Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Dua Lima


__ADS_3

Toni terlihat kebingungan,


'What,,, punggung ?' bagaimana cara dia memeriksanya, bukankah itu berarti gadis itu harus menarik blouse nya agar dia bisa melihat apa yang terjadi di sana.


"Emh,,, apa kita ke rumah sakit saja ?" ucap Toni ragu.


"Aku tak kuat, ini sakit sekali !" tangisan Raya pecah dan semakin menjadi.


"Ssstttt,,, jangan menangis seperti itu, oke,, oke,,, aku akan membantu mu," Toni menaruh telunjuk di depan bibirnya agar Raya berhenti menangis, dia takut tetangga kost nya akan salah paham bila mendengar rintihan Raya di jam segini.


Toni memegang baju bagian belakang Raya dan hendak menariknya ke atas, namun tangannya di jegal si pemilik tubuh.


"Kamu mau ngapain ?!" pekik Raya.


"Bagaimana aku bisa melihat luka mu di sana, kau kira mataku bisa tembus pandang, huh ?" jawab Toni kesal.


Cekalan tangan Raya pun mengendur dan terpaksa membiarkan Toni melihat punggungnya, sakitnya sudah sangat tak tertahankan dan sangat menyiksa baginya, Toni mencoba mengangkat blouse itu ke atas, namun itu sangat sulit, karena blouse yang di pakai Raya lumayan ketat.


"Sepertinya kau harus membuka kancing depan bajumu, ini sangat sulit aku buka," ucap Toni sedikit ragu.


Jantung Raya berdetak kencang, membuka kancing depan berarti membiarkan dadanya terbuka juga, ah,,, situasi macam apa ini, sungguh membuatnya dilema, karena ini pengalaman pertamanya harus memperlihatkan bagian tubuhnya pada lawan jenis, tapi juga dia butuh pria itu memeriksa bahkan mengobati lukanya yang terasa semakin sakit,


'Sangat memalukan,!' batinnya.


Situasi yang serba salah ini juga sukses membuat jantung Toni seperti akan melompat dari tempatnya.


Ini bukan pengalaman pertama bagi Toni melihat bagian tubuh wanita, di klub banyak sekali wanita yang berpakaian minim dan memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya, namun ini lain cerita, karena yang di hadapannya kini adalah Raya, dia berbeda di mata Toni.


Dengan gerakan sangat pelan Raya membuka seluruh kancing depan blousenya, sementara Toni memalingkan wajahnya ke arah lain, dia tak ingin di anggap memanfaatkan keadaan.


Raya memeluk erat bantal untuk menutupi tubuh bagian depannya setelah dia membuka seluruh kancing depan bajunya.


"Cepat lihat, ini sakit sekali !" ucap Raya mengisyaratkan kalau Toni sudah bisa menghadap ke arahnya.


Sedikit ragu meski sudah mengumpulkan semua nyalinya, akhirnya Toni menghadapkan pandangannya ke arah punggung mulus seputih susu dengan penutup dada bagian belakang berwarna hitam berenda yang seakan menjadi point center dari tubuh molek itu.

__ADS_1


'Ah,,, sial,,, fokus,,, fokus,,,!' Toni memaki dirinya sendiri yang pikirannya traveling kemana mana, dan dia berusaha menepis semua itu dari kepalanya.


Diperhatikannya punggung yang sudah terbebas dari blouse itu, tepat di tali penutup dada yang melingkar di punggungnya itu terdapat memar biru keunguan yang cukup besar.


"Sepertinya ada yang salah dengan punggung mu, mungkin tulangnya geser atau bahkan retak, harus di rontgen, biar jelas, tapi sejauh yang aku tau ini pasti cedera tulang," ucap Toni menebak nebak, dirinya


yang sudah terbiasa dengan masalah luka dalam dan luka luar, sekilas saja sudah bisa tahu kalau punggung Raya mengalami cedera tulang.


"Jangan menakut nakuti,,, apa punggung ku harus di operasi, di amputasi ? Atau di apakan, huaaaa,,,,?" panik Raya ketakutan, tangis gadis itu semakin menjadi,


Mana ada ceritanya punggung di amputasi,! otak Raya terkadang error bila sedang ketakutan.


Toni malah ikut panik mendengar raungan tangis Raya yang semakin keras, waktu sudah menunjukan pukul setengah 6 pagi, para penghuni kost sebagian pasti sudah bangun, apa kata mereka kalau mendengar ada suara tangisan wanita dari dalam kamarnya di pagi buta begini.


"Tolong diam, punggung mu akan semakin parah dan semakin sakit kalau kau terus menangis seperti itu !" ucap Toni seperti sedang menakut nakuti anak TK.


"Apa iya ? Apa kalau aku menangis akan bertambah parah ?" Raya berhenti meraung, dan kini hanya terisak, dia takut kalau kebohongan yang di katakan Toni itu benar adanya.


"Tentu saja, salah satu temanku ada yang retak tulang tangannya, gara gara terus menangis jadi patah tulangnya !" bohong Toni lagi setelah melihat sepertinya Raya percaya pada kebohongan pertamanya.


"Aku akan membeli sarapan untuk mu makan, lalu kita ke rumah sakit, aku juga akan mampir ke sasana, aku akan meminjam mobil untuk membawa mu ke rumah sakit," ucap Toni.


"Jangan pinjam mobil Cila,! Nanti dia tau aku di sini bersama mu, bagaimana kalau dia salah paham dan marah pada kita ?" jawab Raya.


"Lantas kita mau naik apa ke rumah sakit ? Gak mungkin naik motor lagi, kan ? Lihat keadaan mu sekarang ?" Toni balik bertanya.


"Pokoknya aku gak mau, aku mau naik taksi aja,!" rengek Raya, ada rasa tak rela bila sampai Cila tau dirinya bersama Toni semalaman dan nanti sahabatnya itu melarang Toni untuk bertemu dengannya lagi.


"Terserah kau saja lah,,! Aku beli sarapan dulu !" ucap Toni, bagaimana bisa gadis itu mengira dirinya akan meminjam mobil Cila, padahal dirinya hanya akan meminjam kendaraan operasional sasana yang biasa di pakai untuk para pelatih dan pengurus sasana, sementara dirinya meski bukan pelatih dan pengurus di sana akan dengan bebas memakai kendaraan operasional itu.


Toni membuka dua bungkusan nasi dengan ayam goreng cepat saji yang dia beli di gerai ayam goreng ternama yang berada di ujung jalan, dan di sodorkannya pada Raya, dia tak tau selera makanan Raya seperti apa, tapi kalau ayam tepung dari brand ternama itu paling tidak mungkin bisa di telan oleh orang orang se level Raya, pikirnya simple.


"Kenapa aku tak di beliin ikan salmon seperti yang kamu makan waktu itu, sepertinya enak ?!" protes Raya.


"Jangan gila, itu bukan salmon, tapi ikan tongkol, kamu gak bakal suka !" kesal Toni yang sudah menghamburkan banyak uang untuk membelikannya makanan mahal menurut ukurannya, namun Raya malah meminta nasi bungkus dari warteg.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Panca datang ke tempat kost sempit itu, rupanya Toni akhirnya meminta bantuan pria oriental itu untuk mengantar dirinya dan Raya ke rumah sakit.


Raya pun tak protes atau menolak saat tau ternyata Panca yang akan mengantar mereka.


Panca memang lumayan dekat dengan Toni, dulu Toni sempat menyelamatkannya dari amukan sindikat pencuri kendaraan yang merasa Panca merebut barang hasil curian mereka, padahal dalam hal itu Toni hanya berperan sebagai penadah, tidak ada hubungan dengan sindikat mana pun, dan barang itu dia beli dari salah seorang anggota sindikat yang berhianat dan menjual barang padanya.


Semenjak Toni menyelamatkannya dari amukan sindikat berbahaya itu dan hampir saja merenggut nyawanya, Panca menjadi akrab dengan sang singa jantan itu.


"Biar aku saja !" Kata Toni saat Panca ingin membantu membawa Raya ke dalam mobil.


Dengan sigap Toni menggendong tubuh Raya yang hanya bisa pasrah itu ke dalam mobil, rasanya tidak rela jika ada pria lain menyentuh gadis itu, meskipun itu orang yang dia kenal sekalipun.


"Udah gue bongkar tuh kendaraan, fix ada yang sengaja memotong kabel rem dan mengharapkan pacar lu celaka !" beber Panca menceritakan penemuannya.


Toni terdiam, dia pun tak bereaksi apa apa saat Panca mengira kalau Raya adalah pacarnya, biarlah Panca berpikir sesukanya tentang dirinya dan Raya, saat ini ada yang lebih menarik dari keterangan Panca tadi, sebetulnya dia tak ingin berburuk sangka pada Martin dan Karina, tapi rasanya selain kedua orang itu, tak ada lagi yang sangat mengharapkan kematian Raya selain mereka berdua.


Raya yang duduk di kursi belakang menarik ujung baju Toni agar dia melihat ke arahnya yang tepat berada di belakangnya itu.


Toni memutar badannya menoleh ke arah Raya.


"Kenapa ? Apa yang sakit ?" tanya Toni, kecemasan segera nampak di wajahnya.


"Aku takut !" lirih Raya menahan tangisnya karena ketakutan.


Melihat itu, hati Toni seakan merasa ikut pilu, betapa kejamnya mereka yang menjadikan gadis sepolos itu sasaran kejahatan, bahkan sampai tega berniat menghilangkan nyawanya hanya demi harta dan kekuasaan, Toni pun hanya menatapnya dalam tanpa terucap kata apapun, padahal hatinya seakan berontak dan ingin sekali berkata, 'Tenanglah, aku akan selalu menjaga mu!' namun sayangnya semua itu tak pernah terucap dari mulut Toni.


"Tenang saja nona, pacar mu itu tak akan mungkin membiarkan siapa pun menyakiti mu !" kata Panca yang melihat rona ketakutan Raya dari kaca spion depannya.


"Jangan cengeng, ingat cedera mu akan bertambah parah !" alih alih menenangkan, justru Toni malah menambah ketakutan pada gadis menyedihkan itu.


Sebenarnya, cara bicara Toni yang ketus dan galak pada Raya itu semata hanya cara Toni menyembunyikan perasaan yang sebenarnya, lagi pula, Toni tak ingin Raya menjadi lemah, mungkin itu juga salah satu cara Toni membentuk karakter baru pada diri Raya agar lebih kuat, karena tidak menutup kemungkinan hal hal yang lebih dari ini akan gadis itu alami di hari hari selanjutnya.


"Oh iya bro, gue nemu cincin ini di mobil pacar lu, untung gak ilang, parah lu, ngelamar cewek gak bilang bilang,,,!" Panca menyodorkan kotak bludru berwarna merah berisi cincin dari Martin itu ke tangan Toni.


"Berikan saja padanya, itu mungkin cincin pertunangannya, atau bahkan cincin pernikahannya !" sinis Toni dengan nada yang sangat ketus, karena Toni yakin itu cincin dari Martin.

__ADS_1


__ADS_2