
Hubungan antara Arsan dan Rolan kini semakin memanas, semua itu berasal dari berita yang di terima Arsan bahwa semua pegawai proyek berhenti semua, gara gara preman preman sekitar proyek meminta mereka di libatkan dalam kegiatan proyek sampai nanti kasino itu beroperasi, jika tidak, maka pembangunan itu akan mereka ganggu dan di pastikan tidak akan selesai, padahal proyek itu sudah berjalan sekitar 80 persen pembangunannya, tentu saja itu membuat Arsan panik dan sangat murka.
Uang yang dia gelontorkan untuk proyek itu jumlahnya tidak lah sedikit, bahkan dia harus rela menggadaikan lahan tambangnya demi menutupi biaya pembangunan proyek yang seakan mencekiknya itu, lantas tiba tiba sekarang ada pihak pihak yang ingin merusuh dengan seenaknya? No way! geram Arsan.
"Bagaimana bisa jadi seperti ini? Lantas apa gunanya si Lion? Ingat aku sudah membantu mu menjerat si Lion agar bisa kau jadikan menantu mu dan meneruskan usaha mu, aku sengaja menjadikannya bodyguard anak ku, agar tanpa dia sadari dia terjerumus ke bisnis mu, dan melancarkan semua urusan kita," Marah Arsan pada Rolan yang kini berada di rumahnya, karena pagi sekali Arsan sudah memanggilnya untuk datang.
Ya, bukan tanpa alasan Arsan menjadikan Toni bodyguard anaknya dulu, dan alasannya tentu saja bukan karena dia menyatangi putrinya agar putrinya terlindung dari segala bahaya, namun, saat tau putrinya beberapa kali pulang di antar Toni, dia langsung mencari tau tentang Toni lewat Arsan yang merupakan rekan bisnis hitamnya, sehingga di capailah kesepakatan kalau Arsan sebaiknya mengikat Toni untuk di jadikan bodyguard Raya, karena dengan begitu, mau tidak mau Toni akan terlibat langsung dengan lingkaran setan konspirasi jahat mereka.
"Sebelumnya mereka sudah di bereskan oleh Lion, ini di luar dugaan jika mereka kembali merusuh seperti ini!" kilah Rolan.
"Harusnya kau tak menggantikan posisi Lion oleh anak mu yang tak becus bekerja itu, kau malah menggunakaan Lion untuk mengurus bisnis mu yang lain yang sudah hampir kolaps itu!" Arsan mulai menyalahkan Rolan yang di nilainya sengaja menggantikan posisi Lion oleh Cila di proyek demi menyelamatkan bisnisnya yang lain.
Rolan tak dapat berkutik, karena dia tak mungkin mengatakan hal itu terjadi karena akibat anak nya yang cemburu dengan kedekatan kerja sama antara Sabrina dan Toni.
Namun mendengar ucapan Arsan yang dengan terang terangan menghina putri kesayangannya dengan menyebutnya tak becus bekerja tentu saja membuat Rolan naik darah.
"Siapa yang kau bilang tak becus bekerja itu? Ku peringatkan pada mu, jangan sekali kali kau menghina putri ku, meski aku ini orang jahat, tapi aku bukan bapak bejat seperti mu yang rela menukar semua demi uang, termasuk anak sendiri, bahkan macam pun tak memakan anaknya sendiri, sekali lagi kau hina putri ku, kau akan menyesal !" ancam Rolan meremas kerah baju yang di pakai Arsan.
"Tak usah mengajari ku tentang bagaimana bersikap menjadi ayah yang baik, dan tentang apa yang aku ucapkan tadi tentang anak mu itu memang benar adanya, dia ke kantor hmpir tak melakukan apa pun selain hanya duduk dan bermain ponsel, dan aku tak sedang asal bicara, karena aku mempunyai bukti dan saksi atas apa yang aku ucapkan itu." Arsan tetap tak merasa bersalah dengan apa yang dia katakan tentang Cila, karena dia sudah menyuruh seseorang untuk mengawasi kinerja Sabrin dan Cila dalam penggarapan proyeknya.
Tentu saja itu semua dia lakukan berdasarkan rasa kecurigaannya selama ini terhadap para penanggung jawab proyek, dia yakin kalau ada permainan di sana.
"Kau mematai matai pekerjaan proyek?" Rolan memicingkan matanya, dia merasa tak menyangka kalau Arsan berbuat sejauh itu.
"Ya, aku melakukannya, dan ini semua tak akan terjadi bila kau tak bermain main dalam penggelembungan dana proyek yang sungguh tidak masuk akal."tantangnya.
"Kau punya bukti kalau aku melakukan itu semua, huh? Lantas kenapa tak kau urus sendiri saja proyek itu sejak awal, dan tak perlu mempercayakannya pada ku!" Rolan
"Untuk saat ini aku memang belum mendapatkan bukti yang cukup, namun jika aku sudah mendapatkan semua buktinya, sudah pasti aku akan mengambil alih semuanya, dan aku tak memerlukan mu lagi, dan bukan tak mungkin aku juga akan menuntut ganti rugi jika penggelembungan dana itu memang benar terjadi," pungkas Arsan.
__ADS_1
Pecahlah lah sudah persahabatan mereka yang di jalin selama puluhan tahun, persahabatan yang belandaskan saling menguntungkan demi uang, dan ironisnya lagi persahabatan mereka juga kini harus hancur gara gara uang juga.
Tragis memang, namun bukankah segala sesuatu yang di mulai dari niat yang tidak baik maka akan berakhir dengan suatu hal yang tidak baik juga?
Begitulah hidup, apa yang kau tabur maka itulah yang kau tuai.
"Maka buktikan, jangan cuma bisa bacot saja, kau pikir mudah mengurus proyek di sana yang kawasannya cukup rawan? Bisa apa kau tanpa bantuan ku?" Cibir Rolan merendahkan.
"Bajingan kau, tentu saja aku bisa melakukan segalanya meski tanpa bantuan mu, lihat saja, setelah proyek ini selesai, jangan harp kita ada kerja sama apapun lagi ke depannya!" umpat Arsan kesal.
"Deal!" singkat Rolan menimpali dengan pasti.
"Bereskan semua kekacauan di proyek dan cepat selesaikan semuanya, aku sudah muak bekerja sama dengan koruptor bajingan seperti mu!" Ucapan Arsan sungguh semakin memancing amarah Rolan.
"Kau pikir aku betah berlama lama bekerja sama dengan mu, huh? Asal kau tau, jika kau merasa muak, maka aku lebih dari sekedar muak bekerja sama dengan iblis seperti mu!" Rola keluar dari rumah milik Arsan dengan membawa rasa kesal yang memenuhi dadanya.
Kini bahkan Rolan memendam marah dan dendam pada pria yang dulu dia sebut sahabat nya itu.
Rolan juga teringat lagi dengan kecurigaannya atas hilangnya kiriman senjata yang menurutnya itu semua adalah ulah dari Arsan.
Rolan kini mendapat ide untuk membuat Arsan mengembalikan senjata senjata miliknya yang memang tak pernah ada di tangan Arsan sedri awal.
"Tunggu saja pemblasan ku Arsan, aku akan membuat kau mengakui perbuatan mu dan mengembalikan semua senjta milik ku!" geram Rolan, bibirny tersenyum miring seolah sedang mendapatkan ide cemerlang dan jahat juga licik tentu saja.
***
"Semua sesuai rencana, aku sudah memprovokasi para preman dan penduduk asli sana agar merusuh di proyek,"ucap Toni pada Sabrina dan Cobra yang kini tengah berbincang dengannya.
"Oke, aku senang kau berada di pihak ku untuk menghancurkan Arsan," kata Cobra yang merasa sangat terbantu dengan bergabungnya Toni di kubu nya.
__ADS_1
"Aku tak merasa berada di pihak mana pun, dalam hal ini." Tampik Toni yang memang tidak merasa berada di kubu yang sama dengan Cobra.
"Kalau kau tak berada di pihak ku, lantas kenapa kau ingin menghancurkan Arsan juga? Aku rasa kau tak punya masalah apapun dengan nya!" heran Cobra karena setahunya bahkan dulu Toni sempat bekerja untuk Arsan sebagai bodyguard Raya.
"Aku melakukannya untuk diriku sendiri, aku hanya berperpihak pada hati ku, dan tentang apa masalah ku dengan Arsan, aku tak ingin memberithukannya pada siapa pun, cukup aku yang tau, dan kalian cukup tau kalau kita melakukan ini karena tujuan kita sama, bukan berarti aku beraada di pihak kalian!" tegas Toni.
Cobra dan Sabrina saling melempar pandangan bingungnya, mereka kira Toni melakukan ini semua karena pra itu berada di pihknya, nmun ternyata, pria dingin ada misi tersendiri yang di rahasiakannya.
Sedikit penasaran itu pasti da di hati Sabrina dan Cobra, namun rasa itu terkalahkan dengan rasa khawtir kalau kalau ternyata Toni juga berniat buruk pada mereka.
"Tapi kau tak akan menghianati kami, kan?" ceplos Sabrina yang langsung saja mengeukakn keraguannya pada Toni.
"Aku tak punya masalah apa apa dengan keluarga mu, untuk apa aku menyerang kalian, kau pikir aku gila?" Kesal Toni.
"Tapi tunggu--- apa pertanyaan mu barusan itu secara tidaak langsung mengatakan kalau kalian tidak percaya pada ku?" sambung Toni menyelidik.
"Lebih tepatnya berjaga jaga!" cengir Sabrina.
"Sialan kau!" umpat Toni.
Cobra melihat keakraban antara Toni da Sabrina membuatnya tersenyum senyum sendiri.
"Ayah, kenapa ayah tersenyum sendiri seperti itu? Mengerikan!" protes Sabrina.
"Kalian itu sebenarnya sungguh cocok, sepertinya aku ingin ganti calon menantu saja, kekasih mu si Martin itu tidak bisa di andalkan!" seloroh Cobra tiba tiba.
"Ayah benar sekali,,, aku pun merasa demikian, aku dan Lion itu memang sangat cocok, hanya saja sayangnya---- dia tak menyukai ku!" Adu Sabrina pada ayahnya.
"Oh benarkah? Lion, apa putri ku ini tak lebih cantik dari anaknya Rolan? Bukankah dia lebih cantik dari segi apapun, wajah, body, kepintaran, dan jago beladiri tentu saja," Cobra seperti sedang menawarkan dagangan dengan menyebutkan semua kelebihan yang di punyai putrinya itu.
__ADS_1
"Sudah lah ayah, bukan masalah aku yang kurang cantik di mata dia, masalahnya aku tidak tampan di matanya," ucap Sabrina yang langsung mendapat pelototan dari Toni.
Sementara Cobra terus saja mencerna apa makna ucapan yang di katakan putrinya barusan, karena bolak balik di pikir, tapi tetap tak mendapatkan jawabannya.