Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Yes I Do !


__ADS_3

Toni menatap wajah sendu kekasihnya, jarang sekali terlihat senyuman menghiasi wajah cantik itu dua hari terakhir ini,


"Raya, ayo kita menikah!" ucap Toni yakin.


Raya mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk entah memikirkan apa.


"Me-menikah?" cicitnya tak percaya.


"Hmm, aku sudah membicarakannya dengan mang Dasep, beliau siap menjadi wali mu, kita akan menikah sore ini," Toni menyelipkan surai rambut Raya yang menjuntai tertiup angin ke sela telinganya.


"Sore ini? Kenapa mendadak sekali?" Tanya Raya lagi seakan tak percaya dengan apa yang Toni ucapkan pada nya.


"Hari ini hari ulang tahun mu, aku tak bisa memberi hadiah apapun selain, menjadikan mu istri ku di hari kelahiran mu ini, agar di usia mu yang baru esok hari kamu sudah mempunyai status baru sebagai istriku, dan kamu tak lagi sendiri," kata Toni.


Air mata Raya kembali menetes, namun sepertinya kali ini air mata karena tangisan kebahagiaannya, betapa dirinya sangat beruntung memiliki kekasih dan para sahabat yang tak pergi meninggalkannya di saat dirinya terpuruk seperti sekarang ini, bahkan dirinya saja sampai lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.


"Tapi Cila?" tiba tiba Raya ingat akan Cila yang semua orang tau kalau Cila adalah tunangannya.


"Apa masalahnya dengan dia? yang menikah kita, tak ada urusannya dengan dia!" cicit Toni.


"Tapi--"


"Atau kamu tak mau menikah dengan ku?" Toni mengeluarkan sebuah cincin dari saku celananya, hanya sebuah cincin sederhana, bahkan tanpa kotak cincin yang biasa di pakai orang orang untuk melamar kekasihnya.


Raya tersenyum, "Kapan kamu mempersiapkan ini?" tanya nya dengan mata yang menatap tangan kekasihnya yang memegang cincin emas putih bertahtakan permata hitam yang cantik dan elegan, sungguh menarik perhatian nya.


"Aku sudah mempersiapkannya sejak kita awal berpacaran, karena dari awal aku memang ingin menikahi mu," jawabnya sambil memasangkan cincin itu di jari manis Raya yang seolah pasrah pada kejutan manis yang di berikan oleh kekasihnya itu.


"Cantik sekali," ujar Raya dengan mata yang terus menatap haru jari manisnya yang kini telah tersemat cincin yang begitu indah.


"Ya, secantik yang memakainya," Toni mencium mesra jemari lentik yang terus di genggamnya itu.

__ADS_1


"Kamu pintar sekali menggombal sekarang ini," Raya tersipu.


"Gombal pada calon istri sendiri gak apa apa, dong! Jadi bagaimana, apa kamu mau menikah dengan ku nanti sore?" tanya Toni lagi.


"Nanti sore banget, ya?" Raya terkekeh geli.


"Apa mau siang ini? Tapi penghulunya bisanya sore ini," cicit Toni.


"Kamu sudah menghubungi penghulunya juga? Kenapa kamu pede banget, yakin banget, memangnyaaku mau di ajak nikah sama kamu?" Raya ternganga, tak percaya kalau Toni benar benar sudah mempersiapkan sejauh itu.


"Jadi, mau atau gak, nih?" Toni terus menagih jawaban pada kekasihnya yang terus saja mengulur waktu untuk menjawab pertanyaannya sejak tadi.


"Mau gak ya,,,,,!" goda Raya lagi.


Dan akhirnya, "HOREEEEE!!!!" Panca, Dila dan mang Dasep bersorak bersamaan dan keluar dari persembuyian mereka yang akhirnya terbebas dari harap harap cemas mereka ikut menatikan jawaban Raya.


Sorak sorai itu terdengar sangat ramai seiring dengan anggukan kepala Raya sebagai jawaban dengan kata kata "Ya, aku mau!" keluar dari bibir mungilnya yang semerah cery.


Raya langsung di 'culik' Dila untuk mempersiapkan pernikhan dadakannya yang akan di laksnakan sore ini.


Sebenarnya tidak terlalu dadakan, karena dari semenjak mereka sampai di tempat itu, malamnya Toni bercerita banyak hal dengan mang Dasep tentang penculikan yang terjadi pada Raya, tentang depresi yang di alami Raya, dan tentang rencana pernikahan ini, Toni juga menitipkan Raya untuk sementara pada mang Dasep, karena dirinya akan segera kembali ke Jakarta untuk membalas semua perbuatan Rolan pada Raya, menyelesaikan semua masalah yang masih menggantung, Toni juga masih harus mempertemukan Raya dengan Yama, bagaimana pun mereka masih ada ikatan darah yang sama.


Setelah semuanya selesai Toni memutuskan untuk tinggal di tempat yang damai ini, mengelola kebun teh dan mengurus peternakan peninggalan Maria.


Meskipun mang Dasep agak keberatan tadinya jika Toni harus kembali ke Jakarta dan meninggalkan Raya untuk membalas dendam karena mang Dasep takut terjadi hal hal yang tidak di inginkan pada Toni, namun setelah Toni menjelaskan dan memberi pengertian pada man Dasep kalau semua itu sangat perlu dia lakukan beserta semua alasannya, akhirnya mang Dasep justru mendukung apa yang aka di lakukan Toni itu, dan dia siap membantu Toni dengan menjaga Raya di sini.


Dengan kekuatan sang juragan bengkel, sultan sparepart ilegal Panca, rumah tua peninggalan Maria itu sudah di sulap menjadi penuh bunga, Panca mengerahkan dan membayar para pekerja kebun untuk membntunya mendekor halaman rumah asri itu menjadi penuh bunga dan hiasan yang di domonasi warna putih, karena halaman rumah itu yang nanti sore akan di jadikan tempt untuk acara ijab kabul pernikahan Toni dan Raya, beberapa pekerja dan tetangga dekat pun di undang untuk menghadiri acara pernikahan juragan mereka.


Panca juga memborong semua makanan warung nasi yang ada di sana untuk menjamu para undangan, tak ketinggalan dia juga memborong para penjual kue di pasar, sampai sampai satu desa sepertinya geger karena ada orang kota yang memborong semua pedagang makanan dan pedagang bunga di pasar.


Rumah yang biasanya sepi itu tiba tiba ramai orang sibuk mengerjakan semua hal secara bergotong royong, beruntunglah acara itu di adakan di desa, sehingga jiwa saling membantunya itu masih sanat tinggi, tak seperti di kota yang hanya memikirkan dan mengurus urusan sendiri sendiri dan tak peduli dengan urusan orang lain, tak heran jika tetagga sebelahan ja mereka rata rata jarang bertemu dan kadang tak saling mengenal karena sifat individual yang sangat tinggi.

__ADS_1


Baru saja Panca mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah namun bahagia karena bisa membantu untuk persiapan acara pernikahan dua sahabatnya, Panca yang sedang duduk sambil menatap hasil dekorasi dirinya yang di bantu para pekerja kebun itu tiba tiba terpental dari duduknya karena seseorang memukul wajahnya dengan membabi buta, Panca yang tak siap mendapat serangan tiba tiba seperti itu langsung tersungkur ke tanah.


"Ada apa ini, siapa kau?" bentak Panca pada seorang pria yang terlihat sangat murka padanya, wajahnya yang memrah dan rahangnya yang mengeras itu membelalakan matanya ke arah Panca penuh selidik dan marah.


"Kau pria yang bernama Panca itu?" tanya nya.


"Iya, ada apa, siapa kau, ada masalah apa dengan ku?" Panca berdiri dari tanah tempatnya tersungkur tadi.


Panca berjalan agak jauh dari halaman yang telah cape cape di hiasnya, dia takut kalau pria asing itu mengamuk dan menghancurkan tempat untuk acara pernikahan sahabatnya yang susah payah dia kerjakan tadi, sementara acaranya hanya tingal satu jam lagi di mulai.


"Kau tak boleh menikahi Dila, kau tak akan bisa menikahi Dila, Dila milik ku, dan akan tetap menjadi milik ku, ku bunuh kau!" racau pria itu yang ternyata Bara mantan suami Dila yang salah paham di kira yang akan menikah hari itu adalah Dila, mantan istrinya.


Bara mencengkeram kerah kemeja yang di pakai panca, orang orang yang berada di sekitar sana berusaha memisahkan, bahkan para emak emak sudah menjerit jerit ketakutan.


"Siapa kau, melarang ku menikahi Dila, sementara ayahnya saja mengijinkan ku, sinting kau, ya!" aki Panca membalas pukulan Bara, jadilah mereka berduel sampai berguling guling di tanah, sampai akhirnya mang Dasep dan Toni datang menghampiri mereka berdua.


Dengan hanya sebelah tangannya, Toni sudah dapat menarik tubuh Bara agar menjauh dari tubuh sahabatnya.


"Apa kau masih belum kapok mengacau di sini, huh?" tanya Toni yang pernah menghajar Bara samapai babak belur dulu saat Bara berusaha menyerang Dila dan Raya.


"Kau!?" pekik Bara yang melihat Toni sudah berpakain rapi dengan setela jas coklatmuda yang di pakainya.


"Kau mencoba menghancurkan acara pernikahan ku? Apa kau sudah bosan bernafas?" ancam Toni.


"Pe-pernikahan mu?" gagap Bara membeo.


"Iya, pernikahan ku, apa masalah mu hendak mengacaukan acara pernikahan ku?" giliran Toni yang mencengkeram leher Bara sampai wajahnya memerah karena tak bisa menghirup oksigen baik dari mulut ataupun hidungnya.


"Nak,lepaskan, jangan kotori tangan mu di hari pernikahan mu ini, biar mamang yang berbicara dengan mantan menatu tak tau diri ini," ucap mang Dasep


"Apa, MANTAN MENANTU?" pekik Panca yang tak tau kalau Bara adalah mantan menantu Mang Dasep yang berarti mntan suami Dila, karena Dila tak punya saudari lain.

__ADS_1


__ADS_2