Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Menukar Kebahagiaan


__ADS_3

Rahang Toni mengeras dengan gigi bergemelutuk menahan marah, kedua tangannya terkepal di samping kanan dan kiri tubuhnya, saat Rolan meminta hal yang menurutnya sangat di luar batas, bagaimana bisa pria paruh baya itu meminta Toni untuk tinggal di rumahnya, dengan alasan agar bisa lebih akrab dengan Cila dan juga semua keluarganya, juga agar lebih gampang dalam pelaksanaan rencana mereka, Rolan sudah memastikan kalau Arsan memang berada di bawah kuasa Cobra, pria paruh baya itu memang tak main main dalam membantu Toni, dia langsung bergerak menyebar anak buahnya dan mencari info.


"Aku tak bisa, aku punya tempat tinggal sendiri, tak perlu menumpang pada mu atau pada siapa pun !" tegas Toni, sekuat tenaga dia menahan agar marahnya tak meledak, apalagi saat Cila tiba tiba saja masuk ke sasana menghentikan perundingannya dengan Rolan, karena baik Rolan maupun Toni sepakat untuk tak melibatkan orang lain lagi dalam masalah ini, meskipun itu Cila sekali pun.


"Bang, ayo antar Cila bertemu teman teman Cila, mereka mengundang kita untuk merayakan pertuangan kita dan Cila juga ingin memperkenalkan abang pada mereka," ajak Cila yang sudah berdandan rapi siang itu.


Toni menatap tunangannya itu dengan tatapan marah, masih belum habis rasa kesalnya pada wanita itu yan sudah dengan sengaja mengundang Raya ke acara pertunangan ereka kemarin, sekarang wanita itu kembali berulah ingin mengajaknya bertemu teman teman nya, dan siapa yang dapat menjamin kalau Cila tak mengundang Raya juga siang itu, bukannya mereka satu lingkungan pertemanan, alias satu geng.


"Apa kau pikir waktu ku se luang itu sampai aku harus menemani acara tak penting mu itu ?" sinis Toni.


"Lion,,, aku bisa membayar mu sepuluh kali lipat dari bayaran pkerjaan mu sekarang, asal kau mau menjadi bodyguard anak ku !" sambar Rolan yang tentu saja sudah mengetahui kalau Toni bekerja sebagai pengawal pribadi Raya selama ini.


"Kalau aku gila harta seperti yang kau pikir sekarang ini, dari dulu aku sudah mengambil alih bisnis mu, sayangnya,,, aku tak butuh uang mu !" kata Toni masih dengan nada sinisnya, dia tak peduli meski Rolan kini berstatus orang tua dari tunangannya, dengan kata lain dia calon ayah mertuanya, baginya Rolan tak lebih dari orang tua yang menjijikan dan egois.


"Abang bekerja ?" tanya Cila yang memang tak tau kalau tunangannya itu punya pekerjaan lain selain bertarung di atas ring, dan bukankah Toni sudah sering bilang kalau dia tak suka berada di bawah kendali siapa pun.


Bahkan Cila juga tak tau kalau ternyata Toni bekerja sebagai pengawal pribadi Raya, entah bagaimana reaksinya kalau sampai wanita itu tau kalau Toni bekerja untuk Raya, bahkan sampai detik itu, dan entah bagaimana juga reaksi Cila jika dia sampai tau kebenaran tentang Toni yang bersedia bertunangan dengannya, itu semua semata karena demi kebahagiaan Raya.


Sungguh pria itu telah menukar kebahagiaannya demi kebahagiaan gadis yang kini menjadi penghuni hatinya itu.


"Hem, tunangan macam apa, pekerjaan pasangannya saja tidak tau !" sarkas Toni.


"Sudahlah, kamu pergi di anter sopir dulu, Lion masih punya pekerjaan yang harus di selesaikan dengan ayah," potong Rolan, dia tau kalau di teruskan, Toni akan semakin menyakiti Cila dengan kata kata pedasnya, dan hati Rolan subgguh berdenyut nyeri setiap Toni bersikap ketus pada putri semata wayangnya itu.


Namun harus bagaimana lagi, itu memang pasti terjadi, sunghuh terasa bagai memakan buah si malakama bagi Rolan, jika tak menuruti keinginan putrinya untuk bersanding dengan Toni, Cila pasti akan terus bersedih, tapi jika dia kabulkan keinginannya seperti yang sekarang dia wujudkan meski harus memaksanya, resikonya ya seperti itu, Toni akan bersikap ketus dan dingin pada putrinya itu, meskipun Rolan yakin Toni tak mungkin kasar dan berani main tangan pada Cila, Rolan tau Toni adalah pria sejati yang tak mungkin melakukan kekerasan pada wanita manapun termasuk Cila, setidaknya itu cukup membuatnya merasa tenang.


wajah Cila terlihat sangat kesal saat Ayahnya justru malah berpihak pada Toni bukan pada dirinya, setelah menghentakan kakinya pertanda kecewa dan marah pada ayahnya itu,, tak urung Cila pergi juga, dia masih ingat perjanjian yang dia sepakati dengan ayahnya saat sebelum dia bertunangan dengan Toni.

__ADS_1


Bahwa ayahnya itu akan mewujudkan keinginan putri kesayangannya itu, dengan syarat Cila harus berjanji akan patuh pada apa yang di katakan Rolan, bahkan ayahnya akan membuat Toni sangat mencintainya dan tak akan pernah pergi dari sisinya asal Cila mengikuti aturan mainnya, serahkan semuanya pada Rolan, dan Toni menjadi milik Cila selamanya, begitu perjanjian di antara mereka.


Tentu saja iming iming Rolan sangat menggiurkan bagi Cila yang memang terobsesi pada Toni itu, sehingga dia akan berusaha menahan diri dan mempercayakan semuanya pada ayahnya, demi kelangsungan hubungannya dengan Toni agar mulus sampai terwujudnya pernikahan.


"Apa rencana mu sekarang ?" tanya Rolan setelah Cila pergi menjauh dari mereka.


"Malam ini aku akan melihat langsung ke tempat penyekapan Arsan," ucap Toni, dia terlihat lebih tertarik saat membicarakan tentang rencananya ketimbang membicarakan masalah lainnya yang membuat otaknya seakan mendidih.


"Oke, apa saja yang kau butuhkan, dan berapa orang pengawal yang akan kau bawa kesana ?" tanya Rolan, pria paruh baya itu tak ingin setengah setengah untuk membantu Toni, bagaimana pun mereka sudah punya janji, dan pria sejati tak akan mengingkari janjinya, seperti Toni yang sudah menepati janjinya dengan bertunangan dengan Cila.


"aku hanya butuh beberapa senjata, dan aku mungkin akan pergi sendirian saja malam ini, aku belum perlu pendamping, karena hanya akan mempelajari medan saja," ucapnya serius.


"Apa itu tak terlalu berbahaya ? Sebaiknya kau bawa beberapa anak buah ku," Rolan terlihat agak hawatir dengan keselamatan calon menantu plus calon penerus klannya itu.


"Cih,,, apa kau sedang meremehkan kemampuan ku ?" satu alis Toni terangkat, dengan seringai yang tak bisa di gambarkan dan di artikan apa maksud dari seringaiannya itu.


"Apa lagi sebenarnya yang Cila inginkan, menyebalkan !" Raya membanting ponselnya kasar ke atas kasur, kesal karena Cila mengiriminya sebuah pesan untuk janji ketemu sebagai pesta lanjutan merayakan pertunangan nya.


Raya dan Dila masih tinggal di rumah Panca, karena pria itu sudah berjanji pada Toni untuk menjaga Raya, dan tak mengijinkaan Raya jauh jauh dari pengawasannya.


Lebih konyolnya lagi Panca bahkan nekat pura pura mendekati Dila dan meminta Raya untuk mencomblangi dirinya dengan Dila demi agar Raya tetap berada di dalam jangkauannya.


"Ayolah Raya, bantuin gue, jangan pergi dulu dari sini, gue pengen pedekate sama sahabat lo itu, pliss !" rayu Panca saat Raya mengatakan kalau dia tak butuh pengawalan siapapun baik itu Toni atau Panca, dan dia bersikukuh untuk mencari tempat tinggal agar bisa mandiri, kalau tidak, dia juga bisa kembali ke Bandung tanpa Panca harus ikut bersama mereka.


"Terserah kamu, selama aku dan Dila tak merepotkan mu jika tinggal di sini," Raya mengalah setelah pria oriental itu terus terusan mengeluarkan jurus bujuk rayunya, toh dia juga tak punya tempat tinggal lagi di Jakarta selain di rumah Panca ini, apalagi Panca juga tinggal sendirian di rumah sebesar itu, jadi Raya memutuskan mungkin dia akan mencari pekerjaan dan tinggal sementara di rumah Panca, sambil menunggu kabar tentang ayahnya.


"Kenapa Ray ?" tanya Dila saat mendapati sahabatnya menekuk wajah cantiknya.

__ADS_1


"Biasa, si Cila ngundang aku ketemuan di acara pesta lanjutan merayakan pertunangannya, mau pamer paling, dia !" cebik Raya terlihat sabgat berapi api saat bicara.


"Kenapa, cemburu ?" goda Dila,


"Lagian, kalo cinta itu ungkapin,,, jangan gengsi, di ambil orang, baru nyesel, kapok !" ledek Dila.


"Ishhh,,,, apa sih, siapa juga yang cemburu, enak aja, gak penting !" tepis Raya.


Dila sedang menyiapkan makanan di meja makan untuk mereka makan siang, dia memang wanita idaman para suami, pintar mengurus rumah dan dapur, sayangnya Bara pria buta yang tak bisa melihat kelebihan Dila itu.


"Mau kemana Ray, kok udah rapi gitu ?" tanya Panca yang sedang duduk di meja makan, bersiap menyantap makan sianganya, sekarang hidupnya lebih teratur setelah Dila berada di rumahnya dan mengurus semua kebutuhan makanan dan rumahnya, bahkan Dila juga sering memasakan makanan untuk para pegawai di bengkel nya, 'kasian' katanya, dia tak tega makan enak di dalam rumah sementara di bengkel yang berada di depan rumah Panca itu tak tau makan apa.


Dila yang bertahun tahun menjadi buruh sangat merasakan bagaimana susahnya menjadi mereka, sehingga para mekanik di bengkel Panca dalam waktu yang singkat sudah sangat akrab dengan wanita kampung yang ramah itu.


"Dia mau ketemuan sama Cila, merayakan pesta lanjutan pertunangannya dengan sahabat mu," sambar Dila.


"Eh, mana bisa begitu,,, jangan aneh aneh deh," panik Panca.


"Apaan, gak sudi aku dateng ke acara gak penting gitu, aku mau ke kantor ketemu pak Bagas !" ucap Raya.


"Gue anter ya ! lo gak boleh pergi sendirian, bahaya !" Panca berdiri dari duduknya.


"Gak usah lebay, aku cuma ke kantor. di sana rame, orang jahat juga mikir mikir mau nyelakain aku !" tolak Raya berargumen.


"Plis Ray, jangan bikin posisi gue sulit kaya gini," Panca sungguh takut terjadi apa apa pada Raya dan dia tak tau harus menjelaskan apa pada Toni nantinya kalau sampai dirinya tak becus menjaga Raya yang sudah di titipkan padanya.


Sungguh Raya tak tau bahaya apa yang sedang mengincarnya di luar sana, dia terlalu percaya diri dan keras kepala.

__ADS_1


__ADS_2