
Kalau kalian kira kebersamaan antara Toni dan Raya tempo hari di restoran Jepang itu akan membuat mereka berdua menjadi semakin akrab dan terjalin romansa yang lebih indah di antara mereka, kalian semua seratus persen salah besar, karena yang terjadi setelah kejadian itu adalah baik Toni maupun Raya tak ada yang berani saling bertemu, ah,,, sungguh mereka bak anak ABG yang sedang kasmaran saja.
Ini hari ke tiga setelah kejadian memalukan di restoran itu dan Toni terpaksa harus bertemu Raya, karena besoknya Toni harus pergi ke kalimantan meninjau proyek kasino yang akan segera di mulai pembangunannya selama sekitar empat atau lima hari, hanya memastikan semua berjalan lancar dan sesuai dengan rencana.
"Aku titip dia, bro !" kata Toni pada panca, rasanya berat sekali harus meninggalkan jauh gadis itu selama beberapa hari, namun anggukan kepala Panca yang selama ini ikut menjaga Raya membuatnya sedikit merasa lega, dia yakin kalau sahabatnya itu pasti akan menjaga Raya meski tanpa di mintanya sekali pun.
"Harus banget pergi ya ?" cicit Raya, wajahnya tlihat seperti menunjukkan ke tidak relaannya di tinggal Toni, "Udah jauh, lama lagi !" cebik Raya menekuk wajahnya dengan sengaja.
Malam itu Toni memang sengaja menyempatkan diri menemui Raya di kediaman Panca, dia tak akan tenang rasanya harus berangkat besok pagi jika tak bertemu dulu dengan Raya, belum lagi selama tiga hari terakhir ini memang mereka tak saling bertemu, selain rasa awkward di antara mereka akibat tragedi di restoran, mereka berdua juga memang sama sama sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing, Toni dengan proyek kasino nya, dan Raya dengan pekerjaan kantornya.
"Akan aneh rasanya jika aku tiba tiba menolak pergi, sementara proyek ini sudah di serahkan padaku," Toni beralasan.
"Bilang saja karena yang pergi bersama mu itu Sabrina, jadi terlalu berat untuk di tolak !" sindir Raya.
"Tidak begitu,,, sungguh !" Toni seakan kehabisan kata katanya.
Panca dan Dila pelan pelan menyingkir dari perdebatan sepasang manusia yang saling cinta namun saling gengsi itu, mereka memberi ruang dan kesempatan untuk Toni dan Raya saling melepas rindu sekaligus saling mengucapkan kata perpisahan.
Namun sayangnya, sepeninggal Panca dan Dila, kedua orang itu kembali saling diam, Raya sibuk dengan layar ponselnya yang entah melihat apa, dan Toni asik dengan lamunannya yang entah melamunkan apa.
"Apa Cila ikut juga dengan mu ?" Raya akhirnya mengalah, dia mencoba membuang egonya dan memulai pembicaraan rasa kepenasarannya tentang pertanyaan yang satu itu sunggh tak bisa dia tahan di hati.
Toni mengelengkan kepalanya, "Tidak, hanya aku dan Sabrina,"
__ADS_1
"Apa dia marah seperti ku, saat tau kamu akan pergi jauh dengan seorang wanita yang jelas jelas menunjukaan ketertarikannya pada mu dengan waktu yang lumayan lama ?" tanya Raya lagi.
"Aku tak tau, aku belum bilang padanya," jujur Toni.
" Kamu tak membicarakan kepergianmu pada tunangan mu, namun berpamitan dan meminta ijin pada ku yang bukan siapa siapa mu ? Oh Toni,,, bagaimana cara berpikir mu sebenarnya ?" pekik Raya dengan membelalakan matannya sambil menggeleng pelan.
"Karena aku hanya butuh ijin mu dan hanya ingin berpamitan pada mu, tak peduli dengan orang lain," Toni meraih tangan Raya yang duduk di sebelahnya itu.
"Berpamitan lah padanya, bagaimana pun dia tunangan mu, dia pasti khawatir, setidaknya beri tahu dia," Raya tiba tiba merasa bersalah pada Cila karena seharusnya Cila lah yang di pamiti Toni saat ini bukan dirinya yang jelas jelas bukan siapa siapa nya.
"Hemh,, nanti aku bicara dan berpamitan padanya, cuma untuk sekarang, ijinkan aku untuk di sini dulu," pintanya sambil terus menggenggam tangan Raya seakan tak ingin melepaskannya.
Asik berbincang sampai tak terasa waktu sudah hampir dini hari, niat hati hanya ingin sekedar berpamitan pada Raya pun berakhir dengan acara begadang bersama sambil ngobrol ngalor ngidul, sampai sampai dia lupa harus berpamitan juga pada Cila.
Sabrina sangat yakin kalau kebersamaannya dengan Toni kali ini, dia akan berhasil merebut Toni dari Cila, dia akan menggunakan perjalanan dalam misi dinas ini menjadi perjalanan dalam misi merampas tunangan orang.
Di sinilah kini Toni dan Sabrina berada, di sebuah pulau yang sebagian besarnya adalah hutan belantara, namun saat ini mereka tidak sedang berada di hutan belantara, mereka sedang berada di sebuah daerah pinggiran kota yang tidak terlalu sepi namun juga tidak terlalu ramai, hanya saja daerah ini sangat strategis karena dekat dengan mess para pegawai tambang, dimna mereka banyak uang namun jauh dari tempat hiburan, makanya Rolan dan Cobra menyasar mereka, para pengusaha dan pegawai tambang yang uangnya tak ber seri yang jelas akan sangat senang jika di beri hiburan untuk tempat mereka melepas lelah dalam bekerja.
"Bagaimana, bukankah tempatnya sangat strategis untuk lokasi pembangunan klub dan kasino kita ?" ucap Sabrina memandang kagum pada pemilihan lokasiyang benar benar sesuai dengan yang di inginkannya.
"Hemh,,, lumayan !" jawab Toni datar, sambil matanya terus memeriksa kertas yang berisi gambar rancangan denah yang akan di bangun, memastikan semua sudah sesuai, kepergiannya kali ini untuk pekerjaan, dan dia ingin menyelesaikan semua pekerjaannya se cepat mungkin, sehingga dia tak perlu berlama lama terperangkap dengan Sabrina di tempat yang cukup asing untuknya.
Tiga hari sudah Toni dan Sabrina berada di pulau itu, hampir semua pekerjaannya sdah Toni selesaikan, pembebasan lahan sudah dia pastikan beres, para preman preman daerah sana juga sudah dapat di kondisikan secara persuasif dengan menjajikan mereka pekerjaan di klub dan kasino jika mereka tak merusuh dan mengganggu jalannya pembangunan, beruntungnya mereka menyambut baik ajakan dan tawaran Toni itu, sehingga Toni tak mendapatkan kendala yang terlalu berati, kaau hanya sekedar gangguan gangguan kecil pasti ada, dan itu jeas langsung bisa di atasi oleh pria yang sepertinya mulai menikmati pekerjaannya itu.
__ADS_1
Entah karena memang dia mulai menyukai pekerjaan yang Rolan percayakan padanya, atau hanya karena saking dia sengaja menyibukkan diri pada pekerjaan agar Sabrina tidak ada kesempatan mendekatinya,karena Sabrina terus terusan menempel padanya seperti lintah.
"Lion, karena besok kita akan pulang, bagaimana kalau sore ini kita jalan jalan, apa kamu tak ingin membeli oleh oleh untuk Cila ?" bujuk Sabrina.
Terbersit juga ingin membeli sesuatu khas sana semacam cinderamata atau sesuatu yang unik hitu, tapi tentu saja bukan untuk Cila, tapi untuk Raya.
"Kalau kau ingin pergi berjalan jalan dan membeli sesuatu, akan aku antar," ucap Toni, dia terlalu gengsi mengakui kalau sebenarnya dia juga ingin membeli sesuatu untuk di bawanya pulang sebagai oleh oleh.
Biarlah dia mengorbankan dirinya untuk pergi berbelanja dan jalan jalan bersama Sabrina sore ini, demi untuk diam diam berbelanja juga (curang banget bang !)
Sore ituToni benar benar memenuhi janjinya untuk menemani Sabrina, pergi ke sebuah tempat yang menjual pusat kerajinan khas daerah sana.
Berbagai kerajinan berupa pahatan patung kayu, kain tenun, dan banyak lagi memenuhi sebuah galery yang berada di tengah kota di pulau yang letaknya di paling utara di Indonesia itu.
Sedang asik menemani Sabrina memilih barang barang unik, sambil Toni juga sesekali melihat lihat barang barang unik itu, mara Toni menangkap sesosok wanita yang sangat tak asing di matanya, Toni coba menajamkan kembali penglihatannya, berharap kalau dirinya salah lihat.
Namun beberapa kali dia mengucek matanya, Toni semakin yakin kalau wanita yang sedang menikmati secangkir kopi di coffe shop yang letaknya tepat di seberang galeri itu adalah wanita yang selama ini sedang di carinya, ya, benar,,, dialah Karina, sedang apa dia berada di pulau ini, sungguh ini terlalu kebetulan.
Toni berlari dengan cepatnya ke luar galery, menuju ke arah Karina yang sedang menikmati sore harinya di teras sebuah Coffee shop di temani secangkir kopi di tangannya.
Namun sialnya, Karina yang juga pandangannya sedang mengarah ke galery langsung berlari tunggang langgang melihat Toni yang tiba tiba seperti mengetahui keberadaan nya dan sedang berlari ke arahnya.
Hanya sekejap mata Karina menghilang di balik gedung gedung tinggi yang lumayan rapat, tentu saja Toni kebingungan dalam mengejar dan mencari keberadaan Karina, secara dia baru pertama menyambangi tempat itu, jadi dia masih begitu asing dan tak tau harus berlari ke arah mana.
__ADS_1
Lalu Karina, kenapa dia seolah sangat tahu ke arah mana dia harus berlari dan di mana dia harus bersembunyi agar terhindar dari kejaran Toni, apa mungkin dia sudah lama tinggal di sini,? bukan kah dia di tangkap Cobra? Sungguh semua itu membuat Toni kesal, hampir saja dia bisa menangkap Karina dan menginterogasi nya, namun ternyata dia harus kehilangan jejak ibu sambung Raya yang sepertinya banyak menyimpan rahasia besar itu.