Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Empat Tiga


__ADS_3

Toni masuk ke kamar kost nya setelah memastikan Cila pergi jauh dari tempat kostnya itu, sebenanya bagi Toni bukan menjadi sebuah masalah jika Cila yang memang bukan siapa siapanya itu mengetahui tentang dirinya yang kini semakin dekat dengan Raya sahabatnya, namun Toni yakin Raya pasti akan sangat keberatan jika Cila sampai tau kedekatan mereka, karena sejak sedari awal Raya memang meminta merahasiakan itu semua dari cila yang dia yakini sebagai kekasih sang bodyguardnya itu.


Hal pertama yang Toni lihat saat dirinya memasuki kamar kost miliknya, yaitu Raya yang kini berbaring di atas kasurnya dengan mata yang terpejam seakan sedang tertidur.


"Makan lah dulu, sudah waktunya kau harus minum obat mu !' titah Toni yang tak mendapatkan jawaban dari lawan bicaranya yang masih memejamkan matanya.


"Sudah lah, akting pura pura tidur mu itu sungguh buruk !" ejek Toni yang tau jelas kalau saat ini Raya hanya sedang berpura pura tidur, beberapa menit yang lalu dia sempat melihat bayangan Raya yang mengintipnya dari balik jendela saat dirinya mengobrol dengan Cila di luar.


Raya yang merasa aktingnya dapat di ketahui dengan mudah oleh bodiguardnya itu langsung terduduk di tepi kasur lesehan tanpa ranjang itu.


"Siapa yang pura pura tidur, aku hanya sedang menahan lapar ! Kau pergi lama sekali !" oceh Raya, tiba tiba dirinya ingin mengomel pada pria yang kini membuatnya kesal tanpa sebab dan alasan yang jelas.


Tak sepatah kata pun keluar dari bibir tipis Raya, mulutnya hanya terus mengunyah makanan tanpa mempedulikan kehadiran Toni di dekatnya yang juga sedang makan di dekatnya.


Raya bahkan menolak tegas ketika Toni hendak membantunya saat gadis itu kesusahan membuka bungkusan makanannya tadi,


"Aku bisa sendiri !" ketusnya menepis tangan Toni yang mencoba meraih bungkusan nasi di tangannya karena merasa Raya sepertinya terlihat kesulitan.


Toni hanya menggeleng pelan dan meneruskan makannya tanpa berkomentar.


'Wanita memang sangat merepotkan !' batinnya menanggapi sikap Raya yang tiba tiba seperti memusuhinya tanpa sebab.


'Dasar gak peka, cium ciuman di depan ku seenakknya, sengaja mau manas manasin, kan ?!' gerutu Raya dalam hatinya, bayangan Cila yang tadi mencium pipi Toni benar benar membuatnya seperti cacing kepanasan,hingga dia menjadi marah marah tak jelas.


Raya sendiri merasa aneh, padahal saat dirinya melihat adegan mesra antara Martin dengan Karina, dia rasanya tak se marah ini.


"Apa rencana mu selanjutnya ?" tanya Toni membuka pembicaraan setelah mereka selesai menghabiskan makanannya dan lama dalam mode hening.


"Aku tak tau !" ketus Raya masih merasakan kesal dalam hatinya, rasa kesal yang sangat dia sadari tak seharusnya dia rasakan apalagi dengan arogannya dia tujukan pada Toni yang tak punya salah apapun pada dirinya.


Toni menatap dalam wajah Raya yang sedang merengut sambil memainkan gawai di tangannya, membuka acak aplikasi yang ada di layar benda pipih canggih itu.

__ADS_1


Merasa risih karena terus di perhatikan Toni, akhirnya Raya mengankat wajahya "Apa ?" ketusnya saat matanya bersirobok dengan tatapan elang milik Toni yang demi Tuhan tatapannya itu serasa tembus sampai hatinya.


"Perasaan apa yang sedang kau sembunyikan ? Kenapa tatapan mata mu mengisyaratkan sesuatu yang tak bisa ku tebak ?" tanya Toni masih mengunci tatapannya pada mata Raya yang seakan menyimpan sorot aneh yang tak seperti biasanya dia lihat.


"Tak usah sok tau tentang perasaan ku, kita belum lama saling mengenal, kita tak sedekat itu !" ketus Raya membuang pandangannya jauh jauh dari mata tajam yang membuat dadanya berdetak lebih kencang dari biasanya, meski raya berusaha tetap tenang menghadapi sang singa jantan itu.


"Apa yang sebenarnya membuat mu kesal seperti ini ? Kita tak punya banyak waktu untuk berdebat !" Toni mulai kehilangan kesabarannya.


"Aku tak sedang kesal,!" tampik Raya.


"Apa kau kesal karena kedatangan Cila, tadi ?" tebak Toni yang sontaksaja membuat Raya terbelalak dan sedikit gelagapan karena lagi lagi pria itu dapat menebak dengan tepat apa yang sedang di rasakannya saat ini.


"A- Apa maksud mu, itu bukan urusan ku, itu urusan kalian, tak ada hubungannya dengan ku !" Raya tiba tiba merasa kepanasan dan membuka pintu kama kost dengan lebar agar udara luar dapat menurunkan suhu tubuhnya yang tiba tiba naik, sekalian menyembunyikan raut wajahnya yang kini juga terasa panas dan memerah.


"Aku tak ada hubungan apa apa dengan Cila !" Toni merasa sudah saatnya dia harus meluruskan pikiran Raya tentang hubungannya dengan Cila, selama in dia memang tak pernah membantahnya namun juga tak pernah membenarkan asumsi Raya itu.


Hati Raya seakan tersentak, 'What the---- demi apa mereka tak berpacaran ?' batin Raya seakan bersorak sorai mendengar penjelasan Toni.


"Cih,,, dasar playboy, bilangnya gak pacaran tapi tadi cium ciuman !" kata kata itu meluncur begitu saja dari mulut Raya tanpa di duga duga.


"Dia yang mencium ku,,, apa kau tak bisa membedakan mana ciuman dan mana di cium ?" Toni mengulum senyumnya jahil.


"Ishh,,, aku tak peduli, lagi pula buktinya kau juga diam saja dan menikmatinya tadi," oceh Raya terlihat seperti seorang kekasih yang sedang memarahi pasangannya yang baru saja tertangkap selingkuh.


Cup,,,


Sebuah ciuman tiba tiba mendarat di pipi Raya tanpa dia prediksi sebelumnya, dirinya bahkan sampai diam mematung merasakan benda kenyal menempel sekilas di pipinya.


"Apa itu yang kau katakan ciuman ? Lalu kenapa kau dia saja dan seperti menikmatinya ?" suara Toni terdengar sangat dekat di telinga Raya, bahkan hembusan nafasnya saja bisa dia rasakan menyentuh kulitnya.


"Kau !" tunjuk Raya seraya memekik tertahan, perasaan nya terasa teraduk aduk dengan sempurna, antara terkejut, marah, dan,,,, bahagia menjadi satu di dadanya.

__ADS_1


"Apa yang kau rasakan sekarang, itu yang aku rasakan tadi ! kau paham ?" ucap Toni seolah tanpa dosa sedikit pun.


Dengan tenangnya kini dia mengeluarkan rokok untuk di hisapnya, menyingkirkan debarn rasa di dadanya yang tak kalah bergemuruh dari yang Raya rasakan saat ini.


Wajah tenangnya yang seolah tanpa riak telah berhasil dengan sempurna menyembunyikan suasana hati apa yang saat ini sedang di rasakannya.


Sementara tak jauh dari sana sepasang mata telah beruraian air mata menyaksikan pemandangan kebersaman Raya bersama Toni yang sangat di cintainya, Cila bahkan merasa daanya sangat sakit bak di tikam belati.


Di samping harus menerima kenyataan bahwa Toni sepertinya menyukai orang lain, terbukti dari pria itu yang berani membawa wanitanya ke tempat kostnya, belum lagi dengan mata kepalanya sendiri dia menyaksikan pria pujaannya itu mencium pipi wanitanya, dan dapat dia simpulkan betapa dalamnya perasaan seorang Toni pada wanita beruntung itu, karena seumur hidupnya baru pernah dia melihat Toni sedekat itu dengan wanita selain dirinya, bahkan dengan dirinya Toni tak pernah menatap dengan tatapan sehangat itu.


Sialnya lagi wanita yang kini di tengarai mejalin kedekatan dengan Toni adalah Raya, sahabatnya sendiri, yan jelas jelas dia pernah mengenalkan Toni sebagai kekasihnya pada sahabatnya itu, kenapa Raya setega itu padanya, dan sejak kapan mereka dekat ? Karena seingatnya dirinya lah yang memperkenalkan mereka saat di klub, dan itu terjadi belum satu bulan lamanya, apa secepat itu Raya bisa dengan begitu mudahnya menaklukan hati pria yang telah belasan tahun lamanya tak pernah dia dapatkan hatinya.


Cila berlari melewati ayah dan ibunya yang sedang duduk di teras menikmati kopi saat dia baru saja sampai di rumahnya dan bergegas masuk ke dalam rumah, bahkan pintu mobilnya dia banting sekencang mungkin.


"Cila !" bentak Diana ibunya yang tak suka dengan cara putrinya bersikap seperti tak pernah di ajari sopan santun.


"Mah, jangan terlalu keras dengan putri kita !" tegur Rolan yang tak pernah suka dengan cara Diana yang selalu keras dalam mendidik putri semata wayangnya.


Rolan berdiri dan bergegas menghampiri Cila, dia tahu persis putrinya sedang tidak baik baik saja saat ini.


"Cila,,, sayang,,, buka pintunya, nak !" Rolan mengetuk ngetuk pintu kamar putrinya.


Tak menunggu lama, pintu terbuka dari dalam, Cila yang memang sangat dekat dengan ayahnya itu di banding dengan Diana sang ibu yang selalu bersikap tegas dan cenderung keras berbanding terbalik dengan Rolan yang selalu lembut dan memanjakan putrinya itu.


"Ayah,,,bang Lion selingkuh !" adunya pada Rolan berhambur ke pelukan pria paruh baya itu.


Rolan mengangkat sebelah alisnya, suah tak asing di telinganya Cila selalu mengatakan kalau Toni adalah kekasihnya, meski dirinya tau Toni tak pernah menyimpan rasa apapun pada putrinya selain perasaan sebagai seorang kakak pada adik perempuannya.


"Sudahlah, kamu masih muda, masih banyak pria tampan di luaran sana, jangan menangisi laki laki," Rolan mengusap usap punggung Cila yang masih menangis dalampelukannya.


Apa pu yang di minta Cila bisa dia turuti, mobil mewah, liburan, shopping, dia akan penuhi semuaitu, namun untuk memaksakan agar Toni mencintai putrinya, itu ha yang sangat sulit baginya.

__ADS_1


"Ayah,,, Cila cuma pengen bang Lion, tapi,,, tapi bang Lion malah memilih Raya, apa kurang Cila di banding Raya, ayah ?" ratapnya bak anak tk yang ,memaksa meminta di belikan es krim oleh ayahnya.


Rolan terdiam, sungguh hal ini di luar kuasanya, andai saja Toni seorang yang haus akan uang atau gila jabatan, pasti dia akan dengan mudahmembel hati pria itu, tapi ini Lion,,, yang sedikt banyak pertumbuhannya ada sedikit campur tangan dirinya, dia yang membentuk karakter toni agar kuat, mandiri dan berjuang dalam hidup lewat fasilitasnya di sasana agar dia terbentuk menjadi petarung sejati dan di harapkan menjadi mesin pembunuh untuk membantunya dalam lingkaran bisnis setannya, namun ternyata Toni tak pernah tertarik dengan bisnis hitamnya, namun Rolan terlanjur menyayangi Toni bak putranya sendiri, jdi hanya bisa mendukung setiap langkah yang menjadi pilihan anak didiknya itu meski kegiatan Toni tak pernah lepas dari pengawasannya dan dia selalu ta apa saja yang sedang di lakukan pria itu, termasuk dia juga tau bahwa sekarang Toni menjadi bodyguard Raya.


__ADS_2