Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Pura Pura Bahagia


__ADS_3

Hari sudah mulai terang, tanda pagi sudah menyapa, Toni masih setia duduk di kursi sebelah ranjang Raya tanpa beranjak sedikit pun sejak semalam.


"Toni," panggil Raya yang baru saja membuka matanya, beberapa kali dirinya mengerjap karena matanya terasa silau oleh sinar cahaya matahari yang mengintip lewat celah jendela.


Toni tersenyum menyambut Raya yang kini sudah terbangun dari tidur lelapnya,


"Apa kamu sudah merasa baikan?" tanya Toni dengan nada bicara di buat setenang mungkin, dia tak ingin membuat Raya kembali terguncang seperti semalam jika dirinya menampakan kekhawatirannya, meski jauh di lubuk hati terdalamnya diasungguh merasakan cemas yang luar biasa akan keadaan jiwa kekasihnya itu.


"Aku merasa lebih baik setiap aku melihat mu berada dekat dengan ku," ucap Raya, kini gadis itu sudah bisa tersenyum dengan begitu manis, sisa sisa kesedihan dan kesakitnnya entah kemana perginya, wajahya sudah terlihat lebih berseri.


"Jangan membuat ku cemas dengan keadaan mu, akuakan selalu berada di dekat mu." ujar Toni.


"Kamu pasti tidak tidur karena menemani ku, kasihan sekli kekasih ku ini," celoteh Raya sambil mengusap usap lengan Toni yang sejak semalam tak lepas memegangi tangan Raya sang kekasih, dia tak ingin melepaskannya barang semenit pun.


"Melihat mu tidur dengan lelap saja itu sudah cukup bagi ku, ap kamu tau, kamu mengorok semalaman" kekeh Toni menggoda Raya yang terlihat sudh lebih tenang.


"Mana ada, aku tak pernah mengorok, paling ngiler!" balasnya dengan becanda pula,


Jadilah pagi itu di mulai oleh canda riang nan hangat mereka di ruang rawat inap klinik itu.


"Apa aku boleh ke kamar mandi sebentar?" tanya Toni yang lantas di jawab dengan anggukan Raya.


"Pasti kamu menahan pipis semalaman karena tak mau berjauhan dengan ku ya?" candanya sambil mengangguk seraya mempersilahkan kekasihnya untuk ke toilet sebentar.


"OKe, aku hanya sebentar, panggil aku jika ada apa apa dengan mu!" ucap toni yang lalu bergegas meninggalkan Raya dan memasuki kamar mandi yang berada di ruangan itu.


Toni sengaja membiarkan pintu itu sedikit terbuka, karena jika terjadi apa-apa pada Raya, dirinya masih akan mendengar, sungguh se jauh itu kekhawatiran Toni akan kekasihnya.

__ADS_1


Selesai membasuh wajahnya dan menyegarkan diri beberapa saat di dalam kamar mandi, Toni tak langsung keluar dari ruangan yang letaknya bersebrangan dengan ranjang tempat Raya berbaring, pria itu mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka itu.


Betapa hati Toni kembali hancur, saat mendapati ternyata Raya sedang menangis tersedu tanpa suara, padahal sejak bangun tadi tak nampak sedikit pun raut kesedihan di wajah Raya.


Sungguh Raya sangat pintar menyembunyikan kesedihannya dari Toni, sehingga Toni mengira kalau Raya sudah semakin membaik dan tak terlalu memikirkan hal yang membuat dirinya down itu, namun ternyata Raua hanya berpura pura baik di hadapannya.


Mungkin Raya hanya tak ingin Toni terlalu khawatir atau apapun alasannya, yang jelas bagi Toni harusnya Raya tak berpura pura seperti itu di depannya, dia akan menerima apapun keadaan kekasihnya itu, tanpa ke pura puraan.


Toni sengaja mendorong pintu kamar mandi agak keras, untuk menandakan dirinya sudah selesai membasuh diri dan keluar dari tempat sempit itu.


Nampak Raya yang sibuk tadi buru buru sibuk menyeka air matanya itu tersenyum manis kembali melihat kedatangan Toni yang menghampirinya.


"Apa ada masalah? Kenapa mata mu merah seperti itu?" Toni berpura pura tak tau jika Raya tadi menangis diam diam saat dirinya di dalam kamar mandi.


"Hmm, mataku perih sekali, mungkin karena silau dari cahaya matahari," kilahnya terus berusaha menutupi apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya.


"Mungkin kamu harus memakai kacamata hitam sayang!" Seloroh Toni, berpura pura percaya dengan apa yang di katakan kekasihnya, dan dia berusaha untuk menanggapi celotehan Raya dengan candaannya.


"Iya, as you wish sayang, kita tunggu Panca dan Dila datang, ya!" Toni dengan senyuman teduh nya.


Panca memang semalam saat Raya sudah terpejam karena di beri obat penenang oleh dokter, dia memutuskan untuk pulang menjemput Dila dan membawa baju ganti untuk Raya, rencananya pagi ini dia kembali lagi ke klinik untuk menjemput Toni dan juga Raya.


***


"Bro, ada info baru dari orang-orang ku yang ada di pelabuhan," bisik Panca saat dia dan Dila baru saja tiba di klinik.


Toni memberi kode pada Panca untuk tidak membicarakan hal itu di depan Raya dengan isyarat matanya.

__ADS_1


"Sayang, kamu ganti pakaian di temani Dila, aku dan Panca tunggu di luar," pamit Toni memberi kesempatan pada kekasihnya untuk berganti pakaian sekaligus barangkali ingin berbincang antar sesama perempuan dengan Dila, sementara dirinya juga harus melanjutkan pembicaraan mengenai info yang di katakan Panca tadi di luar ruangan agar Raya tak mendengar obrolan mereka berdua.


"Lihat ini!" Panca menunjukkan sebuah foto yang tersimpan di galeri ponsel nya.


Panca membandingkan rekaman video dua pria yang di sinyalir menculik Raya dari kantor dengan gambar salah satu preman pelabuhan yang fi curigainya.


"Fix, mereka orang yang sama, salah satu orang ku tak sengaja mengambil gambar dia pada hari yang sama dimana Raya menghilang, dan lihatlah, pakaian yang dia kenakan nya bahkan sama saat dia mengapit Raya di di video itu," terang Panca, dia sampai menunjukkan dua ponselnya untuk membandingkan dan membuktikan semua ucapannya itu.


Toni menyimak pembicaraan sang sahabat dengan seksama, memperhatikan kedua gambar di ponsel Panca. Kepalanya mengangguk angguk pertanda mengerti dan setuju dengan apa yang di terangkan Panca padanya, dia sendiri pun mengakui dan setuju kalau itu orang yang sama.


"Sejak kapan kau menjadi sepintar ini?" Goda Toni dengan senyum mengejek.


"Jangan senang dulu, aku ingin tanya pada mu, mereka ini orang yang sama, kan? Mata mu juga melihat demikian, kan?" Tanya Panca meyakinkan, takutnya utu hanya asumsinya saja, secara dalam video pria pria itu memakai topi dan masker rapat sehingga wajahnya benar benar tak bisa di kenali.


"Kalau dari postur tubuh dan pakaian yang di kenakan, aku sependapat dengan mu kalau mereka orang yang sama, bahkan sampai sepatu yang di pakainya pun sama," Toni kembali meneliti dengan serius gambar gambar itu.


"Oke, anggap kita satu suara, dan asumsi kita sama. Sekarang waktunya aku memberi fakta lain, semoga saja ini tidak seperti yang ku pikirkan," sambung Panca seperti sedang bermain teka teki dan bersikap sok misterius.


"Kejutan apa lagi yang kau siapkan untuk ku?" tantang Toni menyiapkan mentalnya untuk menerima segala hal yang mungkin saja akan sangat mengejutkan untuk di ketahuinya.


"Aku yakin kau pasti akan sangat terkejut jika aku memberikan fakta yang satu ini," oceh Panca sambil matanya kembali gokus pada layar ponselnya lalu mengotak atiknya beberapa saat.


"Bagaimana pendapat mu dengan ini ?" Panca menunjukkan lagi layar ponselnya ke arah Toni.


"Bangsat! sepertinya dia cari mati dengan ku, bajingan ini, akan ku pastikan rangan ku sendiri yang akan membunuhnya!" Geram Toni saat melihat gambar pria yang tadi di curigai menculik Raya tertangkap kamera sedang berbicara dengan seorang pria yang di kenalnya.


"Jangan terburu buru, ayo kita susun rencana, ingat Raya membutuhkan mu, kita harus bermain cantik dengannya," cegah Panca.

__ADS_1


"Aku akan bermain sangat cantik dengan nya segera, setelah aku antarkan Raya ke Bandung, aku tak mau kejadian seperti kemarin terulang lagi, jika dia masih berada di sini, lagi pula itu akan memudahkan ku untuk bergerak dalam pembalasan dendam yang akan aku lakukan." Terlihat jelas gurat kemarahan di wajah dingin Toni.


"Aku akan selalu mendukung dan membantu mu!" Kata Panca yang selalu dengan tulus membantunya.


__ADS_2