Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Menjadi Narasumber


__ADS_3

Dia tak akan pernah peduli jika pun dirinya harus berhianat pada Arsan, yang paling penting baginya adalah kebahagiaan sang putri, lagi pula dia pun merasa sudah sangat muak dengan Arsan yang selalu menekan dirinya tentang tanggung jawab proyek itu.


Menurutnya akan lebih baik jika dia memberi tahu keberadaan Arsan pada Toni dan membiarkan Toni menghabisi Arsan, sehingga dirinya bisa terbebas dari tekanan Arsan dan kepercayaan Toni juga kembali pulih untuknya, lebih jauh lagi putrinya akan bahagia karena bisa tetap bersama pria yang di cintainya.


"Sayangnya aku sudah tidak tertarik lagi dengan informasi apapun tentang Arsan, jadi aku tak harus melakukan apa yang kau mau, kan?" cengir Toni dengan angkuhnya.


"Apa maksud dari perkataan mu bahwa kau sudah tak tertarik lagi dengan informasi apapun tentang Arsan?" Rolan tergagap, dan menyadari sesuatu.


Rasa rasanya dia ingin memaki dirinya sendiri yang telah bersikap bodoh dan ceroboh karena kemarin berusaha menghabisi Raya, dan sekarang dia menghilang tak tau dimana, Rolan yakin ketidak pedulian Toni saat ini adalah karena Raya yang menghilang dan dia akan merasa sia sia melakukan semua hal itu jika Raya pun sudah tak ada, begitu kira kira yang dia simpulkan.


'Akh, betapa bodohnya aku ini, seharusnya aku menahan wanita itu sebagai alat untuk mengendalikan si berengsek Lion, sekarang aku malah kebingungan sendiri, bagaimana harus melangkah,' sesal Rolan dalam batin.


"Ya, aku memang sudah tak peduli lagi dengan segala sesuatu hal mengenai Arsan dan juga--- mengenai mu!" ucap Toni agak menjeda ucapannya sehingga terdengar lebih mendramatisir.


"Apa maksud mu, apa kau sedang terang-terangan menyatakan permusuhan dengan ku? Tapi pa salah ku pada mu?" Tanya Rolan seolah tanpa dosa.


"Sebaiknya kau tanya kan saja pada diri mu sendiri kau tentu lebih tau dari pada aku, apa saja salah mu pada ku, bila tak ada yang lebih penting lagi untuk di bicarakan, aku mau pulang!" ucap Toni bangkit dari tempat duduknya.


"Bajingan kau, apa kau kira pembicaraan mengenai putri ku itu tidak penting sama sekali?" kesal Rolan karena lagi lagi Toni menghina dirinya dan putrinya mengatakan dengan terang terangan kalau pembicaraan tentang Cila tak cukup penting untuknya.


"Mungkin sangat penting untuk mu, tapi asal kau tau, semua hal yang sangat penting untuk mu, adalah sampah untuk ku!" ucap Toni dengan nada bicara yang penuh penekanan di setiap katanya.


Bruakkkk,,,,


Sebuah guci antik setinggi orang dewasa yang berdiri tak berdosa di samping Rolan harus pecah berantakan karena tinjuan Rolan yang sangat merasa marah dengan pernyataan Toni yang di angapnya keterlaluan dan kurang ajar padanya itu.

__ADS_1


Beberapa anak buahnya yang sejak tadi waspada menjaga tuannya dari jarak yang tidak begiitu dekat langsung berhamburan mendekati Rolan dan beberapa menodongkan senjata tepat ke arah kepala Toni.


Mereka mengira kalau Toni yang sudah menyerang bos nya itu.


Namun Rolan mengacungkan tangan kanannya ke udara memberi kode kalau dirinya baik-baik saja dan memerintahkan semua anak buahnya untuk kembali ke posisi semula.


"Aku masih memberimu kesempatan, bukan berarti aku takut atau tak bisa untuk menghabisi mu, tapi semua ini aku lakukan semata karena putri ku, dia akan sangat sedih dan marah pada ku jika sampai aku menghabisi bajingan seperti mu, aku masih menunggu itikad baik mu untuk menemui putri ku di rumah sakit, karena jika tidak, jangan salahkan aku jika aku akan membuat mu hilang dari muka bumi ini, seperti hilangnya----" Rolan tak meneruskan ucapannya, hampir saja dia keceplosan akan mengatakan tentang hilangnya Raya, saking dia emosinya, untung saja dia segera tersadar dan dapat mengerem mulutnya di saat yang tepat agar tak kebablasan.


"Seperti hilangnya siapa?" Tanya Toni, meski dirinya tau kemana arah pembicaraan Rolan, dia pasti ingin menyenggol masalah Raya sang istri.


"Pergilah, jangan terus menerus memancing emosi ku, jangan sampai aku berubah pikiran dan memerintahkan para anak buah ku untuk menghabisi mu!" titah Rolan pada Toni.


Andai saja dia tak ingat dengan putrinya yang sangat mencintai dan menyayangi Toni, mungkin Rolan sudah mecabik cabik tubuh Toni menjadi bagian-bagian kecil, hanya saja jika teringat lagi pada putrinya yang pastinya akan sangat bersedih jika sampai kehilangan satu-satunya pria yang tak pernah menaruh hormat padanya itu, Rolan menjadi sangat dilema, apalagi dirinya juga sedang sangat merasa bersalah pada diri putrinya itu, hal itu membuatnya semakin merasa tak bisa berbuat apa apa sebesar apapun kesalahan yang di lakukan Toni padanya


***


Toni memilih tempat duduk yang agak sepi, agar bisa melihat dengan jelas siapa otrang yang sedang mengikutinya tersebut.


Toni mengerutkan keningnya, saat seorng pria mendekatinya dan mengajaknya bersalaman.


"Lion, apa kau masih ingat aku?" tanya pria yang ternyata si Ompong yang tengah di tugaskan Arsan memmantau dan mencari informasi tentang hancurnya proyek itu.


Toni tau dan sangat tau jika si ompong memang sekarang bekerja untuk Arsan.


"Ya,,, tentu saja aku masih ingat, hanya kau yang dua kali bertarung dengan ku selama 2 malam berturut turut" Toni pura pura tak tau kalau dirinya di ikuti si ompong sejak tadi, dia bersikap selayaknya itu sebuah kebetulan seperti yang si ompong harapkan.

__ADS_1


"Di mana kau bekerja Lion? Ku dengar kau sudah lama tak lagi bertarung, sudah sukses rupanya, dudah tak doyan lagi uang ring," cicit Ompong berbasa basi.


Toni hanya menarik sudut bibirnya, mencari tahu apa yang sedang orang kepercayaannya Arsan ini inginkan darinya.


"KU dengar kau sedang menggarap proyek di luar pulau, ajak kali, temen lama aku lagi nganggur nih!" selaoroh Ompong.


Toni pun akhirnya tersenyum lebar dalam hatinya,


'Oh, ini yang kau ingin cari tau!' batinnya.


"Oh itu, aku sudah tak bekerja di sana lagi, proyeknya ancur, gagal!" jawab Toni tentu saja dia sudah mengerti alur yang harus di mainkannya sekarang ini.


"Kok bisa gitu?" tanya Ompong yang sudah memasang telinga dengan tajam dan memencet tombol panggil pada ponselnya menghubungi Arsan agar bosnya ikut mendengarkan apa yang dirinya dan Toni bicarakan.


Mungkin dirinya merasa kalau tindakan nya ini telah berhasil mengelabui Toni, namun sepertinya dia lupa kalau dia berurusan dengan si singa jantan, dimana dia akan mengintai mangsa buruannya sampai mangsanya lengah baru dia akan menghabisinya tanpa ampun.


"Bos tempat ku bekerja sepertinya banyak korupsi, dia memerintahkan anak buahnya untuk membeli bahan bahan bangunan yang tidak sesuai spek dan yang paling penting harganya murah, sehingga dia bisa mendapat banyak keuntungan dari itu semua," oceh Toni terlihat seperti sangat serius membicarakan itu semua, padahal dalam hatinya dia sedang tertawa terbahak-bahak membayangkan wajah Arsan di ujung telepon sana mendengar pekatannya.


"Lantas bagaimana nasib proyek itu sekarang?" Ompong sangat kentara sekali bak seorang reporter yang sedang menggali informasi dari narasumbernya.


"Terakhir aku dengar bangunan itu runtuh karena bahan bangunan dan sistem kontruksi yang buruk, untung saja aku sudah mengundurkan diri sejak lama dari proyek itu, dan posisi ku di gantikan oleh anak bos ku yang tak bisa bekerja dan tak ada pengalaman sama sekali tentang memegang proyek." lanjut Toni lanjut bercerita seperti sedang menceritakan mendongeng pada anak TK.


Si Ompong menganguk anggukan kepalanya seperti puas dengan cerita bohong yang di beberkan Toni padanya.


Opong lantas meminta ijin untuk ke toilet sebentar, sepertinya dia akan menghubungi Arsan untuk menanyakan tindakan apa lagi yang harus di lakukannya setelah ini.

__ADS_1


Melihat tas si Ompong yang tergeletak di meja dengan pemiliknya yang tak ada di tempat, membuat jiwa jahil Toni kembali mencuat, dia meraih tas itu lalu membuka resletingnya dan memasukan salah satu senjata yang di bawanya ke dalam tas itu lalu menyimpannya kembali ke tempat semula.


"Aku harap kalian akan segera saling membunuh Arsan, Rolan!" gumamnya di iringi senyum iblisnya.


__ADS_2