentang hancurnya bangunan bar itu membuat dirinya panik sepanik paniknya, tentu saja dia kalang kabut saat ini, karena dia sebagai penanggung jawab pembangunan.


Di tengah kekalutannya, Cobra datang ke tempat itu di temani Sabrina dengan wajah yang berpura pura marah dan kecewa atas rubuhnya proyek mereka yang kenyataannya Sabrina salah satu pelaku di balik hancurnya bangunan itu.


"Rolan, bagaimana ini? Aku mendengar kabar kalau bangunan itu roboh, bagaimana ini bisa terjadi?" tanpa permisi dn basa basi Cobra langsung memberondong Rolan dengan pertanyaan yang sebenarnya apapun jawaban Rolan tak begitu penting untuk Cobra dan Sabrina, hanya saja ini perlu di lakukan untuk menekan mental Rolan sebagai partner kerjasama mereka.


"Tunggu dulu, biarkan aku menyelidiki dulu masalah ini, aku yakin ada sabotase dalam masalah ini." terang Rolan kebingungan.


"Lalu bagaimana dengan nasib uang yang aku investasikan di sana, uangku tidak sedikit yang aku investasikan pada proyek ini, kau begitu meyakinkan ku kalau ini akan sangat menguntungkan dan akan balik modal hanya kurang dari satu tahun saja, lantas sekarang, mana ucapan ucapan manis mu itu,?" tuntut Cobra.


"Sabar dulu sebentar, tidak ada yang mau musibah terjadi, ini semua musibah, jadi tolong lah bersabar dulu, kita cari jalan keluar terbaik buat kita semua."kelit Rolan seolah ingin lepas tangan.


"Apa maksud mu dengan musibah dan bersabar, tidak,,, aku ingin uang ku di kembalikan, karena ini merupakan penipuan, kau merayu dan mengiming imingi aku dengan penghasilan yang besar sehingga aku mau berinvestasi pada proyek mu ini," Cobra mulai enekan Rolan agar uang investasinya minta di kembalikan padanya.


Cobra dan Sabrina tau kalau dalam hal ini Rolan tak ada ikut campur masalah keuangan karena ini sebenarnya proyek milik Arsan, hanya saja Rolan yang di buat atas nama, namun ini kesempatan bagi Cobra untuk menekan Arsan lewat Rolan, biar saja nanti Rolan yang menekan Arsa, karen tak mungkin kalau Rolan mau menutup kerugian yang di alami oleh Cobra.


"Tapi ini bukan sepenuhnya proyek ku, karena sebenarnya ada investor lain, aku hanya sebagai pelaksana saja." tolak Rolan tak ingin menanggung kerugian Cobra.


"Aku tk mau tau tentang investor lain atau apapun itu, yang aku tau, urusan ku dengan mu, yang ku tau aku menginvestasikan uang ku pada mu, jadi aku hanya akan meminta tanggung jawab pada mu untuk mengembalikan semua uang-uang ku." tekan Cobra.


"Aku akan terbang ke sana dan melapor pada pihak yang berwajib untuk mengutus tuntas tentang kejadian ini, aku yakin kalau ini adalah sabotase, setelah semua hasil penyelidikan dari pihak yang berwajib selesai, maka kita putuskan lagi bagaimana kit akan menyelesaikan masalah ini." terang Rolan mencoba meminta kelonggaran dari Cobra untuk menyelesaikan dulu masalah ini.


"Sepertinya masalah ini tidak bisa di laporkan ke pihak kepolisan, karena kalau itu terjadi mungkin malah akan berbalik menyerang mu dan anak mu sebagai penanggung jawab proyek." timpal Sabrina memberikan suara yang justru menambah runam keadaan.


"Kenapa bisa begitu?" kaget Rolan.

__ADS_1


"Karena bangunan itu belum mempunyai ijin, putri kesayangan mu selalu saja mengulur waktu dan tak pernah mau untuk mengurusnya ke kantor perijinan di sana, sementara aku tidak bisa mewakilinya, karena yang bertanggung jawab langsung pada proyek itu lah yang harus datang, mengajukan permohonan dan menanda tangani semua berkas, Cila sebagai penanggung jawab tertulis tidak melakukannya." Sabrina melirik ke arah Cila yang kini berada juga di antara mereka karena dia juga ikut andil dalam proyek itu beberapa bulan terakhir ini menggantikan Toni.


"Aku bukan tidak melakukannya, tapi belum sempat, kau sepertinya sengaja ingin memojokan ku,!" tepis Cila tak terima di persalahkan oleh Sabrina.


Sebenarnya Sabrina sengaja membiarkan dan tidak mengingatkan Cila tentang surat surat dan perijinan itu, tujuannya ya ini, agar mereka lebih banyak salahnya.


"Kau ceroboh dan tak bisa di andalkan! Pantas saja tak ada pria yang mau dengan mu, tak berguna!" maki Rolan pada putri kesayangannya.


Sebenarnya tak ada niat bagi Rolan untuk memaki putrinya se menyakitkan itu, hanya saja akumulasi kecerobohan dan kebodohan Cila tak urung membuat ayah yang biasanya sabar dalam menghadapi putri manjanya itu akhirnya murka juga.


"Ayah,!" teriak Cila.


"Diam, kau memang bersalah dalam hal ini, kau terlalu banyak menimbulkan kekacauan! Bagaimana kalau sudah begini?" Rolan membalas teriakan Cila dengan Teriakan yang lebih keras dari putrinya, tak peduli di sana ada Cobra dan Sabrina yang sepertinya menikmati tontonan drama pertengkaran ayah dan anak itu


"Kalau kau tetap melaporkan kejadin ini pada pihak berwjib, bukan tidak mungkin ini akan lebih merugikan mu, karena kau juga akan mendapatkan tuntutan atas tuduhan mendirikan bangunan tanpa ijin dan bisnis ilegal, tuntuuta akan lumayan berat, belum lagi dendanya." Cobra semakin menakut nakuti Rolan yang tak dapat lagi berpikir secara logis. Otaknya terlanjur panas dan tak bsa berpikir lagi.


Sungguh ni yang Cobra dan Sabrina tunggu tunggu, kekalutan Rolan.


"Apa ini, surat penyataan apa?" tolak Rolan saat membaca isi surat perjanjian yang sebagian besar isinya seperti akan merugikan dirinya.


Di surat itu tertulis kalau Rolan bersedia mengembalikan uang investasi yang Cobra tanamkan di proyek itu tanpa kurang satu rupiah pun,dalam tempo waktu tiga bulan, jika hal itu tidak di lakukan maka kepemilikan proyek itu akan jatuh ke tangan Cobra secara otomatis.


Tentu saja itu merupakan dilema besar untuk Rolan,karena dia tak bisa memutuskan itu sendiri, karena sejatinya yang seharusnya bertanggung jawab dalam hal ini adalah Arsan, dan kalaupun ada orang yang harus bertanggung jawab mengembalikan uang investasi miik Cobra, satu satunya adalah Arsan.


Karena Arsan yang sejak awal mengusukan untuk membangun mega proyek ini karena dia ingin memperdayai Cobra dan menguras harta Cobra lewat proyek ini.


Namun diluar dugaan ternyata semua ini malah berbalik menjadi menyerangnya sementara Arsan sepertinya bisa dengan bebas seolah tak punya salah apapun sebagai dalang dari ini semua.


Namun jika dirinya membongkar masalah tentang Arsan yang merupakan dalang dari semua permasalahan ini, Cobra pasti akan semakin murka padanya

__ADS_1


, dia akan merasa kalau dirinya memang sudah merencanakan untuk menipu dirinya sedari awal.


Tentu saja itu juga akan semakin rumit, selain Cobra yang pasti akan menuntt dan menyerangnya, hbungan nya dengan Cobra pun akan kembali memburuk.


"Baik baik, aku akan menanda tanganinya!" akhirnya Rolan menyetujui permintaan Cobra,


Rolan nekat menandatangani surat perjanjian itu karena pikirnya dalam waktu 3 bulan ini dia bisa balik menekan Arsan agar mengganti semua uang Cobra, kalaupun Arsan tak mau membayar uang ganti rugi pada Cobra, bukankah lahan proyek yang akan di ambil alih oleh Cobra itu adalah milik Arsan, dirinya tak akan kehilangan atau rugi apapun jika sampai lahan itu jatuh ke tangan Cobra.


Cobra dan Sabrina saling bpandangan dan tersenyum, karena apa yang di harapkannya terkabul dengan sangat sempurna sesui dengan yang di rencanakan dan di harapkan.


Cobra dan Sabrina pulang dengan membawa kemenangan dan senyuman.


"Lihat, puas kau, sungguh semua yang kau lakukan itu semuat ku sakit kepala!" tunjuk Rolan pada putrinya yang seakan tak merasa bersalah itu.


"Kenapa jadi aku? Kenapa semua harus jadi aku yang salah? Aku saja tidak menyalahkan ayah yang selama ini membohongi ku, menggunakan ku sebagai alat untuk menjerat Lion agar mau bekerja pada ayah, apa ayah pikir aku tak tau semua itu?" teriak Cila yang mulai terpancing emosinya untuk membahas masalah pertunangannya dengan Toni.


"Aku melakukannya untuk mu, aku melakukan semua hal ntuk mu, untuk keluarga ku, lantas kau mau menyalahkan ku sekarang ini, kau menyalahkan ayah mu yang selalu mengabulkan semua keinginan mu, memenuhi semua keinginan mu, memberi semua yang kau minta, apa ini balasan mu?"Pecah sudah kemarahan Rolan pada putri kesayangan nya itu.


"Aku memang tak pernah ada baik nya di mata ayah, aku selalu tak berguna di mata ayah, ayah jahat!" teriak Cila sambil berlari ke kamarnya dan membanting pintu kamarnya sekencang mungkin.


"Bos, anak buah tuan Arsan mencari anda, katana anda di tunggu tuan Arsan di rumahya,!" salah satu anak buahnya melapor padanya dengan takut takut.


"Arrrggghhhhhhh! Bajingan kenapa semua jadi serba kacau begini,!" teriak Rolan, belum selesai masalah yang satu sudah mmuncul lagi masalah baru di hidupnya seakan setiap hari masalah datang silih berganti mengantri untuk menyapanya.


Kini Rolan harus menyiapkan diri lagi untuk bertemu dengan Arsan yang pastinya akan mengamuk dan mempersalahkannya atas apa ang terjadi di proyek.


Lelah tentu saja itu sangat di rasakan oleh Rolan saat ini, tak hanya lelah fisiknya namun juga lelah pikirannya yang di tuntut untuk terus memutar otak berpikir untuk menyelesaikan masalah yang seakan tak pernah ada habisnya itu.


"Ya, aku akan segera ke sana, katakan padanya untuk menunggu ku, aku pasti ke sana." ucapnya setengah putus asa.

__ADS_1


Siap tidak siap dia harus tetap datang dan menemui Arsan, tak mungkin dia menghindar, dia hanya perlumempersiapkan mentanya untuk di maki habis habisan oleh Arsan.


Dan sepertinya pilihan untuk diam dan menerima semua cacian dan makian akan lebih berguana baginya dari pada membuang buang tenaga melawannya, karena dirinya memang dalam posisi yang sulit saat ini."


__ADS_2