
Sesuai yang di janjikannya pada Rolan, malam itu Toni datang ke rumah ketua mafia itu dengan pakaian yang lumayan rapi di banding dandanannya keseharian, malam itu Toni tampak sangat tampan dengan kemeja marun yang di padukan dengan celana kain berwarna hitam, dia tak mengenakan celana robek andalannya malam itu, karena ingin menyenangkan Cila di acara dinner perdana mereka.
"Abang,,,! Cila pikir ayah berbohong kalau abang mau mengajak Cila makan malam, abanh tampan sekali," puji Cila dengan mata berbinar dan seakan tak berkedip memandangi penampilan Toni yang sangat berbeda malam ini.
"Kau juga terlihat cantik!" jawab Toni yang kata katanya di rasakan Cila bak sambaran petir di siang bolong.
Bagaimana tidak, ini pujian pertama yang Cila dengar dari mulut seorang Toni di seumur dia mengenal pria dingin itu.
Apa yang terjadi, sehingga Toni bisa verubah se drastis ini, apakah menghilangnya Toni itu karena kepalanya terbentur dan mengalami amnesia akut sehingga tiba tiba dia berubah menjadi sangat baik padanya, ah,,, persetan apapun yang terjadi pada Toni, yang penting dia bahagia dengan sikap Toni yang sekarang ini, pikir Cila.
"Abang kemana saja, Cila nyari nyari abang," ucapnya manja.
"Yang penting sekarang aku di sini, kan?" jawab Toni yang sebenarnya tak ingin menjelaskan apa pun pada wanita itu perihal dari mana saja dia tiga hari belakangan ini.
"Abang beneran mau ngajak Cila dinner?" tanya wanita itu benar benar tak percaya dengan perubahan sikap Toni yang terkesan mendadak itu.
"Kenapa, tidak mau?" goda Toni, dia rela berubah menjadi pria murahan seperti ini demi memberi kesenangan pada orang orang yang sudah membuat Raya menderita, tak peduli siapa pun itu, bahkan jika itu adalah Arsan.
Malam ini sungguh Cila tak menyangka akan menjadi wanita yang paling bahagia di muka bumi ini, apa lagi saat Toni membukakan pintu mobil untuknya, rasanya dia menjadi putri dari negeri dongeng yang sedang berkencan dengan pangeran impiannya, sebenarnya tadi Cila sempat meminta pergi dengan motor kesayangan Toni agar lebih romantis, karena sepanjan perjalanan Cila akan punya alasan untuk mendekap erat pinggang pujaanhatinya itu, sayangnya Toni menolaknya, dengan alasan udara sedang sangat dingin dan dia hawatir kalau Cila akan sakit, sumpah demi apapun, Cia rasanya ingin pingsan saat itu juga saat mendegar Toni menghawatirkan dirinya.
Ah,,,, tubuh Cila rasanya kini melayang, kakinya seperti tak menyentuh tanah saking merasa bahagianya.
Toni menekan egonya, menjutuhkan harga dirinya dengan bersikap di luar kebiasaannya, bermanis manis pada lawan jenis, apa lagi itu Cila, tapi dia harus memainkan perannya dengan cukup apik, kalau para bajingan itu dapat menipu nya dengan begitu mulusnya, kenapa dirinya tidak?
"Apa yang membuat abang berubah menjadi sebaik ini pada ku?" tanya Cila ditengah makan malamnya.
__ADS_1
"Bukan kah kita akan menikah? tentu saja aku harus punya kedekatan dengan mu sebelum kita menuju ke jenjang yang lebih serius lagi," gombal Toni.
Cup...!
Sebuah cuman mendarat di pipi Toni, membuat pria itu menahan nafasnya karena tak menyangka kalau Cila akan berbuat se berani itu di hadapan khalayak umum.
"Jangan berbuat seperti itu di tempat umum, aku tidak terbiasa!" ucap Toni akhirnya merasa sangat risih dengan kelakuan Cila yang sejak tadi di nilainya terlalu show off di depan semua orang, mulai dari terus menerus menggenggam tangannya, lalu menyandarkan kepala di bahunya, dan terakhir barusan mencium pipinya tanpa permisi, bukan tak mungkin jika terus di biarkan wanita itu akan semakin brutal memperlakukannya.
"Ish,,, abang, kita kan pasangan tunangan yang sah, cuma gitu doang lagian!" cebik Cila.
Sementara dari kejauhan sepasang mata terus memperhatikan gerak gerik pasangan yang sedang makan malam romantis itu dengan tatapan tak suka dan tangan yang meremat ujung blouse yang di pakainya.
"Raya, ayo pulang, udah jangan di liat lagi,!" ajak Dila yang menarik paksa tangan Raya yang terus memandangi Toni dan Cila dari luar resto dengan hati yang tercabik cabik.
Hampir jam sebelas malam Toni tiba di rumah Panca, kedatangannya di sambut wajah cemberut Raya yang kini berkacak pinggang di hadapannya.
"Perjanjiannya gak pake acara cium ciuman, kok bikin acara sendiri, sih !" sewot Raya yang sepertinya sudah dari berjam yang lalu berdiri di sana menantikan kedatangan Toni.
Toni hanya tersenyum tipis menyaksikan gadisnya yang sedang cemburu buta itu, lalu memeluknya tanpa banyak bicara, Toni pernah mendengar petuah, konon katanya jika wanita sedang marah marah seperti itu, jangan di lawan, peluk saja dia pasti reda marahnya.
Namun sepertinya itu tak berlaku pada Raya, tubuh Toni malah di dorong menjauh oleh Raya, "Ih, bekas peluk peluk Cila, cium cium Cila, baunya aja masih nempel di tubuh mu!" tolaknya,
Toni mengangkat kerah kemejanya, lalu mencium bau badannya sendiri, tak ada wangi aneh, ini wangi parfum yang biasanya dia pakai, jelas Raya sedang mengada ada karena cemburu.
"Gak ada bau apa apa, gak ada yang peluk peluk, gak ada yang cium cium, kamu kan lihat sendiri tadi !" kelit Toni.
__ADS_1
"Tapi tadi kalian romantis banget, aku iri!" kesal Raya.
"Kenapa kamu iri, orang yang punya ide kamu, yang reservasi tempat dan menyiapkan semuanya kamu, bahkan yang mendandani ku untuk berpenampilan seperti ini pun kamu,"ucap Toni tetap tenang.
Ya, Raya memang mengetahui rencana Toni untuk berpura pura mengikuti keinginan Rolan, tapi Toni belum memberi tahu perihal persekongkolan Rolan dan Arsan pada Raya, dia juga belum berani memberi tahu Raya kalau ayahnya punya andil besar dalam beberapa nasib sial yang di alaminya saat ini, Toni masih menunggu saat yang tepat untuk menyampaikan itu semua pada gadisnya, karena Toni tak ingin semakin menyiksa mental Raya, dia takut kalau hal itu malah membuat Raya menjadi down, jadi tak ada salahnya bukan, sedikit bersabar.
Raya hanya tau kalau Toni melakukan ini semua guna mencari informasi tentang Karina dan Arsan, karena hanya dengan cara dirinya menjadi pria patuh, dirinya bisa semakin di percaya Rolan, dan Toni bisa semakin masuk ke circle hitam Rolan, Toni ingin mendapatkan kepercayaan penuh dari Rolan maupun Cila, karena dengan begitu dia akan semakin mudah menggali informasi.
Toni akan membuat Rolan percaya kalau dirinya kini berdiri di pihaknya, dan membuat pria itu merasa kagum dan ketergantungan dengan bantuan pekerjaannya.
"Kamu pikir aku senang berpura pura seperti ini? Kita harus realistis, ini memang keadaan yang harus kita hadapi, ayo kita berjuang bersama, bukankah itu keinginan mu, karena kamu tak mengijinkan ku berjuang sendirian?"
Entah terbawa akting, atau memang Toni sudah benar benar banyak berubah, saat ini pria itu semakin bijaksana dan tenang dalam menghadapi apapun, atau mungkin karena obrolan panjang lebarnya dengan mang Dasep yang membuat dia berubah menjadi sosok yang lebih wise dalam menghadapi semua hal.
"Maafkan aku, aku sudah menyusahkan mu!" lirih Raya.
"Bukan itu kata kata yang aku harapkan keluar dari mulut mu ini, bukan kata maaf yang terus terusan kamu ucapkan pada ku, karena kamu tidak bersalah, aku meminta ucapan ucapan optimis mu seperti sebelumnya yang mengatakan ingin berjuang bersama, kemana perginya Raya yang semangat itu, hem?" Toni menggusak pucuk kepala Raya yang sepertinya merasa tertampar dengan ucapan Toni barusan.
Bagaimana bisa dirinya begitu egois masih merasa cemburu dan marah saat Toni melakukan semua hal yang tak di sukainya yang jelas jelas pria itu lakukan semata hanya untuk kepentingan dirinya, Toni tak akan merugi jika dia tak melakukan semua itu, pria itu juga tak akan mendapatkan keuntungan apapun, saat rencana mereka berhasil, ah,,, betapa dirinya sudah bersikap keterlaluan dan kekanakan saat ini.
"Aku cemburu, tapi aku usahakan untuk tidak cemburu lagi,,,aku masih semangat untuk berjuang bersama mu, kok!" lirih Raya lagi, kali ini ucapannya penuh penyesalan atas sikap bodohnya.
"Aku suka kamu cemburu pada ku, tapi alangkah baiknya kalau kamu percaya pada ku, percaya pada besarnya perasaan ku untuk mu, jika pun aku tak bisa bersama mu, aku bersumpah tak akan mencintai wanita lain, kamu bisa pegang ucapan ku!" Kini pelukan Toni tak di tepis lagi oleh Raya.
Raya merasa sangat malu dengan apa yang telah di lakukannya pada Toni, bagaimana tidak, di saat dirinya sibuk bersikap egois dengan hanya mementingkan perasaannya dan mengikuti amarahnya, justru Toni malah sibuk menjaga hati Raya agar tetap dalam keadaan baik baik saja.
__ADS_1