
Toni memejamkan matanya beberapa detik mencari kekuatan dan keyakinan untuk dirinya mengambil keputusan yang akan di ambil nya saat ini.
Ini sulit, dia sungguh tak tau rencana busuk apa yang sedang Arsan mainkan saat ini, dan ini memang terlalu membahayakan bagi mereka ber 4, bisa saja ini jebakan yang Arsan buat seperti jebakan-jebakan yang mereka buat untuk nya dan juga untuk Raya sebelumnya.
"Aku masuk sendirian ke sana, tanpa senjata apapun!" putus Toni, jikapun terjadi sesuatu biarlah hanya terjadi pada dirinya sendiri tidak terjadi pada teman-temannya.
"Tidak bisa, kami ikut!" Sabrina dan Panca seperti sedang melakukan paduan suara, mereka menyambar dengan serentak, membuat Martin yang juga berada di sana bersama mereka melongo kebingungan.
"Aku bisa menngtasinya sendirian, kalian tunggulah di sini." Titah Toni.
Namun perintahnya tak di indahkan oleh para sahabatnya itu, mereka tak akan mungkin membiarkan Toni berjuang bahkan mati sendirian di tangan Arsan.
Tanpa di duga Sabrina dan Panca melucuti seluruh senjata yang di bawanya dan dia serahkan pada para penjaga itu,
"Kami ikut bersamanya!" Ucap Sabrina seraya memberikan dua glok yang dia sembunyikan di balik bajunya.
"Dan kau, bagaimana?" tanya para penjaga itu pada Martin yang hanya terdiam mematung seakan masih belum bisa memutuskan langkh yang harus di ambilnya.
"Kau boleh pergi dan tak usah ikut denngan kami jika kau ragu-ragu!" Kata Sabrina.
"A-aku ikut bersama mu, aku ikut bersama kalian!" Martin tergagap, rasanya untuk kembali seorang diri pun dia rasa tak mungkin bisa selamat, anak buah Arsan tak mungkin membiarkannya lolos begitu saja, akan sant mudah menghilangkan nyawanya, apalagi saat dirinya seorang diri seperti itu, sehingga dia memilih untuk mengikuti langkah yang di ambil kekasih dan teman-temannya yang lain, setidaknya dia tak harus sendirian jika pun harus mati.
__ADS_1
"Masih ada waktu untuk kau pergi, tak usah ikut kami!" Timpal Panca yang melihat kergauan dari pancaran mata Martin yang begitu kentara.
"Ti-tidak, aku sudah memutuskannya!" jawab Martin ikut melucuti tiga senjata yang di bawanya yang dia sembunyikan di balik jaket dan di balik pinggangnya itu
"Baiklah kalian semua ikut kami!" perintah para penjaga itu setelah memeriksa dan memastikan tak ada lagi senjata yang tersisa di tubuh ke empat orang itu.
Ke empat orang itu berjalan di depan dengan para penjaga menggiringnya di belakang mereka memperhatikan setiap gerak gerik yang di lakukan oleh Toni Cs, memastikan tak ada trik atau rencana yang sedang di sembunyikan oleh para tamu spesial bosnya itu.
Sementara Toni, Panca dan Sbrina mulai berkomunikasi lewat tatapan mata mereka, sementara Martin hanya berjalan lurus saja tk mengerti dengan kode komunikasi yang di lakukan tiga orang lainnya yang sedang bersamanya itu.
Memang Martin tak banyak tahu tentang kode-kode mereka khususnya yang sering di pakai di dunia hitam, dan mereka juga tak berkeinginan untuk memberi tahu Martin,karena mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk kegiatan belajar dan mengajar, jadi biarkan saja dia menjadi satu-satunya orang yang tak tau dengan kode mereka saat ini.
"Selamat datang di rumah kami!" tawa Arsan dan Bagas mebahana saling bersahutan di ruangan itu.
"Tak usah terburu-buru, dia berada di tempat yang sangat aman saat ini, ayo kita mengobrol santai, aku sudah menyiapkan banyak hidangan untuk menyambut kedatangan kalian malam ini." Arsan menunjuk meja yang penuh dengan hidangan makanan dan minuman di atasnya, seraya mempersilakan para tamunya untuk menikmati hidangan yang telah dipersiapkannya untuk mengulur waktu agar Toni Cs tak terus menanykan keberadaan Raya yang jelas-jelas tak ada bersamanya.
"Aku tak tertarik dengan jaman mu, aku hanya ingin bertemu dengan istri ku, lalu semua senjata
itu bisa menjadi milik mu!" Toni terus mengintimidasi.
Arsan melirik ke arah Bagas, lantas sang asisten itu mendekatkan kepalanya ke arah telinga pria tua itu dan berbisik,
__ADS_1
"Putri mu itu di pastikan sudah datang ke sini, anak buah kita masih mencarinya, hanya saja belum ketemu!" Bisik Bagas memberikan informasi pada bos nya yang terlihat berpura-pura tenang padahal hatinya sedang harap-harap cemas, takut jika anak buahnya tak juga menemukan putrinya yang akan di jadikan alat tukar dengan senjata jarahan yang kini berada di tangan Toni Cs.
"Aku perlu melihat keberadaan senjata-senjata itu, sebelumkau bertemu istri mu, bisa saja kau menipuku, kan?" kilahnya berusaha mengecoh dengan menuduh lawan bicaranya.
Begitulah trik Arsan dalam menutupi kebohongannya, namun sayangnya itu tak akan pernah berlaku bagi Toni, apalagi dia tahu betul kalau Istrinya memang tidak berada di sana, dia hanya sengaja ingin mempermainkan pria tua yang kini terlihat bodoh di mata Toni Cs dan diam-diam mereka menertawakan Arsan dan Bagas dalam hati mereka.
"Haha sepertinya kau sedang takut dengan bayangan mu sendiri pak tua!" Tawa Toni terdengar bagai suara ejekan di telinga Arsan dan Bagas karena merasa sangat tersinggung dengan ucapan Toni yang jelas-jelas merupakan sebuah ucapan fakta itu.
"Apa maksud mu!" Bagas terbawa emosi, dia benar-benar sangat tersinggung dengan tawa Toni yang mengejeknya itu.
"Mana istri ku yang sudah menganggap mu sebagai keluarganya, bahkan saking percaya nya pada mu dia sampai memanggil mu dengan sebutan paman, karena merasa kau satu-satunya keluarga yang dia punya selain ayahnya, tapi ternyata--" Toni berjalan mengelilingi Bagas dan Arsan yang hanya terdiam mendengarkan apa yang di katakan oleh Toni yang sedang mengingatkan pada mereka betapa istrinya sangat menyayangi dua pria yang ternyata dengan teganya hanya menjadikan Raya sebagai senjata dan alat tukar untuk meraup keuntungan pribadi mereka, mengesampingkan ikatan darah yang mengalir di antara mereka.
"Kalian lebih iblis dari pada iblis!" umpat Toni tak dapat lagi bisa menyembunyikan rasa marahnya.
"Tutup mulut mu, tak ada yang meminta pendapat mu tentang apa yang kami lakukan, sebaiknya cepat tunjukan di mana keberadaan semua senjata itu?" bentak Arsan, sambil mengeluarkan senjatanya lantas menodongkannya tepat di kepala Toni, telinganya terasa sangat panas mendengar lontaran kata-kata pedas yang di sampaikan Toni padanya membuat pria tua itu merasa tertampar harga dirinya oleh kata-kata pria yang notabene adalah menantunya itu.
"Kenapa? Kau merasa tersinggung atau bahkan mengakui apa yang aku katakan itu adalah sebuah fakta? Bahkan macan pun tak memakan anak nya sendiri, aku sendiri bingung, binatang apa sebenarnya kau ini?" Tak ada rasa takut sedikit pun pada diri Toni meski Arsan mengintimidasinya dengan senjata yang di pastikan akan mengancurkan kepalanya jika sampai Arsan menarik pelatuk senjatanya dan memuntahkan peluru untuk menembus keningnya.
Tak sedikit pun Toni terlihat gentar, sementara ke tiga temannya yang lain yaitu Panca, Sabriana dan Martin kini sedang merasakan ketar ketir menyaksikan pemandangan dari aksi nekat Toni itu, entah bagimana ceritanya jika saja sampai ketakutan mereka bertiga terjadi.
"Lion, tenangkan diri mu, bukan seperti ini yang ada dalam rencana kita, tolong ingat istri mu, jangan sampai salah melangkah, ingat aku akan menikahi istri mu jika sampai kau mati konyol di sini!" Ancam Panca.
__ADS_1
"Aku akan membunuh mu sebelum itu terjadi!" Pekik Toni dengan mata membelalak penuh.