
"Bunda, ingat Yama, dia masih membutuhkan kasih sayang bunda, aku juga merasakan kemarahan dan kebencian yang sama seperti yang bunda rasakan saat ini, tapi rasanya, kematian terlalu enteng untuk dia menebus segala dosa-dosa yang telah di perbuatnya," Raya berusaha menenangkan perasaan ibu tirinya yang kini sedang di balut amarah itu.
"Ouwh, ternyata istri ku tercinta ini bersekutu dengan para pecundang rupanya, pantas saja aku tak bisa menemukan pesembunyian mu selama ini, padahal aku sangat ingin membunuh saat itu!" sempat-sempatnya Arsan menyeringai seakan mengejek Karina yang terlihat begitu emosional saat menemuinya di ruangan bekas paviliun rumah itu.
"Cih, Berani-beraninya kau menyebut ku sebagai istri setelah apa yang telah kau lakukan pada ku? tak sudi dan bahkan hal paling aku sesali di sepanjang hidup ku adalah menjadi istri mu," decih Karina membelalak kesal, kakinya bahkan masih berusaha menendang ke arah tubuh tua tak berdaya Arsan yang kalau di lihat sekilas tanpa tau 'track record' kejahatan yang di perbuatnya, pasti orang akan merasa sangat iba padanya, bila hanya melihat tampilan fisiknya saja.
"Sudahlah bunda, tak perlu kita meladeni iblis macam dia, karena hanya akan membuat kita naik darah saja!"
"Dan darah yang kau sebut iblis ini yang mengalir di tubuh mu, kalau tak ada aku kau pun tak akan pernah ada di dunia ini," oceh Arsan terus saja melawan dan menimpali apa yang di ucapkan oleh Raya dan juga mantan istrinya yang sedang sangat murka padanya.
"Andai aku bisa memilih siapa yang harus menjadi atah ku dan mengalirkan darahnya di tubuh ku, tentu saja bukan kau pilihannya, hanya saja tuhan memberiku cara lain untuk ku, menjadikan mu ayah ku, agar aku bisa melihat wujud iblis yang sebenarnya di dunia ini," ucap Raya penuh penekanan.
Namun Arsan yang di kata katai seperti itu bukannya tersinggung atau marah, justru dia malah tertawa terbahak seakan menertawakan apa yang di ucapkan Raya padanya.
"Bagaimana pun dalam tubuh mu ada darah ku, dan karena kau telah sangat durhaka pada ayah mu ini, maka aku menyumpahi mu, semoga di sepanjang hidup mu tak pernah bertemu kebahagiaan!" Ucap Arsan dengn begitu entengnya menyumpahi anak kandungnya.
Tak ayal perkataan Arsana itu membuat Toni yang sejak tadi mengintip dan menahan diri dari luar ruangan langsung bergegas masuk ke ruangan itu dan melayangkan tendangannya tepat ke arah dada pria tua itu sehingga tubuh Arsan langsung terjengkang jatuh dari tempat duduknya sambil terbatuk-batuk, bahkan dari mulutnya mengeluarkan darah segar yang lantas tercecer ke lantai, kontras dengan warna putih kramik di ruangan itu.
"Jaga ucapan mu bangsat! Yang kau sumpahi itu istriku, aku tak akan segan membunuh siapa saja yang mencoba menykiti istriku baik itu secara fisik atau pun batinnya, termasuk kau!" Tunjuk Toni, tak kuasa lagi menahan amarah yang seolah bagai gunung berapi yang sedang meletup-letup, bersiap mengeluarkan lahar panasnya dan melibas apapun yang berada di hadapannya.
"Lagi pula ucapan iblis seperti mu tak akan pernah di dengar Tuhan, karena kau tak pernah punya Tuhan!" lanjut Toni.
Toni lantas membawa Raya yang masih tergugu akibat mendengar sumpah serapah yang di ucapkan ayah kandungnya untuk dirinya, rasanya dia tak dapat mempercayai perkataan ayahnya yang dengan enteng nya seolah tanpa beban menyumpahi dirinya sedemikian kejamnya.
"Sudahlah, aku sudah bilang pada mu untuk tak menemui pria tua itu, sudah benar keputusan mu kemarin-kemarin menganggapnya sudah mati, kenapa malah berubah pikiran, kau pikir iblis itu akan berubah dan bertaubat setelah tertangkap?" cicit Sabrina saat dirinya ikut duduk bersama Toni dan Raya juga Karina yang berkumpul di teras belakang rumahnya.
__ADS_1
Sabrina melihat semua yang terjadi di ruangan itu lewat layar monitor yang terhubung dengan kamera cctv di ruangan sana untuk memantau Arsan.
"Ucapan mu itu benar-benar tidak mensupport nya, dan juga tidak menenangkannya, jadi lebih baik kau diam!" Bentak Toni sambil melotot ke arah Sabrin yang mulutnya selalu tak pernah bisa di jaga itu.
"Haish, di rumah ku sendiri saja aku di larang berbicara, dasar menantu tak tau diri, mertua kau kasih tendangan maut!" ledek Sabrina sambil berlalu pergi karena takut kena sasaran amukan Toni yang sedang di puncak amarah itu.
"Eh Sabrina anak ular, kurang ajar sekali kau!" teriak Toni yang tak bisa membalas Sabrina lebih jauh lagi karena Raya memegangi lengannya, belum lagi dirinya juga harus menenangkan Raya yang masih terlihat syok dengan sumpah serapah yang baru saja di terimanya.
"Sudahlah Raya, jangan di pikirkan lagi ucapan si bajingan itu, satu sumaph serapah yang di ucapkan oleh iblis semacam dia, akan kalah dengan doa baik yang selalu terpanjatkan untuk mu, bunda dan semua orang yang menyayagi mu kan senantiasa selalu mendoakan hal baik untuk mu, semoga kamu sehat, berumur panjang, dan bahagia dalam menjalani kehidupan ini, termasuk dalm kehidupan rumah tangga mu bersama suami dan anak-anak mu kelak." Karina mencoba menenangkan Raya sembari memberika sebotol minuman dingin pada anak tirinya itu.
"Terimakasih bunda, tapi kenapa, kenapa dia tega sekali menyumpahi ku se kejam itu, apa salah ku padanya, bunda?" air mata Raya mulai berjatuhan merasakan perih dan sesak di dadanya.
"Sayang, sudah jangan terus di pikirkan perkataanya, nanti kamu malah sakit karena itu," Toni mengusap usap kepala istrinya yang terus terisak.
Sungguh di luar dugaan jika ternyata Arsan tega menyumpahi anaknya sendiri sampai sebegitunya, sebenarnya sangat ingin heran dan tak percaya, tapi balik lagi ini Arsan, dimana semua hal yang di lakukannya tak ada yang tak jahat dan tak pernah tak menyakiti orang lain.
Toni menoleh ke arah Sabrina seraya bertnya siapa orang yang mencarinya itu? Lagi pula dari mana dia tau kalau Toni sedang berada di rumah Sabrina.
"Rolan!" Teriak Sabrina lagi seakan tau apa yang akan di tanyakan padanya selanjutnya.
Toni melirik ke arah istrinya yang masih saja menangis.
"Aku tak bisa menemuinya, aku sibuk menenangkan istri ku yang sedang bersedih!" Jawab Toni dengan teriakan yang sama.
"Baklah, aku yang akan menemui mu di sini jika kau tak mau menemui ku di depan!" Rolan tiba-tiba saja sudah bergaung diantara mereka, ditemani seorang anak buahnya yang mendorong kursi rodanya.
__ADS_1
Karina yang berada di sana langsung beringsut ke sisi Toni dan Raya, wajah Karia terlihat sangat ketakutan melihat sosok Rolan yang dulu selalu ikut menyiksanya saat dia di sekap di rumah kediaman Arsan dulu, membuatnya jadi merasa trauma meski tau kini Rolan sudah duduk di atas kursi roda dan tak mungkin menyakitinya, belum lagi di sana juga ada orang-orang yang sudah pasti akan melindunginya seperti Sabrina dan juga Toni yang tidak akan mungkin membiarkan dirinya di sakiti oleh Rolan.
"Kenapa, bunda?" tanya Raya saat melihat wajah Karina memucat dan seperti sangat ketakutn.
"Dia,,, dia sering menyiksa ku dulu saat di rmah Arsan, dia temn baiknya Arsan, mereka sama jahatnya, mereka penjahat, kenapa mereka ada di sini?" Karina menunjuk ke arah Rolan yang juga merasa kaget ternyata Karina berada di tempat itu.
"Karina tenanglah, aku minta maaf, aku sudah berubah sekarang, aku tak akan menyakiti mu lagi, aku menyesal dan aku benar-benar minta maaf!" ujar Rolan penuh sesal.
"Karina, dulu dia mengatakan pada ku kalau ku sudah mati dan menunjukkan salah satu kuburan yang katanya itu adalah kuburan mu!" Adu Toni pada Karina yang ternganga kaget mendengar aduan dari Toni.
"Itu belum apa-apa, aku juga melihat dia bersama Arsan membunuh Mman, teman mu itu," lanjut Toni membeberkan kelakuan jahat Arsan dan Rolan yang pernah dia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.
"Apa,!? Apa itu benar? Kalian membunuh Maman? Klian benr-benar bejat, bajingan dan keterlaluan!" umpat Karina di iringi tangisnya yang tiba-tiba saja tak bisa di bendungnya saat mendengar teman baiknya akhirnya harus tewas di tangan dua penjahat tua itu
"Katakan pada ku, apa salah Maman sampai kalian harus membunuhnya? Apa itu gara-gara dia membantu ku melarikan diri dri rumah itu? kalian sangat kejam!" Karina terus saja mengumpat dalam isak tangisnya.
Betapa dia masih ingat terkahir kali dia bertemu dengan Maman, adalah saat penjaga rumah yang selaalu baik dan setia padanya itu membantunya melarikan diri dari rumah yang terasa seperti neraka itu.
"Aku minta maaf, aku mengaku salah karena sudah menghilangkan nyawa teman mu itu, aku benar-benar menyesal. Tapi aku sudah menguburkannya secara layak, kubur yang aku tunjukkan pada Lion yang aku katakan sebagai kuburan mu itu sebenarnya kuburan Maman." Urai Rolan seperti sedang melakukan pengakuan dosa.
"Aku tak akan memaafkan mu, dan juga teman mu itu, kalian sama-sama iblis kejam!" Karina tkkuat lagi berada di sana, dia lantas berlari masuk ke dalam rumah karena tak ingin lagi melihat wajah Rolan yang membatnya menjadi merasa trauma dan teringat dengan penyiksaan yang pria itu dan Arsan lakukan padanya, di tambah lagi harus mendapatkan kenyataan baru kalau ternyata mereka juga telah membunuh Maman.
"Apa mau mu? Kenapa kau datang ke sini?" tanya Toni tanpa basa-basi.
"Tadinya aku hanya ingin melihat keadaan Arsan, tapi setelah tau ada kau juga di sini rasanya aku harus berbicara sesuatu hal yang penting dengan mu," kata Rolan yang ternyata ingin melihat keadaan teman lamanya di tempat ini.
__ADS_1
"Aku tak ingin membiicarakan apapun dengan mu, tak ada yang perlu kita bicarakan lagi, jika kau ingin semua sejata mu kembali, aku akan mengembalikannya, tapi tolong menjauhlah dari sekitar ku dan orang-orang ku, jangan karena kau pernah menolong kami kemarin lalu kau merasa semua kejahatan mu telah impas, kejahatan mu masih membekas dan masih terasa sakit oleh kami khususnya orang-orang yang kau sakiti secara langsung ataupun tidak langsung. Harap untuk kau ingat, aku tak pernah memaafkan mu, jadi jangan merasa kita bisa menjadi kembali akrab seperti dulu!" ucap Toni panjang lebar mengeluarkan unek-uneknya yang dia simpan lama dalam hatinya, mungkin itu semua juga bisa mewakili perasaan karina yang juga merasakan kekesalan dan kemarhan yang sama.