
"Ya, aku serius, apa tawaran itu masih berlaku? Apa kamu masih mau menikahi ku?" Tanya Raya lagi dengan tatapan mata yang sangat teduh dan agak mengiba.
"Kenapa, ada apa tiba tiba kamu menanyakan hal itu? Tentu saja aku bersedia dan akan selalu besedia menikahi mu, apapun yang terjadi," jawab Toni.
Hatinya berdesir menebak nebak apa yang sebenarnya terjadi pada diri kekasihnya itu, apa dia telah di nodai saat penculikan itu?
Dan jika pun aku di tanya apa aku masih mau menerimanya dalam keadaan apapun walau dia telah ternoda, jawabannya adalah 'YA' aku akan menerima apapun dan bagaimana pun keadaan dia.
Tapi Toni segera menepis pikiran buruknya itu, semoga saja tebakannya itu tidak benar, meskipun dia tak akan tak akan keberatan dan tak mempermasalahkan jikaa hal itu memang telah terjadi pada Raya, namun Toni memikirkan psikis Raya yang pasti akan sangat terguncang jika benar hal itu terjadi padanya, betapa dia akan sangat menderita seumur hidup nya, meski Toni pasti akan selalu berada di sampingnya dan menguatkan kekasihnya itu.
"Ayo pergi dari sini dan kita hidup di tempat lain, jangan di sini, ayo kita kelola kebun teh bunda saja," ajak Raya.
"Tapi, bukankah kamu hanya akan menikah jika di saksikan ayah mu?" pancing Toni, karena merasa ada yang janggal pada setiap ucapan Raya.
"Boleh aku meminta sesuatu?" lirih Raya.
"Apapun!" angguk Toni.
"Berhenti mencari ayah ku, kamu tak pantas berkorban banyak hanya untuk mencari tau keberadaannya," airmata itu semakin deras menganak sungai di pipi Raya.
Wajah Toni memerah, raut wajahnya menunjukkan betapa murkanya pria itu.
"Katakan padaku, apa pria itu yang melakukan semua ini? Apa ayah mu yang sudah menculik dan membuat mu jadi seperti ini?" Geram Toni, otaknya langsung bisa membaca situasi yang saat ini terjadi.
Namun Raya menggeleng, "Tidak, bukan!" elaknya.
__ADS_1
"Jangan mencoba menutup nutupi, aku tak akan pernah memaafkan siapapun yang telah membuat mu menjadi seperti ini, bahkan jika pun itu ayah mu sendiri. Aku bahkan tak akan meminta persetujuan atau ijin dari mu untuk membunuhnya dengan tangan ku sendiri!" geramnya.
"Bukan, bukan dia , bukan, tidak! Bukan dia!" tiba tiba Raya menjerit histeris, sambil berusaha melepas selang infus di punggung tangannya, dia juga terus meronta saat Toni mencoba menenangkannya.
"Raya, sayang! Tenanglah, aku di sini, akau bersama mu, tenanglah!" panik Toni.
Panca dengan sigap memanggil dokter dan perawat yang langsung berlarian memasuki ruangan.
Toni di minta keluar ruangan karena dokter dan perawat akan memeriksa keadaan Raya, dengan berat hati dan sedikit drama bersitegang dengan dokter karena tak mau meninggalkan Raya dalam keadaan seperti itu, akhirnya Toni mengalah dan keluar dari ruangan itu membiarkan dokter melakukan tugasnya demi kesembuhan kekasihnya.
Toni menyandarkan tubuhnya di pintu ruang rawat yang tertutup, masih terdengar suara raungan dan teriakan Raya dari balik pintu, membuat hati Toni terasa bagai di iris iris mendengarnya.
Ingin rasanya Toni menutup kedua telinganya agar tak dapat mendengar jeritan pilu kekasihnya dari dalam ruangan, tapi berulang kali dia mencoba menutup kedua telinganya teriakan itu semakin jelas terdengar, rupanya teriakan dan jeritan pilu Raya sudah terekam jelas di benaknya.
"Tenang bro, aku di sini. Serahkan semuanya pada tim medis, mereka pasti bisa menangani Raya di dalam sana, percayalah Raya pasti akan baik baik saja." Ucap Panca menenangkan kembali sahabatnya yang lagi lagi terlihat rapuh, bahkan setelah Raya di ketemukan, ujian cinta mereka masih belum juga selesai.
"Arsan, aku yakin ini perbuatan Arsan!" pekik Toni dengan rahang yang mengeras menahan luapan amarah yang seakan tak bisa lagi di tahannya untuk meledak.
"Jangan gegabah dan terburu buru, suasana hati mu masih kacau, jangan memikirkan hal itu dulu, yang terpenting sekarang ini adalah kesembuhan Raya dahulu, biar aku saja yang menyelidiki masalah ini, kau urus Raya dulu jangan banyak memikirkan hal lainnya," ucap Panca.
Toni menatap kosong langit langit klinik, mencerna semua perkataan Panca, sepertinya apa yang dikatakan sahabatnya ada benarnya juga, kesembuhan dan kesehatan Raya seharusnya menjadi prioritasnya saat ini.
Persetan dengan siapa dan apa penyebab yang membuat kekasihnya berada di situasi dan kondisi yang seperti sekarang ini, tugasnya hanya mengembalikan kesehatan jiwa dan raga kekasihnya seperti semula, masalah siapa penyebab itu semua, dia bisa membalasnya setelah Raya kembali sembuh, dan dia memastikan tak akan pernah melepaskan orang itu, Toni akan membunuhnya dengan tangannya sendiri jika sampai dia tau siapa dalang di balik ini semua.
Obrolan Toni dan Panca harus terhenti saat pintu ruang rawat dimana Raya berada terbuka dari dalam, Toni bergegas menghampiri dokter yang baru saja menangani kekasihnya.
__ADS_1
Tak terdengar lagi suara jeritan memilukan dari kekasihnya itu, kini Raya tertidur dengan tenang di atas ranjangnya.
"Kekasih anda mengalami syok berat. pukulan mental yang di terimanya membuat jiwanya terguncang, saya sudah memberikan obat penenang, untuk beberapa jam kedepan, nona Raya akan tertidur, dan sebaiknya jika kekasih anda sudah siuman, jangan di ajak berbicara yang berat dulu," urai dokter itu menjelaskan secara terperinci bagaimana keadaan Raya saat ini.
Sungguh yang di butuhkan Raya saat ini hanya lah ketenangan dan tentu saja dukungan dari dirinya dan orang orang terdekatnya.
"Baik, terima kasih atas bantuannya, dok!" ucap Toni.
Pria itu kini duduk di kursi yang berada tepat di samping ranjang pasien dimanaa Raya tertidur dengan pulasnya, tak ada ketegangan dan kesedihan di sana, hanya ada ketenangan dalam tidurnya.
"Raya, sayang! Apa sebenarnya yang kamu alami, sampai kamu se tertekan ini? Sunghuh aku tak sanggup melihat kamu dalam kondisi yang seperti ini, tangisan mu membuat aku merasa tenggelam dalam rasa bersalah, maafkan aku yang tak dapat menjaga mu dengan baik, tapi setelah ini aku akan selalu menjaga mu, menemani mu, dan tak meninggalkan mu lagi," ucap Toni seakan sedang berbincang dengan Raya yang mungkin tak dapat mendengar semua perkataannya karena jiwanya entah sedang berada di mana saat ini.
***
"Berengsek, dari sekian banyak orang yang berjaga di sini, dan tak tersisa satu pun yang hidup? siapa yang sudah berani mengacak acak urusan ku? Cari mati, rupanya!" ucap pria setengah baya yang mendapat laporan dari orang suruhannya yang di utus untuk membawa sandera, namun ternyata orang suruhannya melaporkan sanderanya hilang dan bahkan semua anak buah yang berjaga semua mati, sehingga membuatnya bergegas datang ke tempat itu untuk memastikan barang barang di gudangnya aman.
"Saya belum tau tentang siapa yang datang menyusup dan membawa sandera kita, tapi saya menemukan ini tuan!" ucap pria berbadan tegap itu menyodorkan senjata yang di lemparkan Panca tadi karena merasa kesal dan dirasa tak berguna lagi karena pelurunya habis di saat yang tidak tepat.
"Glock 19 terbaru dengan peredam suara terbaik,?" pria setengah baya itu memeriksa dan meneliti senjatta yang di berikan anak buahnya sebagai temuan di lokasi kejadian.
"Sisir tempat ini dan seluruh hutan kalau bisa, cari lagi petunjuk, aku ingin tau siapa bajingan yang sudah mengusik ku.Lakukan dan cepat laporkan pada ku!" teriakannya menggema di gudang miliknya yang kini terasa kosong karena puluhan anak buahnya yang berjaga harus tewas begitu saja tanpa dia tau siapa pelakunya, belum lagi dia juga harus kehilangan sandera berharganya yang dengan susah payah dia culik, beruntungnya barang barangnya yang berada di dalam gidang i i tak ada yang hilang.
Dapat di pastikan kalau yang datang ke gudangnya tadi dan menyelamatkan sandera buruannya bukan dari kalangan pebisnis hitam atau saingan bisnisnya, sepertinya targetnya hanya menyelamatkan sandera saja, tak ada tujuan lainnya.
Namun tetap saja itu merugikannya, karena target buruannya kini hilang.
__ADS_1