
Toni merasa sangat kesal, hampir saja dia bisa menangkap Karina dan menginterogasi nya, namun ternyata dia harus kehilangan jejak ibu sambung Raya yang sepertinya banyak menyimpan rahasia besar itu.
Sepertinya rencana kepulangan Toni harus di undur, dia harus mendapatkan Karina terlebih dahulu, bagaimana mungkin dia akan melepas kesempatan emas yang sudah ada di depan matanya untuk mendapat berbagai info dari wanita itu, termasuk info di mana kini Arsan berada, Toni yakin kalau Karina pasti mengetahui semuanya.
"Ada apa ?" tanya Sabira dengan nafas terengah karena ikut berlari, tapi bedanya dia berlari mengejar Toni, ia tak tau apa yang menyebabkan Toni tiba tiba berlari tanpa berkata apapun padanya.
"Aku hanya melihat seseorang yang selama ini aku cari," jawab Toni sambil matanya terus menyapu setiap sudut kota, mencari cari keberadaan Karina yan barangkali saja tiba tiba muncul atau tak sengaja dia lihat lagi.
Toni yakin kalau yang di lihatnya tadi adalah benar benar Karina, karena jika itu bukan dia, kenapa wanita itu harus lari dan besembunyi saat tau dirinya menghampiri wanita itu.
"Siapa ?" tanya Sabrina yang memng benr benar tidak tau siapa orang yang di maksud Toni itu.
"Ah sudahlah, itu urusan ku.!" ucap Toni tak berminat sedikit pun untuk menjelaskan atau sekedar memberi tahu siapa orang tadi di kejarnya itu, bukankah tak ada gunanya memberi tahu Sabrina tentang ini semua ?
"Aku sepertinya masih harus tetap berada di sini dulu untuk beberapa hari, kau pulanglah terlebih dahulu besok, aku akan menyusul mu jika pekerjaan ku sudah selesai," sambung Toni, rasa penasaran dan keinginannya untuk menangkap Karina hidup hidup sangat menggeb gebu di dadanya.
"Mana bisa seperti itu, kita pergi bersama, maka pulangpun harus bersama !"tolak Sabrina yang jelas saja akan keberatan jika harus pulang duluan sementara Toni tetap tinggal di pulau itu.
"Jangan mempersulit urusan ku, uruslah urusan mu sendiri !" ketus Ton benar benar tak ingin di ganggu Sabrina.
"Aku bisa membantu mu, dan urusan u mungkin akan jauh lebih ringan jika aku bantu," keukeuh Sabrina,
"TIDAK !" bentak Toni, kali ini dia menunjukkan tatapan kemarahannya.
"Tapi---"
"Kau pulang lah, ikuti kata kata ku !" perintah Toni lagi.
__ADS_1
Sebenarnya agak berat hati Sabrina akhirnya berbalik badan dan pergi meninggalkan Toni yang sepertinya benar benar tak ingin di ganggunya itu.
Alih alih pulang ke hotel tempatnya menginap untuk membereskan barang barangnya yang akan di bawa pulang ke jakarta besok, Sabrina malah kembali ke galeri tempat tadi dirinya dan Toni mencari pernak pernik untuk oleh oleh.
Sabrina ingin melihat siapa sebenarnya orang yang membuat Toni mengurungkan niatnya untuk pulang bersama dirinya, dengan cara meminta melihat rekaman cctv pada pemilik galeri itu, dengan begitu dia akan tau orang yang menyita perhatian Toni tanpa harus bertanya pada pria yang tak akan mungkin memberi tahunya itu.
Mata Sabrina terbelalak seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat dalam rekaman cctv yang dia minta dari pemilik galeri, terlihat jelas Toni yang sedang memperhatikan seorang wanita yang tengah menikmati kopi di seberang galeri lalu tak lama kemudian tampakjuga gambar Toni yang mengejar wanita itu sampai mereka berdua menghilang dari gambar.
"Karina ?" pekik Sabrina.
Tentu saja Sabrina tau kalau wanita itu adalah Karina. Semua hal yang berhubungan atau menyangkut dengan Raya dia sangat khatam mempelajarinya sampai hafal di luar kepala.
Sabrina segera mengeluarkan ponsel dari tasnya dan segera menghubungi Cobra sang ayah, untuk melaporkan kejadian yang baru saja terjadi, beberapa saat ayah dan anak itu terlibat pembicaraan yang cukup serius di antara keduanya, sebelum akhirnya Sabrina mengakhiri pembicaraan mereka karena wanita itu harus segera bertemu dengan Toni dan menawarkan sebuah penawaran penting pada pria itu.
Kini Sabira terlihat di sibukan kembali dengan benda pipihnya itu, kali ini Sabrina sepertinya sedang berusaha meghubungi Toni, rasanya sudah puluhan ali Sabrina berusaha menghubungi pria misterius itu, namun Toni juga sepertinya tak berminat menerima panggilan teleon darinya.
"Apa kau sedang mengumpat dan mengata ngatai ku ?" tegur Toni yang tiba tiba saja berada di belakang nya.
"Oh, sungguh kau seperti hantu saja, tiba tiba pergi, tiba tiba datang !" gerutu Sabrina sambil memegangi dadanya yang terasa mencelos karena kaget atas sapaan tiba tiba Toni padanya.
"Apa Karina belum berhasil kamu temukan juga ?" cengir Sabrina penuh arti.
Seketika Toni menoleh ke arah Sabrina, dari mana wanita itu tau kalau orang sedang di carinya adalah Karina, secepat itukah wanita itu mencari tau? lumayan cepat juga pergerakannya, pikir Toni.
Namun Toni tak begitu kaget, Sabrina adalah pewaris tahta kerajaan bisnis ayahnya, baik bisnis hitam maupun bisnis legalnya, jadi rasanya untuk kemampuha dasar seperti itu, tentu saja sudah harus di kuasai Sabrina.
"Aku punya info menarik tentang wanita itu," ucap Sabrina.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan ?" Toni seakan tau kalau apa yang di tawarkan Sabrina padanya tidak lah cuma cuma, wanita itu pasti meminta imbalan atau timbal balik dari dirinya sebagai ganti informasi yang di milikinya itu.
"Biarkan aku ikut dalam pencarian Karina,!" pinta Sabrina.
Nah, kaan ! pasti ada maunya, medusa jelas gak mau rugi.
"Apa kepentingan mu dengan nya ?" tanya Ton.
"Seperti halnya kau yang punya kepentingan dengan wanita itu, begitupun aku juga punya kepentingan meski mungkin kepentingan kita tak sama, yang jelas, aku juga butuh wanita itu, bagaimana,,, kamu bersedia untuk bekerja sama ?" tanya Sabrina.
Toni berpikir sejenak, sepertinya tak ada salahnya bekerja sama dengan Sabrina dalam pencarian Karina, lagi pula bukankah nantinya dia jadi bisa tahu urusan apa yang Sabrina dan Karina punya.
"Oke,,,deal ! Katakan, informasi apa yang kau punya !" Toni akhirnya sudah memutuskan untuk bekerja sama dengan Sabrina.
"Pemilik galeri tadi mengatakan pada ku kalau Karina merupakan istri dari kerabat pemilik coffe shop di seberang galeri nya itu, dan suaminya arina adalah pemilik tambang batu bara di daerah dekat perbatasan," urai Sabrina menyampaikan informasi yang dia dapat dari pemilik galeri itu.
"Suaminya ?" dahi Toni berkerut,
Apa Karina sudah menikah lagi? lalu bagaimana dengan Arsan? Apa mereka tak bersama lagi ?
"Ayo kita datangi coffe shop itu, kita minta alamat kerabatnya yang katanya suami dari Karina itu," ajak Toni.
"Sebelum aku bertemu dengan mu di sini, jelas aku sudah ke tempat itu terlebih dahulu, mencari tahu kebenaran tentang info yang aku dapat itu, sayangnya pemilik coffe shop itu sedang tidak di tempat, dan para pegawainya mengaku tak ada yang mengenal Karina, sedangkan untuk kerabatnya yang mempunyai tambang, mereka juga tak meberi info apapun." beber Sabrina.
"Lantas informasi apa yang kau tau dan kau dapatkan,? Apa hanya sebatas informasi tanggung yang pemilik galeri itu tadi katakan pada mu ?" cibir Toni, rasanya dia sedikit menyesal telah menerima tawaran kerja sama Sabrina kalau ternyata informasi yang wanita itu berikan hanya sebatas itu saja, dan sangat tidak membantu sama sekali, gerutunya dalam hati.
"Tentu saja aku punya informasi lain,,," seringai Sabrina mulai mencurigakan.
__ADS_1
"Hanya dengan satu ciuman saja kamu akan mendapatkan informasi penting itu !" Sabrina memonyongkan bibirnya dan mendekat ke arah Toni.