Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Awan Hitam


__ADS_3

"Tidak,,,kalian bohong, kalian sok tau, cepat bawa ayah ku ke rumah sakit, SEKARANG!" Teriak Sabrina dengan nafas yang mulai tersenggal-senggal menahan rasa nyeri di dadanya yang tiba tiba saja seperti sedang di himpit batu yang sangat besar, sesak dan nyeri.


Sabrina limbung kakinya terasa seperti tak menapak ke tanah, kepalanya pusing, pandangannya mulai nanar dan berputar-putar, Sabrina kini kehilangan kesadarannya, tubuhnya terkulai lemas ke tanah, beruntung seorang anak buahnya yang berdiri tak jauh dari dirinya dengan tanggap menangkap tubuh Sabrina sehingga kepalanya tak terbentur batu yang hampir saja mengenai kepalanya.


Para anak buah Cobra membawa jasad tuannya dan tubuh tak sadarkan diri Sabrina menuju kediamannya, dengan hati mereka yang ikut hancur, kehilangan sosok pemimpin seperti Cobra terasa seperti tubuh yang kehilangan kepalanya, sehingga membuat mereka sangat merasa terpukul.


Cobra yang terkenal sangat baik pada para anak buahnya dan sangat menyayangi anak-anaknya dengan 'caranya' itu kini sudah tiada.


Awan hitam seakan memayungi keluarga Cobra, kesedihan nampak di semua wajah penghuni rumah itu, baik para asisten rumah tangga, semua anak buah Cobra dan juga para penghuni yang biasa tinggal di sana.


Jika selama ini semua orang mengira kalau dia sosok mafia yang kejam dan jahat, namun berbeda dengan apa yang dirasakan oleh orang-orang terdekatnya, Cobra adalah ayah yang baik untuk anak-anaknya, bos yang baik untuk para karyawan dan anak buahnya, sehingga kehilangan Cobra kali ini merupakan pukulan telak bagi orang-orang terdekat yang di tinggalkannya.


Setelah mendapat kabar duka tentang kepergian Cobra yang terkesan sangat mendadak dan di luar dugaan itu,Toni dan Panca langsung meluncur ke kediaman Sabrina, mereka tau wanita itu pasti sangat membutuhkan dukungan mereka saat ini, sementara Raya sengaja di titipkan di rumah tempat Yama di rawat bersama Karina.


Toni yakin istrinya akan lebih aman di tempat itu dari pada harus ikut dengan dirinya ke kedaman Sabrina akan banyak resiko karena pasti akan banyak tamu yangvhadir ke sana untuk memberikaan penghormatan terakhir untuk Cobra, dan Toni tak dapat menjamin kalau di antara mereka semua itu tak ada oorang-orang suruhan Arsan yang sengaja menyelinap dan mencari keuntungan dalam acara kedukan ini.


Belum begitu banyak orang yang melayat di rumah itu, hanya baru terlihat Martin yang sibuk wara-wiri mengurus keperluan pemakaman di bantu beberapa para karyawan Cobra.


"Aku tak bisa menenangkan Sabrina, cobalah kau berbicara dengannya," adu Martin yang sejak tadi serasa sudah mati gaya dalam menenangkan sang kekasih, namun Sabrina malah mengusirnya, jadilah dia memilih untuk melakukan pekerjaan yang lain, mengingat saat ini dia juga harus bertindak sebagai tuan rumah dan menerima tamu, karena statusnya yang kini sebagai tunangan Sabrina.


Toni mengangguk dan bergegas menghampiri Sabrina, setelah sebelumnya Martin memberi tahu kalau Sabrina mengunci diri di ruang kerja ayahnya semenjak dia tiba di rumahnya.


"Sabrina !" Panggil Toni sambil mengetuk pintu ruang kerja Cobra yang tertutup rapat dan terkunci dari dalam.

__ADS_1


Namun sayangnya tak ada jawaban apapun dari dalam ruuangan, membuat Toni sedikit merasa cemas, bagaimana pun, Sabrina pernah menjadi partner kerjanya, dan semenjak penggarapan proyek itu, meski mereka terkesan selalu gonto-gotontokan, namun untuk urusan pekerjaan mereka adalah pasangan yang sangat kompak dan tak ada lawan.


"Sabrina, aku dan panca akan menghancurkan pintu ini jika kau tak juga membukanya!" Ancam Toni dengan suara tingginya.


Ternyata ancaman Toni cukup berhasil, karena tak selang berapa lama Sabrina membuka pintu kayu itu.


Wajah wanita itu terlihat sangat kusut, matanya yang sembab dan tampak tak bersemangat itu langsung menyemprot Toni dengan makiannya.


"Apa kau tak punya perasaan sedikit pun, aku sedang berduka seperti ini masih saja kau berniat akan menghancurkan rumah ku, aku sudah cukup hancur sekarang ini!" ratapnya.


"Aku hanya berjaga-jaga, takutnya kau bunuh diri di dalam sini, kasihan tunanganmu harus tambah repot mengurusi pemakaman mu juga!" seloroh Toni santai.


Mungkin terkesan tak berempati, tapi itulah Toni, sungguh dia tak bisa berbasa-basi, kehidupan di dunianya seperti halnya dunia yang di jalani Sabrina memang keras, dia tak boleh terlihat lemah dalam keadaan seperti apapun, karena musuh akan bersorak soorai sambil bertepuk tangan dengan meriahnya meneretawakan ketepurukan kita, inilah yang sedang Toni ajarkan pada Sabrina secara tidak langsung.


"Cih, mana mungkin aku menyerah semudah itu, pegang janji ku, aku tak akan mati dulu sebelum aku membunuh Arsan dengan tangan ku sendiri," geramnya dengan penuh emosi.


"Tapi aku harus berjuang sendirian sekarang, ayah tak bisa membantu ku lagi," lirih Sabrina ketika dirinya kembali teringat kalau ayahnya kini sudah tak ada bersamanya lagi.


"Kami akan membantu mu, kau bisa menganggap kami sebagai saudara mu jika kau mau," Toni menoleh ke arah Panca yang mengangguk seraya mengiyakan pernyataan sahabatnya itu.


"Tiba-tiba punya 2 kakak laki-laki seperti kalian sepertinya akan sangat menyebalkan dan merepotkan!" cicit Sabrina dengan mata yang kembali basah karena airmatanya kembali turun deras.


Sungguh Sabrina merasa terharu karena Toni dan Panca ternyata sangat perhatian padanya, sampai-sampai mereka menganggapnya sebagai saudara, mereka tak meninggalkan nya saat dirinya terpuruk dan kesulitan, itu yang membat Sabrina kembali menjadi melankolis saat ini.

__ADS_1


"Oke adik, kalau kau masih ingin menangis kami beri kau waktu 10 menit untuk menangis sepuasanya di ruangan ini, namun setelah itu, keluarlah, sambut para tamu an tegak kan badan mu, jangan biarkan musuh-musuh mu berbahagia melihat kesedihan mu," ucap Panca.


"Tapi kalau setelah 10 menit kau mash tak kelur juga bergabung bersama kami, ku saran kan untuk kau lebih baik bunuh diri saja, kau tak pantas jadi adik kami!" timpal Toni.


"Aku akan bersiap-siap, ganti baju dan segera bergbung bersama kalian, aku tegaskan sekali lagi, kalian jangan terlalu berharap kalau aku akan mati sebelum memunuh Arsan, mertua iblis mu itu!" Tunjuk Sabrina pada Toni, yang hanya di jawab dengan senyuman miring Toni dan Panca.


***


Pemakaman berjalan dengan lancar, kini Sabrina, Toni, Panca dan Martin sedang duduk bersama di ruang tengah rumah yang bagi Sabrina terasa sangat sepi dan kosong meski banyak orang di sana.


"Apa rencana mu setelah ini, sayang?" Tanya Martin.


"Jelas aku akan mencari keberadaan Arsan, aku harus menemukan di mana ia bersembunyi, dan aku pasti akan menemukan nya meski dia bersembunyi di lubang semut sekali pun!" Ucapnya penuh keyakinan dan percaya diri.


"Sebaiknya kau beristirahat saja, aku yakin kau belum tidur dari kemarin, jika kau sakit, malah rencana akan kacau karena kau tak akan bisa melawan Arsan." Sambar Toni.


"Tapi aku tak akan bisa tidur, sebelum aku menemukan keberadaan iblis itu." keukeuh Sabrina.


"Ayolah, kau sekarang punya dua kakak laki-laki, biarkan kedua kakak mu dan tunangan mu ini yang bekerja, kami bertiga akan mencari tahu dengan segera, saat ada hal lain yang harus kau selesaikan, kau harus memberi tahu Yama tentang kematian ayah mu. Bagaimana pun, di mata Yama, ayah mu adalah ayahnya juga, dia berhak tau hal ini," kata Toni membuat Sabrina tersadar kalau dia seolah melupakan keberadaan Yama yang juga pasti akan sangat terpukul dan sedih.


Sabrina bahkan belum tau dengan cara apa dan bagaimana dia harus memberi tahu adiknya tentang kematian ayahnya in.


"Yama!" lirih Sabrina memanggil nama adiknya.

__ADS_1


"Tenanglah, Raya ada di sana, istri ku pasti akan menjaganya juga, Yama pasti akan sangat bangga dan bahagia mempunyai 2 kakak perempuan hebat seperti kalian," ucap Toni.


"Hanya aku yang hebat, istri mu tidak!" ketus Sabrina sewot.


__ADS_2