Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Kisah Karina


__ADS_3

"Bagaimana, kencan mu dengan calon istri mu itu, apa sudah membuat mu doyan cewek?" goda Sabrina di sela dia sedang membahas masalah proyek bersama Toni.


"Aku doyan cewek, tapi bukan cewek seperti mu!" balas Toni ketus.


"Ishh,,, memang tak normal, semua pria itu pasti ngiler liat body ku, liat kecantikan ku, aneh banget kau ini,!" protes Sabrina tak terima.


"Ya, semua pria, kecuali aku!" ketus Toni membuang pandangannya ke jendela mobil sebelah kirinya, mengabaikan Sabrina yang kini terbahak dengan puasnya sambil sesekali memukul mukul setir di hadapannya.


"Tentu saja kecuali kau, yang doyan sejenis mu!" ejek Sabrina.


Sabrina membunyikan klakson mobilnya dua kali, lalu gerbang rumah itu terbuka.


"Kau menyembunyikannya di sini?" tanya Toni saat menyadari jika rumah yang dia datangi saat ini adalah rumah yang dulu konon katanya Rolan adalah tempat Cobra menyembunyikan Arsan dan Karina.


Tak ada jawaban dari mulut Sabrina, dia selalu menjaga wibawa nya jika di depan para anak buahnya, bahkan wajahnya kini di buat se garang mungkin,


"Perketat penjagaan, jangan sampai lengah!" ucap Sabrina pada salah satu anak buahnya yang berjaga di depan pintu


"Cih, sok galak !" decih Toni.


"Sialan, apa jangan jangan kau naksir anak buah ku itu ?" dengus Sabrina dengan senyum jahilnya.


Mereka berjalan ke dalam rumah yang dulu sempat Toni sambangi secara diam diam guna mencari keberadaan Arsan di sana, Toni tak merasa asing dengan bangunan yang memang tak mempunyai banyak ruang itu.


Sabrina membuka pintu kamar utama yang dulu sempat di pakai untuk merawat Arsan yang sedang sakit.


Begitu pintu kamar terbuka, nampak lah seorang pria remaja berusia sekitar 15 tahunan terbaring di sana, lalu menengok ke arah pintu saat menyadari pintunya terbuka, senyuman pun terukir di wajah remaja itu.


"Kakak,,,! Kenapa baru datang menjenguk ku ke sini?" tanya nya dengan mata berbinar.


"Maaf dek, kakak sibuk sekali di kantor," jawab Sabrina sambil mengusap lembut lengan Yama, adik laki lakinya yang kini sudah pulang dari berobat panjangnya di luar negeri, meski terlihat masih seperti orang sakit bagi orang awan yang baru melihatnya seperti yang di pikirkan Toni saat ini, namun sebetulnya kondisi ini sudah merupakan kondisi terbaik Yama, setidaknya dia sudah bisa terlepas dari segala alat bantu yang menempel di sekujur tubuhnya selama bertahun tahun.


Sabrina seperti mengerti dengan pandangan penuh tanya adiknya yang terarah pada Toni.


"Om ini namanya Lion, dek, dia temen kantor kakak," terang Sabrina.


"Kenapa jadi Om? usia kita hanya terpaut sedikit, kau di panggil kakak, dan aku Om?!" protes Toni melotot ke arah Sabrina yang nyengir kuda.

__ADS_1


"Panggil saja aku Lion!" Toni menguluurkan tangannya yang lalu di sambut dengan jabatan tangan pria muda itu.


"Yama, nama ku Yama, senang bisa berkenalan dengan mu, Lion. Kau segarang singa!" ucap Yama sepertinya senang mempunyai teman baru, selama ini dia kesepian dan hanya sendirian di bangsal rumah sakit dan hanya berteman dengan dokter dan perawat saja.


Hati Toni berdesir kuat, terenyuh saat mengingat cerita tentang kisah bocah itu yang mang Dasep ceritakan padanya, bocah hasil kelakuan bejat Arsan pada ibunya Sabrina.


"Lion, kau melamun?" tepukan Sabrina di pundaknya membuyarkan lamunan Toni.


"Ah, ini adik mu yang di foto di dinding rumah mu itu? Apa dia sedang sakit?" tanya Toni saat melihat bberapa alat medis melengkapi ruang kamar itu, seperti oksigen, tiang infus yang selangnya terhubung ke punggung tangan Yama.


"Hmm,,, adik ku lumpuh," lirih Sabrina, matanya seperti berkaca kaca saat hendak menceritakan keadaan adik kesayangannya itu.


Namun tak berapa lama, obrolan mereka harus terhenti karena seseorang masuk ke kamar itu.


"Tante karina, aku sudah lapar, kenapa tante lama sekali?" protes Yama pada Karina yang datang ke kamar itu dengan semangkuk bubur dan segelas air di kedua tangannnya.


Karina mundur beberapa langkah saat menyadari kalau ada Toni di ruangan itu, wajahnya langsung terlihat pias, tangannya juga terlihat sedikit gemetran, tampak jelas dari salah satu tangannya yang memegang gelas berisi air yang isinya terguncang akibat gemetaran tangannya.


"Kenapa tante?" tanya Yama kebingungan melihat Karina yang seperti sedang ketakutan melihat keberadan Toni di sana.


"Masuk lah Karina, Toni di pihak kita!" titah Sabrina pada Karina yang kini berdiri di ambang pintu.


Ya, Karina masih hidup, beruntung dia di selamatkan tepat pada waktunya oleh Martin dan Sabrina saat itu, dan kini Karina bertugas menjaga dan merawat Yama atas keinginannya sendiri, asalkan dia di lindungi dari buruan Arsan dan Rolan.


*Flash back


Maman saat itu di panggil Arsan untuk di perintahnya membeli beberapa kebutuhan rumah di mini market dekat rumahnya, sampai di mini market itu ternyata Tuhan mempertemukannya dengan Martin yang sedang membeli rokok bersama Sabrina di sana.


Teringat dengan nasib buruk yang kini di alami Karina, lalu Maman memberanikan diri untuk mendekati Martin.


"Tuan Martin, ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan anda," Maman memutar kepalanya melihat situasi, memastikan kalau tak ada anak buah Arsan maupun Rolan yang melihat nya sedang berbicara dengan Martin saat ini.


"Ada apa Man?" tanya Martin yang cukup akrab dengan Maman karena dulu dia sering memuluskan perselingkuhannya dengan Karina.


"Ini tentang nyonya Karina," ucap Maman setengah berbisik.


Martin melirik ke arah Sabrina yang sepertinya malah lebih interest dibanding dirinya saat mendengar tentang Karina.

__ADS_1


Sabrina memang tahu kalau Martin pernah punya affair dengan istri kedua Arsan itu,


"Aku sudah tidak mau berurusan lagi dengan wanita itu, aku juga sebentar lagi akan menikah dengan kekasih ku," Martin terlihat memeluk bahu Sabrina, seraya menunjukkan pada Maman kalau kini dia sudah punya kehidupan baru.


"Tapi tuan, nyonya Karina sungguh membutuhkan pertolongan, tolonglah tuan demi kemanusiaan saja jika memang tuan sudah tiadak ada hubungan apa apa dengan nya, sungguh saya tak tega melihat nyonya di siksa setiap hari oleh tuan Arsan," mohon Maman.


"Katakan, di mana dia, kami akan menolongnya," ucap Sabrina., sunguh saat ini dia rasanya sedang mendapatkan lotre dengan hadiah utama, Karina yang di kejarnya dan sempat lolos di Kalimnatan, dan seolah selicin belut itu malah datang sendiri kepada dirinya.


"Sayang, sebaiknya jangan ikut campur urusan mereka, aku juga tak ngin berurusan lagi dengan wanita itu," cegah Martin.


"Percaya pada ku," ucap Sabrina tegas dengan tatapan tajamnya yang membuat Martin tak bisa berkutik sedikit pun, katakan lah Martin termasuk golongan suami takut istri, selain Sabrina yang memang memang selalu mendominasi dalam hubungan mereka sedari awal, jangan lupakan kalau Sabrina lebih kaya dari pada Martin, dan dia juga anak seorang Cobra mafia terkenal itu, mana berani Martin membantah keinginan kekasihnya itu.


Setelah di sepakati, rencana dadakan yang di usulkan Sabrina di setujui Maman dan Martin, selepas belanja, dia akan menemui Karina dan lalu Sabrina menunggu tak jauh dari rumah itu untuk menunggu Karina keluar gerbang lalu membawanya pergi.


Sesampainya di rumah, Maman segera menemui Karina dia menceritkan perihalpertemuannya dengan Martin yang juga bersedia untuk membantunya keluar dari rumah itu.


Maman sengaja tak mengunci kembali gerbang itu namun hanya menutup gerbang rumah itu asal agar memmudahkan rencana pelarian Karina jika nyonya nya it setuju dengan rencana mereka.


Tanpa pikir panjang lagi, tentu saja Karina menyetujuinya, apapun yang penting dirinya bisa keluar dari tempat jahanam itu, masalah nantinya akan seperti apa, biarlah di pikirnya nanti.


Karina mengendap endap keluar rumah itu lewat pintu samping yang tak banyak anak buah Arsan berjaga, hanya ad satu orang yang berjaga di sana, dan Karina bisa mengecohnya saat dia mengatakan akan mengambil sesuatu di pos penjagaan depan atas perintah Arsan.


Rencana pelarian diri itu dengan mulus berhasil dia lakukan, meski dirinya harus kaget saat membuka pintu mobil ternyata tak hanya ada Martin saja di mobil itu, meainkan ada Sabrina juga di sana, sempat ragu dan hendak mundur, namun dirinya juga tak ingin masuk kembali ke rumah yang bak neraka itu.


"Ayo, jadi kabur gak, atau kau masih betah di sik Arsan?" ucap Sabrina yang lalu membuat Karina membulatkan tekadnya untuk masuk ke dalam mobil itu dan pergi sejauh mungkin dari Arsan dan antek anteknya.


Meski ternyata di balik keberhasilan nya dalam pelarian itu, ada nyawa yang harus di korbankan, yaitu nyawa Maman yang di anggap telah lalai tidak mengunci gerbang sehingga membuat Karina melarikan diri, Maman juga mengunci rapat mulutnya bahkan sampai akhir hayatnya tak mengatakan sedikit pun tentang kemana atau dengan siapa Karina pergi, dia tetap mengatakan kalau dia tak tahu apa apa meski sampai tusukan pisau menghujamnya bertubi tubi hingga memisahkan nyawa dari raganya, dia tetap tak bersuara, baginya itulah bentuk balas budi untuk Karina yang menurutnya telah banyak berbuat baik padanya.


Sabrina membawa wanita yang pernah punya hubungan spesial dengan kekasihnya itu ke salah satu rumah yang kini di tempati adiknya, kemudian Karina menawarkan diri untuk menjadi pengasuh dan sekaligus perawat bagi Yama asalkan dia tetap berada dalm perlindungan Sabrina dan keluarganya.


Kalau Martin sih, hanya manut saja apa yang menjadi keputusan Sabrina dia akan setuju dan mengikutinya saja.


Puluhan kali Sabrina menghubungi Toni untuk memberi tahu tentang Karina yang kini telah berada dalam pengawasannya, namun pria itu menghilang begitu saja sampai pada akhirnya beberapa hai kemudian Toni dapat di hubunginya, dia pun langsung menceritakan tentang masalah Karina pada Toni.


Bahkan Toni dan Sabrina sempat bertemu di kantornya, dan memperlihatkan beberapa foto saat dia menyelamatkan Karina dari rumah Arsan, sesaat sebelum Toni menemui Rolan di area pemakaman.


Untuk itu Toni terihat sangat tenang dan santai saat Rolan menunjukan sebuah makam yang dia akui sebagai makam Karina, dia hanya tertawa geli dalam hatinya seraya berkata.

__ADS_1


'Teruslah menipu ku, teruslah membual sampai mulut mu berbusa, aku juga akan terus berpura pura mempercayai semua perkataan mu, sampai kau tak sadar bahwa aku lah yang sedang menipu mu, berengsek!'


*Flash back off


__ADS_2