Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Hari Sial Sedunia


__ADS_3

Langkah pelan Toni dan Sabrina sungguh bak pencuri yang sedang mengintai rumah jarahannya, mengendap endap dengan kaki yang setengah berjinjit, mencoba memasuki rumah yang besar itu.


"Rumah ini sepertinya sepi," bisik Sabrina sambil terus mengedarkan pandangannya ke segala arah.


Toni hanya diam sambil terus membaca situasi, otaknya terus berpikir keras, ada yang aneh dengan pria yang membukakan pintu gerbang tadi, dia berkata kalau nyonya Karina, pemilik rumah ini sedang pergi begitu katanya saat dia baru saja membukakan pintu gerbang, padahal baik Toni atau pun Sabrina belum menyinggung atau mengatakan apa kepentingan mereka datang ke rumah itu.


"Tunggu,,,! Apa kau tak merasa ada yang ganjil dengan rumah ini dan penjaga rumah tadi ?" tanya tanya Toni lirih, sambil melirik ke arah Sabrina yang malah mengerutkankeningnya seperti tak mengerti arah pembicaraan Toni.


"Maksud mu?" Sabrina balik bertanya.


"Maksud ku, kenapa penjaga rumah itu langsung tau kalau kedatangan kita ini dalam rangka mencari Karina, padahal kita belum bicara atau bertanya apapun pada orang itu tadi," terangnya membeberkan kejanggalannya.


Sabrina mulai mencerna apa yang di katakan Toni, dan mengingat ingat, sepertinya benar juga apa yang di katakan Toni, kenapa mereka baru menyadarinya sekarang.


Setelah mengobrak abrik semua ruangan yang ternyata benar benar kosong itu, mereka berdua saling berpandangan dan serempak berkata,


"Sekuriti tambang !" teriak mereka berbarengan,


"Sial,,, aku bahkan memberinya uang sebagai ucapan terimakasih, oh,,, bodohnya aku !" kesal Sabrina yang juga kini sama menyadari kalau mereka sudah di perdaya dengan tipu muslihat yang benar benar terencana, jelas Karina yang menjadi sutradara di balik semua sandiwara bodoh ini, pikirnya.


"Kau memang bodoh !" seloroh Toni dengan santainya.


"Lalu apa bedanya dengan mu yang juga sama sama terkecoh seperti ku, apa namanya bukan bodoh juga ?" Sabrina balik mencemooh dengan nada tingginya, dia tidak terima, bisa bisanya dia di katai bodoh, sementara yang tertipu di sini bukan cuma dirinya saja melaninkan Toni juga.


Toni yang di kata katai Sabrina hanya melengos, tak berkeinginan sedikit pun untuk menangapi cemoohan Sabrina yang pastinya tak akan ada habisnya jika dia ladeni.


"Lantas bagaimana sekarang? Apa kita samperin lagi si penjaga tambang yang sudah mengerjai kita itu ? rasanya aku ingin menghajarnya!" geram Sabrina sambil mengepalkan tinjunya.


"Kau saja sendiri yang kembali ke tambang nyamperin tuh orang, aku mau pulang !" ucap Toni, dia sudah merasa kesal dengan hal hal hari ini di temui, kali ini dia harus mengikuti apa yang menjadi kata hatinya.

__ADS_1


Kata hatinya mengatakan kalau Karina sepertinya sudah melarikan diri entah kemana, yang jelas dia tak mungkin berada di kota ini dan tak akan kembali ke kota ini dalam beberapa hari bahkan beberapa minggu ini.


"Ishh,,, dasar jeruk makan jeruk,,, gak ada manis manisnya sama sekali ngomong sama cewek, kayanya kalo ngobrol sama cowok baru kamu manus banget ya !?" ejek Sabrina yang merasa Toni selalu saja ketus saat di ajaknya berbicara atau menjawab pertanyaannya.


"Hey,,, kamu mau kemana ?" teriak Sabrina berlari mengejar Toni yang meninggalkan rumah besar nan mewah itu tanpa mendapatkan hasil atau informasi apapun dan hanya membawa kesal dan kecewa.


Sepertinya penderitaan Toni tak sampai sebatas di kira penyuka sesama jenis oleh Sabrina dan kehilangan jejak Karina plus di kadali oleh dua orang sekuriti, karena saat Toni dan Sabrina sampai di lobi hotel tempatnya menginap, Cila, sosokyang sama sekali tak Toni harapkan justru sedang duduk cantik dan langsung melayangkan senyum manisnya saat Toni telihat memasuki lobi hotel malam itu.


Mungkin hari ini Toni bisa di nobatkan sebagai pria ter sial di seluruh dunia.


"Tunangan mu datang, tuh !" bisik Sabrina sambil memajukan dagunya seraya menunjuk ke arah Cila berada.


"Kau pikir mata ku buta, tentu saja aku sudah melihatnya dari tadi," ketus Toni.


Membuat Sabrina memutar matanya kesal, dia merasa tak pernah menang jika berdebat atau berbicara dengan Toni.


"Abang,,,! Kenapa pergi gak bilang bilang Cila, mana perginya lama lagi. Untung saja ayah memberi tahu kemana abang pergi dan mengijinkan Cila menyusul, kalau tidak--- abang pasti tak akan mengabari dan memberi tahu di mana keberadaan abang sekarang,!" protes Cila merengek dengan gaya manjanya.


"Isshhh,,, abang,,, kenapa kasar begitu dengan tunangan mu, hati hati kalau kasar kasar sama wanita, nanti topeng abang terbongkar !" goda Sabrina menirukan panggilan panggilan akrab Cila pada pria itu.


Atas ke usilannya itu,tak ayal Sabrina langsng mendpatkan pelototan tajam dari Toni plus dari Cila yang sedari awal merasa curiga karena Sabrina selalu mencai cari alasan untuk selalu berduaan dengan tunangannya itu, mengatas namakan pekerjaan, dan puncaknya adalah sekarang ini di mana dua orang itu pergi ke luar kota sampai berhari hari tanpa sepengetahuan dan melibatkan dirinya.


"Oke,,,oke,,, akupergi,,, aku gak ganggu kalian ang mau honey moon,,,kalau bisa itu juga !" ucap Sabrina yang tertawa terbahak saat mengucapkan kata kata di akhir kalimatnya.


"Ayo ke kamar bang, jangan ladeni orang sirik, iri dengki !" cibir Cila.


"Apa maksud mu ke kamar, kau datang sendiri, buka kamar sendiri, lah !" tolak Toni.


"Oh ayolah bang, kita sudah sama sama dewasa, lagi pula bukankah kita sudah tunangan, jadi sah sah sah saja kalau kita tidur dalam kamar yang sama,!" cicit Cila.

__ADS_1


"Tidak, kau buka kamar sendiri, kita belum menikah !" tolak Toni dengan sangat tegas, bagaimana pun di tak akan pernah mau satu kamar dengan tunangannya itu.


"Tak ada kamar kosong, full book !" Cila beralasan.


"Kalau begitu kau biasa satu kamar dengan Sabrina," ucap Toni tak kehabisan akal.


"TIDAK MAU !!!" kedua orang wanita itu berteriak serempak.


"Ya sudah, kalau begitu, aku pulang ke Jakarta malam ini," putus Toni yaang memang sudah sangat ingin pulang karena sangat merindukan Raya yang di tinggalkannya beberapa hari ini.


***


Di Jakarta,


Raya baru mendapat info dari Martin tadi siang kalau salah satu dokter kenalannya sempat bertemu Arsan saat ayah Raya itu melakukan kontrol dan kebetulan dokter kenalan Martin itu yang memeriksanya, karena dokter yang biasa menangani Arsan sedan berada di luar kota pas jadwal kontrol Arsan.


Menurut keterangan dokter yang sempat dia temui itu katanya keadaan Arsan ckup sehat sekarang ini, dia datang di temani seorang pria yang katanya asistennya.


Asisten ? menurut ciri ciri yang di sebutkan dokter itu, asisten yang menemani ayahnya itu menjurus ke Bagas yang menghilang setelah perusahaan di ambil alih oleh Sabrina


Tiba tiba Raya teringat dengan Bagas yang sempat pernah melaporkan hilangnya sang ayah pada pihak kepolisian,karena merasa penasaran dengan perkembangan penyelidikan kasusnya, setelah dari rumah sakit menemui dokter kenalan Martin itu, Raya kemdian pergi ke kantor polisi.


Namun betapa kagetnya saat polisi menyatakan kalau mereka tak pernah meneerima laporan orang hilang atas nama Arsan Lubis dari orang yang bernama Bagas atau dari siapapun, pdahal Raya sudah mengatakan dengan mendetail tentang kapan laporan itu di lakukan, bahkan Bagas sempat menunjukan bukti surat laporannya, saat itu yang di keluarkan oleh kantor polisi itu.


Ada apa ini, apa itu berarti Bagas berbohong padanya, da Bagas tsebenarnya tak pernah melaporkan kehilangan ayahnya itu pada pihak kepolisian, tapi apa yang Bagas sembunyikan darinya, lalu mengapa Bagas melakukan itu semua padanya.


Sedang melamun dan tak bisa tidur karena memikirkan masalah tadi siang yang belum bisadia pecahkan misterinya, tiba tiba ponselnya berbunyi, sebuah pesan yang sukses membuat hatinya semakin down dengan terpaksa harus dia terima, bagaimana tidak membuat mentalnya semakin down, tiba tiba saja Cila mengiriminya pesan berisi foto dirinya yang sedang berada di bawah selimut yang sama dengan Toni, dengan mata Toni yang sepertinya tertidur pulas, sementara irinya terlihat seperti tersenyum mengejek Raya.


Entah apa maksud Cila mengiriminya foto seperti itu, kalau tujuannya ingin membuat dirinya ceburu atau kesal, jawabannya adalah--- selamat,,, anda berhasil !

__ADS_1


Kesal? Jelaslah, bukannya saat pamitan Toni bilang hanya pergi bersama Sabrina, lalu kenapa tiba tiba ternyata ada Cila juga di sana,?


"Aaargggh,,, menyebalkan !" teriak Raya, yang bertanya tanya kenapa semua orang seolah berbohong padanya.


__ADS_2