
"Kamu nakal sekali sayang, kamu jahat meninggalkan ku di hari pernikahan kita, dan sekarang kamu datang tanpa memberi tahu ku, kamu tak tau bagaimana aku hampir gila karena tak bisa menghubungi mang Dasep dan Dila untuk menanyakan keadaanmu seharian ini," Protes Toni saat Raya sang istri tiba-tiba saja muncul di hadapannya setelah seharian dia kehilangan kabar dari istrinya itu karena tak bisa di hubungi sama sekali.
"Kamu jangan gila, nanti aku cemburu!" kata Raya manja.
"Hah? Kenapa bisa begitu?" tanya Toni bingung.
"Iya lah, kalau kamu gila nanti kamu di rawat di rumah sakit jiwa barengan sama tunangan mu yang sepertinya mulai gila juga, tuh!" selorohnya menunjuk ke arah Cila yang kini sudah menghilang dari pandangan mereka.
Sontak saja ucapan Raya itu memancing tawa di antara mereka, sungguh ini hal yang sangat mereka rindukan, dimana mereka bisa tertawa dan bercanda ria bersama-sama lagi.
Mereka baru kehilangan waktu yang cukup lama, dan terpisah begitu saja di saat mereka seharusnya menengguk manisnya kehidupan baru dalam berumah tangga, menikmati masa-masa berbulan madu, dan menghabiskan waktu berdua.
"Ayo siap-siap, kita harus segera pergi dari sini," ajak Raya menarik lengan Toni hendak mengajaknya ke suatu tempat yang dia rahasiakan.
"Kemana?" lagi-lagi Toni di buat kebingungan dengan apa yang Raya lakukan.
Sungguh saat ini Toni sebenarnyahanya ingin duduk berdua ngobrol menanyakan bagaimana tentang kesehatan istrinya, berbagi banyak cerita selama mereka terpisah jarak dan waktu, menebus waktu yang lama terbuang karena mereka tak bisa bersama-sama dan saling berbagi cerita di antara mereka.
Banyak hal yang terlewatkan akibat perpisahan yang mereka tak perkirakan dan tak mereka harapkan sama sekali itu, membuat mereka kembali merasakan sedikit canggung saat harus kembali bersama, apalagi dengan status baru mereka yang saat ini sudah menjadi sepasang suami istri yang sah di mata agama dan hukum negara.
Namun dia juga tak mungkin menolak permintaan istrinya itu, saat ini Toni hanya ingin mengikuti saja semua yang di katakan oleh sang istri, dia tak ingin menyia-nyiakan lagi kebersamaan mereka, apapun yang istrinya minta, dia akan berusaha mengabulkan permintaannya itu semampunya.
Motor Toni terus berjalan mengikuti arahan petunjuk Raya, sang istri yang tadi datang menumpangi taksi online kini harus merasakan kembali kebahagiaan di mana dia bisa menyandarkan tubuhnya di punggung lebar dan kekar sang suami, tak ada kendaraan lain yang semewah dan senyaman itu bagi Raya selain di bonceng sang suami dengan motor kesayangannya.
Mereka kini berada di sebuah rumah yang letak nya agak jauh dari tengah kota, namun masih tak terlalu jauh jika ingin melihat keramaian kota.
__ADS_1
"Rumah siapa ini?" tanya Toni saat motornya memasuki halaman rumah yang terlihat tidak begitu mewah namun terlihat nyaman itu, tampak pula mang Dasep yang tadi membukakan gerbang rumah untuk motornya agar bisa masuk.
"Jadi ternyata ibu ku membeli rumah ini dulu dan menitipkannya pada mang Dasep untuk di rawat dan di berikan pada ku saat aku sudah menikah dan menjadi hadiah pernikahan, ibu ku seperti sudah mendapat firasat dan mempersiapkan semuanya dengan sempurna, mang Dasep juga baru memberi tahu ku beberapa hari yang lalu tentang rumah ini, saat aku masih dalam perawatan." Terang Raya menjelaskan dan mencertakan kembali apa yang mang Dasep ceritakan padanya.
Kejutan tak sampai di sana, karena saat Toni baru saja turun dari motornya, kini giliran Panca dan Dila yang keluar dari rumah itu, membuatnya seperti satu-satunya manusia paling bodoh di sana karena merasa tak tau apapun dalam hal ini.
"Kau, dan kalian kenapa semuanya ada di sini dan kenapa hanya aku yang tak tau tentang ini semua?" protes Toni, bahkan tatapan galaknya kini sudah tertuju ke arah Panca yang di angapnya telah bersekongkol dengan Istrinya untuk membodohi dirinya.
"Sorry bro, aku di paksa mereka untuk merahasiakan ini semua dari mu, dini hari tadi aku di telpon istri mu untuk menjemput mereka di bandara, dan di larang untuk memberi tahu mu, karena katanya Raya ingin memberi kejutan pada mu," terang Panca karena tak ingin di persalahkan oleh sahabatnya.
"Kejutannya gagal,karena akhirnya aku yang terkejut, aku memergokinya sedang berduaan dengan tunangannya tadi di kost!" goda Raya pura-pura marah.
"Sayang, mana ada kaya gitu, aku tak tau kalau dia datang, lagi pula kamu juga tau kalau aku dari tadi sedang bersaha mengusirnya!" terpis Toni.
"Wah, parah kau bro, semua hal itu harus jujur, jangan apa-apa di tutup-tutupi, apa lagi sampai menutupi status diri, gak boleh itu, jujur!" ucap Panca berapi-api karena hal itu merupakan kesempatan baginya untuk menyindir Dila sang kekasih, sampai saat ini mereka masih dalam suasana perang dingin.
Sementara Dila hanya terdiam, kini dia tau kenapa selama ini dia seakan di musuhi oleh kekasihnya sendiri, bahkan selama menemani Raya pengobatan, tak sekalipun Panca menghbunginya,beberapa kali di hubungi juga tak mau menjawab panggilan teleponnya.
Kemarin pun Raya harus menghubungi Panca memaki ponsel mang Dasep agar Panca mau mennerima panggilan teleponnya dan menjemputnya di bandara.
"Sudah jangan ganggu pengantin baru, mungkin mereka butuh waktu untuk berdua, biarkan mereka berbicara," lerai mang Dasep.
Raya mengajak Toni ke lantai atas, menuju sebuah kamar yang sudah di hias dengan taburan bunga dan lilin aroma terapi yang membuat rileks siapa pun yang masuk ke dalam sana.
Toni menetap dalam sang istri seraya bertanya lewat tatapan matanya, 'Apa ini?'
__ADS_1
"Ini kamar pengantin kita, aku ingin menebus semua hal yang tertunda karena aku yang sakit saat itu." ucap Raya, membuat seluruh tubuh Toni merinding mendengarnya.
"Semua yang tertunda?" Ulang Toni tergelitik dengan pernyataan istrinya itu.
"Hemh, semuanya!" ucap Raya dengan senyum nya yang menggoda iman Toni.
"Aku sangat merindukanmu, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, aku hampir gila karena semua rasa itu," Toni memeluk tubuh istrinya yang kini terasa semakin kurus.
"Aku sudah di sini, kamu boleh melakukan apapun pada istri mu ini, aku milik mu," Lirih Raya sembari menciumi pipi suamnya yang sangat di rinduinya juga.
"Kenapa tubuh mu semakin kurus begini? Apa kamu benar-benar sudah sehat?" ucap Toni saat tangannya mengelus punggung sang istri yang sepertinya banyak kehilangan berat badannya akibat sakit itu.
"Aku sudah sehat dan kuat, apa kamu perlu bukti?" Raya mengedipkan sebelah matanya menggoda dengan nakalnya.
"Oh,ayolah sayang, kamu sudah membangunkan singa yang tertidur lama saat ini, kamu harus bertanggung jawab!" tanpakesusahan sama sekali Toni langsung mengangkat tubuh istrinya hingga kini posisi Raya sudah seperti anak koala yang menggelantung di tubuh kekar Toni dengan kakinya yang melingkar di pinggang sang suami.
Ciuman panas pun mengawali 'pertempuran sengit' yang sepertinya akan terjadi malam ini, sudah berminggu minggu lamanya Toni menahan semua itu, dia tak dapat menggauli sang istri akibat sakitnya sang istri tercinta.
"Aku sudah bilang, kamu boleh melakukan apapun pada ku, malam ini mangsa buruan mu tak akan lari ke mana mana lagi," kata Raya dengan suara yang sensual, lengannya melingkar ke leher kokoh Toni, dan kembali menciumi bibir sang suami seakan tak ingin kalah dengan aksi Toni yang sungguh mebuatnya terbuay dan nyaman berada dalam kungkungan tubuh gagah sang suami.
"Sejak kapan istri kesayangan ku ini menjadi sangat genit, apa jangan jangan di singapore sana kamu genit begini dengan dokter-dokter ganteng di sana," Toni memicingkan matanya.
"Hahaha,,, tak ada yang lebih ganteng dari suami ku ini, mata ku sudah tak bisa melihat pria ganteng mana pun selain kamu," goda Raya semakin nakal.
(Lanjutin ntar malem ya...pisss!)
__ADS_1
sambil nunggu boleh mampir ke sini dulu yuk, kali aja suka 😁