
Pagi sekali Cila sudah menjemput Toni di kost, pria yang semalaman tak bisa tidur akibat memikirkan tentang kebersamaannya hari ini terlihat sangat kacau, memikirkan bagaimana menentukan sikapnya, di satu sisi dia tak ingin mengacaukan rencananya dan membuat Cila laporan pada Rolan kalaua dirinya bersikap penuh penolakan, tapi di sisi lain, Toni juga tak ingin Raya menyaksikan Cila yang pasti mengumbar kemesraan di hadapan Raya.
Namun begitu Toni tetap pergi memenuhi keinginan Cila untuk pergi double date.
"Kenapa kesini ?" protes Cila pada Toni yang membawa kendaraannya ke arah bengkel sekali gus rumah milik Panca.
"Bukankah kita akan berangkat bersama Panca !?" jawab Toni acuh.
"Sama Raya juga, bang !" sinis Cila.
Panca dan Raya sedang bersiap di depan bengkelnya, mereka baru saja hendak masuk ke dalam mobil saat Toni dan Cila sampai di sana.
Wajah Raya langsung lecek mirip kertas yang baru di remas, saat menyadari Toni datang bersama pasangannya, ingin sekali rasanya Raya melempar granat ke arah mobil mereka biar Raya tak perlu melihat tingkah Cila yang selalu sok seolah olah sengaja manja pada Toni jika sedang di hadapannya.
"Kamu oke ? Kita bisa batalin pergi, aku bisa cari alasan," Panca seolah mengerti dan dapat membaca raut wajah Raya yang tiba tiba berubah.
Raya hanya menyunggingkan senyum terpaksanya sambil menggeleng, "Aku baik baik aja, jangan sampe tuh cewek merasa besar kepala dan berpikir kalau aku takut !" kesal Raya.
"Kalian hanya berdua ?" Toni melongok ke dalam mobil yang akan di kendarai Panca.
"Iya !? Kenapa ?" Panca malah balik bertanya.
"Dila ?" Rupanya Toni mencari sosok Dila yang di kiranya akan ikut serta bersama mereka.
"Dila pulang ke Bandung kemaren, dia harus nyelesein masalah kerjaannya," terang Panca.
"Terus, semalaman kau berduaan dengan Raya di rumah, dan sekarang kalian juga pergi berdua ?" mata Toni seketika membulat sempurna, pikiran kotornya mulai mengganggu otaknya, membayangkan Raya yang berduaan di rumah besar itu membuat emosinya memuncak seketika.
"Gue gak mungkin ngelakuin apa yang ada di otak lo, bro,,, gue masih sangat waras, gak mungkin berani mengusik milik lo !" ejek Panca yang segera menutup rapat mulutnya karena Cila kini sudah bergabung di antara mereka.
"Apa masih lama ? Ntar keburu siang !" rengek Cila bergelayut manja di lengan Toni.
"Ayo mas, kita pergi !" ajak Raya pada Panca seakan sangat malas melihat tingkah Cila yang mulai mengumbar kemesraannya yang membuat Raya mual.
Toni menahan nafasnya saat Raya lagi lagi memanggil Panca dengan panggilan 'mas', panggilan yang sangat di bencinya.
"Apa tak sebaiknya kalian satu mobil saja sama kita, biar rame !" usul Toni yang merasa tak rela jika Raya harus satu mobil dengan Panca berduaan.
__ADS_1
"Tidak, kita tak ingin mengganggu kebersamaan kalian, dan kita juga sedang gak mau di ganggu !" ketus Raya yang langsung masuk ke dalam mobil Panca dengan wajah dinginnya, meninggalkan Toni dengan tatapan kesal, yang terpaksa harus merelakan Panca membawa gadisnya yang menolak untuk satu mobil bersama dengannya.
***
Siang hari mereka sudah sampai di vila mewah milik Cila, lebih tepatnya milik Rolan, ayahnya.
"Sebelum makan siang, kita tunggu teman ku dulu, mereka sepertinya akan segera tiba," Cila tersenyum penuh misteri.
Hati Toni yang sedang dalam mood yang tidak bagus semakin merasa tak enak mendengar ucapan Cila, apa lagi di tambah senyuman culas yang sepertinya bukan suatu hal yang baik.
Benar saja, beberapa menit kemudian sebuah mobil memasuki halaman vila mewah itu.
Terjawab sudah apa yang di takutkan oleh Toni sebelumnya, teman yang ternyata sedang Cila tunggu dan baru saja datang itu adalah Sabrina dan Martin.
Entah apa maksud dari Cila mengundang mereka berdua datang ke tempat itu dan bergabung bersama mereka, yang jelas Toni yakin ini pasti ada hubungannya dengan rencana Cila untuk mengerjai dan menyerang psikis Raya, Toni bahkan tak tau sejak kapan Cila menjadi sangat akrab dengan Sabrina, dan apa yang wanita itu katakan, sampai sampai dia berhasil mengajak putri dari Cobra itu untuk bergabung di sini hari ini, sementara semalam saat pertemuan di klub, sepertinya antara Sabrina dan Cila tak ada intraksi sama sekali, bahkan terkesan acuh tak acuh.
"Hai Brina, Martin,,,, selamat datang,,,! selamat bergabung bersama kami !" sambut Cila terlihat sangat antusias dengan kedatangan dua orang yang sejatinya tidak begitu dekat sebelumnya, hanya saja semalam dia terpaksa menghubungi Sabrina mengatas namakan ayahnya dengan alasan ada undangan jamuan makan siang di vila miliknya, sehingga Sabrina bersedia datang.
Benar apa tebakan Toni, semua ini Cila lakukan demi membuat Raya terlihat bodoh dan serba salah di hadapan Martin dan Toni, apalagi dari kabar burung yang dia dengar, Sabrina sangat membenci Raya, dan itu juga yang menyebabkan Sabrina merebut Martin dari sisi Raya, belum lagi Cila juga mendapat selentingan kalau posisi ceo Raya di perusahaanya juga sudah di geser oleh Sabrina, sehingga membuat Cila sangat tertarik untuk mendekati putri dari Cobra tersebut, karena menurutnya sangat layak untuk di jadikan teman untuk berkolaborasi, apa lagi sepertinya tujuan mereka sama, yaitu menghancurkan Raya, jadi menurutnya akan lebih seru jika mereka bermain bersama.
Sementara Raya sedikit terkejut saat mengetahui kalau yang datang adalah Sabrina dan Martin, bukan tentang kebersamaan mereka yang memang sudah dia ketahui yang membuatnya terkejut, namun ketrkejutannya lebih pada tak menyangka kalau ternyata Cila dan Sabrina saling mengenal, menarik,,,pikirnya.
Sedikit pikiran buruk sepat terlintas di kepalanya, apa mungkin ada campur tangan Raya juga yang menjadi penyebab Sabrina membencinya, karena dirinya merasa tak pernah bermasalah dengan Sabrina, tapi,,,, apa hanya karena kecemburuan Raya atas kedekatannya dengan Toni yang menyebabkan semua sejauh ini ? Ah,,, sepertinya itu terlalu berlebihan kalau masalahnya hanya sekedar karena cemburu, pikirnya lagi seakan menepis pemikirannya yang sebelumnya sempat terlintas di kepalanya.
"Hai semua, terima kasih atas undangan makan siangnya," Sabrina terlihat seperti bersikap biasa saja bahkan terkesan seperti tak mengenal Raya, dia hanya menyapa Cila dan Toni semantara pada Raya dan Panca dia hanya menyunggingkan senyum tipis, sebagai tanda menghargai kehadirannya di sana, mungkin kaena Sabrina menghargai Panca yang lumayan dia kenal, karena beberapa kali dia juga sempat bertemu dengan pria oriental itu di pertemuan bisnis hitam otomotif yang kebetulan dia juga menjadi salah satu bagian di dalamnya, mewakili Cobra sang ayah yang tak begitu tertarik masalah otomotif dan lebih tertarik dengan senjata ilegal dan obat terlarang.
Mereka berenam duduk di meja makan berbentuk lingkaran besar, dengan aneka hidangan yang sengaja sudah di pesan dan di persiapkan oleh Cila dari semalam khsus untuk acara siang ini.
"Oh iya Brina, perkenalkan itu teman ku Raya dengan pacarnya koh Panca, kamu pasti kenal kan, koh Panca pemilik bengkel terbesar dan terkenal itu," ucap Cila sengaja mempertegas hubungan antara Raya dan Panca dengan sok taunya untuk memprovokasi Martin.
"Martin, bukankah kamu dan Raya dulu sempat bertunangan ya ?" tanya Cila kini berlagak polos.
Martin yang di tanya langsung terbatuk akibat tersedak minuman nya sendiri, karena tak menyangka kalau Cila akan melayangkan pertanyaan sebodoh itu hanya demi untuk mempermalukan dirinya dan Raya di tempat itu.
"Itu hanya masa lalu, kami sudah sepakat untuk mengakhiri perunangan kami, karena kami sama sama menyadari kalau kami tidak saling mencintai, bukan begitu, Kak Martin ?!" sambar Raya yang tak ingin kehilangan muka di hadapan Sabrina dan tentu saja Cila dan juga Martin.
"Sudah,, sudah,, jangan membahas masa lalu, tak baik. Lagi pula Martin maupun Cila kini sudah sama sama move on, terbukti kini Martin terlihat bahagia bersama Sabrina." Panca menengahi, dan tak ingin Raya menjadi bulan bulanan Cila siang itu.
__ADS_1
"Apa kamu juga sudah benar benar move on dan berbahagia dengan kok Panca ?" Cila seakan belum puas menyudutkan Raya.
"Berapa lama lagi kita akan terus membahas tentang masalah percintaan orang yang sudah kandas ? Aku lapar !" Toni yang sejak tadi terdiam mulai menunjukkan rasa tak sukanya dengan situasi panas yang sengajasedang di ciptakan Cila saat ini .
Cila mengalah, dia tak ingin Toni marah dan semakin menjauhinya, dia harus bermain halus dan cantik dalam menyerang Raya.
Acara makan siang selesai, kini mereka berenam sedang berada di pantai, Cila mulai merasa bete lagi karena Toni kini lebih memilih mengobrol bersama Sabrina membahas bisnis yang akan mereka jalani bersama, dan tanpa sepengetahuan siapapun, Raya juga merasakan hal yang sama seperti yang Cila rasakan melihat kebersamaan Toni dan Sabrina, ada rasa 'cemburu !' yang mengganggu hatinya.
Mungkin hanya Martin dan Panca yang merasa santai di antara mereka semua, kalau Martin memang tak punya perasaan pada Sabrina selain memanfaatkan kekayaan dan kekuasaannya saja, sementara Panca,,, dia kan memang tak ada hubungan apa apa dengan Raya, dia hanya sebagai 'alat pengalihan isu' atas hubungan Toni dan Raya.
Toni memang sengaja mengalihkan perhatian Sabrina pada bisnis mereka, agar wanita itu tak ada kesempatan untuk melakukan sesuatu pada Raya, Toni merasa kalau Sabrina akan lebih berbahaya di banding Cila.
Sedang asik berbincang di kursi yang sengaja di pilih Toni agak jauh dari tempat berkumpul yang lain, dengan alasan ingin berbicara bisnis, dua orang pria tiba tiba menyerang Sabrina dari arah belakang, satu orang bahkan hampir berhasil menusukan pisau lipat yang di arahkan ke pinggang wanita yang ternyata jago bela diri itu, untungnya Sabrina berhasil menghindar tepat waktu setelah Toni menarik lengan wanita itu sebelumnya.
Sebenarnya Toni sudah menyadari kalau ada bahaya yang sejak tadi mengikutinya, hanya saja dia masih belum tau siapa yang menjadi target sasaran dua pria yang terus mengikuti langkah rombongan mereka, sampai Toni sengaja memisahkan diri dari rombongan dengan alasan ingin berbicara bisnis dengan Sabrina, barulah dia sadar kalau Sabrina lah yang menjadi target dua orang pria bertopi itu.
Toni mengejar dua orang penyerang yang sempat berduel melawan dirinya dan juga Sabrina dan akhirnya mereka lari tunggang langgang saat menyadari kalau kemampuan bela diri targetnya itu ternyata di atas kemampuan mereka.
"Kau baik baik saja ?" tanya Toni pada Sabrina.
"Tentu aku baik baik saja, aku pikir ucapan orang orang tentang Lion si monster pembunuh di atas ring itu benar adanya, tapi ternyata kemampuan mu biasa saja !" cibir Sabrina yang menilai Toni tak bersungguh sungguh saat melawan para penyerangnya tadi, bukankah hanya dua orang penjahat biasa, tapi Toni bahkan tak dapat melumpuhkan satu orang pun dari mereka.
Tentu saja sangat mudah bagi Toni melumpuhkan bahkan membunuh keduanya sekaligus sekalipun, hanya saja fokus Toni terbagi, dia harus tetap mengawasi Raya juga dari kejauhan, karena takut kalau ternyata gadisnya itu mengalami penyerangan serupa.
"Bela diri mu juga tak buruk,,, untuk ukuran seorang perempuan !"ucap Toni, tak ingin meladeni cibiran Sabrina yang di tujukan padanya.
"Kapan kapan aku akan menantang mu bertanding di atas ring !" tantang Sabrina.
"Sayangnya aku tak bertanding melawan wanita !" ucap Toni dingin, tak ingin menghiraukan tantangan Sabrina.
"Abang,,, ada apa,,, apa abang baik baik saja ?" Cila berlari ke arah Toni yang kini menatapnya dengan tatapan galak dan mengintimidasi.
"Jangan pura pura tak tahu, dan jangan bermain main dengan keluarga Cobra, kau bisa mati, dan aku tak akan menolong mu jika itu terjadi !" ucap Toni,kesal.
"A- apa maksud abang, aku tak mengerti apa yang abang katakan !?" Cila terlihat pucat dengan kata kata nya yang terbata.
"Pikirlah sendiri !" ketus Toni.
__ADS_1