Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Sayang ?


__ADS_3

Sabrina saat ini merasa menjadi orang yang sangat paling beruntung di dunia ini, bagaimana tidak, semua keinginannya nyaris tercapai sempurna, dia sudah menduduki jabatan tertinggi di Lubis Corp dan memiliki lebih dari separuh saham perusahaan itu, hanya tinggal tiga puluh persen saham yang seprtinya tidak lama lagi akan di milikinya juga, dia tinggal menggunakan tangan Martin untuk merebut itu semua dari Raya, di samping itu, dengan memberi Martin tugas dan menyibukkan pria itu dengan tugas nya yang menggunung, dirinya bisa dengan bebas dan leluasa mendekati Toni tanpa gangguan dari Martin sang kekasih. (Benar benar wanita ular !)


"Lion, apa kau mau menemani ku makan siang ?" tanya Sabrina di sela pembicaraan bisninya dengan Toni siang itu yang sudah berlangsung sejak pagi, rencana pembangunan klub malam dan kasino yang rencananya di gadang gadang akan menjadi klub malam dan kasino terbesar di asia itu semakin matang dan sudah siap di bangun, pembebasan lahan pun sudah hampir 100 persen beres.


Sabrina juga sudah semakin akrab saja dengan Toni, lebih tepatnya berusaha mengakrabkan diri, karena Toni selama ini tidak balik menunjukkan ketertarikan yang sama pada Sabrina, dia hanya cukup bersikap tidak menolak sikap dan perlakuan menggoda Sabrina yang di tujukan padanya, itu saja sudah membuat Sabrina besar kepala, merasa kalau Toni menyambut baik perasaannya, bisa di bayangkan bagaimana jadinya jika Toni menunjukan sedikit saja perhatian dan ketertarikannya pada wanita ular itu, sudah dapat di pastikan Sabrina akan mati berdiri karena kegirangan.


"Bagaimana kalau kita makan di rumah mu saja, biar lebih santai?" tawar Toni yang sengaja ingin masuk dan mencari barangkali ada titik terang atau petunjuk yang dapat dia temukan di rumah itu.


"Sepertinya menarik, aku akan menghubungi orang rumah agar mempersiapkan makan siang untuk kita, kau ingin makan apa, biar aku sampaikan pada mereka," Sabrina tampak bersemangat, bagaimana tidak, tadinya dia hanya mengajak Toni untuk makan siang biasa saja tanpa harapan lain, tapi ternyata, bak gayung bersambut, Toni justru malah mengajaknya makan siang di rumahnya, nikmat mana lagi yang dia dustakan, coba,,,! Tentu saja si medusa itu langsung menyambutnya dengan perasaan yang luar biasa bahagia saat ini.


"Aku bisa makan apa saja, aku bukan orang yang pemilih," jawab Toni.


"Kalau begitu, kau juga bisa memakan ku, setelah acara makan siang nanti, aku akan sangat berpasrah diri !" ucap Sabrina dengan nada di buat sensual dan sangat menggoda,dirinya semakin berani terang terangan menggoda Toni yang masih bertahan dengan sikap apatisnya.


'Cihh,,, jelas kau akan kumakan, saat ini pun tanpa kau sadari kau sedang perlahan ku makan,!' decih Toni dalam hatinya yang merasa sangat risih dengan sikap frontal Sabrina, jika saja dirinya tak sedang melakukan semua ini untuk Raya, rasanya tak sudi dia seperti ini, Toni merasa dirinya bak pelac cur pria yang siap di mangsa wanita lapar yang sedang menyewanya. Oh,,, betapa menjijikan sekali dirinya saat ini.


Toni dan Sabrina kini sudah sampai di rumah kediaman Cobra, beberapa penjaga rumah yang berdiri di setiap sudut rumah mewah itu satu persatu menganggukan kepala memberi hormat pada Sabrina yang berjalan melewati mereka, sementara mereka juga melihat dengan tatapan yang tak bersahabat pada sosok Toni yang berjalan bersisian mendampingi nona muda mereka dengan wajah angkuhnya, begitulah Toni, semua orang pasti mengakuinya kalau wajah Toni itu angkuh dan menyebalkan, itu kalau di mata para pria, kalau di mata para wanita beda lagi, wajah angkuh dan sikap dinginnya menjadikan daya tarik tersendrii bagi para kaum hawa, membuat mereka menjadi semakin penasaran dan sangat ingin memiliki pria es batu itu.


"Apa yang kalian lihat !?! Begitu cara kalian menyambut tamu ku ?!" bentak Sabrina pada para anak buahnya yang menatap Toni dengan pandangan yang tak suka.


Para pria berbadan tegap yang tadinya menunjukkan wajah garangnya itu segera mnundukan kepala dan menurunkan pandangannya, bukan tanpa sebab mereka bersikap seperti itu, mereka semua tentu saja sangat mengenal siapa Lion, dan sejauh yang mereka tau, Toni adalah menantu dari Rolan yang tak bukan merupakan musuh bebuyutan juragannya, makanya mereka langsung bersikap awas dan waspada saat ada musuh memasuki lingkungannya, yaa setidaknya mereka hanya ingin berbuat baik, menjaga keluarga bosnya dari serangan musuh yang bisa saja berpura pura baik. (Seperti yang di lakukan Toni saat ini)


Toni mengekor langkah Sabrina memasuki pintu utama rumahnya, kini mereka tak berjalan bersisian seperti tadi, karena langkah Toni terhenti, saat matanya menangkap sebuah bingkai besar di ruangan tamu itu dimana foto keluarga lengkap Cobra tergambar jelas di sana, jujur saja baru pernah dia melihat keluarga Cobra secara utuh seperti itu ternyata Cobra mempunyai dua orang anak, selama ini dia pikir hanya Sabrina saja, dan istrinya cobra--- Toni mengernyit, dia seperti tak asing dan pernah melihat wajah itu, tapi dimana,,, Toni tak dapat mengingatnya.


"Apa kau se tertarik itu, memandangi wajah ku saat kecil di foto itu, apa aku terlihat sangat cantik di sana ?" goda Sabrina bergelayut manja di lengan kekar Toni.


"Ini----?" telunjuk Toni mengarah ke gambar dimana wanita cantik yang sedan tersenyum ke arah kamera dan duduk di sebelah Cobra yang sejak tadi mencuri perhatiannya itu.


"Itu ibu ku, cantik seperti ku, bukan ? Sayangnya beliau sudah meninggal saat aku kelas 2 sekolah menengah pertama." Sabrina mengusap lembut gambar ibunya, terlihat jelas betapa sayang dan rindunya dia pada ibunya itu.

__ADS_1


Toni mengangguk pelan, "Lalu,, itu ?" Toni menunjuk gambar anak pria yang duduk di sebelah Sabrina.


"Itu Yama, adik laki laki ku."terang Sabrina.


"Di mana dia ?"


"Dia----" ucapan Sabrina menggantung begitu saja saat Cobra tiba tiba datang menginterupsi pembicaraan mereka.


"Wah,,, ada tamu penting, rupanya ! Angin apa yang membawa sang singa ini berkunjung kemari ?" Cobra menyodorkan tangannya mengajak Toni bersalaman.


Toni menyambut jabatan tangan Cobra, dengan sikap dinginnya yang kembali dia pasang di wajahnya.


"Ayolah ayah, tidak ada pembicaraan bisnis siang ini, Lion datang ke rumah kita hanya untuk makan siang bersama ku, tak boleh ada yang mengganggu kami !" ucap Sabrina, belum belum dia sudah mengultimatunm ayahnya agar tak mengganggu makan siangnya dengan Toni.


"Hahaha,,,,! anak nakal, sepertinya kau berusaha mencuri tunangan orang lain sekarang, nikmatilah waktu kalian, aku juga harus pergi," pamit Cobra yang kemudian berlalu begitu saja.


"Ayo masuklah,,, kau tak berencana untuk tetap di sini memandangi foto itu sampai besok, kan ?" sindir Sabrina yang melihat sepertinya mata Toni masih tertarik dengan foto keluarganya itu.


"Entahlah, mungkin semacam perebutan lahan atau semacamnya, aku tak begitu paham dengan kisah masa lalu mereka, atau mungkin mereka berebut wanita,,, who cares !" ucapnya sambil mengngkat kedua bahunya dan di akhiri dengan tawa panjang wanita itu.


"Bermusuhan bertahun tahun, lalu tiba tiba sekarang bekerja sama, apa menurut mu ini tidak aneh ?" pancing Toni seakan menjadikan itu sebuah obrolan ringan saja, padahal telinganya sudah di pasang sempurna untuk merekam semua yang di sampaikan Sabrina saat ini.


"Sejujurnya agak sedikit aneh, tapi mengingat berkat kerja sama bisnis ini aku jadi bisa mengenal dan dekat dengan mu, aku tak ingin mempermasalahkannya, bahkan aku hanya ingin mengucapkan terimakasih saja pada ayah ku," cicit Sabrina dengan cengir kudanya.


Tentu saja Toni lebih memilih meluapkan kekesalannya dengan memakan semua hidangan yang ada di meja dari pada meladeni pembicaraan ngelantur Sabrina.


Selesai menyantap makan siang, mereka duduk santai di halaman belakang rumah Cobra yang sangat luas itu, sungguh saat ini Toni berharap Cila menelpon drinya dan meminta dirinya untuk datang atau menemaninya kemana pun, dia sampai bersumpah pada dirinya sendiri jika sampai Cila menelponnya, dia akan menuruti semua keinginan tunangannya itu.


Itu semua karena Sabrina mulai semakin berani menunjukkan sikap mesranya secara berlebihan padanya, seperti saat ini Sabrina mulai mengusap usap paha Toni yang sedang duduk di sebelahnya,mencoba memancing gairah pria itu, sebagai pria dewasa dan normal, tentu saja hal itu membangkitkan hasrat kelelakiannya, hanya saja sekuat tenanga dia mengalihkan pikirannya, dia tak ingin ikut ke dalam permainan Sabrina.

__ADS_1


"Lion, apa menurut mu aku tak cantik ? Bukankah tubuh ku juga lebih sekkssii di banding tubuh tunangan mu itu ?" goda Sabrina sambil membuka blazernya dan membuangnya secara sembarangan, dia juga sengaja membusungkan dadanya yang terlihat penuh dan hampir tumpah karena blouse berbelahan dada sangat rendah itu hampir meng ekspose seluruh bagian dada putih mulus dan penuh wanita itu.


Seolah segaja di tonjolkan untuk menggoyahkan benteng pertahanan iman Toni yang jelas sangat tipis itu.


"Apa aku tak semenarik itu di mata mu, sampai kau sepertinya tak ingin menyentuhnya," lanjut Sabrina sambil melirik dadanya sendiri.


Toni menghela nafas dalam dan panjang beberapa kali, benarkah dirinya harus 'memakan' Sabrina dalam arti yang sesungguhnya seperti yang wanita itu inginkan? Oh sngguh godaan yang menggiurkan.


Tepat pada waktunya, saat Sabrina berusaha menempelkan dadanya ke hadapan wajah Toni yang masih bersikap sok cool tapi dalam hati mupeng, (Cowok lah ya,,, yang di bungkus aja di bongkar, apalagi tergeletak di depan mata,!)


Hanya tinggal beberapa inchi saja dada mulus itu menyentuh wajahnya, ponselnya benar benar berbunyi.


Yes,,,! saking bahagianya Toni langsung berdiri dan megeluarkan ponselnya dari saku, menggeser tombol hijau dengan semangat, dia tak lupa dengan janjinya, meskipun Cila memintanya menemani shopping seharian penuh, dia akan melakukannya dengan senang hati, yang terpenting dia dapat terbebas dari Sabrina yang terlihat sangat kelaparan melihat dirinya.


"Halo,,, Cila sayang, ada apa, apa kau merindukan ku ? Tunggulah, aku akan segera ke rumah mu !" sapa Toni, karena saking bahagianya bisa terbebas dari jerat medusa, Toni sampai keceplosan memanggil dengan sebutan sayang segala rupa.


"Halo, Toni,,,!" suara seorang wanita di seberang sana kini membuat wajah Toni memucat.


'What,,,Toni ?' pekiknya dalam hati, tak ada orang lain yang memanggilnya Toni kecuali ibunya dan----


"Ah,,,shiiitttt !" umpat Toni tanpa sengaja, saat menyadari yang berbicara dengannya di telpon saat ini adalah Raya, dan bukan lah Cila seperti dugaannya.


"Toni, kau sedang memaki ku ?" volume suara Raya meninggi, belum habis rasa kesalnya karena mendengan ucapan sayang Toni padanya yang mengira kalau dirinya adalah Cila, kini pria itu malah mengumpatnya.


"Ah,,,, maaf bukan seperti itu maksud ku, aku----" tak ada yang bisa Toni jelaskan atau katakan lagi karena Raya sudah menutup telponnya secara sepihak.


"Ah,,,,,sial ! Berengsek !" teriak Toni merasa kesal dengan kebodohannya sendiri.


"Lion, kenapa, ada apa?" kaget Sabrina yang melihat Toni begitu sangat kesalnya.

__ADS_1


"Aku pulang, ada urusan penting yang harus ku selesaikan !" pamit Toni yang langsung bergegas setengah berlari keluar dari rumah mewah Cobra.


__ADS_2