
Sabrina tertawa terbahak bahak saat melihat berita yang kini sedang ramai di bicarakan seantero negeri, dasar wartawan, kini pemberitaan perkelahian antara Joshep dan Toni malah tenggelam, dan muncul judul baru di artikel artikel dengan headline perseteruan pemilik tempat hiburan malam ternama ibukota vs pejabat tinggi negeri.
"Lihatlah, sepertinya Rolan sekarang sedang kebakaran jenggot akibat ulah putri bodohnya," ucap Sabrina di tengah tawanya saat bertemu dengan Toni untuk membahas tentang rencana penyerangan Rolan dan Arsan selanjutnya.
Toni hanya sedikit tersenyum tipis bahkan hampir tak terlihat, sejujurnya dia juga sangat puas dengan apa yang terjadi saat ini, sungguh ini di luar rencana mereka, kebodohan Cila bagai bonus tersendiri bagi mereka, bagaimana tidak, akibat pemberitaan yang semakin gencar tentang oenggiringan opini dan berita yang meluas kemana mana bahkan sampai merembet mengusik ijin usaha beberapa tempat hiburan malam di kota kota besar lainnya, belum lagi netizen yang seakan mengorek ngorek dari mana saja sumber kekayaan Rolan, tak menutup kemungkinan bisnis senjata ilegal dan bisnis narkobanya juga akan terkuak.
Oleh sebab itu, Rolan menghentikan sementara semua kegiatan penjualan senjata dan penjualan narkobanya, karena kini dia sedang menjadi sorotan, dan akan membahayakan jika sampai usaha gelapnya bocor, selain dia akan berurusan dengan pihak yang berwajib, dia juga akan menjadi buronan mafia luar negeri yang memasok barang padanya karena di anggap akan membahayakan jaringan mafia internasional.
"Ini saatnya kau bergerak mengisi kekosongan yang di tinggalkan sementara oleh Rolan, rampas semua para pelanggan besarnya, lalu aku akan mengacau di proyek kasino nya, aku akan membuat para preman di sana tak setuju dengan pembangunan kasino itu," atur Toni membicarakan semua rencana yang sudah di susunnya, hanya saja ada sedikit kemudahan karena ternyata mendapat 'bonus' dari ulah bodoh Cila.
"Ini dokumen dan laporan yang sudah aku manipulasi!" Sabrina menyodorkan setumpuk berkas proyek yang sudah dia manipulasi dengan memasukan beberapa biaya fiktif dan menggelembungkan biaya yang memang ada, sehingga biaya yang harus di keluarkan untuk pembiayaan akan mencekik Arsan si pemegang kendali keuangan.
"Bagus, kita ciptakan konflik internal juga antara Rolan dan Arsan, kita buat mereka saling mencurigai, biarkan Arsan mengira kalau Rolan korupsi di proyek ini, sehingga hubungan mereka retak, akan lebih gampang menghancurkan mereka jika dua kubu itu kita pecah belah terlebih dahulu, kekuatan mereka akan berkurang, oke, good job Sab!" pungkas Toni mengakhiri pertemuan rahasia mereka.
Beberapa hari terakhir ini memang menjadi hari hari yang lumayan melelahkan bagi Toni, "ternyata menjadi manusia bermuka dua itu sangat menguras tenaga juga," gumam Toni sambil tersenyum miring enth menertawakan apa.
Atau mungkin dia menertawakan dirnya sendiri yang terjebak dalam permainan gila dimana dia harus berpura pura baik dan menurut pada Rolan, seolah bersusah payah melakukan semua hal yang terbaik untuk nya, sementara di balik punggung pria itu dia merencanakan skema licik untuk kehancuran pria yang d sinyalir merupakan salah satu pihak yang bertanggung jawb dan ikut andil dalam kehancuran hidup Raya sang kekasih pujaan hati.
"Lion, aku mendapat laporan dari salah satu orang di lapangan kawasan barat, katanya mereka mulai beralih berbelanja pada orang orangnya Cobra, Apa kau sudah tau itu?" tanya Rolan yang akhir akhir ini wajahnya selalu di tekuk dengan pandangan mata yang suram.
Bagaimana tidak, dia harus kehilangan pendapatan yang sangat banyak akibat tindkan bodoh dan ceroboh puterinya itu.
__ADS_1
"Benar, tapi biarlah, itu kan hanya sementara, selama kita tiarap saja, setelah kita kembali beroperasi tentu saja mereka akan kembali berbelanja pada kita." ucap Toni santai, dia sengaja, ingin membuat Rolan tak begitu terganggu dengan berita dari anak buahnya di lapangan itu, agar Sabrina lelusa merebut para bandar yang biasanya bertransaksi dengan Rolan.
"Baiklah aku percayakan semuanya pada mu, aku terus terang saja sudah sangat pusing dengan permasalahan yang seakan tak ada hentinya terus datang pada ku," keluh Rolan yang mulai merasa beban hidup yang di hadapinya kini terlalu berat untuk di pikulnya dengan masalah yang datang seolah betubi tubi kepadanya dirinya.
Ah, tidak kah Rolan berpikir kalau apa ang di rasakan nya kintidak seberapa jika di bandingkan denan apa yang di alami dan di lalui Raya akibat konspirasi jahatnya bersama Arsan yang dengan sengaja membuat seorang gadis tak berdos harus menanggung beratnya hidup sendirian, bahkn harus menanggung benci dan sasaran pembalasan dari Cobra dan keluarganya atas kejahatan yang tak pernah dia lakukan dan tak pernah dia tahu menahu sama sekali.
Rasanya semua ini terlalu sederhana dan ringan menurut pemikiran Toni, karena Rolan dan Arsan harus mendapatkan keskitan yang seribu kali lebih sakit dari apa yang di rasakan Raya dan juga Cobra beserta seluruh keluarganya.
"Kau coba lah lihat Cila di atas, dia tak keluar kamar selama dua hari ini, bahkan dia tak pergi ke kantor untuk melakukan tugasnya, padahal proyek itu harus tetap berjaan sesuai rencana,ckk,,, anak itu selalu merepotkan ku, ulahnya selalu membuat ku pusing kepala!" decak Rolan, mengeluh tentang putri semata wayangnya itu.
Sepertinya Rolan memang sudah sangat geram dengan semua kelakuan putrinya itu, sayangnya dia tidak bisa berbuat apa apa karena dia sangat menyayangi putrinya itu, makanya dia hanya bisa memendam semuanya sendirian,dan sekarng in sepertinya juga untuk yang pertama kalinya Toni mendengar Rolan mengeluh tetang puteri kesayangannya itu padanya.
Tak begitu lama pintu kamar terbuka dan nampaklah wajah kusut Cila dari balik pintu, namun begitu menyadari kalau yang datang adalah Toni, senyuman dari bibirnya langsung tergambar jelas mengembang,
"Bang Lion!" pekiknya tertahan,
"Apa kau baik baik saja?" tanya Toni dari ambang pintu berbasa basi.
Namun Cila menggelengkan kepalanya, lalu menarik tangan Toni untuk ikut masuk ke dalam kamarnya secara paksa.
"Apa kau sakit?" tanya Toni lagi.
__ADS_1
"Hmm, rasanya aku agak tak enak badan, aku juga kesal sama ayah yang menyalahkan ku atas semua yang terjadi, padahal aku hanya ingin membela mu saja, apa itu salah,?" rengek Cila, sambil menyandarkan kepalanya di bahu Toni.
"Tidak, tidak ada yang salah, apa yang kau lakukan semuanya sudah benar, terimakasih sudah membelaku di hadapan semua orang bahkan di depan seluruh dunia, kau hebat!" puji Toni membesarkan hati Cila, siapa tau dia akan lebih berani lagi berbuat hal yang lebih gila dari kemarin, kan lumayan efeknya bisa menguntungkan posisinya.
"Benarkah? Oh,,, hanya abang saja ternyata yang mengerti aku,mengerti perasaan ku, semuanya tak ada yang dapat mengerti ku,termasuk ayah!" ucapnya.
Tentu saja Toni kan sangat mengerti dan mendukung tindakan bodoh tunangannya itu, secara itu semua membuat jalannya untuk memporak porandakan bisnis Rolan menjadi semakin mudah jalannya.
Toni menahan nafasnya ketika tiba tiba tangan Cila bergerilya menjeljahi dadanya dari balik t-shirt yang di kenakannya, entah kapan hal itu terjadi, tiba tiba saja tangan Cila sudah menggerayanginya.
Wanita itu ingin membuktikan kalau ucapan Sabrina tentang Toni yang tak bernafsu dengan dirinya adalah tidak benar, dan dia ingin membuktikan kalau pesona tubuhnya dapat menarik perhatian Toni sehingga Toni akan menyentuhnya, rasanya ini semua hanya karena masalah kesempatan saja, karena tidak ada kesempatn untuk mereka menikmati waktu berdua, sehingga terkesan kalau Toni tak menginginkannya, yakin Cila.
"Cila, jangan seperti ini!" ucap Toni lirih.
"Kenapa? Apa aku tak menarik di mata mu? Atau kamu punya seseorang di belakang ku? Kamu punya kekasih lain, Bang? Jadi benar ap yang di katakan Sabrina kalau kamu itu tak mau bermesraa dengan ku karena kamu punya kekasih lain tanpa sepengetahuan ku?" cecar Cila.
'Ah, Sabrina, sialan! Apa yang sudah dia katakan pada wanita ini, awas saja kalau sampai dia mengatakan hal yng tidak tidak!' geram Toni penuh kesal dalam hatinya.
"Tidak seperti itu,! kenapa kau berkata seperti itu? Apa kau lebiih percaya ucapan orang lain di banding ucapan ku?" kelit Toni.
"Kalau begitu buktikan, buktikan kalau abang benar benar mencintai ku, karena aku adalah milik mu!" Cila melucuti pakaiannya sendiri di hadapan Toni sampai hanya menyisakan pakaian dalamnya saja, dia ingin tau reaksi Toni ketika melihat tubuhnya yang sudah polos tepat di hadapannya.
__ADS_1