Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Jebakan


__ADS_3

Banyak tanya tak terjawab dalam kepalanya, seperti bagaimana bisa istrinya berada di sana, dengan siapa istrinya ke tempat itu, untuk apa dia kesana? Membuat pria berbadan gagah dan tegap itu menelan kekecewaan yang teramat sangat besar di dadanya.


Terlebih rasa kecewa saat drinya harus melihat kebersamaan sang istri bersama mantan kekasihhnya di saat dirinya sedang di landa rasa cemas karena memikirkan keselamatannya.


Peduli setan orang akan menganggapnya drama atau lebay atau apalah itu terserah, yang jelas saat ini dia merasa kecewa, dan hanya dia yang bisa tau seperti apa kecewa yang tengah di rasakannya saat ini.


"Martin, dasar tak berguna, kita bertiga hampir mati gara-gara mencari mu, kau malah asik-asikan cengangas-cengenges sama mantan pacar mu, otak mu itu di taro di mana sih?" hardik Sabrina menunjuk-nunjuk wajah Martin memperlihatkan sisi dominan nya, di hadapan Martin yang tak berani membantah apapun yang di katakan oleh Sabrina.


Sepertinya kalau sudah menikah kelak, Martin akan masuk geng golongan para suami takut istri, apa lagi kalau istrinya itu segarang Sabrina yang hobinya berlaga di atas ring seperti Toni, bagaimana tak ciut nyali Martin.


"Dan kau, bagaimana kau bisa ada di sini? Bukannya kau di tangkap ayah mu?" Kini giliran wajah Raya yang menjadi sasaran jari telunjuk Sabrina yang mengacung di udara dan mengarah ke wajah istri dari Toni itu.


"Aku tak suka cara mu memperlakukan istri ku, tak ada yang berhak memakinya, apalagi sampai menunjuk wajahnya seperti itu!" Emosi Toni meledak begitu saja, moncong senjata pun dia tempelkan di kepala Sabrina sebagai balasan atas perlakuan buruk Sabrina pada istrinya, suasana hati Toni memang sedang tak baik saat ini sehingga apapun yang memancing emosinya dia bisa menanggapinya dengan berlebihan, kalau anak muda jaman sekarang bilang 'senggol bacok' kkira-kira seperti itu apa yang tengah di rasakan Toni sekarang ini.


Meski dirinya sedang kesal pada Raya, namun dia tetap tak akan pernah mengijinkan siapapun untuk mengusik istri yangvsangat di cintainya itu.


"Bro, tenang! Bukan saatnya kita saling membunuh antar kawan, ingat tujuan kita ke sini untuk apa, sebaiknya kita duduk dan tenangkan diri masing-masing," Panca terlonjak dari tempatnya dan langsung berusaha menurunkan senjata Toni yang dia todongkan di kepala Sabrina tanpa ampun, tanpa melihat kalau yang dia todongkaan senjata itu adalah kawannya sendiri.


Belum ada yang memulai pembicaraan di ruangan itu, semua masih bernegosiasi dengan hatinya masing-masing, berdiskusi dengan logikanya sendiri-sendiri agar akal sehatnya tetap terjaga.


Semuanya,perlu sedikit waktu untuk menenangkan diri masing masing, terkadang dengan hanya diam sesaat itu sudah mengembalikan kewarasan kita dan kembali tenang.


"Apa aku sudah boleh bercerita?" Raya membuka pembicaraannya, sungguh dia tak bisa dan tak biasa jika harus di abaikan terus-menerus oleh suaminya, sementara dirinya juga merasa tak melakukan kesalahan apapun dalam hal ini.


Raya memang tak tau apa yang membuat suaminya tiba-tiba bersikap seperti marah padanya, meski sedikit banyak dia agak menangkap kalau yang paling kentara dari sikap marahnya tadi itu lebih pada perasaan cemburunya Toni karena dirinyayang sedang bersama Martin saat dia datangbke rumah itu.


"Ceritakan pada kami, bagaimana kamu bisa berada di sini!" Panca dalam hal ini selalu memposisikan diri sebagai penengah di antara mereka semua, di antara dua pasangan yang bertempramen tinggi itu pasangan Sabrina vs Martin dengan Sabrina si emosian dan pasangan Toni vs Raya dengan Toni si paling cemburuan.


"Aku mendapat pesan ini dari Bagas, hal itu lah itu yang membawa ku ke sini!" Raya menyodorkan ponselnya ke arah Panca, di sana terlihat dengan jelas gambar Toni dengan tangan yang di gantung dan di ikat ke atas.

__ADS_1


Sebuah pesan tertulis di di sana, bahwa Raya di minta untuk menyerahkan dan melakukan penandatanganan penyerahan saham pada Arsan kalau ingin suaminya bebas.


Rupanya Arsa sudahbenar-benar kehabisan uang sehingga dia berniat menjual saham Lubis Corp yang tersisa, namun sayangnya terkendala, ada atas nama Raya juga disana sehingga harus mencantumkan tanda tangan putrinya itu untuk dapat mewujudkan keinginannya menjual sahalnya pada orang lain..


Panca akhirnya tertawa lepas saat melihat gambar itu, "Heh Raya, apa kau tak perhatikan dengan baik-baik, apa kau benar-benar tak tau kalau ini bukan badan suami mu?" Ujar Panca terkekeh geli, melihat foto editan yang di kirim Bagas pada Raya yang begitu terlihat begitu jelas dan kentara editannya.


Sudah dapat di pastikan foto yang Bagas perlihatkan pada Toni tadi pun berarti hanya editan, pantas saja tadi Bagas hanya memperlihatkannya hanya sekilas dan tak berani mempertemukan Toni dengan Raya.


"Aku panik, aku juga baru tersadar saat aku memperlihatkan foto itu pada dia saat ku kebetulan bertemu dengannya," Raya menunjuk ke arah Martin, sementara yang di tunjuk hanya diam tertunduk ketakutan, karena mendapat pelototan dari tunangannya yang berada di dekatnya itu.


Memang terkadang orang menjadi tiba-tiba bodoh saat sedang panik, bahkan pikirannya pun menjadi pendek, tak dapat membedakan mana foto asi mana foto palsu, padahal jelas-helas itu sangatbkelihatan meski hanya di lihat sekilas daja.


"Lantas kau, bagaimana kau bisa bertemu istri ku? Kenapa kau bisa tau kalau istri ku ada di sini?" Pandangan Toni tajam dan menyalang ke arah Martin yag terlihat ketakutan saat di tanya oleh Toni yang bertampang garang itu.


"A-aku berniat mencari Sabrina, hanya saja di tengah perjalanan aku kehilangan jejak, lalu bertemu dengan Raya tanpa sengaja, bukankah jalan menuju rumah di hutan itu hanya satu, dan itu sama sekali bukan di rencanakan, akutak sengaja bertemu dengannya!" gugup Martin masih dengan nada ketakutannya, meski dia yakin kalau dia tak melakukan kesalahan apapun pada Raya.


"Oke, sudah jelas semuanya, Arsan dan Bagas memang sengaja ingin menjebak kita, namun sayangnya dia tak terlalu pintar dan beruntung seperti kita, lebih baik kita rencanakan langkah berikutnya," Panca memberi kesimpulan dari apa yang terjadi.


Lelah rasanya mengejar Arsan dan para anak buahnya kesana kemari namun tak juga menampakan hasil yang memuaskan.


"Lalu bagaimana dengan istri mu?" tanya Sabrina melirik ke arah Sabrina yang terlihat kurang suka dengan gaya bicara Sabrina yang terkesan ceplas-ceplas-ceplosnya itu.


"Karena dia sudah di sini, tak ada pilihan lain selain ikut, aku tak mungkin meninggalkannya di sini sendirian." Kata Toni, masih tak ingin menatap istrinya sedikit pun.


Hatinya masih merasa kesal dan belum bisa menerima jika istrinya berduaan dengan Martin seharian di rumah ini tanpa pengawasan dari dirinya dan dari siapapun saat itu terjadi.


"Apa kalian tak ingin mengajak orang tua ini untuk ikut serta dalam acara penyerangan itu?" Suara Rolan tiba-tiba terdengar begitu jelas di ruangan itu, membuat seisi ruangan mengalihkan pandangannya ke arah suara pria tua yang masih menggunakan kursi roda dan di dorong oleh anak buahnya itu.


Akibat tembakan saat penyerangan itu memang Rolan belum pulih benar, kegiatan kesehariannya masih terbatas dan menggunakan kursi roda sebagai alat bantu sehari-harinya.

__ADS_1


"Kau, bagaimana kau bisa berada di sini?" pekik Toni.


"A-aku yang memintanya untuk datang kemari, kemarin aku sangat kalut dan ketakuta saat menerima pesan dari Bagas itu, aku meminta baantuannya untuk membantu ku membebaskan mu, aku panik, maafkan aku," cicit Raya mengaku.


"Tapi bukannya kemarin anda menolak untuk membantu membebaskan suamiku?" Kini Raya menoleh ke arah Rolan yang sedang terkekeh geli.


"Kemarin aku masih kesal pada mu, karena kau telah merebut tunangan anak ku!" Wajah Rolan terlihat sedikit sendu namun penuh amarah saat dia menyinggung masalah Cila.


"Kalau begitu lebih baik kau pergi saja dari sini, kau juga tak akan bisa banyak membantu!" usir Toni dengan ketus nya.


"Itu kan kemarin, hari ini lain cerita, aku akan membantu kalian semua, aku merasa bersalah dan ikut bertanggung jawab atas kepergian ayah mu, aku turut berduka, maaf aku tak bisa datang ke tempat mu saat itu." sesal Rolan.


"Bagaimana kau bisa membantu kami, sementara keadaan mu saja seperti ini!" Tatap Sabrina dengan mulut ceplas-ceplosnya.


"Aku membawa ratusan anak buah ku ke sini, mereka siap membantu kalian,"


Bak mendapatkan oase saat di gurun tandus, senyum Sabrina merekah sempurna, sungguh kematian Arsan yang sangat di impikannya itu kini seakan sudah nyata di depan mata.


Hanya tinggal satu langkah lagi bagi Sabrina untuk mengakhiri semua dendam dan kesakitan yang berpuluh tahun berkarat di hatinya.


Toni dan Panca saling berpandangan, menyamakan suara hatinya lewat tatapan mata, sama-sama saling bertanya, 'apa saat ini Rolan cukup bisa di percaya?' begitu kira-kira pertanyaan mereka jika di artikan.


**


Hai semuanya,,,Othor mau minta dukungan like+favorit nya di lomba othor dong, mau ya,,,(maksa 😁 )


Judul novelnya AKU MEMANG PELAKOR


__ADS_1


Jangan lupa mampir dan like+ fav juga ya, terimakasih sebelumnya,,,,



__ADS_2