
Berat sebenarnya bagi Toni meninggalkan Raya sendirian di kampung halaman ibunya itu, belum lagi kejadian tadi siang Bara yang sepertinya masih menyimpan dendam, Toni khawatir pria temprament itu datang kembali ke rumah dan mengacau di sana.
Tapi apa yang sekarang akan di hadapinya pun tak kalah pentingnya, semua yang di lakukannya sekarang ini memang semata demi Raya, tak ada yang lain.
Sepanjang perjalanan dari Bandung menuju ke Jakarta terasa sangat sepi dan hampa di tambah suasana malam yang terang dan penuh bintang, juga jalanan yang sepi tanpa kendaraan lain yang ikut melaju di jalanan yang dia lalui karena memang malam sudah semakin larut.
Toni melirik ke arah kursi sebelah nya yang kosong, bayangannya melayang saat gadis manja itu menemani perjalannya meskipun biasanya dia lebih banyak terlelap di sana dan kadang mengobrol hal yang tak penting meski seringnya tak Toni tanggapi.
"Ah,,, sepertinya aku mulai gila, mengapa kepala ku seolah hanya berisi tentang gadis manja itu !" pekik Toni menggelengkan kepalanya menyangkal otaknya yang seolah berjalan sendiri tanpa kendali.
Menjelang dini hari Toni sudah sampai di tempat kostnya, dia membaringkan tubuhnya berusaha beristirahat, namun sayangnya matanya tak dapat terpejam barang semenit pun, pikirannya terus melayang pada sosok Raya yang berada nun jauh di sana.
Sampai akhirnya Toni memutuskan untuk pergi ke rumah Panca di pagi buta, dia ingin segera bertemu pria oriental itu dan menyelesaikan segala urusannya di ibu kota agar dia cepat kembali ke Bandung menemui Raya.
"Lo gila, kenapa datang pagi sekali, gue baru aja tertidur dua jam yang lalu !" kesal Panca yang merasa tidurnya terganggu karena kedatangan Toni.
"Kau pikir aku sempat tidur ? aku bahkan belum terpejam sama sekali !" tepis Toni, seraya memasuk ke dalam bengkel milik temannya itu, karena untuk masuk ke dalam rumahnya, harus melewati bengkelnya terlebih dahulu.
"Wanita bernama Karina berada di sekapan Cobra, dan kabar terakhir yang gue dapet, dia masih hidup dan bertugas menjaga juga merawat seseorang yang tengah terbaring sakit di rumah tawanan Cobra," urai Panca yang tiba tiba kehilangan rasa kantuknya akibat kedatangan Toni.
"Arsan,,, apa seseorang yang tengah terbaring sakit sakit itu Arsan Lubis, ayah nya Raya ?" gumam Toni.
"Gue gak tau persis, yang jelas di rumah itu ada dua orang tawanan yang di jaga ketat oleh para anak buah Cobra, sepertinya kita dengan anak buah ku yang tak seberapa jumlahnya itu tak akan mampu menembusnya," ucap Panca sedikit pesimis.
Toni sedikit berpikir, Panca orang yang penuh perhitungan, dia yakin dan percaya dengan prediksi pria yang ahli di bidang otomotif namun juga lihai dalam dunia per mafiaan karena kehidupannya tak jauh dari dunia hitam itu.
Kalau Panca berkata mereka tak akan mampu, berarti itu semua sudah sangat di perhitungkannya, dan artinya mereka harus segera mengganti merubah rencana yang semula sudah matang di bicarakan.
"Oke saatnya beralih ke plan B !" ucap Toni serius.
"Plan B ? Lo gak pernah bilang kalo lo punya plan B !" protes Panca.
"Mungkin kita harus mencari koalisi !" gumam Toni sambil mengetuk ngetukan jarinya di meja, oertanda saat ini otaknya sedang bekerja sangat keras.
__ADS_1
"Koalisi bagaimana maksud lo? Dengan siapa ?" cecar Panca, takut Toni mengambil langkah yang salah dan justru menjerumuskan dirinya dalam lingkup lembah hitam, seperti dirinya yang terlanjur berkubang di dunia haram namun sepertinya susah untuknya beranjak dari dunia yang memberinya banyak materi namun berlumur dosa dan resiko yang sangat besar mengintai di setiap detik dan menitnya.
**Koalisi adalah sebuah atau sekelompok persekutuan, gabungan atau aliansi beberapa unsur, yang dalam kerja samanya, masing masing memiliki kepentingan sendiri sendiri, yang mungkin bersifat sementara dan terdapat asas manfaat di dalamnya.
Sungguh Panca tak ingin Toni menjadi seperti dirinya yang menurutnya kotor itu, sebisa mungkin jangan pernah sampai terlibat apapun di dunia mafia, makanya dia berani menjadi tameng jika harus berurusan dengan geng Cobra, dengan begitu dia masih bisa memantau dan membatasi keterlibatan Toni dalam masalah itu.
Namun ternyata semua tak sesuai dengan apa yang di prediksinya, kekuatan Cobra terlalu besar untuk kelompok penadah mobil curian kecilnya, di perlukan kelompok yang sama atau bahkan lebih Besar dari Cobra untuk menembus atau bahkan bertarung melawan mereka.
"Tapi aku sudah terlanjur masuk, aku tak mungkin balik badan dan membiarkan orang orang yang mengobrak abrik keluarga Raya, bersenang senang begitu saja,!" tegas Toni memantapkan tekadnya.
"Ternyata semua ini demi pacar lo itu, bro !" desis Panca lirih, dari sorot matanya Panca sudah dapat menilai, betapa dalamnya perasaan Toni pada gadis yang dia kira pacarnya Toni itu.
"Dia bukan pacar ku, aku hanya bekerja untuknya, menjaga keselamatannya !" akhirnya Toni meluruskan apa tang selama ini Panca pikirkan, fia tak ingin temannya itu terus salah mengira atas hubungan mereka.
"Tapi lo mencintainya, sangat mencintainya, gue bisa lihat itu bro !" ucap Panca mencoba mengorek isi hati sahabat uniknya itu.
"Sok tau !" ketus Toni mengisyaratkan kalau dirinya tak ingin mengatakan apa pun tentang perasaannya, tidak pada Panca, atau siapa pun.
Tidak sekarang, atau kapan pun, baginya perasaan nya untuk Raya hanya untuk di ketahui dirinya sendiri, bahkan Raya pun tak berhak mengetahuinya, karena dia cukup tau diri dan tak ingin terinjak harga dirinya saat ternyata Raya menolak perasaan cintanya.
"Lo mau koalisi sama siapa ?" Panca mengubah topik pembicaraan saat menangkap sinyal kalau Toni tak ingin membahas masalah pribadinya.
"Rolan !" jawab Toni lugas.
"Bro,,, lo serius ? lo tau, kalau Itu berarti lo bersedia menjadi kacungnya Rolan dan berada di bawah kendali pria tua itu ?" Panca terbelalak kaget, bahkan sejak dulu Rolan sudah memintanya menjadi bagian dari kelompoknya, namun selalu Toni tolak, bahkan Rolan sering memintanya untuk membujuk Toni agar menerima tawarannya, namun Toni tak pernah bergeming
Betapa cinta sudah merubah pendirian seorang Toni, dan menghancurkan idealis pria yang tak pernah mau di bawah kendali siapapun itu.
"Pagi ini juga aku akan menemui Rolan dan membicarakan ini semua," ucap Tonibpenuh keyakinaan.
Toni sudah memantapkan dirinya untuk bergabung dengan kelompok Rolan demi mengungkap kebenaran tentang masalah keluarga Lubis, dan menyelesaikan nya sampai tuntas.
Apapun resiko yang akan dia terima setelahnya dia akan dengan suka rela menerima dan menghadapinya, yang terpenting baginya adalah mengembalikan kebahagiaan Raya dan memberikan keadilan untuknya, terlalu perih baginya melihat Raya yang terpuruk dan kehilangan semua yang di milikinya saat ini.
__ADS_1
"Gue ikut !" tawar Panca, tak ingin Toni pergi sendirian.
"Aku tak ingin melibatkan mu," tolak Toni.
"Jangan bercanda, lo udah ngelibatin gue dari awal, apapun resikonya gue ikut, lo mati gue mati !" ucap.
"Homo ! Ngapain kau minta sehidup semati dengan ku !" Toni bergidig ngeri menanggapi ucapan sayabatnya itu.
***
Pagi itu di sasana,
Rolan yang sudah di hubungi terlebih dahulu untuk janji bertemu dengan Toni dan Panca sudah stand by di tempat latihan tinju miliknya itu.
"Apa yang ingin kau bicarakan dengan ku ? Atau kau ingin menawarkan sesuatu padaku ?" tanya Rolan yang sepertinya sudah sedikit paham dengan apa yang akan di bicarakan Toni padanya, secara pria tua itu tak pernah kehilangan berita tentang singa jantannya itu.
"Aku butuh bantuan mu, untuk melawan Cobra," ucap Toni to the point.
"Apa yang aku dapat, jika aku membantu mu ?" tantang Rolan.
"Apa mau mu ?" Toni menantang Rolan balik.
"Kau yakin akan memberikan apa yang ku mau ?" Rolan menatap dengan tajam, mencari keseriusan lawan bicaranya.
"Asal kan semua urusan ku berhasil dan sukses !" ucap Toni.
"Oke, aku pastikan akan membantu mu sampai semuanya berhasil, katakan apa masalah mu dengan Cobra, dan apa yang harus ku bantu ?" tanya Rolan lagi.
Toni lantas menceritakan semua permasalahan tentang niat dirinya yang ingin membongkar keterlibatan Cobra dalam masalah keluarga Raya, dia juga ingin memastikan kalau Arsan berada di tangan Cobra dia ingin membebaskan nya sekalian.
"Wow, banyak juga ingin mu, tapi aku bisa membantu mu, apa kau tak ingin tau syarat apa yang aku ajukan pada mu ?" tanya Rolan lagi tersenyum culas.
"Apapun, asal itu berhasil !" tegas Toni.
__ADS_1
"Menikah dengan Cila, putri ku !"