
Beberapa saat Toni dan Raya terdiam, mendengar ucapan Toni yang menyinggung tentang kisah takdir mereka di hari esok membuat mereka sibuk dengan lamunannya sendiri sendiri, entah apa yang sedang mereka lamunkan, yang jelas mereka hanya menyimpan lamunannya untuk diri mereka sendiri, tak berani mengungkapkan atau menebak nebak apa yang akan terjadi selanjutnya, mereka hanya bisa bersyukur, setidaknya hari ini mereka masih di ijinkan Tuhan untuk bersama, ada baiknya mereka tak menyia nyiakan kesempatan yang entah kapan bisa datang lagi itu dengan sebaik baiknya, mereka tak ingin bersitegang atau beradu argumen lagi, mereka harus bahagia, setidaknya hari ini, karena esok tak ada yang tau apa merekamasih bisa bersama?
"Aku mendengar cerita tentang ayah mu dari Panca tadi pagi, apa rencana mu selanjutnya ?" tanya Toni mulai menyinggung masalah Arsan, dia mendapat cerita itu dari Panca tadi pagi saat dirinya baru saja sampai di rumahnya ini.
Raya menghela nafas berat, harus di ingatkan lagi tentang masalah ayahnya yang membuatnya tak bisa tidur nyenyak semalaman itu, tentu saja membuat wajah Raya berubah muram, memikirkan masalah yang bak benang kusut yang tak tau sebelah mana ujungnya itu membuat kepalanya seperti mengeluarkan asap akibat kepanasan.
"Sepertinya di mulai dari aku harus mencari keberadaan Bagas dulu, aku merasa curiga kalau Bagas ada andil dalam semua permasalahan ini." kata Raya mengungkap rencananya dalam waktu dekat.
"Itu bagus, nanti biar Panca dan Dila tetap menemani mu, tak usah melibatkan Martin !" kecemburuan singa jantan itu kembali terlihat jelas.
"Ish, kamu ini masih saja cemburu dengan Martin, dia banyak membantuku, lagi pula aku sudah tak punya perasaan apa apa lagi padanya,"
"Tapi aku benar benar tak suka !" keukeuh Toni.
***
Di tempat lain,
Seorang wanita tampak tertunduk ketakutan dengan tangan di ikat pada sebuah kursi kayu dan mulut di sumpal kain.
"Kau bodoh, kau ceroboh,,,,! bukankah aku sudah bilang jangan keluyuran karena Toni dan Sabrina sedang berada di sana, tapi kau malah enak enakan nongkrong sambil ngopi !" hardik seorang pria geram, tangannya menjambak rambut Karina dengan kasar,
Ya, wanita yang sedang di ikat dan di sumpal mulutnya itu adalah Karina, bahkan wajahnya sudah terlihat banyak lebam dan bengkak sepertinya itu bekas siksaan orang yang kini menjambakanya dengan penuh marah.
Namun Karina tidak bisa menjawab ataupun membela diri, karena mulutnya kini di sumpal kain, dia hanya bisa menerima dengan pasrah siksaan yang kini di terimanya, meski badannya penuh luka, meski hidupnya harus terbatas tak sebebas dulu, setidaknya dia masih hidup, itulah yang di pikirkannya.
Pria itu lantas memerintahkan anak buahnya untuk membuka kain yang menjadi sumpalan mulut Karina, dia ingin mendengar pembelaan dari mulut wanita yang di anggapnya sangat ceroboh karena hampir saja tertangkap oleh Toni dan Sabrina sehingga bisa saja membongkar semuanya.
__ADS_1
"Katakan jalllang,,, kau bisa menjamin kalau mereka tak membuntuti mu ?" bentaknya.
"Ti- tidak, aku yakin sudah berhasil mengecoh mereka, aku bisa menjaminnya, tolong jangan siksa aku lagi !" mohon Karina dengan memelas, airmatanya bahkan sudah tak dapat menetes lagi,.
Menyesal ? ya,,, itu yang kini sedang Karina rasakan, dia benar benar menyesal telah mengambil keputusan untuk mengikuti permainan yang ciptakan pria yang kini berada di hadapannya itu, bila saja dirinya boleh memilih, tentu saja dulu dia akan lebih memilih pergi, tapi keserekahan malah menyeretnya ke dalam lembah penderitaan yang bahkan membuatnya merasa hidup segan mati pun tak mau.
"Awas saja kalau sampai kau melakukan hal bodoh lagi, aku pastikan aku akan membuat sepanjang hidup mu menderita, kau dengar itu !" bentaknya lagi sambil sekali lagi tangannya melayang menampar pipi Karina yang sudah lebam, bercak merah darah pun terlihat di sudut bibir Karina yang sepertinya sedikit robek akibat kencannya tamparan yang di layangkan pria itu.
"Arsan, kenapa kau memukul ku lagi ? aku mohon, aku minta maaf, aku berjanji tak akan ceroboh lagi, ingat,,, bagaimana pun aku masih istri mu !" Karina memelas pada pria yang ternyata tak lain dan tak bukan adalah Arsan sang suami yang kini berubah bak seekor monster ganas di matanya.
Sungguh dia tak menyangka, Arsan yang dulu dikenalnya ebagai pria yang sangat penyayang padanya, dan tak pernah marah sedikit pun, kini bahkan setiap saat mengeluarkan kata kata kasar dan tak segan untuk menyiksa fisiknya.
Ah,,, andai saja waktu itu saat dirinya di culik ke rumah itu tak menerima tawaran kerja sama untuk mengikuti permainan iblis ini, andai saja dirinya tak tergiur oleh iming iming harta berlimpah yang akan di berikan pria itu, ah, andai,,, sayangnya kini Karina hanya bisa menyesal dan tenggelam dalam semua kata andai yang seakan memenuhi dunianya saat ini.
"Semua pukulan dan siksaan ku pada mu itu tak akan pernah sebading dengan penghianatan yang kau lakukan di belakang ku, bercinta setiap hari dengan si Martin yang kau akui sebagai sepupu mu itu, dan kalian merencanakan untuk menguasai semua harta ku ,ka pikir kau pintar, huh ?!?" rambut Karina di jambak dan di tarik sekuat tenaga sampai kepala Karina mendongak ke atas, wajahnya meringis menahan sakit serasa semua rambutnya akan lepas dari kulit kepalanya.
"Enak saja, Mati terlalu mudah untuk mu, kau harus hidup dan menerima semua kesakitan atas balasan semua kejahatan mu pada ku," ucap Arsan melepaskan dengan kasar jambakan tangannya dari kepala istri keduanya itu.
"Lepaskan ikatannya, dan suruh dia untuk segera ke dapur untuk masak, dan pastikan jallang ini untuk mengantarkan makanan ke kamar ku sepuluh menit lagi,!" titah Arsan pada salah satu anak buahnya yang berjejer di ruangan itu.
Sepuluh menit kemudian, pintu kamar Arsan di ketuk dari luar, Karina membawa baki berisi makanan untuk pria yang masih berstatus sebagai suaminya namun kini selalu menyiksanya itu.
Mata Karina terbelalak sempurna saat pintu terbuka dan nampak pemandangan yang seakan menyiksa mata dan batinnya kini, seorang wanita yang usianya lebih muda darinya kini sedang terlentang nyaris tak mengenakan busana, di atas rajang yang biasa dirinya dan Arsan jadikan tempat untuk mereka tisur dan memadu kasih, semantara Arsan duduk di tepi ranjang dengan hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada, pria setengah baya yang masih terlihat gagah di usianya yang takmuda lagi itu menatap Karina dengan tajam.
"Apa yang kau lihat ? Cepat letakkan makanannya di meja sini, aku dan kekasih ku ini kelaparan," bentaknya, seraya tersenyum pada wanita muda yang tampil dengan mempertontonkan hampir seluruh tubuhnya, tangan Arsan malahan dengan sengaja mengerayangi dada wanita itu saat Karina mendekat hendak menaruh baki berisi makanan di meja sebelah ranjang itu.
Karina berdecak pelan dan menggelengkan kepalanya, sungguh dirinya ingin bersikap masa bodoh dengan apa yang di lihatnya sekrang ini, Karina hanya ingin hidup damai dan bebas saja, kalau pun kesempatan itu masih ada untuknya.
__ADS_1
"Apa kau cemburu, sayang ? Kau lihat, bukan hanya kau yang bisa mendapatkan pasangan lebih muda dan bercinta di atas kasur ini, kasur yang biasa kau jadikan tempat untuk bermain gila dengan kekasih mu itu, apa kau mengingatnya ?" Arsan menyeringai sambil mengelus pipi Karina yang penuh lebam akibat perlakuan dirinya itu.
"Aku tidak cemburu, silahkan lakukanapa saja yang membuat mu senang, asal jangan sakiti aku," ucap Karina tegas.
"Baiklah, kalau kau tidak merasa cemburu," Arsan kembali berbalik ke arah wanita di atas ranjangnya yang sejak tadimenonton pertengkaran suami istri yang tidak tau apa permasalahan yang membuat mereka bersitegang seperti itu, bagiinya dia hanya menjalankan tugasnya saja, yaitu di bayar untuk memuaskan pria yang membayarnya.
Karina pun ikut membalikan badannya da bergegas melangkah ke arah pintu untuk meninggalkan kamar terkutuk itu.
Kamar yang dulu dia tempati bersama Arsan, dan memang sering kali di jadikan tempat untknya berscinta dengan Martin, Ah,,, martin dimana dia sekarang ini, andai saja dirinya bisa meminta tolong pada mantan selingkuhannya itu.
Ya,,, di sini lah mereka, di rumah lama milik Arsan Lubis yang terakhir kali di buat seolah rumah ini di sita oleh pihak Bank, tentu saja itu hanya sebuah tak tik licik dan bagian dari skenario yang di buat Arsan. (sssttt,,,nanti othor bisikin ya cerita lengkapnya di bab lain)
Namun langkah Karina terhenti saat tepat dirinya berada di depan pintu kamar dan hendak melangkah ke luar kamar.
"Siapa yang menyuruh mu pergi ?" seru Arsan menghentikan langkah Karina.
"Duduk di sana !" tunjuk Arsan pada sofa yang berhadapan langsung dengan ranjang tempat dirinya dan wanitanya terbaring sekarang ini.
"Ta- tapi,,," gugup Karina, entah apa lagi yang akan di perbuat Arsan padanya saat ini.
"Kenapa ? Bukannya kau tadi bilang bahwa kau tak merasa cemburu ? Kalau begitu, diam dan duduk di sana, dan ingat,,, jangan alihkan pandangan mata mu dari sini, tatap aku bekerja di sini !" Arsan tersenyum penuh misteri.
"Kau- kau gila Arsan !" tolak Karina, mana mungkindia di suruh menonton suaminya bercinta dengan wanita lain,
"Jangan sok suci Karina, bahkan kau pernah berada di posisi wanita ini dulu, dan anggap saja kau saat ini sedang beperan sebagai Maria, kau akan merasakan apa yang di rasakan ibu kandung Raya saat menonton kita bercinta di depan matanya, karma terlalu cepat datang pada mu Karina !" Arsan tertawa terbahak melihat wajah Karina yang seakan pucat pasi sat ini.
Apa benar ini Karma yang mulai datang silih berganti menyapanya, apa Maria mulai membalas dendam dari alam sana karena dulu dia menggoda dan merebut suaminya?
__ADS_1
Airmata mulai menetes di pipi Karina, bukan karena pertunjukan panas yang sedang di sajikan Arsan dan wanita nya di atas ranjang di depan matanya, namun airmata penyesalan, menyesali semua dosa dirinya di masa lalu, sungguh dia tak pernah menyangka jika keserakahanya, kecintaannya pada harta dan uang merubahnya menjadi manusia jahat, mengerikan, dan berakhir menyedihkan seperti ini.