
"Lion, tenangkan diri mu, bukan seperti ini yang ada dalam rencana kita, tolong ingat istri mu, jangan sampai salah melangkah, ingat aku akan menikahi istri mu jika sampai kau mati konyol di sini!" Ancam Panca.
"Aku akan membunuh mu sebelum itu terjadi!" Pekik Toni dengan mata membelalak penuh.
Toni juga mulai mengendalikan emosinya, benar apa yang di katakan oleh Panca kalau kemarahannya itu bukan bagian dari rencananya, sehingga sebisa mungkin dia mengendalikan dirinya agar tidak terlarut dalam arus kemurkaannya.
"Jadi bagaimana, bisa kita mulai transaksi ini?" Tanya Arsan yang sudah menurunkan senjatanya dan memasukan nya kembali ke dalam saku jas dalamnya.
"Ini bukan transaksi namanya, tapi kau ingin memiliki senjata itu secara gratisan, kau bahkan tak bisa menunjukkan di mana keberadaan istri ku, bagaimana keadaannya, lantas bagaimana bisa aku bisa menyerahkan semua senjata itu pada mu?" sinis Toni.
"Oh, betapa malangnya istri mu mempunyai suami yang bahkan lebih memberati senjata dari pada keselamatan istrinya sendiri," ucap Arsan bermaksud menyindir Toni.
"Lebih kasihan lagi istri ku harus mempunyai ayah iblis seperti mu, alih-alih melindunginya, namun ternyata ayahnya lah yang menyakitinya!"
"Mulut mu memang tak bisa kau jaga, kau memang menginginkan peperangan dengan ku!" Arsan semakin geram mendengar umpatan demi umpatan yang terlontar dari bibir Toni.
"Lebih tepatnya ingin membunuh mu!" tantang Toni.
"Nyali mu memang besar sekali, sayangnya nyali besar saja itu tak cukup, kau perlu ini dan ini--menunjuk kepalanya dan mengacungkan senjatanya-- untuk mengalahkan ku, dan sayangnya kau tak punya keduanya, lihat sekeliling mu, sekali gerakan mencurigakan saja mereka siap menghabisi mu!" Kini giliran Arsan menunjuk puluhan anak buahnya yang siaga dengan senjata di tangan mereka.
"Kami ke sini untuk menyerahkan senjata yang kau inginkan dan mengajak pulang istrinya yang yang kau tahan, bukan untuk adu bacot dengan mu! Cepat selesaikan semua ini, tak usah mengulur waktu, aku muak melihat wajah mu yang menjijikan itu!" Sabrina memutar bola matanya jengah melihat Toni dan Arsan yang terus saja beradu argumen sejak tadi dan tak ada habisnya.
Tentu saja Sabrina tau kalau itu semua adalah usaha Arsan untuk mengulur waktu karena sampai saat ini anak buahnya belum berhasil menemukan Raya di manapun.
__ADS_1
"Haha, anak Cobra mulutnya berbisa juga! Ya sudah, ayo cepat beri tahu kami di mana kalian menyembunyikan senjata senjata milik Arsan itu, agar semua cepat selesai!" Dengan lancangnya tangan Arsan terjulur dan menjawil dagu Sabrina, sehingga wanita itu spontan melayangkan tinjunya ke arah rahang kanan pria itu, sontak saja tubuh Arsan langsung oleng dan tersungkur sesaat setelah menerima layangan tinju yang tiba-tiba dan tanpa di duganya itu.
Seketika keadaan menjadi kacau karena anak buah Arsan merangsek mendekat lalu membentengi bosnya dengan tubuh mereka yang serentak berdiri tegap menyembunyikan tubuh Arsan di balik punggung mereka.
Puluhan moncong senjata mengarah pada Toni Cs yang juga langsung memasang formasi yang memang sudah mereka pelajari, kecuali Martin tentu saja, dia hanya mengikuti apa yang ketiga orang lainnya itu lakukan, karena memang dia juga belum menguasai masalah formasi saat berperang dan lain sebagainya, tapi biarlah, sejauh dia memang berniat ikut dalam penyerangan ini, pria itu pasti akan bisa mengikuti apa yang lainnya lakukan, bukan kah semua itu tergantung niat, tekad, dan keinginan?
"Bajingan, kalian cari mati rupanya!" Teriak Arsan yang mengusap rahangnya yang terasa nyeri dan panas bahkan sepertinya bergeser dari tempat yang seharusnya karena hanya untuk berbicara saja dia merasakan kesakitan yang luar biasa di rasakan di sekitar mulut dan lehernya itu.
Arsan terus meringis merasakan kesakitan yang sangat terasa menyiksanya, umpatan demi umpatan untuk Sabrina juga terus dia ucapkan dengan terbata karena bicaranya sambil menahan sakit.
"Tua bangka seperti mu memang sudah seharusnya di binasakan, menjijikan sekali kelakuan mu, sekali lagi kau berani menyentuh ku, ku pastikan tangan mu akan terpisah dari tubuh mu!" marah Sabrina berteriak.
Wanita itu tak bisa lagi mentolerir kelakuan bejat Arsan yang telah dengan lancang melecehkan dirinya, tentu saja dia tak akan tinggal diam menerima perlakuan Arsan yang merendahkan dirinya sebagai wanita itu.
"Tangkap dan habisi mereka semua!" titah Arsan pada para anak buahnya, karena kini pria tua itu mulai kehabisan kesabaran menghadapi empat orang yang di anggapnya sudah sangat terlalu mengganggu nya itu.
"Persetan dengan senjata itu,, mereka semua harus mati, setidaknya kita sudah tau kalau senjata itu ada di tangan mereka, dan kita bisa mencarinya di sekitar tempat tinggal mereka!" Arsan bergeming untuk tetap memerintahakan agar para anak buahnya menghabisi ke 4 orang itu.
Aba-aba dari Toni, tepat pada hitungan ke 3 mereka langsung berlari keluar dari rumah itu dan membawa semua para anak buah Arsan agar mengikuti pelarian mereka menuju ke tengah hutan, agar masuk ke dalam jebakan, di mana Rolan dan anak buahnya sudah menunggu untuk menghadang mereka semua dan menghabisinya tanpa ampun.
Berondongan senjata dan hujan peluru mewarnai pelarian ke empat orang yang seolah menjadi umpan hidup untuk para buruan yang sengaja mereka giring menuju ke arah kematian.
Dengan lincahnya tubuh mereka meliuk liuk menghindari rentetan tembakan yang mengarah pada mereka namun semuanya luput dan berhasil mereka hindari.
__ADS_1
"Kalian baik-baik saja?" teriak Toni memastikan ketiga temannya itu dalam keadaan baik, dia tak akan rela jika salah satu di antara mereka harus terluka apa lagi kalau harus meregang nyawa.
"Kami oke, ini mengasyikan seperti berlari di bawah kembang api tahun baru!" teriak Sabrina masih bisa bercanda bahkan di saat keadaan se mencekam ini.
"Sialan, peluru kau samakan dengan kembang api!" gerutu Panca yang terus saja berlari tanpa menoleh ke belakang sekali pun.
"Haha, sesekali nikmati ketegangan biar lebih berasa!" timpal Sabrina, bahkan kini di tambah dengan tawa segala.
"Kau sakit jiwa!" Sambar Panca semakin kesal saja.
Bagaimana bisa wanita itu masih bisa bercanda di antara hidup dan mati seperti ini, bukankah hanya orang yang sakit jiwa yang mampu melakukan itu semua, pikir Panca.
Para anak buah Arsan yang di pimpin sendiri oleh Arsan dan Bagas dalam mengejar empat orang buruannya itu, benar-benar terlihat bak kawanan pemburu yang sedang mengejar hewan buruannya.
Saat sudah sampai di tengah hutan di titik dimana sudah di setujui sebagai tujuan akhir atau tempat pemberhentian akhir yang sudah di sepakati oleh Toni dan Rolan sebelumnya.
"Kalian tak bisa berlari kemana-mana lagi, kalian sudah terjebak," teriak Bagas menghentikan larinya dan memerintahkan para anak buahnya untuk berhenti juga di hadapan ke rmpat orang buruannya itu.
Nafas mereka nampak tersenggal-senggal karena pelarian yang terkadang harus di bumbui dengan loncatan kqrena harus menghindari akar pepohonan yang menghalangi langkah pelarian mereka di kegelapan.
"Dasar pengecut kalian semua, mau lari kemana lagi? Aku tak akan membiarkan kalian keluar dari hutan ini dalam keadaan hidup, bangsat!" umpat Arsan yang baru saja tiba di tempat pemberhentian itu karena tenaga tuanya membuat dia ketinggalan jauh saat berlari mengejar Toni Cs.
"Sepertinya kau yang harus hati-hati, kau terlihat hampir mati hanya karena berlari se dekat itu?" Ejek Sabrina, karena melihat wajah Arsan yang pias dengan nafas yang ngos-ngosan akibat kehabisan oksigen saat berlari tadi.
__ADS_1
Dengan cekatan seorang anak buahnya memberikan sebotol air mineral untuk di minum oleh bosnya, agar Arsan bisa kembali menyesuaikan dan menstabilkan lagi keadaan tubuhnya.
"Kau sudah jompo tapi masih saja memaksa untuk berada di dunia hitam ini, bahkan di dunia fana ini juga kau sudah tidak di perlukan!" ejek Toni memperhatikan setiap gerak gerik Arsan di hadapannya.