
Sementara Toni yang merasakan kemarahan dan emosi yang bergemuruh di dadanya juga tak bernafsu untuk memulai pembicaraan, pertanyaan atau pun protes atas perbuatan istrinya yang di rasa telah berani berbohong dan berani menipunya itu.
Toni takut jika kata-kata yang keluar dari mulutnya tak bisa dia kendalikan dan berujung menyakiti hati istrinya, sementara dirinya sedang di landa marah yang mungkin saja bila terpercik sedikit saja bisa menjadi sebuah bom besar yang siap meledakan apapun di sekitarnya.
Jadi Toni memilih untuk diam dalam sementara waktu sambil dia berusaha meredakan amarahnya sendiri.
"Toni, maaf,!" cicit Raya ketika sampai malam tiba dan mereka sudah berbaring bersebelahan di tempat tidur, namun tak ada satu orang pun di antara mereka yang berinisiatif memulai pembicaraan, bahkan mereka terlihat seperti sedang melakukan perang dingin, sehingga aura kecanggungan itu membuat Raya tak kuasa menahan diri untuk berusaha mencairkan suasana dengan berinisiatif meminta maaf lebih dahulu pada suaminya yang masih mendiamkannya itu
Sehingga Raya memutuskan untuk mengalah dan membuka pembicaraan di antara mereka.
Sayangnya, Toni yang di ajaknya berbicara tak menjawab apapun, justru dia malah memejamkan matanya yang tak ngantuk itu dan berpura-pura tertidur untuk menghindari pembicaraan lebih lanjut dengan dengan istrinya.
"Sayang,,,!" rengek Raya menggoyang-goyangkan badan suaminya, berharap sang suami mau berbicara padanya dan lebih jauh lagi bisa memaafkan sikapnya yang telah membuatnya marah dan kesal.
Raya mengalah, dia tak mau memaksa suaminya lagi untuk berbicara dengannya dia akan memberikan suaminya sedikit waktu untuk meredakan emosinya, terkadang memang ada beberapa orang yang hanya butuh waktu untuk diam demi meredakan emosinya agar tak semakin membuncah jika terus terusan di pancing dan patik amarahnya.
Raya ikut memejamkan matanya di samping tubuh Toni yang tak membelakanginya namun juga tak memeluknya seperti malam- malam yang biasanya mereka lewati.
Tepat tengah malam Toni turun dari tempat tidurnya, sungguh dia benar-benar tak bisa memejamkan mata barang sebentar pun, Toni menuju teras belakang dan menikmati kopi yang dia buat sendiri, merenungkan apa yang sebenarnya terjadi pada Raya sehingga sikapnya sering di luar logika dan selalu saja membuatnya kesal akhir-akhir ini.
Toni sampai berpikir kalau Raya tengah memikirkan sesuatu yang membuat pikirannya menjadi kacau dan sering bertindak di luar hal-hal yang sewajarnya.
Tetu saja Toni menganggap kelakuan istrinya iu tidak wajar, dimana tiba-tiba dia bersikeras bertemu Arsan saat itu juga, bahkan emosinya seperti tak terkendali saat itu sampai menangis meraung-raung, padahal jelas-jelas beberapa waktu sebelumnya istrinya itu sangat membenci ayahnya itu.
Lalu sekarang ini dia bela-belain berbohong padanya hanya untuk bertemu dengan Cila yang jelas-jelas sudah sangat jahat dan menyakitinya, sampai Toni juga berpikiran kalau Raya memang sedang sengaja menguji kesabarannya.
Ponselnya berbunyi, sebuah pesan datang dari Panca, dia mengabari kalau Arsan mulai siuman dan keadaannya sudah mulai stabil.
__ADS_1
Panca memang bertugas menjaga Arsan malam ini di rumah sakit, sementara dirinya mendapat jatah giliran jaga besok.
**
Hari mulai pagi dan saat Raya terbangun dari tidurnya, wanita itu tertegun saat mendapati kasur sebelahnya yang kosong, tak di dapati suaminya yang biasa mengucapkan selamat pagi dan menciumnya dengan mesra.
Raya beringsut turun dari kasurnya, mencari-cari keberadaan suaminya yang tak dapat dia temukan baik di kamar maupun di dapur, bahkan saat dirinya mencari di ruang tamu dan ruang tengah rumahnya, Toni masih tak juga di temukan di ruangan mana pun.
Raya semakin bertambah kebingungan mana kala tak menemukan motor Toni di garasi rumahnya. Tak pernah sekali pun Toni pergi tanpa berpamitan padanya, apa Toni masih menyimpan marah padanya? Tanya Bimo pada hatinya sendiri.
Beberapa kali Raya menghubungi ponsel suaminya, namun tak juga mendapat respon, Toni tak mengangkat panggilan darinya.
Ditengah kekalutannya karena tak dapat menemukan keberadaan sang suami dan juga tak dapat menghubungi nya, justru Panca dan Dila datang ke rumahnya sepagi itu membuat Raya semakin merasa ada sesuatu yang janggal terjadi.
"Dila, ada apa?" Saat Panca tak turun dari mobilnya namun hanya menurunkan Dila di depan gerbang rumah yang di tempati Toni dan Raya itu.
"Urgent? Rumah sakit?" Raya membeo mengulang ucapan Dila.
Kemudian dia mulai menyambung-nyambungkan hilangnya Toni yang tanpa kabar sama sekali itu dengan keadaan ugent yang Dila maksud itu.
Jangan-jangan, suami nya itu menghilang karena Toni yang harus mengurus hal urgent itu, namun tetap saja, biasanya se urgent apapun itu biasanya Toni tak pernah pergi begitu saja tanpa berpamitan bahkan tanpa sepatah kata pun yang Toni sampaikan padanya.
Raya langsung memasang wajah murungnya, bahkan tak lama dari itu air matanya jatuh bercucuran, bukan hanya sedih karena tak di pamiti oleh suaminya saja, tapi juga Raya merasa sangat khawatir dengan hal urgent yang kini mungkin sedang suaminya tangani itu.
"Sebenarnya ada apa? kenapa Toni tak memberi tahu ku kemana dia pergi, bahkan dia juga tak mengatakan apapun tentang apa yang akan di lakukannya ini, aku takut dia dalam bahaya," adu Raya pada sahabatnya yang hanya bisa mendengarkan keluh kesah dan tangis Raya pagi ini.
Jujur, Dila sendiri tak di kasih tau oleh Panca tentang apa yang terjadi sebenarnya, kekasihnya itu hanya mengatkan dia harus menangani sesuatu hal yang urgent di rumah sakit tempat Arsan di rawat dan dirinya di minta untuk menemani Raya di rumahnya karena Toni juga harus menangani hal itu dengannya.
__ADS_1
Tentu saja Dila hanya bisa mengangguk patuh tanpa banyak protes, apalagi menolak perintah yang di berikan Panca padanya.
"Sudahlah Raya, sebaiknya kita doakan saja supaya mereka baik-baik saja dan tak terjadi bahaya apapun pada mereka semua." Dila berusaha menenangkan Raya dan menyingkirkan kekhawatiran berlebihan sahabatnya itu, karena bisa saja keadaan urgent yang Panca maksud itu tidak seburuk yang dirinya maupun Raya pikirkan saat ini.
Berpikiran positif sepertinya akan lebih baik untuk mereka dari pada terus menerka nerka apa yang memang tak mereka ketahui kejadian yang sebenarnya itu.
**
Di tempat lain, yaitu di rumah sakit tempat Arsan di rawat, Toni, Panca dan Sabrina sudah berkumpul.
Ada kabar dari orang yang dapat mereka percaya kalau Bagas sepertinya terlihat di sekitar rumah sakit itu, entah apa yang di rencanakan asisten Arsan itu, hanya saja ada baiknya mereka siaga bersama di sana, semakin cepat Bagas di tangkap, maka akan semakin cepat juga masalah ini selesai, karena kini hanya tinggal Bagas yang masih berkeliaran dan masih membahayakan bagi mereka dan orang-orang di sekitar mereka.
Dari yang bisa di simpulkan saat penyerangan beberapa waktu yang lalu, mereka bertiga sepakat kalaiu Bagas juga memegang peran penting dalam kejahatan terstruktur ini, Bagas juga mempunyai kepentingan khusus untuk keuntungan pribadinya, ada beberapa hal yang di jadikan Bagas sebagai target sasaran untuk di kuasainya, sehingga dia sengaja mengompori Arsan untuk melakukan ini dan itu dengan tujuan agar dia bisa ikut menikmati bahkan mungkin menguasai hasil dari kejahatan dan kecurangan yang di lakukan Arsan selama ini, dengan menggunakan topeng sebagai asisten pribadi yang selama ini di perankankannya.
Namun sayangnya ternyata semua yang di harapkannya itu harus kandas begitu saja akibat proyek yang ternyata tak berjalan sesuai dengan harapannya.
Entah apa lagi yang Bagas incar saat ini setelah semua harapannya seakan pupus seiring tertangkapnya Arsan oleh Toni Cs beberapa waktu yang lalu dan mengakibatkan kini dirinya kini harus menjadi buronan Toni Cs seorang diri.
"Kalian sudah siap semuanya?" tanya Toni pada Panca dan Sabrina.
Kedua temannya yang di tanya pun mengangguk. Mereka berniat untuk memindahkan Arsan dari rumah sakit itu, karena akan sangat beresiko jika dia tetap di rawat di tempat umum seperti ini, karena akan lebih memudahkan Bagas untuk melakukan aksi yang belum di ketahui apa maksud dan tujuannya berada di sekitar sana, lagi pula keadaan Arsan juga sudah lumayan membaik sekarang ini.
Rolan juga turut hadir di sana saat ini, dia bersikeras untuk di libatkan dalam misi ini meski Toni juga dengan tegas menolak keikut sertaan nya, namun pria tua itu tak mudah untuk di cegah dan juga tak mudah untuk berputus asa dalam memohon pada Toni yang akhirnya membiarkan Rolan ikut serta meski Toni mengabaikan keberadaan nya di sana.
Arsan berhasil di bawa dari rumah sakit itu untuk di pindahkan kembali ke rumah Sabrina, namun dalam perjalanan mereka menuju kediaman Sabrina, mobil mereka di hadang oleh sebuah mobil dua kabin yang memalangkan mobilnya di depan kap mobil yang si kendarai Toni dan Panca.
Sementara Arsan di bawa di mobil terpisah di bawah pengawasan Sabrina dan anak buahnya, juga di ikuti oleh Rolan dan beberapa anak buahnya yang mengawak mobil Sabrina yang juga membawa Arsan di dalamnya.
__ADS_1
Namun sepertinya ada mobil lain juga yang ikut menyusup dalam iring-iringan mobil itu, dan menunggu lengah dari mereka semua untuk melakukan tindakan yang bisa saja di luar dugaan siapapun juga.