
"Bos, gudang kita di hutan pinus terbakar, tak ada yang bisa di selamatkan, semuanya habis, ludes di lalap api!" lapor salah seorang anak buah Rolan yang berlari tergopoh gopoh menghampiri Rolan dan Toni yang sedang mengobrol santai di sasana.
Rolan langsung tersentak dan terperanjat dari duduknya, bahkan dia memegangi dada nya yang tiba tiba terasa sakit mendengar laporan dari anak buahnya.
"Apa kau baik baik saja?" tanya Toni seolah sok perhatian.
Padahal jauh di dalam hatinya dia tertawa terbahak, bagaimana tidak, sungguh hasil karya nya dengan Panca memberikan efek yang di luar ekspektasinya, semalam ketika dua orang anak buah Panca yang di tugaskan mengintai gudang di tengah hutan itu memberi laporan bahwa ada kiriman banyak barang ke gudang itu, Toni dan Panca langsung menyusun strategi dadakan, beberapa anak buahnya di tugaskan mengacau di tempat yang agak jauh dari gudang itu sehingga perhatian para penjaga terbagi dan teralihkan, dan di saat itulah Toni dan Panca melancarkan aksinya membakar gudang itu dari arah belakang gudang, mereka sudah mempelajari denah gudang yang aman untuk di susupi.
Setelah berhasil membuat gudang obat obatan terlarang milik Rolan itu terbakar hebat, mereka berdua lalu melenggang pergi dari sana dengan santainya, karena semua orang di tempat itu sedang fokus memadamkan api.
Toni bergegas menuju sasana menemui Rolan, agar seolah olah dirinya tak terlibat dan tak tahu menahu tentang kejadian kebakaran itu.
"Tolong ambilkan obat ku di rumah, di laci kerja ku!" ucap Rolan, dengan nafas terengah engah karena menahan sakit dan sesak di dadanya.
Toni mengangguk, "Baik, bertahanlah, aku akan segera membawakan obat mu," kata Toni dengan pura pura bergegas berlari keluar dari sasana menuju rumah utama Rolan yang hanya berjarak beberapa meter saja dari sana.
Namun saat dirinya sudah keluar dari sasana, Toni berjalan dengan santainya, tak sudi rasanya dia membuang buang tenaga untuk membantu meringankan rasa sakit pria iblis itu, bahkan saat dia sudah berada di ruangan kerja Rolan dengan santai dia melihat lihat isi laci meja kerja Rolan, memeriksa barangkali ada sesuatu yang bisa dia manfaatkan.
Biarlah Rolan merasakan kesakitan agak lebih lama, yang penting tak mati hanya karena penyakit jantungnya kambuh, terlalumudah jika dia harus mati denagn cara seperti itu, pikirnya.
"Ini obatnya," Toni menyodorkan sebotol obat berwarna putih itu ke hadapan Rolan, dengan sigap anak buahnya memberi Rolan segelas air untuk membantunya meminum obat itu.
"Lama sekali, kau mengambil obat, aku hampir mati karena rasa nyeri di dada ku ini!" protes Rolan.
"Aku harus mencarinya dulu, kau tak menyebutkan di laci sebelah mana obat mu di simpan!" kelit Toni sambil menahan tawa dalam hatinya.
'Cih, cengeng sekali kau, baru sakit segitu saja sudah rewel, ap kabar dengan istrku yang sampai menderita sebanyak itu akibat ulah mu?' decih Toni dalam hatinya.
__ADS_1
"Bajingan, siapa yang berani menabuh genderang perang dengan ku! Arrrggghhh, bangsat, semua barang ku yang baru datang habis semua!" teriaknya penuh marah.
"Apa yang terjadi?" tanya Toni berlagak polos.
"Apa kau tak dengar kalau gudang ku terbakar?" bentak Rolan.
"Sabar dulu, ingat penyakit mu, aku hanya sedang bertanya, karena aku tak tau, bukankah kau sedang ku suruh untuk tiarap, istirahat dulu untuk tak berjualan?"ucap Toni sok peduli dan berpura pura memasang wajah khawatir.
"Pemasukan ku sudah sangat menipis, belum lagi kemarin aku harus mengganti uang para pembeli senjata ku, ini sungguh benar benar mengguncang perekonomian ku, semua jadi kacau!" keluh Rolan yang mengeluh pada orang yang salah.
Karena alih alih mendapat iba dari Toni, pria itu justru kini sedang bersorak sorai mendengar kehancuran Rolan yang semakin mendekati ******* nya.
'Bertahanlah Rolan, jangan menyerah dulu, karena masih banyak kehancuran dan kesakitan yang harus kau saksikan!' batinnya sambil menatap jijik ke arah Rolan yang wajahnya se kusut kertas yang di remas.
"Apa kau ingin aku menyelidiki kasus ini?" Toni menawarkan diri, berharap keberuntungan berpihak padanya.
"Ya, kau urus masalah ini dulu, untuk masalah proyek, nanti aku suruh Cila beragkat ke kantor lagi mengganti kan mu untuk sementara." putus Rolan sesuai harapan Toni.
Sementara Toni ingin menghabisi semua usaha hitam Rolan yang berada di Jakarta satu persatu, sehingga rasa sakitnya akan lebih terasa perih sedikit demi sedikit tanpa berkesudahan oleh Rolan.
"Apa ada orang yang kau curigai?" Pancing Toni.
"Kalau aku ada orang yang aku curigai, tak mungkin aku meminta bantuan mu untuk mencari pelakunya, tenaga ku masih kuat kalau hanya untuk sekedar membunuh musuh pengecut yang hanya berani bermain di belakang ku tanpa berani menghadapi ku secara langsung!" geram Rolan.
"Mungkin hidup mu selama ini terlalu jahat, sehingga mendapatkan karma seperti ini," sindir Toni.
"Sialan kau! Sejak kapan kau jadi pintar menceramahi ku?" kesal Rolan yang tak terima di kata katai seperti itu oleh Toni.
__ADS_1
Namun Toni hanya menanggapinya dengan senyum miring tanpa ingin menanggapi Rolan yang sedang menumpahkan kekesalan padanya atas nasib buruk yang terjadi pada dirinya.
"Lantas kau ingin aku memulainya dari mana?"
"Pergilah ke gudang ku yang terbakar itu, lalu cari petunjuk di sana, aku sepertinya tak punya tenaga lagi untuk melihat ke sana," Titah Rolan, berharap Toni tak akan pernah tau kalaukekasihnya pernah dia culik dan di sekap di sana, karena kalau sampai hal itu di ketahui oleh Toni, dia tak dapat membayangkan bagaimana amukan singa itu.
"Berikan aku alamatnya!" pinta Toni tetap berpura pura tak tau tentang keberadaan gudang itu.
"Kau akan pergi di temani beberapa anak buah ku ke sana, kalian harus memastikan jangan sampai ada orang asing masuk ke hutan itu, jaga dan sisir setiap sudut hutan, cari petunjuk sekecil apapun, dan laporkan pada ku!" titah Rolan.
Toni tersenyum puas saat sampai di tempat gudang yang terbakar itu, tampak para anak buah Rolan sedang sibuk membereskan dan menyelamatkan barang yang masih bisa di selamatkan dari gudang yang pernah menjadi tempat penyekapan istrinya itu,.
Ada sedikit rasa perih saat mengingat hari di mana dia menyelamatkan Raya yang tergolek lemas di lantai dengan tangan dan kaki terikat di bangunan yang kini hanya tinggal tersisa puing puingnya saja itu.
"Aku mendengar kabar dari anak anak, kalau di sini kalian sering dikasih perempuan oleh Rolan, enak sekali kalian ya!" pancing Toni pada sala satu penjaga gudang ang kini sedang menemaninya duduk sambil menikmati sebatang rokok yang Toni sodorkan padanya.
"Ah, kau termakan gosip murahan, mana pernah si bos memberi kami wanita, kami berjaga di hutan yang dingin seperti ini tak pernah di kasih yang hangat hangat," kelakarnya.
"Aku hanya dengar dengar saja!" kata Toni vuek.
"Hanya saja katanya pernah si bos kehilangan sandera wanita yang dia simpan di sini," ungkap pria itu.
"Sandera wanita?" beo Toni menyembunyikan ke antusiasannya.
"Iya, sebenarnya bukan sengaja di simpan di sini, karena seharusnya perintah si bos sandera itu di habisi di jurang, namun para preman yang membawa gadis itu untuk di habisi malah tergoda dan hendak di makan mereka, namun buruannya kabur sampai sini, jadi si bos menyuruh untuk di amankan di gudang ini dulu," urai penjaga itu asik bercerita tanpa memperhatikan wajah Toni yang memerah menahan marah dengan tangan yang sejak tadi terkepal.
Sakit sekali rasanya hati Toni membayangkan bagaimana takutnya Raya saat itu, menghadapi puluhan pria yang ingin berbuat jahat padanya sendirian.
__ADS_1
"Bagaimana nasib gadis itu sekarang? Lantas apa para penjaga mem---" bibir Toni tak sampai hati menanyakan hal itu, dadanya terasa seperti di tusuk tusuk duri.
"Di perkosa, maksud mu?" tanya pria itu.