
Niat hati ingin beristirahat, apa daya mata Raya tak dapat terpejam barang semenit pun, terlalu banyak hal berjejal di kepalanya, membuat gadis itu hanya biasa terlentang di kasur menatap langit langit kamar, otak dan hati nya terus bekerja memikirkan apa yang akan dia hadapi selanjutnya, jalan seperti apa yang harus dia pilih, semua itu membuatnya semakin di selumuti rasa cemas dan ketakutan yang teramat sangat.
"Makanlah, hanya ini makanan yang tersisa di dapur, sepertinya para asisten rumah tangga membawa pergi stok makanan di rumah ini sebelum mereka pergi." Toni menata dua mangkuk mie rebus yang dia masak di dapur di atas meja yang berada di kamar luas Raya yang sepertinya mulai besok tak akan di tinggalinya lagi itu.
"Aku tidak lapar !" tolak Raya.
"Tapi kau harus meminum obat mu, patuhlah !" pinta Toni dengan nada tegas.
Tatapan mata tajamnya menunjukkan sang dominan yang menghadirkan intimidasi tak terbantahkan, Toni hanya ingin Raya terbentuk menjadi kuat mulai sekarang, dan dia sendiri yang akan membentuknya, akan jadi apa dia bila terus terusan menjadi anak manja dan cengeng dengan segala masalah berat yang menantinya di esok hari dan hari hari selanjutnya.
Kalau Toni adalah sang singa jantan, lalu Toni akan merubah Raya yang bak seekor kucing lucu nan manja menggemaskan itu menjadi seekor singa betina yang kuat dan tak terkalahkan.
"Turun dari tempat tidur mu, dan cepat makan !" ucap Toni lagi.
"Ishhhh, kau seperti berkepribadian ganda, sebentar baik, sebentar galak !" gerutu Raya terpaksa mengikuti perintah Toni.
"Aku tak akan galak kalau kau patuh pada ku,! bukankah kau hanya ku suruh makan ?" ujar Toni yang kembali ke mode ketus nya.(sepertinya Toni telah kembali ke setelan pabrik)
"Tapi tangan ku sakit, aku susah memegang sendoknya !" rajuk Raya malas malasan.
"Tangan mu hanya sedikit terluka, bukan patah !" sinis Toni yang mulai menikmati mie rebus di mangkuknya dengan cuek, sementara Raya hanya bisa menonton Toni yang menikmati makanannya dengan lahap.
Air liur Raya hampir saja menetes melihat mie rebus yang asapnya masih mengepul itu, namun tangan kanannya benar benar terasa sakit, dan dia tidak sedang berbohong, mungkin karena efek biusnya sudah hilang, sehingga lukanya menjadi terasa perih, nyeri dan nyut nyutan, padahal cacing dalam perutnya sekarang sudah berdemo minta di isi.
Mie di mangkuk Toni sudah kosong karena sudah berpindah ke perut sixpack nya, sementara makanan Raya masih utuh di tempatnya.
"Kalau kau tak suka dengan makanan seperti ini, biar aku saja yang menghabiskannya," tangan Toni terulur ke arah mangkuk di hadapan Raya,
Raya mengerucutkan bibirnya, ingin sekali dirinya protes,
'Dasar cowok kulkas, gak peka, apa dia gak liat dari tadi aku mupeng liat makanan itu?' kesal Raya, namun apa daya dia hanya bisa mengatakan dalam batinnya saja.
Sebuah sendok berisi mie yang sejak tadi hanya bisa dia nikmati aromanya saja kini sudah berada di depan mulutnya.
__ADS_1
Ya,,, pria jutek itu ternyata berusaha menyuapinya, dengan membuang semua gengsinya dimana tadi dia sempat menolak makanan itu, Raya membuka mulutnya dan menerima suapan dari tangan Toni.
Entah karena lapar atau Toni menambahkan bumbu rahasia pada makanannya itu, Raya merasa saat ini dia sedang makan mie instan terenak sepanjang hidupnya, atau mungkin--- karena dia makan dari tangan pria yang selalu membuat hatinya berdebar dan selalu menguji kesabarannya atas sikap kaku dan dinginnya itu.
Makanan sudah habis tak tersisa,
"Katanya gak laper !" cibir Toni lalu mengasongkan tiga butir obat yang harus di minum oleh gadis itu.
Raya meminum obatnya dengan patuh tanpa protes dan perlawanan sama sekali, tubuh dan hatinya kini benar benar terasa lelah menghadapi hari yang menyiksa batinnya itu.
"Toni,,,!" panggil Raya saat dia membaringkan tubuh di ranjang empuknya,
"hemh,,," pria itu hanya menjawab dengan dehaman.
"Boleh aku meminta mu untuk menemani ku di kamar ini, kamu bisa tidur di sofa," pinta Raya dengan tatapan memohon.
Tak ada jawabn dari mulut Toni, namun pria itu langsung merebahkan diri di sofa yang letaknya bersebrangan tak jauh dari ranjang tempat Raya membaringkan tubuhnya.
"Toni,,, apa kamu sudah tidur ?" tanya Raya lagi setelah hampir satu jam dia tak juga bisa memejamkan matanya.
Namun tak terdengan jawaban dari pria yang kini terlentang di sofa dengan wajah yang di tutupi dengan sebelah tangannya, hanya suara nafasnya yang teratur yang dapat Raya dengar, menandakan kalau pria itu telah terlelap.
Raya turun dari ranjangnya, dan memberanikan diri mendekati satu satunya manusia yang masih bertahan menemaninya saat ini, dimana tak ada seorang pun yang tersisa di saat dirinya terpuruk seperti ini.
Selintas terpikirkan olehnya, bagaimana jika Toni pun harus menikah dengan Cila, lantas pada siapa lagi nanti dirinya bersandar.
Raya memandangi wajah tenang Toni yang hanya menyisakan hidung mancung, bibir penh dan rahang yang tegas, sementara matanya bersembunyi di balik tangannya yang terangkat dan bertengger di atasnya.
'Tuhan, bolehkah aku egois sekali ini saja, bolehkah jika aku meminta pria itu tetap menemaniku, jahatkah aku pada sahabat ku jika aku berharap pria dingin ini yang kelak akan menemani hari ku sampai ajal ku tiba,' bisik Raya pada sang pencipta.
"Tidurlah, mau sampai kapan kau berdiri dan memandangi ku di sana ?!"
Raya terlonjak kaget mendengar suara parau khas orang bangun tidur yang dia yakini kalau itu adalah suara Toni, apa pria itu bisa melihat dengn keadaan mata tepejam ? pikir Raya, kaget bercampur malu.
__ADS_1
Tanpa ba bi bu lagi Raya langsung lari ke ranjangnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal dari kaki sampai kepala, wajahnya kini terasa panas dan memerah karena malu telah tertangkap basah memandangi Tini secara diam diam.
'Apa pria itu punya mata batin ?' cicit Raya merutuki tingkah bodohnya.
***
Pagi telah datang menyapa, matahari sudah tinggi, namun Raya yang baru memejamkan matanya saat subuh menjelang itu masih meringkuk di bawah selimut tebal dengan nyamannya.
Toni yang sudah terbangun sejak pagi tadi, kini sudah berdiri di depan halaman rumah mewah yang sudah di pasangi papan dengan tulisan DISITA oleh Bank swasta terbesar di negeri ini, pria itu berlari lari pelan dan melakukan olah raga ringan sambil menunggu makanan yang di pesannya secara online untuk sarapan dirinya dan Raya, tentunya.
Berbarengan dengan pesanan yang datang, di belakangnya masuk juga sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam memasuki pekarangan rumah yang tak lagi di jaga secutity itu.
Bagas turun dari mobil mewah itu,
"Dimana nona Raya ?" tanya nya pada Toni.
Belum sempat Toni menjawab pertanyaan Bagas, dari dalam ruangan Raya sudah berlari menghampiri mereka di teras rumah.
"Paman, apa sudah ada kabar tentang ayah ?" serunya, namun di jawab dengan gelengan kepala Bagas yang lesu.
"Lalu, bagaimana dengan laporan polisinya, apa mereka juga belum berhasil menemukan ayah ?" mata Raya kini hampir berkaca kaca.
"Mereka akan mengabari kita saat ada informasi, sekarang ada yang lebih urgen," lirih Bagas seakan ragu dan tak enak hati untuk menyampaikan berita buruk pada nonanya yang sedang di rundung banyak masalah itu.
"Katakan saja paman, masalah apa lagi yang harus aku dengar dan hadapi, aku siap mendengarkannya hati ku kini sudah cukup kebal !" ucap Raya setengah putus asa.
"Perusahaan sedang mengalami kerugian dan hutang yang sangat banyak sejak beberapa bulan terakhir ini, sepertinya nona harus segera mengambil keputusan untuk menjual perusahaan untuk menutupi hutang, kerugian, dan gaji seluruh karyawan." urai Bagas dengan wajah yang tertunduk, tak tega melihat wajah Raya yang pasti saat ini sangat bersedih.
Namun sungguh di luar dugaannya, Raya justru terlihat santai dengan wajah yang datar, seakan semua yang di ucapkan Bagas padanya tak berefek apapun pada dirinya.
"Oke paman, atur dan lakukan saja yang terbaik," ucapnya seraya menyambar bungkusan makanan yang masih teronggok di meja teras lalu melahapnya dengan tangan kiri nya.
Untuk pertama kalinya Toni menatap iba gadis yang beberapa minggu terakhir ini mengisi hari harinya itu, dadanya terasa lebih sakit saat melihat Raya yang seolah bersikap baik baik saja meski dengan beban dan luka hati gadis itu rasakan sekarang ini, Toni tau saat ini Raya hanya sedang berpura pura kuat, jujur saja, kalau harus memilih,,, Toni akan lebih senang jika melihat Raya menangis tersedu melepaskan segala emosinya, dari pada harus melihat Raya yang berpura pura kuat seperti sekarang ini.
__ADS_1