Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Pria Belok


__ADS_3

"Hanya dengan satu ciuman saja kamu akan mendapatkan informasi penting itu !" Sabrina memonyongkan bibirnya dan mendekat ke arah Toni.


Toni menggelengkan kepalanya kasar, mendecih sambil tersenyum merendahkan, "Aku masih bisa mencari informasi sendiri, bahkan masih sangat mampu mencari wanita itu sendirian !"


'Oh,,, aku yakin kau itu pria ho mo, dasar tak normal, mana ada pria yang menolakwanita secantik dan se sekkssiii aku ini !' ceracau Sabrina dalam hatinya saat Toni lebih memilih meninggalkan dirinya setelah sebelumnya terang terangan menolaknya memberi sebuah ciuman.


Sudah cukup Toni menyesali keputusannya saa menerima tawaran Cobra untuk bertunangan dengan Cila, sepertinya kali ini dirinya tak harus menjadi keledai bodoh yang terjerembab ke dalam lobang yang sama berkali kali.


"Lion, tunggu !" setengah berlari Sabrina mengejar langkah lebar Toni yang seakan tak sudi menoleh ke arahnya sedikit pun.


"Pulanglah, aku bisa mengerjakan semuanya sendiri," ucap Toni datar, sangat buan buang energi marah pada wanita tak tau diri ini, Sabrina tak akan pernah mengerti bahasa manusia, pikir Toni, yang dia mau dan diatuju hanyalah kepuasan dirinya, dan terobsesi untuk menjadikan Toni sebagai pemuas hasratnya, mungkin otak wanita itu berada di bawah pusarnya, bukan di kepala, sehiingga pikirannya tak jauh dari sekitar daerah bawah pusar saja.


"Aku tetap akan bersama mu, aku sudah bilang, kalau aku juga punya kepentingan dengan wanita itu," ucapnya.


"Sudahlah, jangan menambah rumit pekerjaan ku, aku tak akan pernah mau mencium mu, apalagi lebih dari itu, jangan harap !" tegas Toni dengan lugas mengatakan pada wanita ular itu kalau dirinya sama sekali tak tertarik dengan nya.


"Kenapa? Apa karena kamu tak ingin menghianati tunangan mu? Oh ayolah,,, dia tak akan tau, apalagi hanya sebuah ciuman, jangan kuno,!" oceh Sabrina, yang tetap tak mendapat tanggapan apapun dari Toni yang seakan menutup telinganya rapat rapat, bahkan Toni memilih untuk mempercepat langkahnya, dia sudah sangat merasa terganggu dengan ocehan Sabrina yang sangat tidak penting itu.


"Lion,,, jangan bilang kalau kausebenarnya tidak suka perempuan, kau penyuka sesama jenis, kan ?" tuduh Sabrina yang kini tiba tiba berada di hadapannya itu menunjuk wajah Toni dengan jari telunjuknya seolah sedang menghakiminya.


Belum habis rasa keterkejutannya dengan tuduhan Sabrina terhadapnya yang mengatakan kalau dirinya pecinta sesama jenis, kini dia harus lebih di buat kesal dengan sikap Sabrina yang menatapnya penuh rasa tak percaya dan pandangan mirisnya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menggeleng gelengkan kepala sambil terus bergumam,


"Oh Lion, aku tak menyangka, benar benar tak menyangka kalau kau----" ucap Sabrina dengan taapan wajah yang sayu karena kecewa, dia merasa akan benar benar kehilangan kesempatan untuk mencicipi hangat tubuh dan keperkasaan pria tampan dan kekar itu di atas tubuhnya.

__ADS_1


"Pantas saja saat di rumah ku kamu tak ber reaksi apapun saat ku sodorkan dada ku ke hadapan wajah mu, aku pikir aku tak cantik dan tak menarik, ternyata kamu tak suka yang cantik dan tak tertarik dengan ini," cicit Sabrina sambil mengusap kedua dadanya sendiri.


'What ?! medusa sialan, bisa bisa nya kau menuduh ku seperti itu, aku normal, kau tak tau saja saat itu ku hampir tergoda kalau tak ada pangilan telepon dari Raya yang menyelamatkan ku !' kesal Toni dalam hatinya, namun sayangya dia hanya bisa mengepalkan tangannya di samping tubuhnya, andai saja yang berkata seperti itu adalah seorang pria, sudah Toni hajar sampai semua tulangnya remuk tak bersisa, berani beraninya mengatakan dirinya seperti itu.


Namun tiba tiba sebuah ide muncul di kepala Toni, dengan seringai liciknya yang dia sembunyikan, Toni langsung memasang wajah datarnya sedikit memelas,


"Aku harap kau menyimpan hal ini untuk diri mu sendiri, aku mohon jangan sampai ada orang lain lagi yang tau !" kata Toni, sedikit menahan mual mengatakan ini semua pada Sabrina.


Menurutnya mungkin ini cara yang paling ampuh dan paling baik untuk menjauhkan si medusa dari dirinya, sehingga dirinya akan aman dari godaan ular betina ini.


"Oh,,, Cila yang malang, sepertinya dia sengaja kau jadikan tunangan mu hanya untuk menutupi kebelokan mu itu, pantas saja aku tak pernah melihat binar cinta di mata mu untuk tunangan malang mu itu, atau dia sebenarnya tau akan hal itu ?" tanya Sabrina yang sepertinya percaya dengan apa yang di ucapkan Toni padanya.


Toni menggeleng, melanjutkan aktingnya, "Tidak, dia tidak tau akan hal ini, tapi aku berharap kau juga akan merahasiakan hal ini dari dia,"


Antara senang atau malah sebal bercampur marah kini tak dapat di bedakan lagi di hati Toni, sungguh konyol cara yang di lakukannya demi untuk enghindari Sabrina, hanya saja dia sepertinya tak punya pilihan lain, selain membiarkan Sabrina merasa apa yang ada di pikirannya saat ini tentang dirinya itu memang benar adanya.


Mereka berdua mendatangi sebuah lahan luas yang sepertinya tempat penambangan batu bara yang cukup besar, sayangnya hari sudah menjelang malam saat mereka sampai di tempat itu, sehingga sepertinya sudah tak ada aktivitas apapun yang terjadi di tempat itu.


Seseorang yang sepertinya merupakan salah satu sekuriti tempat itu menghampiri Toni dan Sabrina yang terlihat sangat mencurigakan karena seperti sedang melongaok dan mencari cari sesuatu di tempat itu.


"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu ?" tegur sekuriti itu membuat Toni maupun Sabrina menghentikan aktivitas nya dalam usaha mereka mencari tahu tentang tempat itu.


Sepertinya nasib baik sedang menghampiri mereka malam itu, sekuriti yang menghampirinya itu ternyata cukup bersahabat dan enak untuk di ajak mengobrol, setelah mengajak penjaga keamanan itu mengobrol ngalor ngidul sambil sedikit demi sedikit memancing keterangan tentang siapa pemilik lahan itu dan dimana tempat tinggalnya, obrolan itu mengalir begitu saja dengan sangat santai, bahkan Toni dan Sabrina sempat di suguhi kopi dan cemilan khas daerah sana oleh sekuriti baik hati itu.

__ADS_1


Setelah sekitar tiga jam berlalu, dan informasi yang di perlukan oleh Toni maupun Sabrina di rasa cukup, mereka berpamitan, dak lupa mengucapkan terimakasih, bahkan Sabrina memberinya beberapa lembar uang berwarna merah sebagai ucapan terimakasih atas kopi dan cemilan yang dia suguhkan.


Toni dan Sabrina bergegas pergi menuju tempat tinggal pemilik lahan yang alamatnya sudah dia dapatkan dari sekuriti baik hati tadi.


Ternyata jaraknya lumayan cukup jauh, dan memerlukan waktu sekitar satu setengah jam untuk sampai di kediaman pemilik tambang itu.


Rumah mewah yang terlihat sepi, seperti tak ada tanda tanda kehidupan di sana, beberapa kali mereka memencet bel dan berdiri di depan gerbang sambil melongok ke arah balik gerbang tinggi menjulang itu.


Setelah sekitar hampir sepuluh menit berlalu, seseorang terdengar membuka gerbang dari dalam, setelah menayakan keberadaan Karina dan di jawab tidak ada oleh pria yang membukakan gerbang itu, Toni dan Sabrina saling berpandangan seakan memberi kode, dengan secepat kilat setelah Sabrina mengangguk, dia langsung menyerang tengkuk pria yang membukakan pintu itu, sampai pria itu terkulai lemas tak sadarkan diri.


Toni merasa harus memeriksa keadaan rumah, jadi jalan satu satunya ya memang harus melumpuhkan pria itu.


Toni dan Sabrina masuk ke rumah megah itu dengan tetap bersikap waspada, mereka tak tau apa yang akan mereka hadapi di dalam sana, bisa saja di dalam ternyata banyak orang, atau bahkan banyak penjaga bersenjata.


Langkah pelan mereka sungguh bak pencuri yang akan memasuki rumah jarahannya, mengendap endap dengan kaki yang setengah berjinjit, mencoba memasuki rumah yang besar itu.


Sementara di lahan tambang yang tadi sempat Toni dan Sabrina kunjungi, Karina terlihat mendatangi si sekuriti yang tadi mengobrol akrab dengan kedua orang itu,


"Kerja bagus,,,! Terimakasih atas bantuannya, ini bonus untuk mu !" puji Karina seraya menyodorkan sebuah amplop yang sepertinya berisi uang untuk penjaga itu sebagai ucapan terimakasihnya karena telah berhasil mengecoh dua orang yang kini tengah gencar memburunya itu.


"Terimakasih nyonya !" ucap pria itu yang kini membawakan koper milik Karina dan mengantarkannya sampai ke helipad yang tersedia di daerah sekitar tambang itu, Karina mengangguk dan tersenyum simpul lalu memasuki helikopter itu untuk segera pergi dari sana.


"Lumayan,,, dapet bonus dari kiri dan kanan !" seloroh petugas keaman itu yang merasa malam itu menjadi malam keberuntungannya, karena mendapat bonus dari dua pihak yang bersebrangan itu

__ADS_1


__ADS_2